Archive for Oktober, 2009


Syukuri Apa yang Ada…

syukurSebait syair lagu d’Massive yang saya jadikan judul tulisan ini merupakan sebuah cara untuk menyadarkan diri yang mungkin telah lena dan lalai terhadap segala nikmat yang telah dianugerahkan oleh Allah Swt kepada kita semua. Ya, sadar atau tidak, sebagian besar kita lebih sering mengeluh ketimbang bersyukur atas apa yang telah kita peroleh dan dapatkan selama ini.

Memang, sudah menjadi tabiat manusia, selalu ingin mendapat lebih dari apa yang telah diperolehnya saat ini. Sampai-sampai, kalau bisa agar semua keinginannya terpenuhi. Itulah manusia. Sosok makhluk dengan kemampuan yang sangat terbatas, tetapi memiliki keinginan yang tak terbatas, bahkan tidak jarang keinginannya jauh melampaui batas kemampuannya. Kalau demikian kenyataannya, maka terasa jauh sekali rasa syukur itu dari sosok manusia. Padahal, hanya dengan rasa syukur, menerima kenyataan yang ada, seseorang akan menjalani hidup ini dengan tenang.

Lebih jauh, syukur atas karunia yang telah dianugerahkan oleh-Nya kepada kita, akan membuat kita percaya diri alias pede. Dengan menerima dan mensyukuri apa yang ada, kita akan menjadi sosok manusia yang selalu tampil pede, di mana pun kita berada. Karena kita yakin, apa yang diberikan oleh Allah adalah yang terbaik buat hamba-Nya.  Setiap manusia diberi kelebihan dan kekurangan. Kelebihan merupakan potensi yang menunjukkan siapa kita sebenarnya. Sedangkan kelemahan adalah suatu kondisi dimana seseorang harus mengakui batas kemampuannya. Kelebihan tidak untuk disombongkan, sedang kekurangan tidak untuk ditangisi.

Menerima kelebihan dengan rendah hati dan kekurangan dengan lapang dada adalah kunci hidup bahagia.  So…syukuri apa yang ada…hidup adalah anugerah….

Iklan

Kangen Ngeblog…

ngeblogHallo…pa kabar smuanya…blogger mania…?

Udah lama juga nih aku ga update blogku ini…meskipun hampir setiap hari aku ada di garis (on line, he..he..), tapi rasanya koq jari-jari ini terasa berat yah untuk sekedar menuliskan sepatah dua patah kata untuk menyapa para blogger mania seantero jagat raya ini…paling banter cuma nengok doang, apakah ada komen yang masuk atau ngga…selebihnya blogwalking atau sekedar berselancar ke lamat situs-situs lain yang menyajikan berita dan informasi menarik….

Yah..alasan klise sih kalo mau diungkapin, seperti: sibuk lah, ga sempet lah, males lah ato apapun…Padahal imbasnya ya ke aku juga sih..Banyak sekali peristiwa penting yang terlewatkan dan ngga sempat dituangkan dalam rangkaian kata, yang tentunya akan menjadi catatan perjalanan hidupku dan akan terus abadi serta menjadi sebuah kisah yang tak ternilai…

Beberapa peristiwa penting yang terlewatkan antara lain adalah kebersamaan dengan anggota keluarga melewati hari-hari yang penuh dengan keceriaan, canda-tawa dan suka ria. Apalagi ketika kami berlibur ke pantai, semua terasa begitu lepas, seolah semua beban dalam hidup ini sirna…sebuah kebersamaan yang terlalu indah untuk dilewatkan…

Peristiwa penting lainnya adalah tentang statusku yang kini resmi 100% menjadi kuli negara sebagai PNS (Dosen) di STAIN Cirebon. Setelah menjalani masa-masa penantian selama 1 tahun, akhirnya pada 1 Oktober 2009 kemarin, statusku yang awalnya sebagai CPNS Dosen dengan gaji 80% dari gaji pokok, sekarang resmi menjadi PNS Dosen dan berhak mendapatkan gaji penuh 100%, Alhamdulillah….

Sebetulnya masih banyak peristiwa-peristiwa penting yang terjadi dan belum sempat dituangkan dalam catatan blogku ini, mungkin lain kali akan aku tulis dalam satu bagian tersendiri, sehingga semua yang terserak dari serpihan-serpihan pengalaman hidupku tak kan terlewatkan lagi…Semoga..

Hakekat Idul Fitri

Pada hakekatnya, dalam diri manusia ada fitrah untuk senantiasa berbuat baik dan menjauhkan diri dari perbuatan jahat. Demikian juga halnya, pada diri manusia selalu ada kerinduan untuk terus menerus mengikuti jalan agama yang benar. Maka ketika manusia tergelincir berbuat kejahatan yang menghinakan dirinya serta menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan dan agamanya, Allah mengingatkan mereka melalui firmannya. Dalam Q., s. al-Rum: 30 ditegaskan: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.

Rasulullah saw. melalui salah satu hadisnya juga menyebutkan bahwa pada dasarnya setiap anak manusia dilahirkan dalam keadaan suci, tak bernoda. “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci. Maka tergantung pada kedua orang tuanya lah yang menjadikan anak seorang Yahudi, Nashrani, atau Majusi” (HR. Bukhari).

Dari dua landasan teologis di atas, jelaslah bahwa dalam diri manusia ada potensi bersih dan suci. Prinsip kebaikan ini diakui oleh seluruh umat manusia, sedangkan nafsu akan senantiasa mengantarkan manusia menuju kehinaan dan kesengsaraan.

Hari raya Idul fitri yang baru saja berlalu, selain mengingatkan kita akan perlunya kita kembali ke fitrah insaniyah kita, juga mengingatkan kita akan pentingnya persaudaraan yang dalam bahasa agama disebut “ukhuwah”. Ikatan ukhuwah ini yang pada gilirannya akan melahirkan sikap tasammuh (toleransi), al-musaawah (persamaan), dan yang tak kalah pentingnya adalah at-takaful al-ijtima’i (solidaritas sosial).

Marilah kita sejenak melihat kondisi bangsa Indonesia yang sedang terpuruk ini. Bermula dari krisis moneter kemudian menjadi krisis ekonomi, krisis kepercayaan kepada pemerintah dan akhirnya menjadi krisis global, seluruh sendi kehidupan terkena imbas krisis.

Indonesia yang dulu dikenal sebagai negeri yang damai, tenang, gemah ripah lohjinawi. Namun sekarang semua tinggal isapan jempol belaka. Keutuhan sebagai bangsa tercabik-cabik, terkoyak-koyak, oleh ketidaksepahaman dan perbedaan. Perbedaan suku, agama, ras dan golongan, telah memicu pertikaian, permusuhan yang seringkali mengakibatkan pertumpahan darah dan korban jiwa. Ini semua akibat dari ukhuwah yang lemah, rapuh dan mudah diprovokasi oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab.

Sesungguhnya, kalau seluruh penduduk negeri ini mau menanamkan sikap ukhuwah, baik ukhuwah wathoniyah (semangat nasionalisme), ataupun ukhuwah basyariyah (ikatan kemanusiaan), niscaya hal-hal yang tidak diinginkan tidak akan terjadi. Kalaulah kita bangsa Indonesia mau kembali kepada ajaran agama, tentulah Indonesia ini akan senantiasa damai, tenang, tentram, adil dan makmur.