Archive for Juni, 2009


Menulis Untuk Keabadian

imagesPerkenankan saya mengawali tulisan ini dengan sebuah pertanyaan: Untuk apa kita menulis?

Jawaban yang muncul atas pertanyaan tersebut tentu beragam. Ada seseorang yang menulis sekedar untuk ‘curhat’, yakni mencurahkan isi hatinya. Ada pula yang menulis untuk menjajakan ide serta gagasannya. Pun ada yang menulis untuk ‘rehat’ sejenak dari segala rutinitas kesehariannya. Di sisi lain, belakangan banyak orang menulis, entah artikel, buku, novel atau apapun jenisnya untuk mencari popularitas.

Hemat saya, apapun motivasi seseorang dalam menulis, satu hal yang pasti bahwa menulis akan membawa kita pada keabadian. Menulis, pada hakekatnya menunjukkan eksistensi seseorang. Menulis juga menegaskan kualitas seseorang. Menulis membuka mata orang lain (pembaca) untuk menyelami alam pikiran kita. Menulis menata serpihan-serpihan pengalaman hidup untuk kita susun menjadi sebuah bangunan pemikiran yang utuh. Menulis menghimpun yang terserak, menyatukan yang terpisah dan mengingat yang terlupakan dari kepingan-kepingan pengetahuan yang tersimpan rapih dalam alam bawah sadar kita.

Dalam sebuah ungkapan bijak dinyatakan, Verba volant Scripta manent, ucapan akan hilang, tulisan akan abadi. Sebaik apapun ucapan akan begitu mudah hilang ditelan waktu. Seburuk apapun tulisan akan abadi sepanjang masa. Secemerlang apapun ide kita, jika hanya diungkapkan dalam bahasa lisan, tidak akan bertahan lama. Tetapi gagasan sederhana yang tertuang apik dalam sebuah tulisan akan menjadi catatan sejarah yang abadi.

Usia seseorang boleh seumur jagung. Tetapi karya seseorang akan berumur panjang. Seorang penulis akan terus disebut namanya melalui karya-karyanya, meskipun jasadnya sudah berkalang tanah. Karyanya akan mengabadikan namanya.

Untuk itu, menulislah untuk keabadian!

Iklan

Ketika Prabowo ke Kampungku

Minggu, 21 Juni 2009, merupakan hari yang istimewa bagi sebagian besar warga Desa Kluwut Kecamatan Bulakamba Kabupaten Brebes, khususnya kaum nelayan. Tanah kelahiranku tersebut, kemarin kedatangan salah seorang cawapres yang akan bertarung dalam Pilpres 8 Juli 2009 mendatang. Ya, dialah Prabowo Subianto. Cawapres pasangan Megawati Soekarnoputri itu kemarin siang, sekitar pukul 10.00 WIB mengunjungi kampung nelayan di sekitar wilayah Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Desa Kluwut. Kedatangannya tidak dalam rangkaian Kampanye Pilpres, tetapi bersilaturahmi dengan warga nelayan di wilayah Pantura.

pra1

Kedatangan Prabowo disambut dengan antusiasme yang tinggi oleh masyarakat Desa Kluwut dan sekitarnya. Karena berbarengan dengan diadakannya pesta laut (sedekah laut—ritual tahunan yang diadakan kaum nelayan), maka Prabowopun  didaulat untuk memimpin prosesi pelarungan kepala kerbau ke tengah laut, sebagai sesaji untuk dewa laut, menurut kepercayaan kaum nelayan setempat. Saat itu juga, Prabowo ditahbiskan sebagai Bapak Nelayan Pantura, yang meliputi wilayah Brebes, Tegal dan Pemalang.

Setelah kurang lebih satu jam di lokasi acara, dengan agenda prosesi pelarungan kepala kerbau ke laut, memberikan kata sambutan, dan sedikit wawancara dengan kaum nelayan dan tokoh agama serta tokoh masyarakat setempat, Prabowo dan rombongan pun meninggalkan Desa Kluwut.

Aku sendiri tidak berada di tempat tersebut ketika acara berlangsung. Aku sedang menghadiri acara Bedah Buku bertajuk “Memilih Alat Kontrasepsi yang Alami dan Halal”, yang diadakan oleh Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah, salah satu ortom Muhammadiyah bagi remaja putri Muhammadiyah. Acara tersebut bertempat di Gedung Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al-Mujahidin Kluwut, tidak jauh dari acara pesta laut berlangsung.

Ada ataupun tidak ada acara yang berbarengan dengan acara pesta laut, aku enggan menghadiri acara pesta laut atau dikenal dengan sebutan sedekah laut itu. Alasanku jelas, ritual yang sarat dan kental dengan nuansa kemusyrikan tersebut merupakan salah satu agenda yang selama ini aku coba untuk menghilangkannya. Aku selalu menyosialisasikan dalam berbagai forum majelis taklim, pengajian ataupun acara-acara keagamaan lainnya, bahwa ritual yang selama ini dilakukan kaum nelayan setiap tahun itu akan mengikis akidah serta keyakinan kita sebagai seorang muslim dan mukmin. Apalagi masyarakat desa Kluwut dikenal sangat agamis. Tetapi, entah kenapa untuk masalah yang satu itu, baik pemerintah setempat ataupun para juru dakwah belum sanggup untuk menghilangkannya.

Menginstall Semangat

Setelah beberapa hari absen dari dunia blogging, rasa kangen menjalar ke seluruh tubuh untuk kembali menjumpai para blogger, bolg walker serta para pengunjung setia di blogku ini.

Sekedar berbagi cerita. Beberapa hari belakangan ini aku disibukkan dengan tugas baruku sebagai anggota Tim Penyusun Panduan Penulisan Skripsi di Sekolah Tinggi Agma Islam Negeri (STAIN) Cirebon, tepatnya di Jurusan Syariah. Selama seminggu ini, kami anggota Tim yang berjumlah 6 orang diberi tugas untuk menyusun draft Panduan Penulisan Skripsi untuk jurusan syariah. Alhamdulillah, setelah melakukan diskusi maraton selama beberapa hari, akhirnya draft tersebut selesai juga. Saat ini sudah memasuki tahap editing dan lay out, untuk kemudian dicetak menjadi sebuah buku panduan penulisan skripsi untuk mahasiswa jurusan syariah di STAIN Cirebon.

Menurut schedule time yang telah kami sepakati, sosialisasi buku Panduan Penulisan Skripsi akan dilaksanakan pada hari Sabtu, 20 Juni 2009 yang akan datang melalui program Workshop.

Sembari mempersiapkan acara workshop tersebut, untuk menginstall semangat agar hari H pelaksanaan workshop betul-betul bisa tampil maksimal, tadi siang, sekitar pukul 11.30 WIC (waktu Indonesia Cirebon) aku menuju ke Grage Mall Cirebon. Apa lagi yang dituju kalau bukan Toko Buku Gramedia. Ya, salah satu caraku untuk menginstall semangat adalah dengan menyambangi toko buku. Dari situ aku selalu merasa diinstall lagi semangat hidupku. Dengan demikian, aku bisa lebih merasa enjoy menjalani hari-hariku ke depan.

Aku tiba di Grage Mall sekitar pukul 11.40 WIC. Aku merasa ada sesuatu yang aneh di perutku. Oh, ternyata cacing-cacing di perutku sudah mulai konser dengan iringan musik orchestranya. Aku pun harus memahami kondisi ini. Akhirnya aku menuju warung Nasi Jamblang (makanan khas Cirebon), yakni nasi yang dibungkus dengan daun jati lengkap dengan sambal dan lauk-pauknya.

Selesai menyantap makan siang, aku segera menuju musholla di area parkir Grage Mall, karena waktu menunjukkan pukul 12.00 WIC. Usai shalat, aku segera melangkahkan kakiku ke Gramedia Book Store.

Seperti  biasa, aku selalu melihat tumpukan buku New Arrival dan Best Seller terlebih dahulu sebelum menuju ke rak-rak buku lainnya. Beberapa saat kemudian aku berhenti di salah satu rak buku yang tengah memajang sebuah buku baru berjudul The Power of Kepepet, karya Jaya Setiabudi. Awalnya, aku tertarik dengan covernya yang bergambar seorang laki-laki muda sedang berlari membawa sebuah buku karena hendak diterkam seekor harimau.kepepet

Untuk mengobati rasa penasaranku, langsung aja aku ambil sebuah buku yang sudah tidak bersegel. Setelah aku baca-baca sekilas, ternyata bagus juga isinya. Langsung aja aku ambil.

super leaderBeberapa langkah dari rak yang memajang buku tersebut, aku menjumpai sebuah buku yang sudah sejak beberapa waktu lalu ingin aku beli. Buku tersebut berjudul “Super Leader Super Manager”, karya Syafii Antonio. Buku tersebut menyingkap kisah sukses kehidupan seorang teladan sepanjang zaman, yakni Muhammad SAW. Akupun langsung mengambil buku tersebut tanpa ba-bi-bu.

Dua buah buku telah aku dapatkan. Waktu menunjukkan pukul 13.15 WIC. Aku segera menuju kasir untuk membayar dua buah buku tersebut.

Sejurus kemudian aku sudah berada di lantai bawah Grage Mall. Aku yang sedang terkena flu, dan sedari tadi berada diruang ber-AC, ingin segera menghangatkan badan. Akupun segera menuju ke Dunkin’ Donuts untuk memesan kopi susu dan dua buah donat. Sambil ditemani kopi susu dan donat, aku segera mengeluarkan sebatang rokok Dji Sam Soe dari dalam tas, serta dua buah buku yang baru kubeli tadi. Diiringi hisapan rokok yang mantap dan sruputan kopi yang maknyus, aku mulai membuka segel dua buah buku tersebut dan membaca beberapa bagian.kopidunkin

Setengah jam aku berada di ruang Dunkin’ Donuts yang nyaman tersebut. Tepat pukul 14.00 WIC aku meninggalkan tempat itu untuk segera menuju rumahku alias pulang. Sepanjang perjalanan aku merasa sudah ada semangat baru yang installed ke dalam diriku. Semoga semangat yang telah terinstall ini akan lebih memudahkanku untuk menjalani hari-hariku selanjutnya…Amiin…

imagesAlhamdulillah….setelah beberapa hari ini ngga beredar di dunia maya lewat blog, akhirnya aku bisa posting lagi tulisanku untuk menjumpai para fans yang udah lama ga sabar nunggu berita-berita terbaru dariku (ciyeee…sok terkenal, he…he..). Tak terhitung banyaknya sms serta email yang masuk ke inboxku, begitu juga dering telepon yang ga berhenti-berhenti menyakan perihal keadaanku, kenapa sudah beberapa hari ini ngga riwa-riwi di jagat maya…(he..he..maunya….)

Dengan segala kerendahan hati, pada apostingan perdana di bulan Juni ini aku hanya ingin sedikit bercerita tentang aktivitasku selama beberapa hari terakhir ini, sehingga ngga sempet mengupdate postingan di blog.

Aku baru saja menyelesaikan sebuah naskah buku dengan tema seputar “Orientasi Tekstual dan Kontekstual dalam Penafsiran Al-Qur’an”. Buku tersebut merupakan hasil penelitian serta kajianku untuk Tesis di Program Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, tempatku menimba ilmu dulu.

Keinginan untuk menyusunnya menjadi sebuah buku, sebetulnya sudah sejak lama tersirat dibenakku. Namun, baru saat ini bisa aku wujudkan. Saat ini naskah buku tersebut, dengan pelbagai revisi di sana-sini telah selesai aku kerjakan. Naskah tersebut sudah rapih dengan bentuk jilid soft cover untuk kemudian akan aku kirimkan ke salah satu penerbit yang sudah aku hubungi sebelumnya.

Aku hanya berharap, semoga naskah buku tersebut bisa diterima pihak penerbit untuk kemudian diterbitkan menjadi sebuah buku. Saat ini, paling tidak satu tahap telah terlewati. Mudah-mudahan tahap-tahap berikutnya dapat berjalan mulus sesuai rencana. Amiin…