Archive for Agustus, 2007


Oleh: Didi Junaedi HZ*

Salah satu peristiwa besar dalam sejarah hidup Nabi Muhammad Saw. yang kemudian diabadikan dalam al-Qur’an adalah Isra’ Mi’raj. Peristiwa Isra’ Mi’raj pada umumnya ditafsirkan sebagai perjalanan Nabi Muhammad di malam hari dari Masjid al-Haram (Mekah) ke Masjid al-Aqsha (Palestina), kemudian naik ke Sidrat al-Muntaha. Kejadian luar biasa ini terekam jelas dalam firman Allah Swt, “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsha yang tela kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”.(QS. 17:1)

Tak ayal, alih-alih semakin menguatkan keyakinan masyarakat akan risalah kenabian Muhammad, peristiwa suprarasional di luar jangkauan inderawi ini justru menimbulkan reaksi keras dan melahirkan berbagai komentar sinis masyarakat Arab pada saat itu.

Berbeda dengan komentar sisnis kebanyakan masyarakat Arab, adalah Abu Bakar al-Shiddiq orang yang pertama kali mempercayainya dengan mengatakan, “Apabila Muhammad yang memberitakannya, pasti benar adanya”. Pendekatan yang ditempuh Abu Bakar dalam memahami peristiwa ini adalah spiritualitas-imany, bukan rasionalitas-aqli seperti ditempuh kebanyakan masyarakat Arab pada saat itu. Baca lebih lanjut

Oleh: Insan yang Lemah

 

Bermula dari percikan api cinta yang kecil

Menjelma menjadi kobaran api cinta yang menyala

Siapapun yang merasakannya

Tak akan dapat menguasainya

Tidak juga kita

Insan yang lemah

Ketika terjerat dalam kubangan nafsu

Terlilit belitan gairah yang membara

Raga tak berdaya mengelak

Jiwa tak kuasa menolak

Iman pun runtuh seketika

Hanya bisikan halus penuh janji manis

Bujuk rayu si durjana

Penyesat umat manusia

Yang senantiasa terngiang di benak kita

Kita pun terseret

Dalam kenikmatan semu yang dia janjikan

Kita pun terbuai

Dalam angan yang mengawang

Kita pun terlena

Dalam tipuan yang mematikan

Sampai akhirnya kita sadar…

Menyesal…

Meratapi…

Kekhilafan yang telah kita perbuat

Hanya untaian doa

Yang mampu kita panjatkan

Sebagai bentuk taubat kita kepada-Nya

Sebuah permohonan ampun kepada Yang Maha Pengampun

Selaksa permintaan maaf kepada Yang Maha Pemaaf

Semoga Dia mau membukakan pintu taubat-Nya

Semoga Dia mau mengampuni

Semoga Dia mau memaafkan

Kekhilafan dan kesalahan kita

Hanya itu yang kita pinta dari-Nya

Tiada yang lebih berharga

Selain ampunan-Nya

Tiada yang lebih mulia

Selain maghfirah-Nya

Semoga doa yang kita panjatkan

Mendapat perkenan-Nya

Menemui Ijabah-Nya

Menjumpai Qabul-Nya

Amiiin….

                                                                 Untaian Doa, 8 Agustus 2007

    Oleh: Yang Merasakan Semaian Cinta dan Sayangmu (Dy2)

 

 

Pagi  yang cerah…

Secerah hatiku saat ini

Secercah harap menyapaku

Dia yang ada di sana

Seakan hadir menemaniku di sini

Ketika pesan-pesan cinta dia kirimkan

Sebagai ungkapan rasa cinta kasih dan sayangnya yang tulus padaku

 

Aku begitu bahagia…

Anganku pun melayang jauh

Membayangkan sejuta pesona yang dia tebarkan

Yang setia menemani hari-hariku kini

Mewarnai hidupku dengan penuh cinta

Yang telah mengapus jejak masa laluku

Mengobati sejumlah goresan luka di hatiku

Menawarkan seberkas sinar

Tuk menerangi hatiku yang hampir redup

Menjadi kembali bercahaya

 

Sayang…

Kau datang dengan membawa seuntai harapan

Akupun menyambutmu dengan penuh cinta

Kau adalah gairah hidupku

Kau mampu membangkitkan aku dari keterpurukan

Di saat asa yang ku damba seolah hilang entah ke mana

Di kala diriku gontai, jiwaku galau, keputusasaan menyeruak

Kau hadir membawa penawarnya

Kau hapus putus asaku dengan secercah harapan

Kau papah diriku yang gontai, kau bangkitkan aku, akupun kembali berdiri tegak

Penuh gairah menatap hidup

Kau hilangkan kegalauanku

Kau semai kedamaian

Kau taburi jiwaku dengan benih-benih cinta dan sayangmu

Kini, aku terus menunggu

Ku berharap semaian benih cinta dan sayang yang kau taburkan ke dalam jiwaku

Akan tumbuh bersemi indah

Sampai akhir hayat kita

Amiiin….

   

Pagi yang cerah, 7 Agustus 2007

Oleh: Yang Menyayangimu…(Didi)

 

 

Sayang…

Malam itu…

Ketika aku menatap wajahmu penuh cinta

Kau pun balas dengan tatapan penuh sayang

Ketika ku genggam erat tanganmu penuh kasih

Kaupun enggan melepaskannya penuh harap

Ketika itu…

Kurasakan getar-getar cinta dan sayang merasuk ke dalam kalbuku

Memenuhi setiap relung jiwaku

Menelusup halus membelai lembut sukmaku

Mangaliri desiran darahku

Menusuk jantungku

Hingga lidahku pun kelu

Tak sepatah kata mampu kuucapkan

Hanya bahasa kalbu yang berbisik lembut menggodaku

 

Sayang…

Aku tahu, kaupun merasakan hal yang sama seperti aku rasakan

Aku dapat melihatnya dari pancaran sinar matamu

Aku dapat merasakan detak jantungmu

Aku dapat menelisik debaran kalbumu

Meskipun kau diam membisu

Tatapanmu seakan berbicara padaku

Mewakili isi hatimu

Yang bergemuruh laksana deburan ombak di laut biru

 

Sayang…

Saat itu…

Kau terdiam…

Ketika kukecup keningmu dengan mesra

Kecupan penuh cinta dan kasih sayang

Sebagai penutup jumpa malam itu

Kau tersentak tak percaya

Kau terdiam beberapa saat

Seraya menghela nafas panjang…

Kau pun tersipu malu…

Wajahmu merona

Senyummu mengembang dari bibir manismu yang indah

Akupun tersenyum malu…

Seolah tak percaya ini nyata…

Akhirnya….

Ku beranjak meninggalkanmu

Dengan membawa sejuta rasa…Kenangan indah di malam itu…

Memory, 5 Agustus 2007