Suatu hari, seorang sahabat Nabi bernama Wabishah bin Ma’bah datang kepada Nabi untuk menanyakan hakekat kebaikan dan kejahatan. Nabi saw bersabda: “Engkau datang menanyakan kebaikan?” “Benar wahai Rasulullah”, jawab Wabishah. “Tanyailah hatimu!” “Kebaikan itu adalah sesuatu yang membuat jiwamu tenang dan hatimu tentram, sedangkan kejahatan (dosa) adalah sesuatu yang menggelisahkan hati dan menyesakkan dada”. (HR. Ahmad dan Al-Darimi)

Dari Hadis di atas, dapat diambil sebuah pelajaran bahwa setiap bentuk kebaikan senantiasa akan menenangkan jiwa serta menenteramkan hati. Sedangkan kejahatan selalu menghadirkan rasa gelisah dan kecemasan dalam hati.

Dalam perspektif ini, hati nurani merupakan cermin diri seseorang. Jika seseorang tidak menghormati hati nuraninya, berarti ia telah menghancurkan pribadinya serta merendahkan martabatnya sendiri. Karena, pada hakekatnya dalam diri manusia ada fitrah untuk selalu berbuat kebaikan dan menolak segala bentuk kejahatan.

Ironisnya, masyarakat modern dewasa ini sudah mengaburkan kriteria kebaikan dan kejahatan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dapat di lihat, misalnya, maraknya pornografi dan pornoaksi dianggap suatu hal yang biasa. Merebaknya tayangan film, sinetron, musik, bahkan iklan yang mengumbar sensualitas, pamer aurat serta eksploitasi tubuh kaum hawa, bahkan belakangan juga kaum adam, sudah menjadi konsumsi sehari-hari masyarakat negeri ini. Dengan dalih seni serta kebebasan berekspresi, sebagian masyarakat tidak lagi mengindahkan norma sosial, lebih-lebih norma agama.

Agama sebagai benteng moral bagi setiap pemeluknya, di mana ia dapat mengubah suatu kehidupan lalim, amoral dan asusila menjadi kehidupan yang menjunjung tinggi hak asasi manusia, bermartabat dan bermoral, yang mengajarkan umatnya untuk hidup berperadaban, sudah tidak lagi dianggap sebagai sebuah norma yang berisikan seperangkat nilai suci oleh para pemeluknya.

Pada titik inilah, hati nurani sebagai penentu kebaikan dan kejahatan mengambil peranannya. Mereka yang senantiasa hidup di atas rel ajaran agama dengan bimbingan Ilahi senantiasa terbuka mata hatinya, sehingga garis batas kriteria kebaikan dan kejahatan tampak jelas di hadapannya. Mereka akan senantiasa merasa tidak nyaman dengan hadirnya tindakan-tindakan yang merendahkan nilai-nilai kemanusiaan, baik di mata manusia sendiri, lebih-lebih di mata Tuhan.

Di sisi lain, mereka yang tertutup mata hatinya, akan mengaburkan kriteria kebaikan dan kejahatan, yang sebenarnya diakui oleh hati nuraninya. Namun, karena dorongan nafsu semata, mereka rela menutupi mata batinnya dengan tindak kejahatan yang justru akan merendahkan martabatnya sebagai seorang manusia. (*)

 

Iklan