Oleh: Didi Junaedi HZ*

Salah satu peristiwa besar dalam sejarah hidup Nabi Muhammad Saw. yang kemudian diabadikan dalam al-Qur’an adalah Isra’ Mi’raj. Peristiwa Isra’ Mi’raj pada umumnya ditafsirkan sebagai perjalanan Nabi Muhammad di malam hari dari Masjid al-Haram (Mekah) ke Masjid al-Aqsha (Palestina), kemudian naik ke Sidrat al-Muntaha. Kejadian luar biasa ini terekam jelas dalam firman Allah Swt, “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsha yang tela kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”.(QS. 17:1)

Tak ayal, alih-alih semakin menguatkan keyakinan masyarakat akan risalah kenabian Muhammad, peristiwa suprarasional di luar jangkauan inderawi ini justru menimbulkan reaksi keras dan melahirkan berbagai komentar sinis masyarakat Arab pada saat itu.

Berbeda dengan komentar sisnis kebanyakan masyarakat Arab, adalah Abu Bakar al-Shiddiq orang yang pertama kali mempercayainya dengan mengatakan, “Apabila Muhammad yang memberitakannya, pasti benar adanya”. Pendekatan yang ditempuh Abu Bakar dalam memahami peristiwa ini adalah spiritualitas-imany, bukan rasionalitas-aqli seperti ditempuh kebanyakan masyarakat Arab pada saat itu.

Tulisan ini tidak bermaksud mengurai perdebatan panjang tentang bagaimana peristiwa ini bisa terjadi. Apakah Nabi Muhammad menjalani ‘rihlah spiritual’ ini dengan tubuh dan jiwanya, ataukah dengan jiwanya saja. Lantas, bagaimana mungkin beliau dapat melepaskan diri dari gaya grafitasi bumi? Nampaknya, layak disimak ungkapan Kierkegaard, tokoh eksistensialisme, “Seseorang harus percaya bukan karena dia tahu, tetapi karena di tidak tahu”. Juga ucapan Immanuel Kant, “Saya terpaksa menghentikan penyelidikan ilmiah demi menyediakan waktu bagi hatiku untuk percaya”. Tentang kebenaran mutlak, tak seprang pun tahu, sedangkan Tuhan pasti Maha Kuasa menjalankan Nabi Muhammad dalam bentuk apapun.

Dalam rangka memperingati peristiwa agung (baca: Isra’ Mi’raj) Nabi Muhammmharam.jpgad Saw. kali ini, penulis mengajak kita semua meluangkan waktu sejenak untuk merefleksi, mengingat kembali makna perjalanan spiritual (rihlah ruhaniyah) nan suci ini sebagai starting point untuk melangkah ke depan, mengarungi derasnya arus modernitas yang siap menghadang kita kapan dan di mana saja.

Shalat; Dari Vertikal-Spiritual Menuju Horisontal-Sosial

Pesan paling substansial yang dibawa Nabi Muhammad Saw dari perjalanan Isra’ Mi’raj ini adalah kewajiban bagi kaum muslimin untuk menegakkan shalat; karena shalat merupakan sarana terpenting guna menyucikan jiwa dan memelihara ruhani. Shalat ini pula yang menurut Muhammad Iqbal, penyair-filosof asal India, merupakan sarana bagi seorang hamba untuk berdialog, menyampaikan harapan dan keluhannya kepada Sang Pencipta Yang Maha Kuasa, sehingga kegiatan religius yang lurus dapat berkembang dengan subur.

palistine3.jpgShalat juga dibutuhkan oleh masyarakat manusia. Karena, shalat dalam pengertiannya yang luas, merupakan dasar-dasar pembangunan. Atas dasar itu, Alexis Carrel, sebagaimana dikutip oleh Dr. M. Quraish Shihab, menyatakan, “ Apabila pengabdian, shalat, dan doa yang tulus kepada Sang Maha Pencipta disingkirkan dari tengah kehidupan masyarakat, maka hal itu berarti kita telah menandatangani kontrak bagi kehancuran masyarakat tersebut”. (Quraish Shihab: 1995)

Hal ini senada dengan firman Allah Swt tentang akibat dari pembangkangan sekelompok masyarakat terhadap petunjuk-Nya,…”Allah menghancurkan bangunan-bangunan mereka dari fondasinya, lalu atap bangunan itu jatuh menimpa mereka dari atas, dan datanglah azab itu kepada mereka dari tempat yang tidak mereka sadari”. (QS. 16:26)

Dalam ibadah shalat, kesadaran vertikal-spiritual dan aksi-sosial itu disimbolisasikan dengan ucapan takbir di permulaan dan diakhiri dengan salam sambil menengok ke kanan dan ke kiri. Keduanya merupakan bahasa performatif dan deklaratif bahwa setiap muslim yang selalu menegakkan shalat, baru akan bermakna shalatnya kalau dilanjutkan dengan sikap kepedulian sosial secara nyata. (Komaruddin Hidayat: 2000)

Ironisnya, memori kolektif masyarakat kita terlanjur berpegang pada asumsi dasar berpikir keagamaan yang selalu menekankan aspek “kesalehan pribadi”. Hal ini dapat kita jumpai dalam berbagai media keagamaan. Ungkapan-ungkapan yang disampaikan dalam berbagai forum pengajian bahwa,”masyarakat akan lebih baik jika didukung oleh individu-individu yang baik”. Sekilas ungkapan ini benar adanya. Namun, kalau kita cermati lebih jauh, ungkapan tersebut ibarat pisau bermata dua. Kalau dipahami secara parsial, maka yang muncul adalah “kesalehan individu” yang acuh terhadap realitas sosial yang ada. Sementara, pemahaman sesungguhnya adalah dengan adanya “kesalehan individu” ini diharapkan akan tercipta “kesalehan publik” dan “kesalehan sosial”.

Tapi apa lacur, lagi-lagi pemaknaan masyarakat secara luas terhadap ungkapan tersebut lebih mengedepankan makna parsial. Sehingga “kesalehan publik” dan “kesalehan sosial” pada umumnya dianggap sebagai sesuatu yang ‘taken for granted’, jika “kesalehan individu” telah terbina secara kukuh dalam pribadi setiap muslim. Suatu keyakinan yang agak bersifat utopis untuk ukuran era sekarang.

Dampak dari pemahaman sepihak ini, pada gilirannya akan memunculkan sosok manusia yang saleh secara ritual, namun bobrok secara moral. Betapa tidak, mereka yang kelihatan taat beribadah, khusyu’ mendengarkan ceramah agama, namun tetap melakukan kejahatan publik; korupsi, kolusi, manipulasi, penyalahgunaan wewenang, dan serentet tindak kejahatan lainnya dianggap suatu hal yang biasa. Tidak tampak sedikit pun atsar dari ibadah shalat yang dilakukannya setiap hari.

Pada hakekatnya, kalau kita mau merenung, dengan shalat kita diajak melakukan transendensi, merefleksi, mengapresiasi, serta menginternalisasi nilai-nilai moral Ilahi yang sangat mulia, dalam rangka memelihara eksistensi martabat manusia, yang oleh al-Quran disebut dengan istilah taqwa.

 

Belenggu Modernitas

Di tengah derasnya arus modernitas, seringkali manusia terlena dan larut dalam dekapan budaya materialisme, konsumerisme dan hedonisme. Nilai-nilai yang bersifat materi diagungkan, sementara nilai-nilai rohani diabaikan. Dari sisi materi mereka tidak kekurangan, bahkan berlimpah, tetapi sisi rohani mereka gersang, kering kerontang. Fisik mereka sehat, namun jiwa mereka kosong dan rapuh. Kenyataan inilah, yang pada gilirannya melahirkan manusia-manusia kosong, The Hollow Men, mereka tidak tahu lagi arah dan tujuan hidup ini.

Akibat tidak keseimbangan ini, menurut Dr. Ahmad Mubarok, dapat dijumpai dalam realitas kehidupan, terjadi distorsi nilai-nilai kemanusiaan, terjadi dehumanisasi yang disebabkan oleh kapasitas intelektual, mental dan jiwa yang tidak siap untuk mengarungi samudera peradaban modern (Ahmad Mubarok: 2000)

Di saat-saat seperti inilah manusia membutuhkan petunjuk yang dapat mengarahkannya menuju ketenangan batin dan ketenteraman jiwa. Batin yang telah lama gersang, kering kerontang, mendambakan siraman spiritual. Sehingga kembali bangkit penuh optimisme menyongsong hari esok yang lebih cerah. Dalam konteks ini, hemat penulis, shalat menjadi solusi yang tepat, sehingga makna yang sebenarnya dari Hadis Nabi, “Shalat adalah mi’rajnya kaum Muslimin”, benar-benar terwujud. *

Iklan