Oleh: Didi Junaedi HZ*
Salah satu peristiwa besar dalam sejarah hidup Nabi Muhammad Saw. yang kemudian diabadikan dalam al-Qur’an adalah Isra’ Mi’raj. Peristiwa Isra’ Mi’raj pada umumnya ditafsirkan sebagai perjalanan Nabi Muhammad di malam hari dari Masjid al-Haram (Mekah) ke Masjid al-Aqsha (Palestina), kemudian naik ke Sidrat al-Muntaha. Kejadian luar biasa ini terekam jelas dalam firman Allah Swt, “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsha yang tela kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”.(QS. 17:1)
Tak ayal, alih-alih semakin menguatkan keyakinan masyarakat akan risalah kenabian Muhammad, peristiwa suprarasional di luar jangkauan inderawi ini justru menimbulkan reaksi keras dan melahirkan berbagai komentar sinis masyarakat Arab pada saat itu.
Berbeda dengan komentar sisnis kebanyakan masyarakat Arab, adalah Abu Bakar al-Shiddiq orang yang pertama kali mempercayainya dengan mengatakan, “Apabila Muhammad yang memberitakannya, pasti benar adanya”. Pendekatan yang ditempuh Abu Bakar dalam memahami peristiwa ini adalah spiritualitas-imany, bukan rasionalitas-aqli seperti ditempuh kebanyakan masyarakat Arab pada saat itu. Baca selebihnya »













