Archive for Mei, 2008


Ingin BukaUsaha(Part 3)

Minggu pagi, 25 Mei 2008 aku bersama istriku beres-beres tempat usaha kami, yang rencananya insya Allah kalau tidak ada halangan, akan mulai kami operasikan secara resmi pada tanggal 1 Juni 2008 nanti.

Kebetulan hari minggu kemarin, sesuai perjanjian dengan pembuat etalase, 2 buah etalase kami, 1 untuk tampat voucher hp beserta asesorisnya, dan yang 1 lagi untuk Alat tulis kantor (ATK) akan dikirim pukul 09.00 WIB. Setelah sebelumnya kami mendatangi tempat pembuat etalase tersebut, maka pada pukul 09.30 WIB, 2 buah etalase kami pun sampai di tempat usaha kami itu. Dengan bantuan seorang karyawan dan seorang lagi kakak ipar kami, kami segera menempatkan 2 buah etalase tersebut sesuai dengan rencana awal, yakni menghadap ke arah timur, tempat lalu lalang para pengguna jalan. Baca lebih lanjut

Iklan

(Refleksi 10 Tahun Reformasi)

Hari ini, Rabu, 21 Mei 2008, tepat sepuluh tahun gerakan reformasi bergulir. Sudah sepatutnya kita semua, bangsa Indonesia merefleksi kembali perjalanan reformasi yang telah menapaki satu dasa warsa ini dengan pikiran jernih, disertai kujujuran untuk menjawab sebuah pertanyaan bersama (common question), apakah niat suci reformasi masih ada dalam diri kita? Ataukah niat tersebut telah ternodai oleh kepentingan-kepentingan pribadi kita?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, mari kita sejenak melihat kondisi riil bangsa Indonesia saat ini. Dari kenyataan tersebut, nanti kita akan dapat menyimpulkan sendiri jawaban atas pertanyaan di atas.
Kalau kita cermati, tampaknya labilitas kondisi bangsa Indonesia masih terus berlanjut. Berbagai persoalan melingkupi hampir seluruh sendi kehidupan; sosial, budaya, ekonomi, politik, hukum dan pelbagai sendi kehidupan lainnya yang semakin menambah panjang derita bangsa ini.

Persoalan-persoalan sosial, seperti konflik horisontal bernuansa SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), maraknya peredaran narkoba, tingginya angka kriminalitas, meningkatnya jumlah pengangguran, eksploitasi sekaligus kekerasan terhadap anak di bawah umur, menjamurnya perjudian dan prostitusi, serta berbagai masalah sosial lainnya menjadi pemandangan sehari-hari masyarakat negeri ini. Baca lebih lanjut

Besok, Selasa, 20 Mei 2008, bangsa Indonesia akan memeringati satu abad Kebangkitan Nasional. Dan lusa, Rabu, 21 Mei 2008, tepat 10 tahun reformasi bergulir sejak jatuhnya rezim Orde Baru pada 21 Mei 1998 yang lalu.

Dua momen penting dan bersejarah tersebut terlalu sayang untuk dilewatkan begitu saja oleh bangsa yang tengah dilanda krisis multidimensi ini. Untuk itu, dalam balutan dua momen penting tersebut, perkenankan penulis untuk mengajak segenap elemen bangsa ini untuk merefleksi kembali makna Kebangkitan Nasional dan Reformasi, sehingga hakekat mana serta semangat Kebangkitan Nasional dan Reformasi tetap tertancap kuat dalam hati sanubari setiap individu masyarakat negeri ini.

Kebangkitan Nasional, yang dipelopori oleh Boedi Oetomo sejatinya mengajak segenap elemen bangsa untuk kembali menengok ke dalam diri sendiri, menggali potensi, menguak kedigdayaan yang dimiliki oleh bangsa ini untuk terlepas dari segala bentuk penindasan, kesewenang-wenangan, ketidakadilan serta penistaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang dilakukan oleh para penjajah. Baca lebih lanjut

Ada sebuah ungkapan bijak dalam bahasa Arab yang berbunyi: “Khairu jaliisin fi al-zamaani kitaabun”, sebaik-baik teman di setiap saat adalah buku. Sebuah ungkapan sederhana, namun sarat makna jika dikaji lebih jauh.

Kita semua mafhum bahwa buku merupakan sumber informasi, lautan ilmu dan samudera pengetahuan. Dengan meyelaminya, kita akan mendapatkan hal-hal baru, yang mungkin tidak pernah kita ketahui sebelumnya selama ini.

Buku ibarat belantara pengetahuan tak berujung, lautan ilmu tak bertepi dan mayapada informasi tak berkesudahan. Siapa saja yang bisa masuk menjelajah ke dalamnya, akan menemukan mutiara terpendam yang tak ternilai. Dan, ketika mutiara itu sudah ditemukan, siapa saja akan merasa ingin selalu mencari mutiara-mutiara lainnya yang masih terpendam di balik lembaran-lembaran berjuta-juta buku lainnya.
Melalui buku, kepribadian seseorang terbentuk. Melalui buku pula, peradaban suatu bangsa akan tercipta. Baca lebih lanjut

Seminggu yang lalu, tepatnya sejak selasa hingga rabu, 13-14 Mei 2008, aku bersama keluargaku ‘plesiran’ ke Jakarta. Ya, sekedar melepas penat dan rehat sejenak dari rutinitas sehari-hari yang kadang bikin stres.
Memang sih, sebenarnya tujuan kami ke jakarta adalah untuk perpanjangan STNK mobil Kijangku yang kebetulan berplat nomor Jakarta. Tapi, bisa juga disebut ‘plesiran’, ‘silaturahmi’, ‘rehat’, atau apa saja. Karena, nyatanya ketika sampai di Jakarta, di tempat adikku, yang bekerja di salah satu perusahaan advertising di bilangan rawamangun, Jakarta Timur, aku tidak hanya mengejar target untuk perpanjangan STNK saja, tetapi kami juga sempat ‘jalan-jalan’ ke beberapa tempat.

Sore hari, sekitar pukul 17.00 WIB, setelah kami sekeluarga istirahat + 4 jam, karena kami tiba di Jakarta pukul 12.30 WIB, kami ‘ngelancong’ ke ITC Cempaka Mas, yang katanya merupakan salah satu pusat berbelanjaan terbesar di Asia Tenggara. Karena ketika sampai di ITC Cempaka Mas pas adzan magrib berkumandang, maka kami sekeluarga pun menunanikan sholat Maghrib dulu di Masjid Al-Muttaqin, yang berada di dalam kawasan ITC Cempaka Mas. Baca lebih lanjut

Alhamdulillah…akhirnya langkah awal untuk membuka usaha sudah dilalui. Kemarin, Selasa, 6 Mei 2008, aku bersama istriku telah melakukan negosiasi tentang harga sewa tempat buat usaha. Sebuah lokasi yang menurutku cukup strategis, berada di perempatan jalan raya, dekat dengan pertokoan, sekolah dan kampus.

Adapun luas lokasi tersebut adalah 5 x 5 m2 dengan 4 rolling door, 2 menghadap ke selatan dan 2 lainnya menghadap ke timur. Sarana instalasi listrik pun sudah terpasang dengan voltage 2200 watt. Mudah-mudahan tidak terlalu kecil untuk sebuah mesin photo copy dan 2 unit komputer.

Oh iya, kemvali tentang masalah negosiasi harga sewa. Semula pemilik tempat tersebut memberikan harga awal Rp. 5000.000 per tahun. Setelah tawar menawar harga, jadilah kesepakatan harga, yakni Rp. 4000.000 per tahun.

Lazimnya orang menyewa, tentu ada DP atau uang muka. Maka, akupun bermaksud memberikan uang muka sebagai jaminan bahwa tempat tersebut sudah saya sewa. Namun, ternyata si pemilik tempat tersebut minta dibayar kontan saja, tidak pakai cicilan dan uang muka. Akhirnya, akupun sepakat untuk membayar kontan beberapa minggu ke depan. Dia setuju, dan secara resmi, meskipun belum ada hitam di atas putih, sewa menyewa telah disepakati.

Aku berharap semoga usaha yang baru pertama kali aku rintis ini kelak bisa berjalan lancar dan berkembang pesat. Amiiin…

Dua bulan terakhir ini, aku lagi ngerancang buat buka usaha. Ya, itung-itung belajar menjadi entrepreneur gitu deh…sekaligus buat nambah-nambah pemasukan. Biar ga ngandalin gaji Dosen PNS yang ga seberapa.

Penginnya sih buka usaha rental komputer (jasa pengetikan), photo copy plus jualan voucher hp. Alasanku ingin buka usaha tersebut, karena melihat prospek ke depannya lumayan bagus. Tempat yang rencananya buat buka usaha itu menurutku sangat strategis, di perempatan jalan, dekat kantor-kantor pemerintah, sekolah dan kampus. Baca lebih lanjut