Menulis, Mulanya Pahit Akhirnya Manis

Oleh : Didi Junaedi HZ*

 

Sekedar Pengantar

Judul di atas saya pilih bukan tanpa alasan. Rangkaian kalimat tersebut merupakan kesan yang saya rasakan selama menggeluti dunia merangkai kata ini. Menulis, apalagi bagi pemula, memang bukan pekerjaan mudah, bukan perkara sepele yang remeh temeh. (Maaf Bang EWA, kalau saya memulai tulisan ini dengan nada menggugat tesis anda bahwa menulis sangat mudah). Kenyataan inilah, yang saya rasakan di awal perjumpaan saya dengan dunia tulis menulis.

Sulitnya menyusun paragraf pertama, pahitnya ditolak berulang kali oleh pihak redaksi ketika tulisan sudah susah payah saya buat, lamanya menanti pemuatan tulisan yang seakan tak berujung, serta serentetan pengalaman pahit lainnya menjadi kesan yang tak terlupakan dalam lika-liku perjalanan saya mengarungi dunia tulis-menulis ini. Tetapi, tak ada usaha yang sia-sia, tak ada kerja keras yang tak terbayar, itu prinsip yang saya pegang.

Dream comes true, mimpipun akhirnya menjadi nyata. Setelah melalui perjalanan panjang nan terjal, berliku, dan melelahkan, melewati sejumlah rintangan dan hambatan, yang sesekali menggoyahkan tekad saya untuk menjadi penulis, mengoyak asa dan cita yang saya damba, bahkan hampir-hampir membuat saya putus asa, akhirnya dengan ketekunan, kesabaran, semangat pantang menyerah, dan tentunya atas ijin Allah Swt, akhirnya kini saya telah merasakan manisnya buah dari kerja keras tersebut.

Kini, sejumlah tulisan saya telah menghiasi berbagai media cetak maupun elektronik (internet). Rasa pahit yang dulu pernah saya kecap, kini berubah menjadi rasa manis yang tak terhingga. Rasa bahagia, bangga campur haru seakan memupus semua kenangan pahit di awal perjumpaan.

Demi menebarkan ‘virus-virus’ menulis, melalui tulisan singkat ini, saya ingin berbagi cerita, sharing pengalaman, atau sekedar curhat tentang suka duka menjadi penulis. Mudah-mudahan bisa memberikan inspirasi kepada siapa saja yang ingin memulai, tengah berada, atau bahkan sudah malang-melintang di dunia tulis menulis.

 

Awal Perkenalan

Perkenalan saya dengan dunia yang satu ini, bermula dari kekaguman saya terhadap seorang teman, yang ketika itu sama-sama baru duduk di tingkat satu sebuah perguruan tinggi negeri di Jakarta, tetapi tulisannya sudah menghiasi sejumlah media cetak Ibu Kota, bahkan salah satu tulisannya pernah nongkrong di halaman opini sebuah media cetak nasional.

Kekaguman saya kemudian berubah menjadi rasa iri, ketika dia mendapatkan honor dari media cetak yang memuat tulisannya, yang ketika itu cukup besar untuk ukuran kantong mahasiswa. Sejak saat itu, saya bertekad dalam batin, “saya harus menulis. Kalau dia bisa, kenapa saya tidak? Saya yakin, saya pun bisa melakukan hal yang sama, bahkan mungkin lebih dari dia”. Niat yang menggebu dan tekad bulat inilah yang menjadi motivasi terbesar saya untuk mulai menceburkan diri dalam dunia menyusun kata.

Maka, langkah selanjutnya segera saya susun. Saya mewajibkan diri sendiri untuk membaca setiap hari. Berbagai macam koran, tabloid dan majalah dengan beragam berita saya baca; sosial, politik, budaya, agama, bahkan hiburan pun saya lalap habis. Pokoknya, prinsip saya saat itu, saya harus mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya, untuk kemudian saya tuangkan dalam tulisan.

Kebiasaan membaca beragam jenis media cetak setiap hari ini tidak terasa membuat saya mengerti gaya bahasa masing-masing media cetak tersebut. Dengan demikian, saya mulai mengerti selera redaktur dan juga pembaca dari setiap media cetak.

Sampai di sini, saya masih belum memulai aktivitas menulis. Saya merasa perlu membaca yang lebih spesifik dari sejumlah rubrik yang ada di setiap koran,tabloid ataupun majalah. Karena minat saya dari awal ingin menjadi penulis artikel, maka fokus bacaan saya pun menjadi lebih khusus lagi. Setiap hari saya membaca lembar demi lembar artikel opini yang ada di sejumlah koran, beragam kolom di setiap majalah, serta artikel-artikel pilihan di tabloid. Setelah memahami karakter, gaya bahasa serta selera redaktur dan pembaca dari setiap media tersebut, kemudian saya beranikan diri untuk mulai menulis.


Langkah Pertama, terseok-seok

Saya pikir, setelah memiliki cukup informasi untuk dituangkan dalam tulisan, akan mudah untuk memulai aktivitas menulis. Tetapi, ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Saya justru bingung akan menulis apa dan mulai dari mana. Maka, saya kemudian memutuskan untuk menulis tema-tema yang saya kuasai sesuai bidang keilmuan saya. Karena background pendidikan saya adalah agama, maka saya mulai menulis tema-tema keagamaan.

Saya pun mulai berasyik masuk dengan aktivitas menulis. Tiada hari tanpa menulis. Dalam seminggu, 3-4 buah artikel saya selesaikan. Untuk ukuran pemula, saya kira jumlah tersebut cukup banyak. Tak disadari saya mulai menikmati dunia ini. Seminggu sekali saya kirim artikel-artikel tersebut ke sejumlah media cetak, baik via pos maupun e-mail.

Setelah dua bulan saya menjalani aktivitas ini, dan ketika saya hitung kira-kira 20an lebih artikel saya kirimkan, saya mulai menunggu, harap-harap cemas tentang nasib artikel-artikel yang saya kirimkan. Setiap hari saya mengecek keberadaan artikel-artikel saya. Semula saya optimis, dari 20an lebih artikel yang saya kirimkan, saya berharap paling tidak 2-5 artikel yang dimuat.

Tetapi apa lacur, untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak. Harapan tinggal harapan. Setelah berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan menanti, tak satupun artikel yang nongol di media cetak yang saya tuju. Jujur, saya sangat kecewa dengan kenyataan tersebut. Tetapi, setelah saya pikir dengan jernih, saya sadar, mungkin kualitas tulisan saya masih jauh dari harapan para redaktur. Atau, mungkin tulisan saya tidak sesuai dengan visi dan misi media yang saya tuju.

Saya kembali menyusun energi dan strategi untuk memulai aktivitas menulis lagi. Kebiasaan menulis 3-4 artikel per minggu kembali saya jalani. Tema-tema yang saya jadikan objek tulisan mulai meluas, tidak melulu bidang keagamaan. Tema sosial dan pendidikan menjadi concern saya berikutnya. Ternyata, keadaan tetap tidak berubah. Setelah menunggu berbulan-bulan dengan harap-harap cemas, belum tampak hasil kerja keras saya. Tak satupun tulisan yang dimuat di media yang saya tuju.

Saat itu, saya sudah hampir putus asa. Setelah berjalan hampir satu tahun menggeluti dunia tulis menulis, tetap tidak ada hasil yang saya peroleh. Saya sempat berpikir, mungkin dunia tulis menulis bukan bidang saya. Akhirnya saya menghentikan aktivitas ini, dan lebih fokus pada kuliah saya.


Tulisan Pertama yang Dimuat

Setahun sudah saya menghentikan aktivitas menulis. Ternyata, rasa kangen untuk menulis kembali hadir. Sepulang kuliah, saya menghentikan langkah di depan penjual koran dekat kampus. Saya mulai membuka lembar-demi lembar halaman sebuah koran nasional. Tiba-tiba saya membaca sebuah opini tentang RUU Sisdiknas—sekarang sudah menjadi UU— yang sedang marak diperbincangkan ketika itu. Di akhir tulisan, ada sebuah kotak kecil berisi ‘Kolom Tanggapan’. Di situ disebutkan bahwa redaksi memberi kesempatan bagi pembaca untuk menanggapi opini tersebut selama satu minggu. Kolom itu khusus untuk mahasiswa. Tanpa pikir panjang, saya membeli koran itu. Sampai di tempat kos, saya baca dengan teliti artikel opini tersebut, kemudian saya analisa. Selanjutnya, saya segera menyalakan komputer untuk menulis artikel tanggapan. Satu setengah jam kemudian artikel tanggapan tersebut selesai. Setelah saya edit, segera saya kirimkan ke alamat email redaksi koran itu.

Pagi hari, ketika saya membuka halaman opini koran tersebut, tak disangka artikel tanggapan saya dimuat. Saya hampir-hampir tidak percaya. Artikel yang saya kirim kemarin siang via email, ternyata sudah dimuat pagi harinya. Tak henti-hentinya saya mengucap syukur kehadirat Allah Swt. Akhirnya, setelah melalui perjalanan panjang nan melelahkan, tulisan pertama saya pun dimuat di sebuah koran nasional. Alhamdulillah…kerja keras saya selama ini tidak sia-sia.


Semakin Asyik Menulis

Setelah tulisan pertama dimuat di sebuah koran ternama. Saya jadi semakin semangat untuk terus menulis. Kepercayaan diri saya bertambah. Keyakinan untuk menjadi penulis pun semakin menguat. Saya yakin, ini awal terbukanya langkah saya di dunia tulis-menulis.

Bulan-bulan berikutnya menjadi bulan-bulan yang indah. Karena, ternyata benar dugaan saya, artikel-demi artikel saya di muat di sejumlah media cetak baik koran maupun majalah. Bahkan, ketika itu ada redaktur sebuah harian Ibu Kota yang meminta saya untuk selalu mengirimkan tulisan-tulisan saya ke media yang dikelolanya. Tak ayal, hampir setiap 1-2 minggu sekali tulisan saya nongkrong di rubrik opini koran tersebut. Sayapun semakin asyik bergelut dengan dunia kata.

Seiring dengan semakin seringnya tulisan saya dimuat, honor pun mulai mengalir dari sejumlah media yang memuat tulisan saya. Meskipun, seringkali honor yang saya terima datang terlambat dengan berbagai alasan. (saya rasa ini sudah menjadi rahasia umum di kalangan penulis). ‘Ala kulli hal, Saya benar-benar merasakan manisnya buah dari perjuangan dan kerja keras saya.

Kini, setelah bertahun-tahun saya menggeluti dunia tulis-menulis, berpuluh-puluh tulisan saya tersebar di sejumlah media cetak; koran, majalah, jurnal dan berbagai media cetak lainnya. Bahkan, belakangan ini saya menulis di media elektronik (internet), melalui blog, ataupun website.

Salah satu obsesi saya yang sampai saat ini belum tercapai adalah menulis buku. Saya punya keinginan yang kuat untuk mewujudkan impian yang satu ini. Saat ini, saya tengah menyiapkan sebuah buku ringan tentang ‘untaian hikmah’. Sebuah buku yang berisi tentang tema-tema sederhana bernuansa religius yang didasarkan pada ayat-ayat suci al-Qur’an dan Hadis, yang mengungkap kisi-kisi kehidupan sehari-hari. Mudah-mudahan impian saya ini segera terwujud. Amiiin…


Sekedar Penutup

Curhat di atas hanyalah secuil kisah lika-liku perjalanan saya dalam menapaki jalan terjal nan berliku di dunia tulis-menulis. Pada prinsipnya, untuk mencapai kesuksesan di bidang apa pun, tak terkecuali dalam dunia tulis-menulis, kunci utamanya adalah kerja keras, ketekunan, kesabaran dan semangat pantang menyerah. Dengan beberapa langkah tersebutlah, kita akan menuai sukses. Sebuah ungkapan bijak menyebutkan, no gain without pain, tidak ada kesuksesan tanpa penderitaan. Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu dalam menulis, dengan penolakan-demi penolakan, bersenang-senang kemudian, dengan dimuatnya tulisan-tulisan kita. Menulis, Mulanya Pahit Akhirnya Manis.

Iklan