PKS…oh… PKS….

imagesSandiwara macam apa yang tengah dipertontonkan jagat perpolitikan di negeri bernama Indonesia akhir-akhir ini? ‘Isuk dele sore tempe’ (pagi masih kedelai, sore udah jadi tempe), demikian istilah jawa yang paling tepat untuk menggambarkan karakter serta sikap para politisi di negeri ini. Sikap inkonsisten dan mencla mencle ternyata sudah menjadi bagian tradisi dari proses demokrasi di negeri ini.

Salah satu yang paling menjadi sorotan publik adalah sepak terjang para politisi dari PKS, salah satu partai Islam yang katanya memiliki kader-kader ‘bersih’ dan tidak mudah tergoda oleh bujuk rayu kekuasaan.

Namun, kenyataan di lapangan berbicara lain. Setelah sebelumnya mengkritik habis-habisan, karena merasa dikecewakan oleh SBY, yang akhirnya memilih Boediono sebagai  pendampingnya dalam pilpres mendatang, padahal jauh hari sebelumnya PKS menawarkan Hidayat Nur Wahid sebagai cawapres pasangan SBY, akhirnya PKS kembali merapat ke kubu SBY, yakni menjadi mitra koalisi Partai Demokrat.

Hal ini ditegaskan dengan kehadiran Presiden PKS, Tifatul Sembiring, pada acara deklarasi SBY-Berbudi kemarin malam di Aula Sabuga, ITB Bandung. PKS, tampaknya tidak ingin lepas begitu saja dari ranah kekuasaan. Padahal, sebagaimana dilansir sejumlah media, kritikan-kritikan pedas karena kekecewaan dan rasa sakit hati kader-kader PKS atas sikap SBY yang seolah ingin jalan sendiri menyiratkan bahwa PKS sudah tidak sejalan dengan Partai Demokrat.

Bahkan, penulis menyaksikan sendiri ketika tayangan Suara Anda di Metro TV beberapa hari lalu menghadirkan wakil sekjen PKS, Fahri Hamzah, yang disandingkan dengan Saiful Mujani, Direktur LSI, tampak jelas kekecewaan PKS atas sikap SBY. Bahkan beberapa kali Fahri Hamzah terlihat begitu emosional menanggapi pernyataan Saiful Mujani, yang menyebutkan bahwa Boediono adalah alternatif yang tepat sebagai cawapres pendanmping SBY. Dialog yang semula biasa saja berubah menjadi panas, bahkan akhirnya tidak dilanjutkan, karena perdebatan antara Fahri Hamzah dan Saeful Mujani sudah mengarah pada sentimen kelompok.

Dari kenyataan di atas, jelas bahwa PKS yang awalnya begitu kecewa, bahkan mengancam untuk menarik dukungan kepada SBY, ternyata dalam hitungan hari sudah kembali bermesraan dengan SBY dan Partai Demokratnya.

PKS..oh PKS…sebenarnya apa yang kau cari???

4 Tanggapan ke “PKS…oh… PKS….”

  1. puang cahaya dewa Berkata

    salam dari bandung, kang

    PKS (pun) berbudi

    PKS partai yang jujur tidak suka korupsi, Partai dakwa (kata iklan kampanyenya di TV)

    PKS singkatan dari Partai keadilan sejahtera yang membuat petingginya takut beroposisi mungkin takut tidak sehjatera (maaf ini dugaan, semogah salah)

    Menolak paham neoliberalisme karena mendewa-dewakan mekanisme pasar sebagai pengatur perekonomian Negara.( dan tidak sesuai dengan ajaran islam)

    Ingin berkoalisi jika presiden dan wakilnya presentatif, nasionalis and agamis, ( itu kata presidenya, bukan kata saya)

    Mencalonkan 10 kadernya untuk di pilih sby menjadi wakilnya, alasannya logis pemenang ke -4, bhooo

    Tapi sayang seribu sayang “itu hanya mimpi” (maaf mengutip lagunya Projek Pop )

    Menurut pengamat politik dari UI, Pks terkesan menjual diri ( pelacur kali jual diri, tidak laku-laku akhirnya banting harga)

    Menurut tetangga saya yang sangat mengidolakan PKS dan relah antri di TPS demi mencontreng partai idolanya, menyarankan ………. Para petinggi pks banyak- banyak membaca ayat kursi, agar tidak ada kesan berjuang karena lapar mohon di kasih kursi menteri –puntak apalah kalau tidak dapat kursi wapres, dari pada tidak dapat apa-apa.

    Kata limbad, fakir magician “terima kasih” ( terima kasih telah di tipu dengan gertak sambalnya presiden pks yang katanya anti neoliberal)

    Dan sekarang para petinggi partainya tidak bisa tidur nyenyak, lagi berpikir bagaimana menenangkan massa akar rumputnya.

    Ini betul-betul zaman edan kata permadi sang mistikus politik

    https://esaifoto.wordpress.com

  2. PKS partai mudzabdzab (baca: plin plan). Partai Islam? cuma simbol dan asas saja, tak lebih. Mereka haus akan kuasa dan jabatan. Partai oportunis nan rakus. Isu yang berkembang mereka minta jatah Menteri Pendidikan Nasional dan Menag. Hati-hati. Mereka akan sebarkan kurikulum wahabi. Anda sebagai pendidik yang mengabdikan diri di STAIN dan jebolan pesantren harus risau dengan hal ini….

  3. widhiyat Berkata

    kalem mas widjan, wahabi kenapa ditakuti ? wahabi ok, dari pada mudzabzab, model kiyai sampeyan !

    • Moh.zuhri Berkata

      Kyai mana yg anda maksud? Bukankah politik masuk ranah far’i, yang mana perbeda’an merupakan rahmat, mereka tetep toleran, ga’ cuman manfa’atin masa hanya untuk ngedukung akidahnya

Tinggalkan Balasan