Archive for Januari, 2009


bukuDua hari yang lalu, ketika saya lagi ‘ngenet’ di Perpus STAIN Cirebon, iseng-iseng saya ngecek tulisan-tulisan yang di kirim ke sejumlah media cetak. Tak dinyana tak diduga, ternyata ada salah satu tulisan saya nongol dalam daftar pencarian ‘mbah’ google. Tulisan tersebut berjudul “Buku dan Peradaban Bangsa”, lihat tulisan http://www.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=53544 yang dimuat di HU Pikiran Rakyat (PR) edisi Jumat, 16 Januari 2009. (Tulisan tersebut sebetulnya sudah cukup lama dipublish dalam blog pribadi saya di https://didijunaedihz.wordpress.com)

Perasaan saya ketika itu campur aduk; kaget, seneng, ga nyangka, pokoknya campur-campur deh. Alhamdulillah, setelah sekian lama tidak beredar di dunia tulis menulis, akhirnya saya menemukan kembali dunia tersebut dengan dimuatnya tulisan saya di koran terbesar di Jawa Barat itu.

Sejurus kemudian, saya shut down komputer di warnet dan langsung ke lantai atas perpus mencari arsip Koran PR. Malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih. Arsip koran PR untuk tanggal 16 Januari tersebut tidak saya dapatkan. Akhirnya, saya menuju ke tkuang koran pojok kampus STAIN. Ketika saya tanya edisi dimaksud, si penjual koran pun mengatakan bahwa koran tersebut sudah direturn. Tapi, dia menyarankan untuk langsung ke agen koran di dekat terminal bus Cirebon. Saya pun meluncur ke sana dengan harap koran tersebut masih ada.

Setibanya di Agen koran dimaksud, saya tanya pemilik agen tentang PR edisi Jumat, 16 Januari 2009. Dia meminta karyawannya untuk menemani saya mencari arsip koran PR di gudang penyimpanan koran yang mau direturn. Alhamdulillah, ternyata usaha saya tidak sia-sia. Koran tersebut masih tersisa satu. Tanpa ba bi bu langsung saya buka halaman opini. Dan, ternyata benar tulisan saya dimuat di halaman tersebut. Saya pun langsung membelinya.

Akhirnya, dengan usaha tak kenal lelah, saya berhasil membawa pulang koran PR yang memuat tulisan saya. Jujur, sepanjang perjalanan pulang saya merasakan kebahagiaan yang tak terkira. Sebuah kepuasan batin yang tidak bisa dinilai dengan apapun….

rokok1Beberapa waktu lalu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa tentang haramnya rokok. Pro kontra seputar fatwa tersebut pun bermunculan menghiasi sejumlah media, baik cetak maupun elektronik. Dari mulai debat di layar kaca hingga polemik di sejumlah surat kabar dan majalah.

Kalangan yang sepakat dengan fatwa tersebut mengatakan bahwa sudah sepatutnya rokok diharamkan, karena dampak negatif atau mudharat yang ditimbulkan rokok sangat membahayakan kehidupan manusia. Dampak buruk yang ditimbulkan rokok tidak hanya bagi si perokok, tetapi juga bagi orang di sekelilingnya. Mereka menganggap bahwa rokok tidak hanya berbahaya bagi kesehatan tubuh, tetapi juga berbahaya bagi kesehatan jiwa dan mental. Baca lebih lanjut

“Selamat Tahun Baru 1430 H & 2009 M.”

“Semoga kelimpahan rahmat Allah Swt

senantiasa melingkupi kehidupan kita semua. Amin”


semangatMeskipun agak terlambat, perkenankan saya mengungkapkan perasaaan serta harapan di Tahun Baru ini…

Rasa syukur tak terperikan sudah selayaknya kita haturkan kehadirat Allah Swt. Karena kemahamurahan-Nya, kita kembali dipertemukan dengan Tahun Baru, yang saat ini sudah memasuki usianya yang ke 1430 dalam hitungan Hijriyah, dan 2009 dalam hitungan Miladiyah.

Kenikmatan bersua kembali dengan Tahun Baru ini hendaknya kita maknai sebagai momen untuk merefleksi, introspeksi diri atas segala tindak dan langkah kita selama 12 bulan yang telah lalu. Adakah perbaikan diri, peningkatan kualitas pribadi, baik dari sisi personalitas, intelektualitas, moralitas serta spiritualitas dalam diri kita? Ataukah jangan-jangan selama 1 tahun belakangan, justru kemerosotan diri yang kita alami. Penurunan kualitas pribadi, kemerosotan intelektual, degradasi moral, atau bahkan kerapuhan spiritual telah menggerogoti kita? Di sisi manakah kita berada?

Bertambahnya tahun, berarti bertambah pula usia kita. Maknanya, jatah kehidupan kita di dunia ini pun berkurang satu tahun. Terlalu naif, jika kesempatan hidup yang semakin berkurang ini kita sia-siakan. Alangkah bodohnya kita, jika jarak kematian yang semakin dekat ini justru kita gunakan untuk hal yang sia-sia.

Untuk itu, Tahun baru hendaknya menjadi starting point, titik tolak kita untuk melangkah menuju kehidupan yang lebih baik, melalui peningkatan kualitas intelektual, moral dan spiritual.

Tahun Baru harus diisi dengan Semangat Baru dan Harapan Baru menuju Kehidupan Baru yang lebih berkualitas. Selamat Berjuang!!!