Oleh: Didi Junaedi HZ.

 

 

 

 

 

Beberapa hari lagi, umat Islam di seluruh penjuru dunia akan merayakan Idul Adha, atau sering disebut juga sebagai Hari Raya Kurban. Untuk memperingati peristiwa bersejarah (baca: Idul Adha) kali ini, penulis mengajak kita semua menyisihkan waktu sejenak untuk merefleksi, merenungkan kembali hikmah di balik peristiwa pengurbanan yang dilakukan oleh salah seorang rasul Allah dalam menjalankan misi mulia berupa menyebarkan risalah tauhid.

Jika ditelisik secara historis, ritual pengurbanan ini bermula dari sebuah ‘mimpi yang benar’ (rukyat shadiqat) yang dialami oleh salah seorang Khalilullah (kekasih Allah), Nabi Ibrahim a.s. Dalam mimpi tersebut, sebagaimana dikisahkan dalam Q.S. 37: 102, Nabi Ibrahim menyembelih putra sematawayangnya, Ismail. Kemudian ketika mimpi tersebut disampaikan kepada putranya, jawaban yang terlontar dari mulut sang putra sungguh di luar dugaan, “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepada engkau, insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

Kisah ini bukanlah cerita fiktif atau mitos belaka, tetapi suatu fakta sejarah kehidupan seorang rasul Allah yang benar adanya. Dari peristiwa dramatis inilah kemudian ibadah kurban yang disimbolkan dengan menyembelih hewan kurban disyariatkan.

 

Misi Liberatif

Disamping prosesi ibadah kurban merupakan perintah agama yang harus dipenuhi, sesungguhnya di balik ritualitas formal itu tersimpan banyak sekali pesan moral untuk diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Pesan paling substansial dan esensial dari ibadah kurban adalah misi liberatif, yaitu semangat pembebasan. Basis utama semangat pembebasan ini adalah pengakuan seorang hamba secara mutlak akan keesaan Tuhan (tauhid)— yang tercermin dalam kalimat la ilaaha illa Allah (tidak ada tuhan selain Allah)— dan menegasikan segala otoritas dan petunjuk yang datang bukan dari Tuhan.

Menurut M. Amien Rais, bila pengertian tauhid ini ditarik ke dalam kehidupan masyarakat manusia, maka tauhid tidak mengakui kontradiksi-kontradiksi berdasarkan kelas, keturunan dan latar belakang geografis. Demikian juga tauhid menolak kontradiksi-kontradiksi legal, sosial, politik, rasial, ekonomi, dan bahkan kontradiksi-kontradiksi antarbangsa. (M. Amien Rais: 1995)

Dalam konteks ini, diskursus tentang teologi pembebasan yang disuarakan oleh beberapa pemikir muslim kontemporer menarik untuk dicermati.

Farid Essack, misalnya, Doktor Tafsir Al-Qur’an asal Afrika Selatan, melalui bukunya Qur’an, Liberation and Pluralism: An Islamic Perspective of Interreligious Solidarity against Oppression (1997), mendefinisikan teologi pembebasan sebagai sesuatu yang bekerja ke arah pembebasan agama dari struktur serta ide sosial, politik dan religius yang didasarkan pada ketundukan yang tidak kritis, dan pembebasan seluruh masyarakat dari semua bentuk ketidakadilan dan eksploitasi ras, gender, kelas dan agama.

Di sisi lain, Asghar Ali Engineer dalam ‘Islam and Liberation Theology’, mengatakan bahwa tujuan dasar dari teologi pembebasan ini adalah persaudaraan universal (universal brotherhood), kesetaraan (equality), dan keadilan sosial (social justice).

Dalam konsepsi Islam, persaudaraan universal dan kesetaraan adalah sesuatu yang harus dijunjung tinggi. Hal ini sesuai yang ditegaskan dalam Q.S. 49: 13, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.

Ayat ini secara jelas dan tegas membantah semua konsep superioritas rasial, kesukuan, kebangsaan atau keluarga, dengan satu penegasan dan seruan akan pentingnya kesalehan. Kesalehan yang dimaksud adalah perpaduan antara kesalehan ritual dan kesalehan sosial.

Pada titik inilah, ibadah kurban menemukan relevansinya. Prosesi pengurbanan yang disimbolkan dengan penyembelihan hewan kurban melambangkan dua dimensi sekaligus, yaitu dimensi vertikal-spiritual (hablun min Allah) dan dimensi horisontal-sosial (hablun min an-nas). Dimensi vertikal-spiritual disimbolkan dengan penyembelihan hewan kurban, sebagai implementasi dari sikap taat kapada Allah, sebagaimana termaktub dalam Q.S. 108: 3. Sedangkan dimensi horisontal-sosial tercermin dari sikap solidaritas sosial sesama manusia berupa pembagian daging kurban kepada sesama muslim khususnya, dan lebih luas kepada sesama hamba Tuhan.

Dengan kata lain, ibadah kurban selain sebagai upaya pendekatan diri (taqarrub) seorang hamba terhadap penciptanya, juga merupakan usaha pembebasan dari segala bentuk penghambaan kepada sesama makhluk.

 

Transformasi Nilai Ilahi Menuju Nilai Insani

Drama simbolis berupa pengurbanan yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim a.s. mengajarkan kepada kita tentang pembebasan manusia dari segala bentuk perbudakan dan penyembahan kepada sesama makhluk. Peristiwa pengurbanan ini juga menyadarkan kita bahwa kesenangan materi berupa kecintaan kepada anak secara berlebihan, menumpuk kekayaan, melanggengkan kekuasaan, dan segala yang bersumber dari hawa nafsu, diiringi dengan penafian dan ketidakpekaan terhadap nasib orang lain akan menjerumuskan kita pada kesengsaraan.

untuk mewujudkan terciptanya sebuah masyarakat religius yang peka terhadap problem-problem sosial, maka perlu ditanamkan kepada setiap individu, kesadaran akan pentingnya transformasi nilai-nilai ilahiah yang suci dari sebuah ritualitas ibadah formal, menuju nilai-nilai insaniyah dalam realitas sosial.

Dengan demikian, tidak akan terlihat lagi manusia-manusia dengan kepribadian terbelah (split integrity), di satu sisi ia terlihat sebagai sosok yang saleh secara ritual, namun di sisi lain ia juga sosok manusia yang bobrok secara moral, berbagai kejahatan publik dilakukannya; korupsi, kolusi, manipulasi dan sederet tindak kejahatan lainnya.

 

Singkatnya, orientasi ketuhanan dan kemanusiaan yang berakar pada setiap individu harus mengejawantah dalam tata nilai perilaku sehari-hari. Hanya dengan transformasi nilai-nilai ilahi ke dalam realitas sosial insani inilah, akan tercipta masyarakat yang saleh, baik secara ritual maupun sosial.

Akhirnya, di tengah labilitas kondisi bangsa Indonesia saat ini, ketika harga-harga kebutuhan pokok melambung tinggi, di saat masyarakat sudah kehilangan kepercayaan terhadap pemerintah, semoga hadir ke tengah-tengah kita manusia-manusia pembebas, yang saleh secara ritual dan sosial, sehingga mampu meniupkan angin segar perubahan serta meluruskan kembali niat suci reformasi yang telah diselewengkan.

Semoga nilai-nilai suci ibadah kurban ini mampu menggugah kesadaran segenap elemen bangsa yang sudah semakin pudar, sehingga pada gilirannya akan terwujud cita-cita membentuk sebuah masyarakat ideal, masyarakat utama, yang mampu menyinergikan antara kesalehan ritual dan sosial.