Beberapa tahun terakhir ini tampaknya bangsa Indonesia tak henti-hentinya dirundung bencana. Dari banjir bandang, gempa bumi, tanah longsor, hingga semburan lumpur panas. Kesemua bencana tersebut selalu memakan korban jiwa, dan menyisakan isak tangis serta ratapan pilu keluarga korban yang ditinggalkan.

Ironisnya, di tengah maraknya bencana yang melanda bangsa ini, alih-alih melakukan langkah antisipatif dan preventif agar tidak terjadi lagi bencana serupa di kemudian hari, atau melakukan tindakan ‘cepat tanggap’ untuk menyelamatkan para korban, masyarakat dan pemerintah justru saling tuding dan menyalahkan satu sama lain.
Hemat penulis, sikap saling tuding dan menyalahkan antara masyarakat dan pemerintah, bukanlah suatu tindakan bijak, dan bukan pula jawaban atas pelbagai bencana yang menimpa negeri ini. Kenyataan ini justru menambah masalah baru yang jika dibiarkan berlarut-larut akan menjadi preseden buruk, bahkan akan semakin menghempaskan bangsa ini ke jurang keterpurukan.
Untuk itu, dalam menghadapi pelbagai bencana yang melanda bangsa ini, yang dibutuhkan adalah sikap arif dan bijaksana, bukan saling tuding dan menyalahkan satu sama lain. Melalui tulisan ini, penulis mengajak kita semua untuk mencermati bencana dalam tinjauan teologis dan sosiologis. Dari dua sudut pandang tersebut, diharapkan tidak akan ada lagi saling menyalahkan satu sama lain.

Teologi Bencana
Dalam tinjauan teologis, bencana atau musibah yang menimpa umat manusia adalah kehendak mutlak Tuhan, yang sering disebut dengan istilah takdir. Memang, kata ‘takdir’ seringkali diasosiasikan dengan nada sumir, pejoratif dengan konotasi negatif. Pada hakekatnya, harus disadari bahwa Tuhan tidak akan pernah berbuat aniaya terhadap hamba-Nya. Hal ini ditegaskan dalam sejumlah firman-Nya. Semua yang terjadi dan menimpa manusia merupakan akibat dari ulah manusia sendiri. Inilah yang kemudian disebut dengan ‘hukum alam’, atau dalam bahasa agama dikenal dengan istilah ‘sunnatullah’. Dan Tuhan hanya menjalankan hukum alam tersebut. Di sinilah, ada ruang ikhtiar (baca: usaha) manusia untuk meminimalisir kemungkinan terjadinya suatu bencana.

2003-06-17t102413z_01_jer01d-_rtridsp_2_mideast.jpg

Tak dapat dipungkiri memang, Tuhan punya hukum-Nya sendiri. Tetapi, seperti ditegaskan dalam sejumlah referensi agama, manusia diberikan ruang gerak untuk mengubah kehidupannya. Untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya, menghindari kemungkinan terjadinya bencana, dan mengantisipasi hal terburuk yang mungkin menimpanya.
Dengan demikian, dalam perspektif teologis, pelbagai fenomena bencana alam yang terjadi akhir-akir ini, merupakan ‘takdir’ Tuhan akibat ulah manusia. Dalam artian, Tuhan menjalankan hukum-Nya sesuai dengan tingkah laku manusia.
Hal ini, hemat penulis, yang sering tidak disadari oleh kita. Sehingga, setiap kali terjadi bencana, alih-alih kita introspeksi diri, menyadari kesalahan kita, yang terjadi justru saling tuding dan menyalahkan satu sama lain. Ibarat kata pepatah, ‘buruk muka cermin dibelah’.

Sosiologi Bencana
Dalam realitas sosial, munculnya sejumlah bencana tidak bisa dipisahkan dari sikap serta tingkah laku individu-individu dalam masyarakat. Dalam konteks Indonesia, serangkaian bencana alam seperti banjir, tanah longsor, serta semburan lumpur panas, menunjukkan kecerobohan individu-individu terkait dalam serangkaian peristiwa tersebut.
Kasus banjir di Jakarta yang terjadi beberapa hari ini misalnya, merupakan imbas dari sikap ceroboh dan tidak disiplin masyarakat, serta ketidaktanggapan pemerintah setempat atas bencana alam tersebut yang terjadi berulang kali di Ibu Kota ini.

Pembuangan sampah yang tidak pada tempatnya, semakin minimnya area penghijauan seiring dengan dibangunnya gedung-gedung pencakar langit, serta kelambanan pemerintah dalam melakukan tindakan preventif, merupakan beberapa faktor yang memicu datangnya banjir.
Di sisi lain, semburan lumpur panas di Sidoarjo yang menyengsarakan ratusan ribu penduduk sekitar, karena tempat tinggal, serta sarana prasarana dan fasilitas umum terendam lumpur, merupakan bukti ketidakbecusan pihak pengelola dan juga pemerintah dalam penanganan proyek tersebut. Di sini tampak jelas, kepentingan segelintir orang, pada gilirannya menimbulkan bencana bagi orang lain.
Dari kenyataan di atas, maka jelaslah bahwa dalam tinjauan sosiologis, sejumlah bencana yang menimpa bangsa ini tidak bisa dipisahkan dari sikap serta tingkah laku individu-individu masyarakat negeri ini. Selagi individu-individu masyarakat negeri ini tidak mengubah sikap serta tingkah lakunya menuju arah yang lebih baik, maka sejumlah musibah lainnya siap menanti kita.

Sikap Arif
Menyikapi beragam bencana dan musibah yang menimpa negeri ini, hendaknya segenap elemen bangsa ini mampu berpikir jernih, dengan mendudukkan persoalan pada porsinya secara proporsional. Sikap saling menyalahkan tidak akan pernah menyelesaikan masalah, justru akan memperkeruh suasana. Kesadaran akan tanggung jawab bersama dalam menghadapi bencana serta musibah menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar.

Oleh karena itu, bencana dan musibah yang menimpa bangsa ini harus disikapi dengan arif. Dua tinjauan dalam menyikapi bencana yang penulis paparkan, yakni tinjauan teologis dan sosiologis yang saling berkait kelindan, mudah-mudahan menggugah kesadaran masyarakat negeri ini untuk introspeksi diri, menyadari kealpaannya, sehingga tidak lagi saling tuding dan menyalahkan satu sama lain. Dengan demikian, maka solusi atas masalah tersebut diharapkan dapat segera terwujud.

Iklan