Archive for Januari, 2008


Oleh: Didi Junaedi HZ

Tantangan terbesar dari modernitas dalam kehidupan beragama adalah keragaman, bukan sekularisasi. Modernitas membuat kelompok agama menolak perbedaan dan menghendaki penyeragaman, termasuk dalam berkeyakinan.

Fenomena penolakan terhadap keyakinan yang berbeda dengan mainstream keyakinan yang ada, tampaknya begitu jelas hadir di negeri ini. Beberapa waktu lalu, umat bergama dihebohkan dengan mencuatnya kelompok yang menamakan dirinya al-Qiyadah Islamiyah. Resistensi kelompok agama terhadap kehadiran kelompok ‘agama baru’ tersebut begitu luar biasa. Label sesat dan kafir pun disematkan kepada ‘agama baru’ tersebut. Belakangan, yang masih hangat diperbincangkan, yakni Jamaah Ahmadiyah. Para penganut ajaran ini pun mengalami nasib yang sama, yakni penolakan akan kehadirannya di bumi pertiwi ini. Baca lebih lanjut

Iklan

Oleh : Didi Junaedi HZ

Beberapa hari belakangan ini, sejumlah insan film yang tergabung dalam Masyarakat Film Indonesia (MFI) menggugat keberadaan Lembaga Sensor Film (LSF). Mereka menganggap tidak perlu ada sensor dalam industri perfilman nasional. Alasannya, sensor membendung kreativitas.

Melalui tulisan ini, penulis ingin urun rembug dalam menyikapi polemik yang tengah berlangsung seputar masih relevan atau tidak keberadaan LSF saat ini. Baca lebih lanjut

Baru-baru ini, wacana seputar pembubaran Lembaga Sensor Film (LSF) mencuat. Adalah sekelompok insan film yang tergabung dalam Masyarakat Film Indonesia (MFI) yang menggelindingkan wacana tersebut. Alasan mereka, LSF memasung kreativitas dan membatasi ruang gerak kebebasan berekspresi. Atas dasar itu, mereka mengajukan permohonan kepada Mahkamah Konstitusi untuk melakukan uji materiil (judicial review) terhadap Undang-Undang (UU) sensor film, yakni pasal 8 tahun 1992. UU itu mereka anggap bertentangan dengan UUD 1945. Baca lebih lanjut

camel.jpg

Dalam sejarah peradaban Islam, terdapat sebuah peristiwa besar (the great history) yang merupakan tonggak baru dalam sejarah perjuangan Nabi Muhammad saw mengembangkan misi dakwahnya menyebarkan risalah ilahiyah, yaitu peristiwa Hijrah.

Hijrah lazim dimaknai sebagai peristiwa perpindahan Nabi Muhammad dari Mekah ke Yatsrib (Madinah) untuk meneruskan perjuangan menegakkan dinul Islam, menciptakan sebuah tatanan masyarakat yang beradab (civilized), dinamis, progresif dan toleran di bawah naungan wahyu Ilahi, serta membebaskan masyarakat dari belenggu kezaliman, penindasan, dan kejahiliyahan. Karena itulah, Umar bin Khaththab menetapkan peristiwa hijrah ini sebagai permulaan tahun dalam kalender Islam, yang saat ini telah memasuki tahun ke 1428 Hijriah. Baca lebih lanjut

Alhamdulillah, saat ini kita sudah memasuki tahun 2008. Dengan demikian, berarti Allah masih memberi kesempatan kepada kita untuk melanjutkan titah-Nya sebagai khalifah-Nya di muka bumi ini. Karunia nikmat yang sangat besar ini hendaknya kita syukuri dengan melakukan refleksi, koreksi serta introspeksi diri atas segala yang telah kita kerjakan pada tahun yang lalu. Apakah nilai-nilai kebaikan yang kita lakukan lebih banyak dari catatan kejahatan kita? Ataukah justru sebaliknya, nilai-nilai kejahatan kita jauh melebihi catatan kebaikan yang kita kerjakan? Baca lebih lanjut