Kondisi masyarakat saat ini dapat dikatakan sebagai masyarakat permisif, masyarakat serba boleh. Munculnya individu-individu yang arogan, amoral, anarkis, intoleran, baik di tingkat elite maupun grass root, merupakan dampak riil dari masyarakat serba boleh ini. Belum lagi tingginya tingkat kriminalitas, pergaulan bebas yang menjurus pada perilaku seks bebas (free sex) di kalangan remaja, merebaknya virus HIV yang mematikan disertai meningkatnya penderita AIDS, dan sederet persoalan sosial lainnya siap menghadang komunitas masyarakat yang mengedepankan nafsu semata tanpa mengindahkan norma-norma yang berlaku.

Setiap hari manusia semakin terseret ke arah pengasingan, tidak ada lagi waktu untuk menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan, keluhuran moral, dan kepekaan ruhaniah, bahkan makhluk ini justru tenggelam dalam gemerlapnya kehidupan sehingga kerap memicu terjadinya penyelewengan-penyelewengan dan pemerosotan nilai-nilai tradisional. Pertanyaannya kemudian, bagaimanakah kita (umat Islam) menyikapi kondisi yang sudah sedemikian memprihatinkan ini, langkah apa saja yang seharusnya kita ambil untuk dapat keluar dari krisis kemanusiaan ini?

Untuk menjawab beberapa pertanyaan di atas, ada baiknya kita merenungkan penjelasan Husain Mazhahiri yang tertuang dalam bukunya berjudul ‘Awāmil as-Saytharah ‘alā al-Gharāiz fi Hayat al-Insān. Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa secara eksistensial, manusia terdiri dari dua dimensi. Dua dimensi yang inheren dalam diri manusia tersebut adalah dimensi ruhy dan jismy. Dalam dimensi ruhy terdapat beberapa komponen, antara lain: akal, nurani, hati, dan sebagainya. Dimensi ini disebut juga sebagai dimensi malakuti (kemalaikatan). Sementara dalam dimensi jismy terdapat beberapa komponen yang, hampir sama dengan yang terdapat pada binatang, seperti insting (naluri), nafsu, dan sebagainya. Oleh karena itu, dimensi ini disebut juga sebagai dimensi hayawani.

Al-Qur’ān memberikan petunjuk agar manusia tidak terlena dalam pelukan nafsu duniawi yang merupakan perwujudan dari dimensi hayawani. Allah Swt. mengingatkan, “Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun.” (Q.S. an-Nisa/4: 77)

Ironisnya, sebagian besar dari umat manusia justru dipengaruhi dan dikuasai oleh nafsu. Mereka menjadikan nafsu sebagai tuhan (ilah) dalam kehidupan ini. Padahal dalam ayat lain, Allah SWT secara tegas mengecam para ‘budak nafsu’, yaitu mereka yang menuhankan hawa nafsunya. Dalam al-Qur’ān, Allah menyindir mereka yang menuhankan hawa nafsunya ibarat binatang ternak, bahkan lebih rendah dari itu, “Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Ilahnya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya dari binatang ternak itu. (Q., s. al-Furqān/ 25:44)

Untuk itu, agar kita semua tidak dicap sebagai penghamba nafsu, maka kita harus kembali kepada al-Qur’ān sebagai pedoman hidup kita. Dalam salah satu ayat al-Qur’ān Allah SWT menegaskan, “Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadianya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepada-Nya dengan bersujud. (Q., s. al-Hijr/15:29)

Dari keterangan ayat di atas jelaslah bagi kita bahwa setelah ruh ditiupkan kepada kita, selanjutnya kita diperintahkan untuk bersujud, yakni beribadah dengan sepenuh hati secara ikhlas kepada Allah. Dengan melakukan pengabdian secara total kepada Allah, niscaya dimensi lain berupa nafsu hayawani yang ada dalam diri manusia dapat ditundukkan. (*)

Iklan