Qick Writing
Sesuai judulnya, tulisan ini dibuat secara cepat, mendadak, tanpa persiapan, dan tidak terikat dengan tema tertentu. Kenapa hal ini saya lakukan? Jujur sejujur-jujurnya, saya lagi ga tahu mau nulis apa?
Para pakar penulisan mengatkan bahwa semakin banyak membaca, maka semakin banyak pula ide yang bisa dituangkan ke dalam sebuah tulisan. Saya tidak menyangkal tesis tersebut. Tetapi, kenyataannya semakin banyak membaca, saya justru semakin bingung mau nulis apa dan mulai dari mana?
Ya udahlah, dari pada bingung mau nulis apa, mending saya cerita tentang aktivitas saya selama hampir 2 minggu ini bergaul dengan buku.
Alhamdulillah selama hampir dua minggu ini bergaul dengan buku, saya sudah menyelesaikan beberapa buah judul buku:
1. Setengah Isi Setengah Kosong, karya Parlindungan Marpaung. Buku ini bagus banget, menginspirasiku untuk menjalani hidup lebih enjoy. Berusaha lebih empati kepada orang lain.
2. Mengapa Terkadang Saya Merasa Allah Tidak Adil?, karya Muhammad Muhyidin. Sebuah karya yang menggugah kesadaran saya untuk lebih bisa menilai diri sendiri.
3. The Road to Allah, karya Jalaluddin Rahmat. Dalam buku ini diuraikan secara apik tahapan-tahapan menuju perjumpaan dengan Allah.
4. Pelatihan Shalat Khusyu, karya Abu Sangkan. Sebuah jawaban atas pertanyaan sebagian besar di antara kita yang menjalankan sholat hanya sebatas menunaikan kewajiban, tanpa mengindahkan substansi terdalam dari ibadah tersebut. Penulis menuntun kita untuk mencapai tahapan khusyu dalam shalat.
5. From Zero to Hero, karya Sholihin Abu Izzuddin. Buku berisi motivasi dan inspirasi yang dikemas dengan nuansa Islami, diperkaya dengan sitiran ayat-ayat al-Quran dan periwayatan yang bersumber dari hadis Nabi.
Itulah sekilas cerita pergaulan saya dengan sejumlah buku 2 minggu terakhir ini. Masih ada beberapa buku lain yang menunggu untuk dijamah.
Bacaan-bacaan tersebut menginspirasi saya untuk menulis sejumlah artikel atau semacam refleksi agar pemahaman bisa lebih dalam. Tentunya, tidak sekarang saya mewujudkan keinginan tersebut. Butu waktu untuk memetakannya menjadi sebuah tulisan yang menarik untuk dibaca dan dikaji.
Saya jadi semakin yakin dengan tesis para pakar penulisan tasi, yakni “Semakin banyak membaca, semakin membuat kita kaya ide dan gagasan untuk dituangkan menjadi sebuah tulisan, atau bahkan buku”.