Saat ini kita tengah berada di bulan Ramadhan. Saat ini pula, jutaan umat Islam dari seluruh penjuru dunia tengah menjalankan sebuah ritualitas ibadah, yang merupakan salah satu pilar dari rukun Islam yang lima, yakni ibadah puasa.

Setiap kali bulan ramadhan datang menyapa, dan setiap kali ritual ibadah puasa dijalankan, sebuah pertanyaan muncul. Apa sebenarnya pesan moral yang terkandung dalam ibadah puasa tersebut?

Melalui tulisan ini, penulis ingin mengajak kita semua (baca: umat Islam) meluangkan waktu sejenak untuk merenung, merefleksi, sekaligus menggali makna ibadah puasa yang tengah kita jalani. Dengan demikian, ibadah puasa tidak sebatas ritualitas formal semata tanpa makna, tetapi sebuah aktivitas ibadah yang sarat nilai.

Dalam sejumlah kajian disebutkan bahwa ritualitas ibadah puasa mengandung makna filosofis dan memberikan pelajaran yang sangat berharga kepada kita. Hemat penulis, ada dua pesan moral yang dapat kita petik dari aktivitas ibadah puasa, yaitu:

Pertama, posisi tauhid menduduki peringkat pertama, paling sentral dan paling esensial dalam ajaran Islam. Kesediaan umat Islam untuk menahan rasa lapar, dahaga serta segala hal yang dapat membatalkan ibadah puasa merupakan simbol peleburan ego manusia, pelepasan diri dari segala bentuk nafsu jasadi-duniawi, sekaligus menegaskan pembebasan (al-hurriyah) manusia dari penghambaan terhadap materi. Hal ini sesuai dengan misi tauhid yang diemban setiap manusia, yaitu tahrirul ’ibad min ’ibadatil ’ibad ila ’ibadati Rabbil ’ibad (membebaskan hamba (manusia) dari menyembah sesama hamba (makhluk) menuju penyembahan terhadap Tuhan).

Kedua, sikap persamaan (al-musawah) harkat dan martabat sesama manusia. Tidak ada superioritas dan inferioritas antara satu individu dengan individu lain, satu masyarakat dengan masyarakat lain, bahkan satu bangsa dengan bangsa lain. Semua manusia sama dihadapan Tuhan. Hanya tingkat ketakwaannyalah yang membedakan satu sama lainnya. (Q. S. 49: 13)

Penanaman kesadaran akan nilai-nilai kemanusiaan, serta prinsip kesetaraan (egalitarianisme) sesama manusia ini pada gilirannya akan menumbuhkan sikap solidaritas sosial. Secara prinsip, agama-agama monoteis menganggap pengikutnya bersaudara meskipun asal mereka berbeda. Egalitariansme religius atau moral semacam ini terkandung dalam al-Quran, demikian juga injil. (Louise Marlow: 1997)

Aktualisasi Nilai-nilai Ibadah puasa

Saat ini, bangsa Indonesia tengah dilanda berbagai macam krisis, baik di bidang ekonomi, politik, sosial, budaya, maupun sendi-sendi kehidupan lainnya. Pelbagai persoalan datang silih berganti. Dari perilaku korup para pejabat publik, perebutan kekuasaan di sejumlah wilayah, masalah pengangguran, sampai maraknya peredaran narkoba. Semua persoalan bangsa ini seakan menjadi menu sehari-hari sejumlah media, baik cetak maupun elektronik.

Kenyataan ini, jika dibiarkan berlarut-larut akan menjadi preseden buruk bagi kelangsungan hidup bangsa ini di masa yang akan datang. Lebih jauh, jika tidak segera ditangani, maka pelbagai persoalan lain akan muncul dan semakin menambah derita panjang bangsa ini.

Dalam konteks inilah, aktualisasi nilai-nilai ibadah puasa menemukan relevansinya. Ritual puasa yang disimbolkan dengan menahan rasa lapar dan dahaga, serta segala hal yang dapat membatalkan ibadah puasa dapat dimaknai secara luas. Selain sebagai upaya taqarrub (pendekatan diri) seorang hamba terhadap Penciptanya, juga dapat diartikan sebagai upaya menumbuhkan sikap kesadaran akan eksistensi kemanusiaan serta solidaritas sosial terhadap sesama.

Dimensi vertikal (hablun min Allah) dan dimensi horisontal (hablun min an-nas) harus berjalan selaras dan seimbang. Dimensi vertikal yang disimbolkan dengan penafian terhadap segala nafsu duniawi selama menjalankan ritual ibadah puasa, merupakan implementasi dari sikap taat terhadap Allah. Sedangkan dimensi horisontal tercermin dari sikap solidaritas sosial sesama manusia berupa pengakuan akan kesetaraan, persamaan derajat dan kesadaran akan eksistensi kemanusiaan.

Ibadah puasa merupakan simbol komitmen bersama untuk menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, mengajarkan kepekaan sosial, empati terhadap pelbagai persoalan yang menimpa orang lain, sehingga setiap individu ataupun kelompok sosial terjamin hak-haknya sebagai manusia yang merdeka dan bermartabat. Singkatnya, ritual ibadah puasa mengajarkan kita untuk melakukan transendensi, merefleksi, mengapresiasi, sekaligus mentransformasikan nilai-nilai moral ilahi yang suci dan sangat mulia ini menuju nilai-nilai insani dalam realitas sosial.

Dengan demikian, orientasi ketuhanan dan kemanusiaan yang berakar pada tiap individu harus teraktualisasi dalam tata nilai perilaku sehari-hari. Hanya dengan transformasi nilai-nilai ilahi ke dalam ranah realitas sosial inilah, akan terbentuk masyarakat yang saleh, baik secara ritual maupun sosial.

Kesadaran serta penghayatan yang dalam akan makna ibadah puasa ini pada gilirannya akan mengikis habis sikap split integrity (kepribadian terbelah) yang kerap menghinggapi jiwa manusia. Gejala split integrity ini begitu mencolok dewasa ini, di satu sisi seseorang terlihat sebagai sosok yang saleh secara ritual, namun di sisi lain ia juga sosok manusia yang bobrok secara moral. Pelbagai kejahatan publik dilakukannya; korupsi, kolusi, penyalahgunaan wewenang serta sederet tindak kejahatan lainnya. Di sinilah, nilai ideal moral ibadah puasa memainkan perannya.

Akhirnya, di tengah kegamangan bangsa ini yang sedang dirundung duka, semoga hadir ke tengah-tengah kita manusia-manusia tauhid yang sadar akan eksistensi kemanusiaannya, yang mampu menyinergikan antara komitmen vertikal-spiritual dan horisontal-sosial demi terciptanya masyarakat yang berorientasi pada nilai-nilai ilahiah dan nilai-nilai insaniyah secara bersamaan.

About these ads