Pada hakekatnya, dalam diri manusia ada fitrah untuk senantiasa berbuat baik dan menjauhkan diri dari perbuatan jahat. Demikian juga halnya, pada diri manusia selalu ada kerinduan untuk terus menerus mengikuti jalan agama yang benar. Maka ketika manusia tergelincir berbuat kejahatan yang menghinakan dirinya serta menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan dan agamanya, Allah mengingatkan mereka melalui firmannya. Dalam Q., s. al-Rum: 30 ditegaskan: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.

Rasulullah saw. melalui salah satu hadisnya juga menyebutkan bahwa pada dasarnya setiap anak manusia dilahirkan dalam keadaan suci, tak bernoda. “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci. Maka tergantung pada kedua orang tuanya lah yang menjadikan anak seorang Yahudi, Nashrani, atau Majusi” (HR. Bukhari).

Dari dua landasan teologis di atas, jelaslah bahwa dalam diri manusia ada potensi bersih dan suci. Prinsip kebaikan ini diakui oleh seluruh umat manusia, sedangkan nafsu akan senantiasa mengantarkan manusia menuju kehinaan dan kesengsaraan.

Hari raya Idul fitri yang baru saja berlalu, selain mengingatkan kita akan perlunya kita kembali ke fitrah insaniyah kita, juga mengingatkan kita akan pentingnya persaudaraan yang dalam bahasa agama disebut “ukhuwah”. Ikatan ukhuwah ini yang pada gilirannya akan melahirkan sikap tasammuh (toleransi), al-musaawah (persamaan), dan yang tak kalah pentingnya adalah at-takaful al-ijtima’i (solidaritas sosial).

Marilah kita sejenak melihat kondisi bangsa Indonesia yang sedang terpuruk ini. Bermula dari krisis moneter kemudian menjadi krisis ekonomi, krisis kepercayaan kepada pemerintah dan akhirnya menjadi krisis global, seluruh sendi kehidupan terkena imbas krisis.

Indonesia yang dulu dikenal sebagai negeri yang damai, tenang, gemah ripah lohjinawi. Namun sekarang semua tinggal isapan jempol belaka. Keutuhan sebagai bangsa tercabik-cabik, terkoyak-koyak, oleh ketidaksepahaman dan perbedaan. Perbedaan suku, agama, ras dan golongan, telah memicu pertikaian, permusuhan yang seringkali mengakibatkan pertumpahan darah dan korban jiwa. Ini semua akibat dari ukhuwah yang lemah, rapuh dan mudah diprovokasi oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab.

Sesungguhnya, kalau seluruh penduduk negeri ini mau menanamkan sikap ukhuwah, baik ukhuwah wathoniyah (semangat nasionalisme), ataupun ukhuwah basyariyah (ikatan kemanusiaan), niscaya hal-hal yang tidak diinginkan tidak akan terjadi. Kalaulah kita bangsa Indonesia mau kembali kepada ajaran agama, tentulah Indonesia ini akan senantiasa damai, tenang, tentram, adil dan makmur.

Iklan