Menjawab Tantangan Masyarakat Permisif

Tulisan Paulus Mujiran (PM), Pendidikan Anti-Tukulisme, (Media Indonesia, Kamis, 1/2) menarik untuk dicermati lebih lanjut. Dalam tulisannya, PM mengungkapkan keresahannya terhadap fenomena yang terjadi akhir-akir ini, seiring dengan munculnya sebuah tayangan talk show “Empat Mata” dengan host Tukul Arwana di salah satu stasiun televisi swasta.

Keresahan PM terletak pada guyon Tukul yang dirasa sangat tidak mendidik bagi masyarakat. Materi lawakan Tukul yang sebagian besar berkaitan dengan bagian-bagian tubuh, mengumbar kalimat yang dapat dikategorikan seronok, gerakan-gerakan yang membakar emosi orang dewasa, serta banyolan-banyolan yang dapat membuat orang lain tersinggung, menurutnya dapat melahirkan ekses negatif bagi masyarakat. Tereliminasinya sikap penghargaan terhadap realita perbedaan kondisi seseorang dengan lainnya, adalah ekses negatif yang tampak jelas hadir dari tayangan acara tersebut.

Melihat fenomena yang meresahkan ini, PM mengajukan usul tentang pentingnya kurikulum pendidikan pluralis, sehingga membuka wacana pengetahuan anak didik semenjak dini bahwa ada perbedaan yang menuntut pemahaman dalam hidup bersama.

Melalui tulisan ini, penulis ingin urun rembug dengan melihat sisi lain dalam menyikapi fenomena Tukul-isme— meminjam istilah PM— yang akhir-akhir ini mewabah di masyarakat.

Sejatinya, kalau kita cermati lebih lanjut, ada pergeseran nilai yang tengah terjadi di masyarakat kita. Masyarakat negeri ini sudah tidak lagi mengindahkan nilai-nilai tradisional dan tidak mau lagi terikat dengan simbol-simbol serta atribut-atribut yang dianggap usang. Mereka lebih memilih gaya hidup bebas, semau gue, tidak terikat oleh sekat-sekat budaya, tidak terpasung oleh seperangkat nilai-nilai normatif, serta tidak lagi peduli dengan apa yang disebut dengan kriteria kebaikan dan keburukan. Pertanyaannya kemudian, gejala kehidupan macam apakah yang sebenarnya tengah terjadi di masyarakat kita?

Tidak mudah, memang, untuk menjawab pertanyaan di atas. Pelbagai asumsi bisa saja muncul dari beragam sudut pandang yang berbeda. Tetapi, satu hal yang pasti bahwa kehidupan masyarakat kita dewasa ini, lebih-lebih kehidupan generasi baru kita sudah masuk dalam lingkup kehidupan permisif, kehidupan serba boleh.

Mencermati kenyataan yang tengah melanda generasi baru bangsa ini, penulis teringat ungkapan Roderic C. Meredith yang menggambarkan kondisi masyarakat modern dewasa ini sebagai masyarakat serba boleh (permissive society). Menurut dia, permissive society tidak mengakui adanya kebenaran abadi (eternal truth). Dengan demikian, seseorang bebas berbuat apa saja sesuka hatinya. Karena persoalan baik buruk, salah benar, dan berbagai persoalan kemanusiaan lainnya adalah urusan manusia sendiri, tidak ada kaitan sama sekali dengan Tuhan. Manusialah yang berhak menafsirkan sesuatu itu baik atau buruk, benar atau salah. Sehingga kriteria kebaikan dan keburukan, serta kebenaran dan kesalahan itu bersifat relatif.

Gejala seperti inilah, tampaknya, yang sedang melanda generasi baru bangsa Indonesia saat ini. Fenomena masyarakat serba boleh kian hari kian terlihat jelas. Bangsa yang dulu dikenal dengan sopan santunnya, adat ketimurannya, serta nilai-nilai agamanya, kini seakan-akan tidak peduli lagi dengan seperangkat nilai-nilai normatif, baik yang terdapat dalam sebuah masyarakat, lebih-lebih yang diajarkan agama.

Hal ini dapat dilihat, misalnya, semakin banyaknya guyon serta lawakan yang mendiskriditkan cacat fisik, kekurangsempurnaan tubuh manusia, dianggap suatu hal yang wajar. Padahal, seperti diungkapkan PM, sejatinya olok-olok terhadap orang lain, dapat juga dimaknai sebagai bentuk kekerasan kemanusiaan.

Di sisi lain, fenomena masyarakat permisif juga nampak dengan semakin maraknya pornografi dan pornoaksi yang sudah dianggap sebagai suatu hal yang biasa. Beredarnya koran, tabloid, serta majalah “kuning” tidak dianggap sebagai suatu hal yang mengkhawatirkan masa depan bangsa. Merebaknya tayangan film, sinetron, musik, bahkan iklan yang mengumbar sensualitas, pamer aurat serta eksploitasi tubuh kaum hawa, bahkan belakangan juga kaum adam, sudah menjadi konsumsi sehari-hari masyarakat negeri ini.

Kenyataan ini menandakan bahwa gejala permissive society sudah menjadi “budaya baru” anak bangsa ini. Kalau sudah demikian keadaannya, lantas apalagi yang bisa diharapkan bangsa ini untuk menghadapi masa depan?

Peran Agama dan Pendidikan

Dalam konteks masyarakat serba boleh ini, segala kemungkinan bisa terjadi. Memudarnya penghargaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan, terkikisnya semangat pluralisme, semakin tipisnya batas antara kebaikan dan keburukan, serta hilangya identitas dan jatidiri seseorang merupakan beberapa kemungkinan yang bisa terjadi setiap saat.

Lantas, apa langkah preventif yang bisa kita lakukan demi terhindar dari kemungkinan-kemungkinan tersebut di atas? Dalam hal ini, penulis melihat setidaknya ada dua komponen mendasar yang harus dijadikan sandaran utama, sehingga kita mampu membentengi diri di tengah kondisi masyarakat permisif yang kian hari kian terlihat jelas ini. Kedua komponen tersebut adalah: Agama dan Pendidikan.

Dalam pandangan penulis, merebaknya pelbagai problematika sosial, sebagai imbas dari kondisi masyarakat permisif akhir-akhir ini, disebabkan oleh keringnya nilai-nilai keagamaan pada setiap individu. Padahal, semua agama pasti mengajarkan seperangkat nilai moral kepada para pemeluknya demi terciptanya manusia-manusia berbudi pekerti luhur dan berkepribadian mulia. Bisa dipastikan, tidak ada satu agama pun di dunia ini yang menuntun pemeluknya untuk berbuat kejahatan, seperti: membunuh, mencuri, berzina serta tindak kejahatan kemanusiaan lainnya. Dengan demikian, agama sebagai naluri fitrah manusia, jika dipahami dan diaktualisasikan dalam kehidupan riil merupakan fondasi utama bagi seseorang untuk membentengi diri dari perangai buruk dan perilaku tercela.

Selanjutnya, setelah agama menjadi fondasi awal untuk membentengi diri dari tindak amoral dan asusila, komponen berikutnya adalah pendidikan. Pendidikan, seperti diungkapkan para pakar, sejatinya merupakan sarana pembentukan manusia sempurna yang mengedepankan penghargaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan, kebenaran dan keadilan.

Pendidikan yang baik, bukan hanya sekedar transfer of knowledge. Menjejali anak didik dengan serangkaian ilmu pengetahuan semata, tanpa didasari oleh seperangkat nilai-nilai pendidikan yang substansial, seperti penanaman aspek kepribadian dan pembentukan sikap. Pendidikan yang sesungguhnya, selain sebagai sarana aktivitas belajar-mengajar, seharusnya juga sebagai wadah penanaman nilai humanisme, pluralisme, dan inklusivisme. Model pendidikan seperti inilah, hemat penulis, yang merupakan sarana efektif bagi anak didik untuk menjalani kehidupan sosial di tengah masyarakat yang heterogen ini dengan penuh toleransi dan kedamaian.

Dua komponen mendasar tersebut, yaitu agama dan pendidikan, jika dapat berjalan secara serasi, saling melengkapi satu sama lain, niscaya budaya serba boleh yang begitu gencar melingkupi kehidupan kita dewasa ini, dapat kita antisipasi dengan baik. Sehingga, meskipun terpaan angin perimisifisme begitu kencang, karena kita punya sandaran yang kokoh, maka nilai-nilai humanisme, pluralisme, inklusivisme tetap kita pegang teguh. (*)

4 Tanggapan ke “Menjawab Tantangan Masyarakat Permisif”

  1. Artikel yang bagus, mohon ijin untuk saya pake sebagai bahan diskusi murid-murid saya dalam pelajaran sosiologi.
    Terima kasih

  2. didijunaedihz Berkata

    Terima kasih atas atensinya…dengan senang hati, silakan dicopy untuk materi pelajaran sosiologi…setelah didiskusikan mohon tulis (secara garis besar) komentar murid tentang artikel tersebut…

  3. tri ayu noverani Berkata

    bagus sekali buat masukan saya dalam pencarian program lokal yang mendidik.terimakasih mas….

    Tetapi tanggapan saya atas pendidikan agama yang baik dan benar ini…hmmm….susah juga yah…untuk mencari pendidikan agama yang bukan islamisme.

    Keep The Spirit !

  4. didijunaedihz Berkata

    Thanks juga Ayu dah mampir n kasih comment… smg bisa menjadi inspirasi untuk memunculkan tayangan-tayang yang lebih edukatif..

Tinggalkan Balasan