Arsip Penulis

Mensyukuri Nikmat Bertambah Usia

Posted in sekedar curhat dengan kaitan (tags) , , , , , , , on Desember 25, 2009 by didijunaedihz

Tepat hari ini, Sabtu, 26 Desember 2009, 30 tahun yang lalu Allah SWT memperkenankan salah seorang hamba-Nya untuk menikmati kehidupan di luar alam rahim untuk pertama kalinya. Ya, 26 Desember merupakan hari paling bersejarah dalam hidupku. Inilah saat pertama kali aku lahir ke muka bumi. Inilah saat pertama kali aku menghirup udara di alam raya ini, setelah sebelumnya ruang hidupku hanya berbatas dinding-dinding perut ibuku.

Sebuah nikmat tak terperikan yang telah dianugerahkan Allah kepadaku. Aku terpilih menjadi salah satu duta-Nya untuk mengemban misi kekhalifahan di muka bumi ini. Nikmat yang tidak cukup sekedar disyukuri dengan  kata-kata, tentunya. Nikmat yang harus terus dibuktikan dengan tindakan nyata, berupa pengabdian serta penghambaan sepanjang hayat masih di kandung badan.

Alangkah sombongnya manusia, ketika anugerah berupa keberkenanan Allah untuk memberinya kesempatan hidup di dunia ini tidak dianggap sebuah nikmat yang harus disyukuri. Betapa angkuhnya manusia, ketika ia tidak menyadari bahwa kehadirannya di muka bumi ini adalah atas izin dan kehendak-Nya. Padahal, sejumlah firman-Nya menyebutkan bahwa tidak ada sesuatu pun yang terjadi di muka bumi ini, kecuali telah Allah tuliskan (tetapkan) sebelumnya.

Maka, sebagai ciptaan (makhluk)-Nya yang telah diberi kesempatan untuk  menikmati indahnya dunia dengan segala fasilitas yang diberikan oleh-Nya, sudah selayaknya aku mensyukuri semua ini dengan membuktikan bakti dan pengabdianku pada-Nya.

Kini, bertambahnya usia, yang pada hakekatnya berkurangnya jatah waktu hidupku di alam fana ini, ingin aku isi dengan hal-hal positif sesuai dengan yang telah digariskan-Nya dalam Kitab suci Al-Quran, dan juga melalui sabda-sabda Nabi-Nya, yakni Muhammad Saw.

Aku ingin menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya. Aku ingin menjadi lebih bermanfaat, bagi diriku sendiri dan orang lain. Aku ingin setiap kehadiranku, di mana pun aku berada mampu memberikan nilai positif pada sekelilingku. Bertambah usia, bukan untuk dirayakan dengan hal-hal kontraproduktif, yang justru melenakan dari makna hakiki serta esensi pertambahan usia. Bertambah usia, tidak untuk dijadikan kesempatan merasa ‘lebih’ dari orang lain. Tetapi, pertambahan usia hendaknya dijadikan sarana untuk merefleksi, introspeksi diri atas apa yang telah diperbuat selama ini. Apakah rentang kehidupan yang telah dijalani lebih bernilai positif, ataukah justru sebaliknya? Apakah selama diberi kesempatan hidup hingga saat ini, sudah dimanfaatkan untuk beramal sholih atau tidak?

Berapa pun lamanya usia hidup kita, berapa pun panjangnya umur kita, tidak akan berarti apa-apa ketika tidak diisi dengan serangkaian aktivitas positif (amal sholih). Rasulullah SAW pernah memberikan statemen: “Sebaik-baik manusia adalah yang diberi umur panjang dan diisi dengan amal sholih. Dan seburuk-buruk manusia adalah yang diberi umur panjang dan umurnya dihabiskan untuk hal-hal negatif”.

Untuk itu, berkaitan dengan upaya mensyukuri pertambahan usia, yang kini sudah menginjak angka 30 ini, saya memohon kepada Allah SWT untuk selalu diberi keteguhan hati, kesabaran jiwa dalam menjalani hidup dan kehidupan di dunia yang penuh dengan godaan ini, agar senantiasa berada di jalan-Nya. Aku memanjatkan doa kepada-Nya agar sisa umur yang entah masih berapa lama lagi bisa aku manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Aku ingin terus menunjukkan pengabdianku pada-Nya, baktiku pada kedua orang tuaku, serta menenbar kebaikan kepada sesama, sebagai ladang amal, investasi akhirat yang kelak akan aku tuai hasilnya di hadapan-Nya.

Semoga bertambahnya usia ini menjadikan aku lebih baik dari sebelumnya dalam segala hal. Amiin..Ya Rabbal ‘Alamin…

Gara-gara SMS…

Posted in sekedar curhat dengan kaitan (tags) , , , , on Desember 24, 2009 by didijunaedihz

Tadi pagi, sekitar pukul 05.45 WIB, hpku berdering dua kali, “ting ting..ting ting..” tanda ada pesan masuk. Sayangnya, aku sedang tidak berada di TKP, karena tengah menikmati keheningan di ‘bilik termenung’ alias ‘kamar senyap’ alias WC, he..he..Tapi karena nadanya cukup keras jadi aku dengar ada sms masuk ke hpku.

Selesai menunaikan hajat badani, akupun langsung menuju ke TKP. Wah.., ternyata ada yang sudah buka pesan di inboxku lebih dulu. Akupun langsung tahu siapa gerangan yang sudah menjelajah ruang privatku. Ya, tak salah lagi, pasti istriku.  Setelah kubaca, ternyata konfirmasi dari account Facebookku yang menunjukkan ada komen di statusku. Sang pemberi komen, tidak lain adalah seseorang yang dulu pernah begitu dekat denganku (lawan jenis tentunya…, emangnya aku cowok apakah? Ups sorry, maksudnya cowok apaan? He..he..). Komen tersebut sebetulnya sudah aku baca langsung di situs jejaring sosial yang lagi ngetren itu, tapi konfirmasi ke hpku baru nyampe tadi pagi. Ya, biasa lah, jaringan sibuk…(alasan klise yang sering disampaikan operator provider penyedia jasa layanan yang aku pakai).

Ok, kita kembali ke TKP, eh maksudnya kembali ke soal pesan di inboxku itu. Ternyata, alibiku tidak berada di TKP saat kejadian (masuknya sebuah pesan ke inbox hpku), menjadi sumber pemicu misunderstanding, antara aku dan istriku.

Istriku bersungut-sungut ketika membaca pesan yang masuk ternyata dari seseorang yang dulu pernah dekat denganku. Dia mendadak diam, tidak mau bicara sepatah kata pun denganku. Dalam diamnya, sikapnya berubah 1800. Akupun mencoba untuk mengklarifikasi sekaligus mendinginkan suasana agar tidak berlarut-larut. Aku bilang padanya bahwa aku hanya nulis status, kemudian dia (si pemberi komen) itu ngasih komentar, itu aja, nggak lebih. Dan aku tidak bisa melarang siapa pun yang ingin mengomentari statusku. Demikian apologi yang aku utarakan.

Klarifikasi dan penjelasanku ternyata tidak memberi efek apa pun padanya. Dia tetap bersikeras bahwa aku yang salah. Dia bilang, kalau aku tidak ngasih komen ke ‘dia’, tentu ‘dia’ tidak akan ngasih komen apa-apa. Trus kalo memang ngga ada apa-apa, untuk apa ‘dia’ pagi-pagi sempet-sempetnya ngirim pesan ke hpku, cecarnya dengan sejumlah pertanyaan yang menyudutkanku, dan membuatku semakin tidak ngerti jalan pikirannya..Mungkin, istriku sudah terlanjur dibakar perasaan jealous, cemburu yang luar biasa (ge er nih ye…), hingga tidak memberi ruang sedikit pun untukku membela diri.

Akhirnya, aku pikir jalan paling aman adalah meminta maaf. Akupun minta maaf sama dia tentang kejadian tersebut. Ternyata, istriku tidak mudah untuk memberi maaf begitu saja atas kesalahanku tersebut (sssttt…jangan bilang-bilang ya..!! Padahal aku sama sekali merasa tidak bersalah, karena itu di luar kehendakku). Siapa coba yang bisa melarang seseorang untuk tidak memberi komentar pada status di Facebook kita.

Setelah melalui berbagai pendekatan, yang pernah aku pelajari baik dalam mata kuliah metodologi penelitian maupun Psikologi, he..he..Akhirnya aku bisa meluluhkan hati istriku…Thanks God sudah bantu aku melunakkan hati salah seorang hamba-MU…Aku pun lega…sudah tidak ada lagi ganjalan dalam hati ini.

Segera setelah peristiwa itu berakhir damai, aku langsung menghapus nomor hpku dan meng-unsubscribe layanan facebook mobile di hpku, agar peristiwa serupa tidak terulang.

Yah..akhirnya aku pun tahu, ternyata istriku itu sensi banget. Tapi aku juga senang, karena orang bilang cemburu itu kan tandanya cinta. Jadi, aku semakin tahu kalau istriku benar-benar cinta mati sama aku…he..he..

Curahan Hatiku Untuk Ibunda Tersayang…

Posted in sekedar curhat dengan kaitan (tags) , , , , on Desember 23, 2009 by didijunaedihz

(Sebuah “Kado” ala kadarnya untuk Ibuku dalam rangka Hari Ibu, 22 Desember 2009)


Kalau aku ditanya, siapakah sosok yang paling berpengaruh sekaligus berperan dalam hidupku? Maka tanpa pikir panjang, aku akan menjawab: Ibu. Ya, selama 30 tahun aku menjalani hidup ini, sosok ibulah yang begitu dekat dalam hatiku. Beliau seolah menjadi ‘malaikat’ yang selalu mendampingiku dalam segala kondisi; senang atau sedih, suka ataupun duka.

Beliau layaknya oase yang selalu hadir di saat hati ini tengah gersang, kering kerontang, dan membutuhkan siraman kasih sayang. Beliau tak ubahnya seperti psikolog sekaligus motivator ulung sepanjang masa, yang dengan penuh ketulusan selalu memberi bimbingan, support, serta motivasi ketika aku sedang jatuh tertimpa pelbagai persoalan. Perhatian, cinta serta kasih sayangnya tak akan pernah lekang di telan waktu, tak akan pudar dimakan zaman. Ketulusan cinta dan kasih sayangnya selalu mewarnai hari-hariku, sampai detik ini.

Aku tidak bisa membayangkan, seandainya ibuku tidak memberikan motivasi, support ataupun nasihat di saat aku sedang down. Seandainya beliau tidak peka terhadap persoalan yang tengah menderaku pada masa lalu, tentu aku tidak akan bisa menjadi seseorang seperti saat ini.

Di saat-saat aku tengah berada dalam kegamangan hidup, ketika pelbagai persoalan tak henti-hentinya menyelimuti kehidupanku. Di saat-saat seperti itulah peran ibuku luar biasa besarnya. Beliau dengan penuh cinta dan kasih sayang seorang ibu senantiasa memberikan nasihat-nasihat yang menyejukkan, mendamaikan dan menentramkan. Beliau dengan sabar dan penuh perhatian mengajakku bicara dari hati ke hati. Tidak jarang, di saat nasihat-nasihat bijaknya meluncur deras dari bibirnya, air mataku pun mengalir deras di pangkuannya. Aku terus larut dalam kalimat-kalimat teduh yang beliau ucapkan, sementara air mataku semakin tak terbendung membasahi kainnya.

Beliau berpesan, dalam kondisi seperti ini jangan mempertanyakan keadilan Allah, tapi koreksilah diri sendiri. Perbanyaklah usaha dan doa kepada-Nya, serta tawakkallah. Allah pasti mendengar doa hamba-Nya.

Setelah mendengar nasihat-nasihat bijak nan meneduhkan itu, aku serasa terlahir kembali menjadi sosok manusia baru yang penuh semangat dan siap menghadapi hidup, seberat apapun ujian yang menghadang di depan.

Akhirnya, atas izin Allah serta doa kedua orang tua, terutama ibu, saat ini aku sudah melewati masa-masa kritis itu. Aku sudah menjadi pribadi yang baru, yang tidak mudah menyerah dengan keadaan, yang tidak cengeng menghadapi persoalan hidup.

Saat ini, aku sudah berkeluarga bahkan sudah dikaruniai seorang putri kecil yang cantik. Kehidupan ekonomiku pun kian membaik. Alhamdulillah, aku sudah menjadi seorang Dosen PNS di salah satu perguruan tinggi negeri. Istriku seorang Bidan Desa yang sudah ditempatkan Pemerintah di wilayah kecamatanku. Di samping itu, aku juga sekarang sedang mengelola sebuah usaha Photo Copy dan Rental Komputer, yang alhamdulillah makin hari makin berkembang.

Melalui tulisan singkat ini aku hanya ingin mengucapakan : TERIMA KASIH IBU, CINTAMU TANPA PAMRIH, KASIHMU TAK BERTEPI, SAYANGMU TAK BERKESUDAHAN. Semoga Allah Swt. membalas semua jasa baik ibu dengan CINTA-NYA, KASIH-NYA serta SAYANG-NYA. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.

***

(Tulisan ini merupakan bagian dari naskah berjudul “Cinta Tanpa Pamrih, Kasih Tak Bertepi, Sayang Tak Berkesudahan”, yang diikutkan dalam Lomba Kisah Kasih Ibu, yang diselenggarakan oleh milis wordsmartcenter bekerjasama dengan penerbit Mizan, dalam rangka memperingati Hari Ibu, 22 Desember 2009).

Semoga bisa memenangkan salah satu dari 10 kategori Juara yang diperlombakan. Amin..Doain yaah…(Pengumuman Pemenang awal Januari 2010)

Bad mood….

Posted in sekedar curhat dengan kaitan (tags) , on Desember 21, 2009 by didijunaedihz

Tidak seperti biasanya, senin pagi ini hariku diawali dengan hal-hal yang tidak mengenakkan. Mungkin ini imbas dari kekesalanku semalam, ketika hp modemku error terus, padahal baru diisi pulsa penuh. Akhirnya ketika pagi  hari aku mau berangkat kantor, aku isi pulsa lagi. Ternyata masih juga belum bisa buat online, gimana nih provider penyedia jasa internet yang selama ini aku banggakan…apa kabar?

Sebelum berangkat kantor, ada sedikit miskomunikasi dengan istri, semakin menambah bad mood aja nih.. Ternyata penderitaanku belum berakhir. Ketika berangkat ke kantor, bus yang aku naiki sudah penuh sesak. Orang-orang berjubel berdesakan di dalam bus. Aku termasuk yang ketiban sial. Perjalanan dari rumah menuju kantor sejauh 60 km, aku lalui dengan bergelantungan di dalam bus. Baru ketika 6 km menuju kantor, aku bisa mendapat tempat duduk. What annoying condition I’ve ever had….

Jargon “I dont like Monday…” seakan benar-benar menimpaku hari ini. Sesuatu yang bikin bad mood telah merusak konsentrasiku. Akhirnya pas nyampe kantor, buat ngilangin bete, langsung aja aku buka laptop trus online pake hotspot kantor.

Hidup memang penuh warna, sebentar senang, sebentar sedih, sebentar suka, sebentar duka, sebentar marah, sebentar senyum, sebentar bad mood, sebentar good mood…

Anyway, show must go on…..



Selamat Tahun Baru 1431 H

Posted in sekedar curhat on Desember 19, 2009 by didijunaedihz

Assalamu’alaikum…

Untuk teman-teman blogger di mana saja berada, saya mo ngucapin :

“SELAMAT TAHUN BARU 1431 H”

Moga lembaran baru kehidupan di awal tahun baru Islam ini, serta lembaran-lembaran kehidupan selanjutnya akan kita isi dengan tinta emas. Dengan semangat Hijrah, mari kita tinggalkan segala bentuk aktivitas negatif, kita isi sisa-sisa hidup dan kehidupan ini dengan aktivitas positif, yang sesuai dengan ajaran agama dan norma – norma sosial.

Semoga kita mennjadi LEBIH BAIK dari SEBELUMNYA!

Wassalamu’alaikum…

Lelah Tapi Nikmat, Capek Tapi Puas…

Posted in sekedar curhat dengan kaitan (tags) , , , , , , , , , , , on Desember 17, 2009 by didijunaedihz

Hari ini merupakan hari yang cukup melelahkan bagiku. Dari pagi hingga sore hari aku menghabiskan waktu di tempat usaha (toko) bersama dua orang karyawanku. Ya, aku memang sedang belajar buka usaha kecil-kecilan, yakni usaha Photo Copy dan Rental Komputer. Usaha ini sudah berjalan selama satu setengah tahun. Memang, sejak dibuka sampai saat ini, usahaku belum menunjukkan perkembangan yang signifikan. Mungkin karena masih tergolong baru, disamping sudah banyak pemain yang berkecimpung di bidang usaha sejenis. Tetapi, setidaknya waktu satu setengah tahun tersebut sudah banyak memberikan pelajaran berharga bagiku, khususnya pengalaman bergelut di dunia entrepreneurship (kewirausahaan).

Aku merasa bahwa dunia wirausaha ini merupakan dunia yang sarat tantangan dan penuh resiko. Sangat bertolak belakang 1800 dengan kehidupanku sesungguhnya sebagai seorang Dosen PNS, yang relatif aman dan tidak banyak—untuk tidak mengatakan tidak ada— tantangan dan resiko. Dunia wirausaha membutuhkan orang-orang yang betul-betul siap mental dan tahan banting. Karena hanya ada dua kemungkinan yang akan terjadi, ketika seseorang sudah menapaki dunia yang satu ini, kemungkinan gagal dan kemungkinan berhasil (sukses). Kedua-duanya memiliki peluang 50-50 (fifty-fifty). Jelas bukan sebuah pilihan aman bagi mereka yang tidak siap menghadapi resiko.

Kalau boleh jujur, awalnya aku juga merasa ragu ketika akan melangkahkan kaki di dunia usaha (bisnis) ini. Karena sama sekali aku belum memiliki pengalaman dalam menjalani sebuah usaha. Sejak dulu aku tidak pernah kepikiran menjadi seorang entrepreneur, karena aku merasa bahwa itu bukan dunia aku. Aku lebih nyaman berkecimpung dalam dunia akademis, sebagai seorang pengajar, dosen.

Ide memulai usaha sebetulnya karena terdesak kondisi. Saat itu aku belum memiliki pekerjaan tetap, sementara aku sudah berkeluarga. Saat itu aku baru menikah sekitar 6 bulan. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, aku hanya mengandalkan honor ngajar di dua buah perguruan tinggi yang tidak seberapa, sementara istri bekerja sebagai bidan swasta di sebuah Rumah Bersalin. Untungya, kami masih tinggal di rumah orang tua. Jadi untuk kebutuhan makan sehari-hari masih cukup terbantu, he…he.. Baca selebihnya »

Kiriman Buku dari Seorang Sahabat

Posted in sekedar curhat dengan kaitan (tags) , , , on Desember 15, 2009 by didijunaedihz

Hari ini aku mendapat sebuah kejutan. Ya, seorang sahabat lama mengirim buku berjudul “Doa-doa Andalan Keluarga Sepanjang Masa”. Istimewanya, buku tersebut ditulis sendiri olehnya dan baru beberapa bulan lalu diterbitkan oleh salah satu penerbit di Jakarta. Kawanku ini memang baik hati. Dia bela-belain ngirim buku tersebut via pos dari Jakarta ke alamat rumahku.

Dia adalah teman kuliahku dulu, waktu kami sama-sama menempuh pendidikan S1 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (dulu IAIN), namanya Izza, lengkapnya Izza Rohman. Aku dan dia dulu sama-sama aktif di kegiatan ekstra kampus, yakni organisasi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Dari situlah aku menjadi akrab dengannya. Kita sering diskusi, ngadain acara, sampai nganterin proposal untuk mencari sponsor kegiatan bersama. Tak terasa, semua itu terjadi sekitar sembilan atau sepuluh tahun yang lalu.

Nah, datangnya buku kiriman dari dia seolah membawa ingatanku pada masa-masa kuliah dulu. Ketika kami sering diskusi, bahkan berdebat dengan beragam argumen mempertahankan pendapat kami masing-masing. Sungguh, masa-masa yang tak kan terlupakan.

Kembali  ke soal buku. Awalnya, aku melihat postingan tentang buku tersebut di wallnya Izza di Facebook. Trus aku coba nyari di toko buku Gramedia, tapi aku tidak menemukannya. Akhirnya, kebetulan aku butuh referensi untuk tugas pembuatan silabus mata kuliah Ulumul Quran yang aku ampu, aku kirim email ke Izza, minta bantuan referensi, karena dia juga Dosen mata kuliah Ulumul Quran di UIN Jakarta, sekalian aku tanyain tentang buku barunya itu. Eh, ngga taunya dia malah mau ngasih secara gratis, dan aku diminta ngirim alamat lengkap rumahku. Pucuk dicinta ulam tiba. Aku pun dengan senang hati ngirim alamat lengkap rumahku.

Sekitar sebulan kemudian, tepatnya tadi siang, buku yang dijanjikannya itupun sampai juga ke tanganku. Akupun langsung mengontactnya via phone, aku langsung menyampaikan ucapan terima kasih padanya. Dengan nada datar, dia hanya menjawab, “ya, sama-sama Di, semoga bermanfaat, selamat membaca”. Begitulah gaya Izza, dari dulu gak berubah, datar, tanpa ekspresi..he..he.., sorry ya Za…

Melalui tulisan ini, aku hanya ingin mengatakan bahwa sebuah persahabatan yang dilandasi oleh ketulusan, tanpa pamrih akan berujung pada kesejatian. Semoga jalinan persahabatanku dengan Izza tak akan lekang dimakan waktu serta tak akan lapuk ditlan usia. Dan semoga kita semua dapat menemukan sahabat-sahabat sejati sebanyak-banyaknya dalam kehidupan ini. Amiin…

Menikmati Kesendirian

Posted in sekedar curhat dengan kaitan (tags) , , , on Desember 13, 2009 by didijunaedihz

Biasanya, setiap hari Minggu aku selalu menghabiskan waktu untuk berkumpul bersama keluarga kecilku, anak istriku. Tapi, Minggu kali ini tidak seperti biasanya. Sejak pagi istriku main ke rumah orang tuanya (mertuaku), anakku pun diajak serta menemui kakek-neneknya. Rupanya, sejak kemarin di sana sudah ada kakak perempuan istriku bersama anak-anaknya, keponakanku. Praktis, di rumah aku hanya berdua dengan asisten rumah tanggaku (pembantu, maksudnya, he..he..). Tak lama kemudian, pembantuku pun pamit mau main ke rumah anaknya, sekaligus mau menemui cucunya yang sudah lama nggak ditengok. Ya udah, tinggallah aku sendiri di rumah.

Tanpa pikir panjang, untuk membunuh rasa sepiku aku segera nyalain laptop, my soulmate. Segera setelah laptop siap dengan serangkaian program yang telah aku install sebelumnya, aku ambil earphone, aku sumbat kedua telingaku, trus nyalain Winamp dengan volume yang menghentak. Yup, sebuah alunan merdu pun langsung menyeruak ke seluruh rongga telingaku. Yes, kini aku ngga kesepian lagi. Aku seolah berada di sebuah studio musik kedap suara, yang siap memanjakan indera dengarku dengan sejumlah lagu pilihanku.

Agar kesendirianku lebih bermakna. Maka, akupun segera mencolokkan modem berupa hp cdma yang siap mengantarku menjelajah seluruh isi planet bernama bumi  ini. Ya, aku ingin berselancar ke dunia maya; ngecek email, ngefesbuk, ngeblog, ngebrowsing, ngedonlot, n ngechat. Wah, kayaknya bener-bener udah ngga ngerasa kesepian lagi nih.

Kalau tadi serasa berada di sebuah studio musik kedap suara, kini serasa berada di ruang angkasa yang hampa udara. Aku terbang ke sana ke mari sambil membawa teropong untuk melihat isi seluruh sudut di jagat raya ini. Mataku bak satelit yang siap mengintai segala aktivitas makhluk di seantero jagat raya ini. Ya, dengan internet aku leluasa menjelajah seluruh aktivitas yang ada di planet bumi ini. Aku pun bebas sebebas-bebasnya mencari berjuta-juta informasi yang aku kehendaki dari A-Z melalu search engine bernama Google.

Kini, kesendirianku berubah menjadi sebuah keramaian yang hanya aku sendiri yang tahu. Kesepianku pun telah menjelma menjadi hingar bingar alunan musik yang terus menghentakkan telingaku. Aku benar-benar menikmati kesendirianku kali ini…

Antara Ikhlas dan Profesionalitas

Posted in sekedar curhat dengan kaitan (tags) , , , , on Desember 12, 2009 by didijunaedihz

“Kalau kerja itu yang ikhlas, niatkan untuk ibadah, jangan mengharapkan imbalan”, demikian nasihat seorang teman ketika saya menyampaikan keluhan tentang tidak adanya penghargaan yang layak setelah menyelesaikan sebuah tugas.

Saya sama sekali tidak bisa membantah kalau sebuah tugas, pekerjaan, atau aktivitas apapun harus diniati ibadah. Saya sepakat 100% akan statemen tersebut. Yang saya persoalkan adalah penghargaan atas profesionalitas, kerja profesional yang tentu ada aturan mainnya. Soal ikhlas, itu urusan hati. Tidak ada ukuran dan memang sulit untuk mengukur kadar keikhlasan seseorang. Karena ikhlas adalah perkara hati. Sebuah ungkapan menyebutkan bahwa dalamnya laut masih bisa diukur, tetapi dalamnya hati siapa yang tahu?Only God knows….

Saya, dan mungkin juga anda yang sedang membaca tulisan ini tentu ingin menjalankan tugas, atau pekerjaan yang diembankan kepada kita dengan sebaik-baiknya. Nah, salah satu syarat agar kita bisa bekerja dengan baik adalah adanya kejelasan jobdesk serta konsekuensi atas pekerjaan tersebut. Dengan adanya kejelasan uraian kerja serta tanggungjawab, diiringi kejelasan dan kepastian konsekuensi atas pekerjaan tersebut, tentu seseorang akan menjalankan tugas dan tanggungjawabnya dengan baik.

Dalam kondisi seperti ini, seseorang akan lebih nyaman dalam bekerja. Dia tidak akan khawatir lagi apakah tugas yang sudah susah payah dia kerjakan akan mendapat penghargaan yang layak atau tidak. Inilah, yang saya sebut dengan kerja profesional. Lantas, apakah kerja profesional itu mengesampingkan faktor ikhlas? Tentu tidak. Kerja profesional harus diiringi dengan kerja ikhlas. Ruh ikhlas harus selalu tertanam dalam setiap aktivitas kita.

Bagi saya, keikhlasan tidak muncul tiba-tiba, apalagi terpaksa. Keikhlasan muncul dari dalam hati yang tenang. Perasaan tenang atas tugas dan pekerjaan yang diembankan kepada kita, karena adanya ‘aturan main’ yang jelas, pada gilirannya akan membuat kita mengerjakannya sepenuh hati. Bukankah kerja dengan sepenuh hati mencerminkan ketulusan seseorang dalam pekerjaannya? Anda boleh setuju atau tidak dengan pendapat saya. That’s my view of sincerity…..So, kerjalah dengan ikhlas dan profesional!

Sakit yang (seharusnya) Menyadarkan

Posted in sekedar curhat dengan kaitan (tags) , , , , on Desember 8, 2009 by didijunaedihz

Sejak kemarin siang, raga ini diliputi lara, terutama di bagian tenggorokan dan hidung. Ya, tenggorokanku terasa sakit dan hidung terasa panas. Aku pun langsung bisa menebaknya. Ini adalah gejala flu. Aku sudah sering mengalami hal ini. Setiap kali gejala flu datang, setiap itu pula aku mengingat-ingat apa yang telah aku makan atau minum hari-hari sebelumnya. Ya, aku inget sekarang. Kemarin aku kebanyakan minum es. Maklum cuaca panas banget, jadi bawaannya pengin minum yang dingin dan seger, aku pun menghabiskan dua gelas es jeruk. Sekarang, efeknya baru terasa.

Flu atau pilek adalah sebuah penyakit yang wajar diderita siapa saja, dari anak-anak hingga orang dewasa. Dari anak kecil sampai orang tua. Tapi, setiap penyakit itu datang, raga ini terasa luruh, rapuh, seolah tidak ada daya dan tenaga yang mampu melawan datangnya nikmat Allah yang satu ini.

Hakekatnya, ketika lara mendera raga, Tuhan sedang ‘berbicara’ kepada kita. Tuhan sedang menunjukkan ‘perhatian’-Nya kepada kita. Mungkin selama ini kita sudah melupakan atau melalaikan-Nya. Sehingga Tuhan pun rindu dengan kita. Dia ingin mengajak kita ‘bicara’ dari hati ke hati. Dia ingin ‘mengatakan’ sesuatu kepada kita. Saat-saat seperti inilah kesempatan terbaik bagi kita untuk berkomunikasi secara intensif dengan-Nya. Kita seharusnya sadar akan kealpaan kita selama ini.

Sayangnya, sakit dan lara yang mendera kita seringkali ditanggapi dengan keluh dan kesah, tidak dijadikan sarana efektif untuk introspeksi diri, mengorek segala kekhilafan serta dosa yang selama ini kita perbuat. Sebagain besar kita justru menggerutu, bahkan tidak jarang menghujat Tuhan. Mengatakan bahwa Tuhan tidak adil lah, Tuhan tidak sayang lah, dan masih banyak lagi ucapan-ucapan yang kita lontarkan sebagai wujud kekesalan kita terhadap penyakit yang sedang kita derita. Inikah balasan kita atas segala nikmat yang selama ini diberikan oleh-Nya?

Pelbagai nikmat yang tak terhitung jumlahnya sering kita anggap sebagai suatu hal biasa dan jarang kita syukuri. Ketika sakit datang, barulah kita merasa ada yang hilang dalam diri kita. Ketika nikmat datang silih berganti, rezeki bertumpuk-tumpuk tidak pernah kita syukuri. Tetapi begitu rasa sakit datang menyapa, lara meliputi raga, kita menggerutu dan mengeluh tidak ada habisnya.

Seharusnya, datangnya rasa sakit itu menyadarkan kita, menggugah kita untuk lebih care terhadap raga kita, titipan Allah SWT yang harus kita jaga. Hadirnya lara juga hendaknya dimaknai sebagai sarana untuk melihat ke dalam diri yang rapuh ini. Bahwa semua yang kita miliki ini adalah mutlak milik-Nya. Apapun kehendak-Nya tak akan mampu kita tolak. Kuasa-Nya tak mampu kita elakkan. Maka, terimalah dengan lapang dada, penuh ikhlas dan sabar. Dia pasti akan mengganti semua keikhlasan dan kesabaran kita dengan sesuatu yang lebih baik.

So, ketika sakit meliputi tubuh, ketika lara mendera raga, sadarlah bahwa Tuhan sedang ‘berbicara’ kepada kita. Tuhan tengah ‘menyapa’ kita, menyadarkan segala khilaf dan kealpaan kita. Nikmatilah rasa sakit, sebagaimana kita menikmati rasa sehat. Tuhan senang dengan hamba-hamba-Nya yang selalu bersyukur dalam segala kondisi.