Ketika Prabowo ke Kampungku

Minggu, 21 Juni 2009, merupakan hari yang istimewa bagi sebagian besar warga Desa Kluwut Kecamatan Bulakamba Kabupaten Brebes, khususnya kaum nelayan. Tanah kelahiranku tersebut, kemarin kedatangan salah seorang cawapres yang akan bertarung dalam Pilpres 8 Juli 2009 mendatang. Ya, dialah Prabowo Subianto. Cawapres pasangan Megawati Soekarnoputri itu kemarin siang, sekitar pukul 10.00 WIB mengunjungi kampung nelayan di sekitar wilayah Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Desa Kluwut. Kedatangannya tidak dalam rangkaian Kampanye Pilpres, tetapi bersilaturahmi dengan warga nelayan di wilayah Pantura.

pra1

Kedatangan Prabowo disambut dengan antusiasme yang tinggi oleh masyarakat Desa Kluwut dan sekitarnya. Karena berbarengan dengan diadakannya pesta laut (sedekah laut—ritual tahunan yang diadakan kaum nelayan), maka Prabowopun  didaulat untuk memimpin prosesi pelarungan kepala kerbau ke tengah laut, sebagai sesaji untuk dewa laut, menurut kepercayaan kaum nelayan setempat. Saat itu juga, Prabowo ditahbiskan sebagai Bapak Nelayan Pantura, yang meliputi wilayah Brebes, Tegal dan Pemalang.

Setelah kurang lebih satu jam di lokasi acara, dengan agenda prosesi pelarungan kepala kerbau ke laut, memberikan kata sambutan, dan sedikit wawancara dengan kaum nelayan dan tokoh agama serta tokoh masyarakat setempat, Prabowo dan rombongan pun meninggalkan Desa Kluwut.

Aku sendiri tidak berada di tempat tersebut ketika acara berlangsung. Aku sedang menghadiri acara Bedah Buku bertajuk “Memilih Alat Kontrasepsi yang Alami dan Halal”, yang diadakan oleh Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah, salah satu ortom Muhammadiyah bagi remaja putri Muhammadiyah. Acara tersebut bertempat di Gedung Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al-Mujahidin Kluwut, tidak jauh dari acara pesta laut berlangsung.

Ada ataupun tidak ada acara yang berbarengan dengan acara pesta laut, aku enggan menghadiri acara pesta laut atau dikenal dengan sebutan sedekah laut itu. Alasanku jelas, ritual yang sarat dan kental dengan nuansa kemusyrikan tersebut merupakan salah satu agenda yang selama ini aku coba untuk menghilangkannya. Aku selalu menyosialisasikan dalam berbagai forum majelis taklim, pengajian ataupun acara-acara keagamaan lainnya, bahwa ritual yang selama ini dilakukan kaum nelayan setiap tahun itu akan mengikis akidah serta keyakinan kita sebagai seorang muslim dan mukmin. Apalagi masyarakat desa Kluwut dikenal sangat agamis. Tetapi, entah kenapa untuk masalah yang satu itu, baik pemerintah setempat ataupun para juru dakwah belum sanggup untuk menghilangkannya.

3 Tanggapan ke “Ketika Prabowo ke Kampungku”

  1. saya setuju mas dengan statement mas yang mengatakan bahwa pestalaut adalah sarat dengan kemusyrikan dan mengikis aqidah, karena acaranya hanya membawa kemudharatan. semoga perjuangan kita tidak sia-sia, amiin

  2. wah hebat tenan ustade.laka ning TKP saja bisa buat blog apalagi jadi saksi, mesti ndopoke ora pol2. S2 dilawan.ha ha. guyonan mas…. tp oke juga tuh pendapatnya soal sedekah laut.memang kayaknya nda bisa hilang ritual itu tp yg penting kita sudah berusaha.insyaAllah gugur kewajiban kita.

  3. commend 200 luar biasa dahsyat artikel anda sangat bermanfaat bagi saya. dan jangan lupa berkunjung ke situs saya.

Tinggalkan Balasan