Kehidupan modern dewasa ini menjadikan manusia larut dalam budaya meterialisme. Pemujaan terhadap nafsu kebendaan kian hari kian terlihat jelas. Hari demi hari, setiap orang berlomba-lomba untuk menggapai kesuksesan, yang tidak lain dimaknai sebagai harta berlimpah, jabatan prestisius, rumah megah, mobil mewah, serta investasi baik dalam bentuk deposito, properti atau pun lainnya.
Mereka terbuai dengan kesuksesan duniawi yang bersifat sementara. Sedangkan kesuksesan hakiki nan abadi, yakni kesuksesan dan kebahagiaan ukhrawi mereka lupakan. Investasi duniawi dengan menumpuk kekayaan mereka tempuh dengan berbagai cara. Bahkan, tidak jarang menghalalkan segala cara. Sementara investasi ukhrawi dengan memperbanyak amal shalih mereka lupakan.
Padahal, Allah Swt menegaskan bahwa kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang menipu. “Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu” (Q.S. Al-Hadid: 20).
Dalam ayat lain Allah Swt juga menerangkan bahwa kehidupan akhirat itu lebih baik daripada kehidupan dunia. “Dan sesungguhnya akhir (akhirat) itu lebih baik daripada permulaan (dunia)” (Q.S. Adh-Dhuha: 4).
Allah Swt memerintahkan umat-Nya untuk mempersiapkan bekal (investasi) sebanyak-banyaknya untuk kehidupan, baik di dunia ini, lebih-lebih di akhirat kelak. Hal ini terekam jelas dalam firman-Nya, “Dan berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa”. (Q.S. Al-Baqoroh: 197).
Dari beberapa keterangan ayat di atas, jelaslah bahwa investasi yang akan langgeng serta membawa kebaikan dan kebahagiaan bagi kita adalah investasi akhirat, yakni taqwa.
Rasulullah Saw bersabda, “barangsiapa yang obsesinya adalah akhirat, tujuannya akhirat, niatnya akhirat, cita-citanya akhirat maka dia mendapatkan tiga perkara : Pertama, Allah menjadikan kecukupan dihatinya; kedua, Allah mengumpulkan urusannya; dan ketiga, dunia datang kepada dia dalam keadaan dunia itu hina (dunia datang sendiri kepada kita tanpa perlu kita kejar). Dan barangsiapa yang obsesinya adalah dunia, tujuannya dunia, niatnya dunia, cita-citanya dunia, maka dia mendapatkan tiga perkara : Pertama, Allah menjadikan kemelaratan ada didepan mata; kedua, Allah mencerai-beraikan urusannya; dan ketiga, dunia tidak datang kecuali yang ditakdirkan untuk dia saja” (HR. At Tirmidzi )
Setiap hari, kita selalu menemui beragam peristiwa, pelbagai kondisi, bermacam keadaan yang mungkin akan membuat kita senang, sedih, haru, marah, kesal, bahagia dan beragam perasaan lainnya yang berkecamuk dalam diri kita. Kita juga mungkin akan berpikir kenapa semua peristiwa tersebut bisa terjadi? Bagaimana kita menyikapi serangkaian pengalaman hidup tersebut?
Kemarin siang sepulang ngantor, tepatnya pukul 12.30 WIB saya mampir ke Gramedia Book Store Grage Mall Cirebon untuk melihat-lihat buku-buku baru. Seperti biasa, ketika semangat menulis mulai menurun, saya biasanya merefresh, menyegarkan kembali semangat nulis dengan mengunjungi toko buku terbesar di Indonesia tersebut. Tujuannya jelas, membangkitkan kembali spirit serta motivasi menulis.
Hari ini, Rabu, 8 Juli 2009 adalah hari bersejarah bagi bangsa Indonesia. Hari ini seluruh warga masyarakat di segala penjuru tanah air akan melangsungkan pesta demokrasi, yakni Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden untuk masa jabatan 2009-2014.
Perkenankan saya mengawali tulisan ini dengan sebuah pertanyaan: Untuk apa kita menulis?

Beberapa langkah dari rak yang memajang buku tersebut, aku menjumpai sebuah buku yang sudah sejak beberapa waktu lalu ingin aku beli. Buku tersebut berjudul “Super Leader Super Manager”, karya Syafii Antonio. Buku tersebut menyingkap kisah sukses kehidupan seorang teladan sepanjang zaman, yakni Muhammad SAW. Akupun langsung mengambil buku tersebut tanpa ba-bi-bu.

Alhamdulillah….setelah beberapa hari ini ngga beredar di dunia maya lewat blog, akhirnya aku bisa posting lagi tulisanku untuk menjumpai para fans yang udah lama ga sabar nunggu berita-berita terbaru dariku (ciyeee…sok terkenal, he…he..). Tak terhitung banyaknya sms serta email yang masuk ke inboxku, begitu juga dering telepon yang ga berhenti-berhenti menyakan perihal keadaanku, kenapa sudah beberapa hari ini ngga riwa-riwi di jagat maya…(he..he..maunya….)
Pernahkah kita bertanya pada diri sendiri tentang eksistensi kita? Siapa sebenarnya kita? Untuk apa kita dilahirkan? Hendak ke mana kita selanjutnya?











