Beberapa hari lalu, sejumlah stasiun televisi menanyangkan liputan tentang maraknya peredaran narkoba di kalangan pelajar. Dalam tayangan tersebut diungkapkan bahwa ketika diadakan razia di sekolah-sekolah, sejumlah siswa SMP dan SMA kedapatan menyimpan berbagai jenis narkoba, dari pil koplo sampai ecstasy. Setelah diinterogasi, beberapa siswa mengaku sudah memakai barang haram tersebut sejak lama, bahkan ada di antara mereka yang tidak hanya sebagai pemakai, tetapi juga sebagai pengedar.

Kenyataan miris ini tentu menghentakkan kita semua, khususnya dunia pendidikan kita. Lembaga pendidikan yang seharusnya menjadi wadah bagi terbentuknya sumber daya manusia yang berkualitas dengan seperangkat intelektualitas, moralitas dan spiritualitas memadai, ternyata telah dicemari oleh perilaku sejumlah oknum siswa yang tidak bertanggungjawab. Kenyataan ini juga seharusnya membelalakkan mata kita, bahwa dunia pendidikan di negeri ini sedang menghadapi sebuah ancaman besar, yakni jeratan narkoba, yang setiap saat siap menghancurkan masa depan anak bangsa ini.

Ironisnya, kita seolah menutup mata dan telinga kita, tidak peduli dengan kondisi riil yang sangat kritis dan memprihatinkan ini. Kita hanya berpangku tangan, dan menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab atas persoalan narkoba ini kepada pemerintah. Padahal, kita tahu sejauh ini belum tampak hasil maksimal yang ditorehkan pemerintah dalam menangani kasus narkoba, yang kian hari kian mengkhawatirkan ini. Tak dinafikan memang, pemerintah mempunyai Badan Narkotika Nasional (BNN), yang menangani segala persoalan berkaitan dengan masalah narkoba. Tetapi, untuk masalah yang sangat besar ini, rasanya tidak cukup hanya mengandalkan sebuah lembaga pemerintah saja. Dalam hal ini, peran serta aktif masyarakat dalam menanggulangi serta menghalau ancaman bahaya narkoba merupakan kebutuhan mendesak yang tak dapat ditunda lagi.

Mencermati fenomena maraknya pemakaian narkoba di kalangan pelajar akhir-akhir ini, membersitkan sebuah pertanyaan di benak penulis, dan mungkin juga kita semua. Apa sebenarnya faktor pemicu yang melatar belakangi munculnya trend pemakaian narkoba di kalangan pelajar?

Faktor Pemicu

Dalam analisa penulis, ada sejumlah faktor yang menjadi pemicu terjerembabnya para pelajar ke dalam ‘jurang hitam’ narkoba. Beberapa faktor tersebut adalah: Pertama, hilangnya makna hidup (the meaning of life). Para pelajar yang nota bene masih dalam masa transisi, seringkali menderita perasaan khawatir, takut dan cemas yang tak beralasan. Mereka ingin selalu dianggap eksis di tengah pergaulan, sehingga seringkali mengikuti trend serta gaya hidup (life style) lingkungan tempat mereka bergaul, yang belum tentu berpijak pada prinsip mulia. Mereka khawatir terisolasi dari dunia pergaulan, ketika tetap berpegang teguh pada aturan-aturan normatif, serta memeluk erat nilai-nilai tradisional. Imbas dari perilaku ini adalah hilangnya jati diri mereka yang sesungguhnya.

Kedua, keringnya hubungan interpersonal, baik di dalam keluarga, maupun di tengah masyarakat sekitar. Padahal, mereka membutuhkan kehangatan yang tulus dari orang-orang di sekelilingnya. Ekses negatif dari hubungan antarmanusia yang tidak harmonis ini melahirkan rasa sepi, sendiri, meski mereka berada di tengah keramaian. Dan, hal ini ketika dibiarkan berlarut-larut menjadi preseden buruk bagi perkembangan mental dan jiwa mereka. Dalam kondisi demikian, siapapun akan rentan untuk terjerumus ke dalam perilaku yang menghinakan dirinya sendiri.

Ketiga, munculnya rasa bosan menjalani hidup. Akumulasi dari hilangya makna hidup serta hubungan interpersonal yang tidak lagi hamonis, mengakibatkan para pelajar yang masih usia remaja mengalami tekanan batin berupa rasa bosan. Pada akhirnya, rasa bosan ini membawa mereka untuk lari dari kenyataan hidup yang dihadapinya. Mereka lebih memilih ‘jalur alternatif’ untuk menggapai kesenangan semu dan mereguk kenikmatan sesaat.

Solusi Alternatif

Mengkaji beberapa faktor pemicu munculnnya trend pemakaian narkoba di kalangan pelajar tersebut di atas, penulis ingin urun rembug untuk memberikan solusi alternatif sebagai langkah preventif bagi mereka yang belum terjerumus ke ‘lembah nista’ narkoba, dan juga langkah represif bagi mereka yang sudah terlanjur ‘berkenalan’ atau bahkah ‘akrab’ dengan dunia narkoba.

Adapun solusi alternatif yang penulis maksud di sini adalah suatu metode atau pendekatan yang dapat diterapkan kepada mereka, baik yang belum ataupun yang sudah terjerat belitan narkoba.

Pertama, pendekatan agama. Melalui pendekatan ini, mereka yang masih ‘bersih’ dari dunia narkoba, senantiasa ditanamkan ajaran agama yang mereka anut. Agama apa pun, tidak ada yang menghendaki pemeluknya untuk merusak dirinya, masa depannya, serta kehidupannya. Setiap agama mengajarkan pemeluknya untuk menegakkan kebaikan, menghindari kerusakan, baik pada dirinya, keluarganya, maupun lingkungan sekitarnya. Sedangkan bagi mereka yang sudah terlanjur masuk dalam kubangan narkoba, hendaknya diingatkan kembali nilai-nilai yang terkandung di dalam ajaran agama yang mereka yakini. Dengan jalan demikian, diharapkan ajaran agama yang pernah tertanam dalam benak mereka mampu menggugah jiwa mereka untuk kembali ke jalan yang benar.

Kedua, pendekatan psikologis. Dengan pendekatan ini, mereka yang belum terjamah ‘kenikmatan semu’ narkoba, diberikan nasihat dari ‘hati ke hati’ oleh orang-orang yang dekat dengannya, sesuai dengan karakter kepribadian mereka. Langkah persuasif melalui pendekatan psikologis ini diharapkan mampu menanamkan kesadaran dari dalam hati mereka untuk menjauhi dunia narkoba. Adapun bagi mereka yang telah larut dalam ‘kehidupan gelap’ narkoba, melalui pendekatan ini dapat diketahui, apakah mereka masuk dalam kategori pribadi yang ekstrovert (terbuka), introvert (tertutup), atau sensitif. Dengan mengetahui latar belakang kepribadian mereka, maka pendekatan ini diharapkan mampu mengembalikan mereka pada kehidupan nyata.

Ketiga, pendekatan sosial. Baik bagi mereka yang belum, maupun yang sudah masuk dalam ‘sisi kelam’ narkoba, melalui pendekatan ini disadarkan bahwa mereka merupakan bagian penting dalam keluarga dan lingkungannya. Dengan penanaman sikap seperti ini, maka mereka merasa bahwa kehadiran mereka di tengah keluarga dan masyarakat memiliki arti penting.

Dengan beberapa pendekatan di atas, diharapkan mampu menggerakkan hati para pelajar yang masih belia dan ‘suci’ dari kelamnya dunia narkoba untuk tidak larut dalam trend pergaulan yang menyesatkan. Dan bagi mereka yang sudah tercebur ke dalam ‘kubangan’ dunia narkoba, melalui beberapa pendekatan tersebut, diharapkan dapat kembali sadar akan arti penting kehidupan ini, yang amat sayang jika digadaikan dengan kesenangan yang nisbi. (*)