Arsip untuk hikmah kategori

Hakekat Idul Fitri

Posted in hikmah dengan kaitan (tags) on Oktober 6, 2009 by didijunaedihz

Pada hakekatnya, dalam diri manusia ada fitrah untuk senantiasa berbuat baik dan menjauhkan diri dari perbuatan jahat. Demikian juga halnya, pada diri manusia selalu ada kerinduan untuk terus menerus mengikuti jalan agama yang benar. Maka ketika manusia tergelincir berbuat kejahatan yang menghinakan dirinya serta menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan dan agamanya, Allah mengingatkan mereka melalui firmannya. Dalam Q., s. al-Rum: 30 ditegaskan: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.

Rasulullah saw. melalui salah satu hadisnya juga menyebutkan bahwa pada dasarnya setiap anak manusia dilahirkan dalam keadaan suci, tak bernoda. “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci. Maka tergantung pada kedua orang tuanya lah yang menjadikan anak seorang Yahudi, Nashrani, atau Majusi” (HR. Bukhari).

Dari dua landasan teologis di atas, jelaslah bahwa dalam diri manusia ada potensi bersih dan suci. Prinsip kebaikan ini diakui oleh seluruh umat manusia, sedangkan nafsu akan senantiasa mengantarkan manusia menuju kehinaan dan kesengsaraan.

Hari raya Idul fitri yang baru saja berlalu, selain mengingatkan kita akan perlunya kita kembali ke fitrah insaniyah kita, juga mengingatkan kita akan pentingnya persaudaraan yang dalam bahasa agama disebut “ukhuwah”. Ikatan ukhuwah ini yang pada gilirannya akan melahirkan sikap tasammuh (toleransi), al-musaawah (persamaan), dan yang tak kalah pentingnya adalah at-takaful al-ijtima’i (solidaritas sosial).

Marilah kita sejenak melihat kondisi bangsa Indonesia yang sedang terpuruk ini. Bermula dari krisis moneter kemudian menjadi krisis ekonomi, krisis kepercayaan kepada pemerintah dan akhirnya menjadi krisis global, seluruh sendi kehidupan terkena imbas krisis.

Indonesia yang dulu dikenal sebagai negeri yang damai, tenang, gemah ripah lohjinawi. Namun sekarang semua tinggal isapan jempol belaka. Keutuhan sebagai bangsa tercabik-cabik, terkoyak-koyak, oleh ketidaksepahaman dan perbedaan. Perbedaan suku, agama, ras dan golongan, telah memicu pertikaian, permusuhan yang seringkali mengakibatkan pertumpahan darah dan korban jiwa. Ini semua akibat dari ukhuwah yang lemah, rapuh dan mudah diprovokasi oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab.

Sesungguhnya, kalau seluruh penduduk negeri ini mau menanamkan sikap ukhuwah, baik ukhuwah wathoniyah (semangat nasionalisme), ataupun ukhuwah basyariyah (ikatan kemanusiaan), niscaya hal-hal yang tidak diinginkan tidak akan terjadi. Kalaulah kita bangsa Indonesia mau kembali kepada ajaran agama, tentulah Indonesia ini akan senantiasa damai, tenang, tentram, adil dan makmur.

Investasi Akhirat

Posted in hikmah dengan kaitan (tags) , on Agustus 7, 2009 by didijunaedihz

Kehidupan modern dewasa ini menjadikan manusia larut dalam budaya meterialisme. Pemujaan terhadap nafsu kebendaan kian hari kian terlihat jelas. Hari demi hari, setiap orang berlomba-lomba untuk menggapai kesuksesan, yang tidak lain dimaknai sebagai harta berlimpah, jabatan prestisius, rumah megah, mobil mewah, serta investasi baik dalam bentuk deposito, properti atau pun lainnya.

Mereka terbuai dengan kesuksesan duniawi yang bersifat sementara. Sedangkan kesuksesan hakiki nan abadi, yakni kesuksesan dan kebahagiaan ukhrawi mereka lupakan. Investasi duniawi dengan menumpuk kekayaan mereka tempuh dengan berbagai cara. Bahkan, tidak jarang menghalalkan segala cara. Sementara investasi ukhrawi dengan memperbanyak amal shalih mereka lupakan.

Padahal, Allah Swt menegaskan bahwa kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang menipu. “Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu” (Q.S. Al-Hadid: 20).

Dalam ayat lain Allah Swt juga menerangkan bahwa kehidupan akhirat itu lebih baik daripada kehidupan dunia. “Dan sesungguhnya akhir (akhirat) itu lebih baik daripada permulaan (dunia)” (Q.S. Adh-Dhuha: 4).

Allah Swt memerintahkan umat-Nya untuk mempersiapkan bekal (investasi) sebanyak-banyaknya untuk kehidupan, baik di dunia ini, lebih-lebih di akhirat kelak. Hal ini terekam jelas dalam firman-Nya, “Dan berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa”. (Q.S. Al-Baqoroh: 197).

Dari beberapa keterangan ayat di atas, jelaslah bahwa investasi yang akan langgeng serta membawa kebaikan dan kebahagiaan bagi kita adalah investasi akhirat, yakni taqwa.

Rasulullah Saw bersabda, “barangsiapa yang obsesinya adalah akhirat, tujuannya akhirat, niatnya akhirat, cita-citanya akhirat maka dia mendapatkan tiga perkara : Pertama, Allah menjadikan kecukupan dihatinya; kedua, Allah mengumpulkan urusannya; dan ketiga, dunia datang kepada dia dalam keadaan dunia itu hina (dunia datang sendiri kepada kita tanpa perlu kita kejar). Dan barangsiapa yang obsesinya adalah dunia, tujuannya dunia, niatnya dunia, cita-citanya dunia, maka dia mendapatkan tiga perkara : Pertama, Allah menjadikan kemelaratan ada didepan mata; kedua, Allah mencerai-beraikan urusannya; dan ketiga, dunia tidak datang kecuali yang ditakdirkan untuk dia saja” (HR. At Tirmidzi )

Ikhtiar

Posted in hikmah on April 30, 2008 by didijunaedihz

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka.” (Q.S. 13: 11)

Ayat di atas kerap disampaikan para juru dakwah ketika berbicara tentang perubahan. Perubahan yang dimaksud adalah perubahan secara umum di pelbagai sendi kehidupan, baik pada tataran individual maupun komunal.

Spirit of change atau semangat perubahan memang terlihat jelas dalam rangkaian ayat tersebut. Lantas, bagaimana seseorang, suatu masyarakat, atau bahkan suatu bangsa bisa mengalami perubahan? Baca selebihnya »

Menyikapi Musibah

Posted in hikmah on Februari 8, 2008 by didijunaedihz

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berilah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Q. S. al-Baqarah: 155)

2003-06-17t102413z_01_jer01d-_rtridsp_2_mideast.jpg

 

Dari keterangan ayat di atas, dapat kita ambil sebuah pelajaran bahwa hendaknya kita senantiasa bersabar dalam menghadapi segala macam musibah dan bencana, serta selalu bersyukur jika musibah itu sudah dihindarkan dari kita. Dengan landasan bahwa semua yang terjadi itu pasti mengandung pesan moral serta hikmah, maka hendaknya kita selalu berprasangka baik terhadap Allah. Baca selebihnya »

Fitrah Manusia

Posted in hikmah on Februari 8, 2008 by didijunaedihz
babymuslim.jpg

Pada hakekatnya, dalam diri manusia ada fitrah untuk senantiasa berbuat baik dan menjauhkan diri dari perbuatan jahat. Nurani manusia selalu merindukan kedamaian dan ketenangan. Jauh di dalam lubuk hati manusia, pada dasarnya selalu ada kerinduan untuk terus menerus mengikuti jalan agama yang benar. Inilah fitrah manusia yang sesungguhnya, fitrah yang diajarkan Islam. Baca selebihnya »

Sabar

Posted in hikmah on Juli 1, 2007 by didijunaedihz

dinihikaye.jpgSabar, sebuah kata yang mudah diungkapkan, tetapi seringkali sulit untuk dilakukan. Padahal, sabar adalah kunci kesuksesan, jalan kedamaian, serta pintu kebahagiaan. begitu pentingnya sikap sabar, sampai-sampai sejumlah ayat dalam al-qur’an menyebutnya sebagai jalan keluar, solusi atas segala persoalan. “dan meminta tolonglah kalian dengan sabar dan sholat”, demikian bunyi salah satu ayat dalam al-Qur’an. Dalam ayat lain, Allah swt menyebutkan bahwa “sesungguhnya manusia sungguh dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman, beramal shalih, saling menasihati dengan kebenaran dan kesabaran”. Allah sangat mencintai orang-orang yang sabar. Kesabaran adalah sebuah proses pendakian menuju puncak kesuksesan, ketenangan, kebahagiaan, dan kedamaian.

Kadang, kondisi memang menyudutkan kita. Seakan tidak ada ruang untuk sekedar memberi kata ‘maaf’ kepada seseorang yang telah menyakiti hati kita. Ditambah lagi provokasi orang-orang disekeliling kita yang seakan menuangkan ‘bensin’ di tengah kobaran api. Tapi, kalau kita berpikir lebih jernih, apakah itu akan menyelesaikan masalah? Saya kira, justru akan menambah masalah. Suasana hati yang panas tidak akan pernah bisa menjadi dingin, kalau kita tetap berada dilingkungan yang ‘berhawa panas’. Maka, ketika kita tengah berada dalam situasi yang ‘panas’, menghindarlah! cari tempat yang teduh, penuh kedamaian, yakni rumah Allah. Padamkan ‘bara’ dalam hati kita dengan wudlu, tenangkan hati dan pikiran kita, kita kembalikan semua persoalan kita kepada yang Maha Pemberi solusi, yakni Allah SWT. Tidak ada masalah yang tidak ada solusinya, yakinlah!

Kesabaran menunjukkan tingkat kecerdasan dan kedewasaan seseorang. Mungkin ada yang tidak setuju dengan pendapat saya. sah-sah saja, itu hak mereka. Tapi yang jelas, kecerdasan di sini adalah berkaitan erat dengan emosi dan spiritual. Orang yang cerdas emosi dan spiritualnya tentu akan mengedepankan nilai-nilai moral. Kesabaran, sebagai salah satu nilai moral merupakan bukti konkret bagi kecerdasan emosi dan spiritual seseorang. orang boleh tinggi kadar intelektualitasnya, tetapi ketika kesabaran sudah dinafikan, maka ia telah terjatuh pada tindakan bodoh secara emosi maupun spiritual.

Kesabaran adalah sebuah tindakan bijak, proses melatih diri, memenej sikap, mengatur ritme kehidupan, kapan bertindak dan kapan diam. Ketika hidup berjalan sesuai ritme, maka ketenangan dan kedamaian yang akan kita dapatkan. Sebalimnya, hidup tanpa ritme, ibarat berjalan tanpa arah. Kesabaran adalah cara kita mengatur ritme hidup, melatih diri menentukan arah yang hendak kita tuju. Hanya dengan kesabaran, hidup lebih tertata, teratur dan terarah. Maka, jangan pernah berhenti berlatih mengatur ritme hidup. So, bersabarlah, maka kesempurnaan hidup akan kita raih. Bagaimana dengan anda?

renungan

Posted in hikmah on Juni 24, 2007 by didijunaedihz

Roda Kereta Firaun Ditemukan Dilaut Merah

18 hours ago by musadiqmarhaban. Spam? Tag: hikmah, ilmu, Sains, kristologi

Masih ingat dengan kisah mukjizat Nabi Musa yang membelah laut merah dengan tongkatnya? Jika salah satu diantara anda menganggap kisah tersebut hanya merupakan dongeng belaka, sekarang mari kita simak tulisan dibawah ini.
________________________________________________________________

Seorang Arkeolog bernama Ron Wyatt pada akhir tahun 1988 silam mengklaim bahwa dia telah menemukan beberapa bangkai roda kereta tempur kuno didasar laut merah. Baca selebihnya »

Menundukkan Nafsu Hayawani

Posted in hikmah on Juni 21, 2007 by didijunaedihz

Kondisi masyarakat saat ini dapat dikatakan sebagai masyarakat permisif, masyarakat serba boleh. Munculnya individu-individu yang arogan, amoral, anarkis, intoleran, baik di tingkat elite maupun grass root, merupakan dampak riil dari masyarakat serba boleh ini. Belum lagi tingginya tingkat kriminalitas, pergaulan bebas yang menjurus pada perilaku seks bebas (free sex) di kalangan remaja, merebaknya virus HIV yang mematikan disertai meningkatnya penderita AIDS, dan sederet persoalan sosial lainnya siap menghadang komunitas masyarakat yang mengedepankan nafsu semata tanpa mengindahkan norma-norma yang berlaku. Baca selebihnya »

Kesungguhan

Posted in hikmah on Juni 21, 2007 by didijunaedihz

Anda pernah mengalami kegagalan? Pernah kecewa karena apa yang anda harapkan berakhir dengan kehampaan? Atau mungkin anda merasa seakan-akan jatuh dari langit karena cita-cita anda tidak tercapai? Saya ucapkan SELAMAT!!! CONGRATULATION!!! Karena tanda-tanda kesuksesan sudah di depan mata. Andalah calon orang-orang sukses. Lho koq…Bagaimana bisa kegagalan, kekecewaan dianggap sebagai tanda-tanda kesuksesan? Baca selebihnya »

Kebaikan dan Kejahatan

Posted in hikmah on Juni 21, 2007 by didijunaedihz

Suatu hari, seorang sahabat Nabi bernama Wabishah bin Ma’bah datang kepada Nabi untuk menanyakan hakekat kebaikan dan kejahatan. Nabi saw bersabda: “Engkau datang menanyakan kebaikan?” “Benar wahai Rasulullah”, jawab Wabishah. “Tanyailah hatimu!” “Kebaikan itu adalah sesuatu yang membuat jiwamu tenang dan hatimu tentram, sedangkan kejahatan (dosa) adalah sesuatu yang menggelisahkan hati dan menyesakkan dada”. (HR. Ahmad dan Al-Darimi)

Dari Hadis di atas, dapat diambil sebuah pelajaran bahwa setiap bentuk kebaikan senantiasa akan menenangkan jiwa serta menenteramkan hati. Sedangkan kejahatan selalu menghadirkan rasa gelisah dan kecemasan dalam hati.

Dalam perspektif ini, hati nurani merupakan cermin diri seseorang. Jika seseorang tidak menghormati hati nuraninya, berarti ia telah menghancurkan pribadinya serta merendahkan martabatnya sendiri. Karena, pada hakekatnya dalam diri manusia ada fitrah untuk selalu berbuat kebaikan dan menolak segala bentuk kejahatan.

Ironisnya, masyarakat modern dewasa ini sudah mengaburkan kriteria kebaikan dan kejahatan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dapat di lihat, misalnya, maraknya pornografi dan pornoaksi dianggap suatu hal yang biasa. Merebaknya tayangan film, sinetron, musik, bahkan iklan yang mengumbar sensualitas, pamer aurat serta eksploitasi tubuh kaum hawa, bahkan belakangan juga kaum adam, sudah menjadi konsumsi sehari-hari masyarakat negeri ini. Dengan dalih seni serta kebebasan berekspresi, sebagian masyarakat tidak lagi mengindahkan norma sosial, lebih-lebih norma agama.

Agama sebagai benteng moral bagi setiap pemeluknya, di mana ia dapat mengubah suatu kehidupan lalim, amoral dan asusila menjadi kehidupan yang menjunjung tinggi hak asasi manusia, bermartabat dan bermoral, yang mengajarkan umatnya untuk hidup berperadaban, sudah tidak lagi dianggap sebagai sebuah norma yang berisikan seperangkat nilai suci oleh para pemeluknya.

Pada titik inilah, hati nurani sebagai penentu kebaikan dan kejahatan mengambil peranannya. Mereka yang senantiasa hidup di atas rel ajaran agama dengan bimbingan Ilahi senantiasa terbuka mata hatinya, sehingga garis batas kriteria kebaikan dan kejahatan tampak jelas di hadapannya. Mereka akan senantiasa merasa tidak nyaman dengan hadirnya tindakan-tindakan yang merendahkan nilai-nilai kemanusiaan, baik di mata manusia sendiri, lebih-lebih di mata Tuhan.

Di sisi lain, mereka yang tertutup mata hatinya, akan mengaburkan kriteria kebaikan dan kejahatan, yang sebenarnya diakui oleh hati nuraninya. Namun, karena dorongan nafsu semata, mereka rela menutupi mata batinnya dengan tindak kejahatan yang justru akan merendahkan martabatnya sebagai seorang manusia. (*)