Menulis Untuk Keabadian

imagesPerkenankan saya mengawali tulisan ini dengan sebuah pertanyaan: Untuk apa kita menulis?

Jawaban yang muncul atas pertanyaan tersebut tentu beragam. Ada seseorang yang menulis sekedar untuk ‘curhat’, yakni mencurahkan isi hatinya. Ada pula yang menulis untuk menjajakan ide serta gagasannya. Pun ada yang menulis untuk ‘rehat’ sejenak dari segala rutinitas kesehariannya. Di sisi lain, belakangan banyak orang menulis, entah artikel, buku, novel atau apapun jenisnya untuk mencari popularitas.

Hemat saya, apapun motivasi seseorang dalam menulis, satu hal yang pasti bahwa menulis akan membawa kita pada keabadian. Menulis, pada hakekatnya menunjukkan eksistensi seseorang. Menulis juga menegaskan kualitas seseorang. Menulis membuka mata orang lain (pembaca) untuk menyelami alam pikiran kita. Menulis menata serpihan-serpihan pengalaman hidup untuk kita susun menjadi sebuah bangunan pemikiran yang utuh. Menulis menghimpun yang terserak, menyatukan yang terpisah dan mengingat yang terlupakan dari kepingan-kepingan pengetahuan yang tersimpan rapih dalam alam bawah sadar kita.

Dalam sebuah ungkapan bijak dinyatakan, Verba volant Scripta manent, ucapan akan hilang, tulisan akan abadi. Sebaik apapun ucapan akan begitu mudah hilang ditelan waktu. Seburuk apapun tulisan akan abadi sepanjang masa. Secemerlang apapun ide kita, jika hanya diungkapkan dalam bahasa lisan, tidak akan bertahan lama. Tetapi gagasan sederhana yang tertuang apik dalam sebuah tulisan akan menjadi catatan sejarah yang abadi.

Usia seseorang boleh seumur jagung. Tetapi karya seseorang akan berumur panjang. Seorang penulis akan terus disebut namanya melalui karya-karyanya, meskipun jasadnya sudah berkalang tanah. Karyanya akan mengabadikan namanya.

Untuk itu, menulislah untuk keabadian!

Tinggalkan Balasan