Who am I? (Sebuah Renungan)

whoPernahkah kita bertanya pada diri sendiri tentang eksistensi kita? Siapa sebenarnya kita? Untuk apa kita dilahirkan? Hendak ke mana kita selanjutnya?

Kita terkadang lupa hakekat diri kita sendiri. Kita sudah terlalu lama melihat ke luar, tanpa pernah melihat ke dalam (diri). Kita telah dibuai oleh mata (lahiriyah) kita, sementara mata (batin) kita telah lama tertutup.

Memang, semua kenikmatan hidup yang bersifat bendawi, ragawi, dan materi itu menyenangkan, menyilaukan, sekaligus melalaikan. Bahkan, kesenangan sesaat tersebut bisa menjerumuskan, menghancurkan dan menghinakan.

Coba kita lihat diri kita. Mana yang lebih banyak  dipenuhi kebutuhannya, jasmani atau ruhani, jiwa atau raga?

Coba kita lihat sekali lagi diri kita. Sudahkah kita menjadi sosok manusia yang berguna bagi sesama? Disaat kita senang, apakah orang lain juga ikut merasakan kesenangan kita? Disaat orang lain sedih, apakah kita juga ikut berempati atas kesedihannya?

Coba sekali lagi kita lihat diri kita. Apakah orang lain merasa senang dengan kehadiran kita, karena selalu berarti bagi mereka? Ataukah justru orang lain merasa terganggu dengan kehadiran kita, karena selalu merugikan mereka?

Mari kita renungkan bersama. Sudahkah kita menyadari eksistensi kemanusiaan kita?

7 Tanggapan ke “Who am I? (Sebuah Renungan)”

  1. hmm.. ya mari renungkan.

    salam,,,

  2. Halo bung…masih ingat ga ma diriku ? teman asrama Solo dulu…Yuk kita renungkan siapa diri kita sebenarnya ?????…

    Salam

  3. didijunaedihz Berkata

    ya masih lah kang….masa lupa sama temen yang udah bergaul selama 3 tahun…pa kabarnya om?

  4. Link sudah saya add mas, mohon di linkback blog saya. Salam blogger, terimakasih.

  5. didijunaedihz Berkata

    ok, thanks. udah tak add

  6. Ya ya … merenung … siapa yang paham eksistensi dirinya … akn mudah memahmi eksistensi di luar dirinya … dia akan mengnal Sang Pencipta

  7. menurut saya,…bila kita mengadakan perenungan tetap harus didampingi lawan bicara yaaa,dalam hal ini org yg lebih mengetahui diri kita ,sebab pendapat guru saya “Yang bisa melihat punggung kita itu orang di luar kita”,artinya segala sisi hidup yang kita jalani tidaklah sampai 10% apa2 yg kita ketahui dr diri kita sendiri,perlu orang ketiga atau alat bantu .

Tinggalkan Balasan