Oleh: Didi Junaedi HZ

Tantangan terbesar dari modernitas dalam kehidupan beragama adalah keragaman, bukan sekularisasi. Modernitas membuat kelompok agama menolak perbedaan dan menghendaki penyeragaman, termasuk dalam berkeyakinan.

Fenomena penolakan terhadap keyakinan yang berbeda dengan mainstream keyakinan yang ada, tampaknya begitu jelas hadir di negeri ini. Beberapa waktu lalu, umat bergama dihebohkan dengan mencuatnya kelompok yang menamakan dirinya al-Qiyadah Islamiyah. Resistensi kelompok agama terhadap kehadiran kelompok ‘agama baru’ tersebut begitu luar biasa. Label sesat dan kafir pun disematkan kepada ‘agama baru’ tersebut. Belakangan, yang masih hangat diperbincangkan, yakni Jamaah Ahmadiyah. Para penganut ajaran ini pun mengalami nasib yang sama, yakni penolakan akan kehadirannya di bumi pertiwi ini.

Beberapa kasus di atas menjadi bukti konkret akan resistensi kelompok agama atas perbedaan keyakinan, sekaligus menegaskan bahwa kelompok agama ‘alergi’ terhadap sejumlah ‘keyakinan baru’ yang hadir ke tengah-tengah mereka.

Fenomena memprihatinkan yang terjadi akhir-akhir ini, yaitu adanya sekelompok orang atau gerakan yang melakukan tindak kekerasan serta melancarkan sejumlah teror, bahkan melakukan pengrusakan dan tindakan narkis atas dasar agama, atau mengatasnamakan agama tertentu.

Biasanya, sejumlah teror, intimidasi, serta beragam bentuk tindak kekerasan lainnya yang dilakukan oleh sekelompok orang atau gerakan atas nama agama tertentu, ditujukan kepada komunitas penganut agama lain, atau penganut keyakinan yang berbeda dengan yang mereka yakini.

Hemat penulis, tindakan tersebut pada hakekatnya sangat bertolak belakang dengan misi agama yang sesungguhnya, yaitu menciptakan kedamaian dan kesejahteraan bagi umat manusia di muka bumi ini.

Kita semua mafhum bahwa semua agama, apapun namanya, pasti mengajarkan seperangkat nilai-nilai moral kepada para pemeluknya demi terciptanya manusia-manusia berbudi pekerti luhur dan berkepribadian mulia. Bisa dipastikan, tidak ada satu agama pun di dunia ini yang menuntun pemeluknya untuk berbuat kejahatan, melakukan tindak pengrusakan, berperilaku amoral dan asusila, serta sederet tindak kejahatan kemanusiaan lainnya.

46.jpg

Pandangan yang kabur antara das sollen (cita-ideal) dan das sein (realitas-konkret) keberadaan agama ini memancing kita semua untuk mengajukan sebuah common question (pertanyaan bersama), mengapa tujuan agama yang sangat mulia, yaitu menciptakan kedamaian dan kesejahteraan bagi umat manusia, seringkali dinodai oleh perilaku para pemeluknya, dengan berbuat kejahatan dan tindak kekerasan, yang alih-alih menjunjung tinggi nilai-nilai suci agama, tetapi justru menyeret agama ke titik nadir yang paling rendah?

Membuka Kran Dialog
Adalah Paul F. Knitter, Guru Besar Teologi di Xavier University, Cincinnati, dalam bukunya One Earth Many Religions: Multifaith Dialogue & Global Responsibility menegaskan bahwa persoalan utama yang menyebabkan munculnya konflik antarumat beragama adalah tersumbatnya kran dialog. Sehingga masing-masing pemeluk agama bersikukuh dengan kebenaran mutlak ajaran agamanya, sekaligus menafikan kebenaran ajaran agama lain. Dengan kata lain, truth claim (klaim kebenaran) atas ajaran agama tertentu masih menjadi tembok kokoh yang menghalangi umat beragama untuk bersikap toleran, inklusif dan pluralis.

Senada dengan pandangan Paul F. Knitter, Khaled Abou El Fadl, Profesor Hukum Islam di Fakultas Hukum UCLA, Amerika Serikat, dalam karyanya The Place of Tolerance in Islam mengungkapkan bahwa munculnya sikap intoleran pemeluk suatu agama tertentu terhadap komunitas pemeluk agama lain, atau penganut keyakinan lain didasari oleh pemahaman yang sempit atas kebenaran ajaran agama yang dianutnya.

Lebih jauh Khaled mengkritisi model interpretasi para pemeluk agama atas teks keagamaan yang masih bersifat rigid. Menurutnya, dalam setiap kewajiban etis, teks keagamaan mengandaikan para pembacanya membawa perasaan moral yang sudah ada kepada teks. Dengan demikian, teks secara moral akan memperkaya pembaca, hanya jika pembaca secara moral memperkaya teks. Makna teks keagamaan tidak hanya dibentuk oleh makna harfiyah kata-katanya, tetapi juga tergantung pada konstruksi moral yang diberikan pembacanya. Karena itu, jika pembaca memahami teks tanpa komitmen moral, tentu tidak akan memberikan apa-apa kecuali wawasan yang teknis, legalistis dan tertutup.

Sebagai upaya untuk menghancurkan tembok keangkuhan, berupa klaim kebenaran atas suatu ajaran agama tertentu dan penafian terhadap kebenaran ajaran agama lain, baik Paul F. Knitter maupun Khaled Abou El Fadl menyarankan agar para pemeluk agama mau melangsungkan dialog antariman (interfaith dialogue). Sehingga benang kusut berupa perbedaan pendapat agama-agama mengenai hakekat Ultimate Reality (Realitas tertinggi) dapat diatasi.
Selain, itu pemaknaan secara literal terhadap teks-teks keagamaan, hendaknya diimbangi dengan penggalian makna secara kontekstual dan substansial. Pemaknaan harfiyah semata, tanpa didasari oleh penggalian terhadap konstruksi lahirnya sebuah teks, hanya akan membawa pembaca pada pemahaman yang picik. Spirit sebuah teks keagamaan akan hadir ketika pembaca mau menjelajah lebih jauh konstruksi sosial dan budaya ketika teks tersebut lahir.

Dengan dua pendekatan tersebut, yakni dialog antariman dan pemaknaan terhadap teks keagamaan secara literal-kontekstual, diharapkan upaya menarik benang merah berupa common denominator (titik temu) antaragama dapat segera terwujud. Walhasil, benang kusut toleransi beragama yang selama ini kerap memicu pertikaian dan tindak kekerasan pun akan terurai kembali.

Iklan