Archive for November, 2009


Malam ini saya mendapat dua undangan walimatul ‘ursyi (pesta pernikahan). Kedua-duanya dari tetangga saya. Yang pertama, tetangga depan rumah, dan yang kedua tetangga belakang rumah. Tampaknya kedua orang tetangga saya ini udah kompakan, atau mungkin udah janjian sebelumnya untuk ngadain hajatan bareng kali yah…he..he..

Sebagai seorang tetangga, demi menjaga hubungan baik, sayapun memenuhi kedua undangan tersebut. Karena waktu acara bersamaan, yakni pukul 19.30 WIB, kami, para tetangga sepakat untuk menghadiri acara di tempat pertama, yakni tetangga depan rumah terlebih dahulu, selanjutnya baru ke tempat acara yang kedua, yakni tetangga belakang rumah.

Sebagai informasi, dalam acara walimah pernikahan yang biasa diadakan di daerah saya, ada beberapa rangkaian mata acara yang biasa dilalui, yaitu: pembukaan, pembacaan ayat-ayat suci al-quran, sambutan sohibul hajat (yang punya gawe), mauidhoh hasanah (siraman ruhani, pengajian) kalau ada, doa dan penutup. Acara tersebut berlangsung antara 15-30 menit, kadang lebih dikit, he..he..

Setelah acara selesai, semua tamu undangan yang hadir akan mendapatkan ‘berkat’ (Nasi Berkat), yaitu hidangan khas yang disediakan oleh si empunya hajat, berupa nasi lengkap dengan lauk-pauknya, seperti ayam goreng atau ikan bandeng acar, tahu, tempe, telor (asin atau pindang), bihun, sambal goreng kentang, dan lauk lainnya, tergantung kemampuan ekonomi si empunya hajat.

Saya selalu berusaha untuk menghadiri setiap ada undangan hajatan. Alasan utama yang mendasarinya, selain memang ada petunjuk agama melalui sabda Nabi SAW yang memerintahkan kita untuk memenuhi undangan, khususnya walimah pernikahan, juga karena sebuah kenyataan bahwa ketika saya berkumpul dengan para tamu undangan lainnya, saya merasa ada semangat kekeluargaan, guyub, kehangatan, keakraban yang kadang tidak kami jumpai dalam keseharian kami. Mungkin selama ini masing-masing kami sibuk dengan urusannya sendiri, sehingga untuk sekedar menyapa atau say hello saja tidak sempat. Nah, dalam acara walimah inilah kami dipertemukan dalam suasana yang begitu penuh keakraban, kehangatan, diiringi canda tawa yang membuat kami semua larut dalam keceriaan, seolah ikut merasakan kebahagian sang empunya hajat.

Memang, begitulah seharusnya relasi sosial antar individu dalam sebuah masyarakat. Bergaul, bersosialisasi dengan sesama, penuh keakraban, melepas semua atribut yang ada pada diri kita. Tidak ada sekat status, tidak ada gap, tidak ada jarak sosial yang memisahkan satu individu dengan individu lainnya. Semua membaur dalam sebuah komunitas bernama masyarakat, warga sebuah kampung, dusun, desa, ataupun daerah lengkap dengan kewajiban dan hak masing-masing.

Bagaimanapun, selaku makhluk sosial kita tidak dapat hidup tanpa kehadiran orang-orang di sekeliling kita. Setiap kita punya peran masing-masing yang berbeda, yang melengkapi satu sama lain. Di sinilah, pentingnya relasi serta interaksi sosial. Semua saling membutuhkan dan melengkapi satu sama lain.

Untuk itu, jangan sekali-sekali meremehkan relasi serta interaksi sosial ini. Hubungan antar personal yang baik akan melahirkan kondisi masyarakat yang harmonis. Pada gilirannya, harapan untuk mewujudkan sebuah bangsa yang diliputi semangat persatuan dan kesatuan bukanlah sebuah utopia atau isapan jempol belaka, melainkan sebuah mimpi yang tidak lama lagi akan terwujud. Semoga!

Iklan

Seharian ini aku dibuat kesel oleh modem S****ku, sebuah HP CDMA, yang juga berfungsi sebagai modem. Tidak biasanya seperti ini. Aku sudah cek pulsanya, masih penuh. Soalnya baru saja kemarin aku isi ulang. Aku cek konektivitasnya, nyambung, ga ada masalah dengan konektivitas. Tapi kenapa setiap aku mengetikkan alamat situs, kemudian aku enter (browsing), koneksinya lambaaat bangeeet…, le.. le..t… abiizz..kadang-kadang malah putus di tengah jalan. Udah berulang kali aku lepas kabel datanya, aku matiin hpnya, kemudian aku nyalain lagi, trus aku sambungin lagi kabel datanya ke USB, tapi tidak ada perubahan yang berarti. Tetep aja loadingnya le..le..t…Ada apa gerangan?

Aku coba bersabar dengan kondisi yang cukup menjengkelkan sekaligus mengganggu aktivitasku untuk berinternet ria ini. Akupun mencoba mencari akar permasalahannya. Setelah cukup lama termenung, akupun menarik napas dalam-dalam. Ya, aku sudah mendapatkan jawaban atas persoalan tersebut. Dengan analisaku yang sederhana, analisa seorang yang tidak mendalami dunia IT, aku berusaha mengurai akar permasalahan seputar leletnya loading, atau lambatnya koneksi internet melalui modemku itu.

Pertama, loading yang lambat dimungkinkan karena sibuknya jaringan penyedia (provider) koneksi internet yang saya pakai.

Kedua, speed atau kecepatan yang disediakan oleh provider yang aku pakai masih tergolong rendah, hanya beberapa Kbps (Kilobyte per second) saja, tidak mencapai Mbps (Megabyte per second).

Ketiga, beban atau perintah yang terlalu berat atau banyak, sehingga membuat koneksi cukup kesulitan menanggung beban atau memenuhi perintah tersebut.

Itulah analisa sederhana yang mampu aku uraikan seputar lambat atau leletnya loading (koneksi) internet yang aku alami.

Dari peristiwa di atas, aku kemudian mendapat inspirasi untuk menganalogikan kondisi tersebut dengan kondisi otak manusia.

Begini maksudnya, manusia tidak ubahnya dengan seperangkat komputer (PC atau Laptop). Jika processor yang digunakan berkualitas tinggi, maka PC atau Laptop akan bekerja dengan sangat baik. Artinya, jika otak manusia punya kualitas yang bagus, dengan cara diinstall dengan ilmu pengetahuan yang memadai, ia akan menjadi sosok manusia yang cakap, smart, dan cekatan. Sebaliknya, jika otaknya tidak pernah diinstall dengan pengetahuan, lebih banyak berisi program-program berkualitas sampah, maka proses loadingnya pun akan lambat. Baca lebih lanjut

Memaknai Idul Adha

Jumat pagi, 27 Nopember 2009, bertepatan dengan 10 Dzulhijjah 1430 H. Hari ini, seluruh umat Muslim merayakan Hari Raya Idul Adha atau sering disebut Hari Raya Kurban. Banyak orang, termasuk saya sendiri, selalu melewati rutinitas Hari Raya Idul Adha ini sebatas melaksanakan shalat ied, melihat prosesi penyembelihan hewan kurban, serta menikmati ‘menu wajib’ berupa sate dan gulai kambing, itu saja, tidak lebih, titik.

Kita sering melupakan esensi serta pesan moral dari ritual ibadah yang terdapat dalam Hari Raya Idul Adha tersebut. Sebetulnya, kalau kita mau melihat lebih jauh makna dari Idul Adha ini, akan kita jumpai hikmah serta nilai yang sangat tinggi sebagai bekal kehidupan kita di dunia ini dan di akhirat kelak. Baca lebih lanjut

Puasa Arofah

Hari ini aku bangun pagi-pagi buta, tepatnya pukul 03.30 WIB dinihari. Ada apa gerangan, sehingga mau-maunya aku bangun sepagi itu? Adakah hal yang sangat penting sehingga mampu mengalahkan rasa kantukku?

Coba kita lihat, tangal dan bulan berapa sekarang? 26 Nopember 2009! Ya, benar. Coba lihat sekali lagi, dan telusuri kalender Hijriyah, tanggal dan bulan berapa sekarang? Ya, tepat sekali. 9 Dzulhijjah 1430 H.

Terus, apa kaitannya antara bangun pagi dengan tanggal 9 Dzulhijjah ini?

Di sinilah titik terangnya. Bagi saudara-saudara kita yang tengah menunaikan Ibadah Haji, hari ini adalah puncak ritual dari seluruh rangkaian ibadah yang merupakan napak tilas perjalanan Ibrahim as, yakni wukuf di Arafah. Tanpa melaksanakan ritual haji yang satu ini, maka bisa dikatakan haji seseorang tidaklah sah atau batal.

Kaitannya dengan bangun pagi yang aku lakukan adalah, bersandar pada sabda Nabi Muhammad Saw yang menyebutkan bahwa “Puasa sunnah di Hari Arafah (yakni pada 9 Dzulhijjah), bagi yang tidak sedang melaksanakan ibadaha haji, atau wukuf di Arafah, dapat menghapus dosa dua tahun, yakni 1 tahun kemarin, dan 1 tahun yang akan datang.” Dan, kita tentu mafhum, bahwa salah satu sunnah dalam berpuasa adalah makan ‘sahur’. Sebuah ritual menyantap makanan sebagai bekal kita berpuasa, yang dilaksanakan sebelum terbit fajar.

Itulah alasan kenapa aku bela-belain bangun pagi-pagi buta di tengah rasa kantuk yang masih menggelayuti kelopak mataku. Ada secuil harapan yang ingin aku raih dalam ibadah puasa sunnah yang satu ini. Semoga Puasa Sunnah Arafah yang aku lakukan ini mampu menggugah kesadaranku untuk lebih dekat lagi dengan-Nya. Dan semoga ibadah ini dapat sedikit mengurangi dosa-dosaku yang menggunung.

Aku hanya bisa berharap kasih sayang serta rahmat Allah masih setia menemaniku, membimbing langkahku menapaki jalan kehidupan yang entah sampai kapan akan aku tempuh…Semoga!

Maafkan Papamu, Anakku…

Malam ini aku benar-benar merasa lelah. Mungkin ini efek dari perjalanan lebih dari 5 jam pulang-pergi, demi memenuhi undangan seorang kawan yang melepas masa lajang untuk yang kedua kalinya. Ya, ini memang pernikahan ke-2 bagi kawan sekantorku itu. Ya sudahlah, lebih baik aku tinggalkan kawanku itu bersama istri barunya. Mungkin malam ini mereka tengah memadu kasih layaknya pengantin baru, aku tak peduli. Toh, aku juga dulu pernah mengalami masa-masa seperti itu.

Yang jelas,  tak seperti biasanya, malam ini aku terserang kantuk yang luar biasa. Akupun tertidur dengan sukses, tepat setelah menunaikan shalat maghrib. Aku baru setengah terjaga ketika kurasakan ada jari-jari lentik nan mungil merayapi tubuhku. Ketika kucoba membuka katup mata yang masih menyisakan rasa kantuk itu, secara perlahan tampak sosok yang begitu aku kenal. Ya, ‘Dede’ Via, putri kecilku yang baru berusia 8 bulan itu membangunkanku. Akupun tersenyum setengah terpaksa, akibat rasa kantuk yang masih menderaku. Dia, dengan bahasa yang tidak aku pahami berusaha berbicara kepadaku yang masih berjuang melawan kantuk. Usahanya tak sia-sia. Aku dipaksa menyerah. Dengan berat hati akupun terbangun.

Tak terasa, sekawanan cacing di perutku mulai mengadakan  konser. Aku baru sadar, sedari tadi sore, sejak pulang dari acara resepsi pernikahan kawanku, aku belum mengisi perutku lagi. Pantas saja, mereka mulai melancarkan aksi demonya menuntut hak mereka untuk segera dipenuhi. Setelah selesai dengan urusan pemenuhan hak cacing-cacing tersebut. Akupun kembali menemui putri kecilku itu. Ya Tuhan, malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Maksud hati ingin menebus kesalahanku, yang sejak pulang tadi sore belum sempat menyapa peri kecilku itu, tapi apadaya dia sudah terlelap dalam tidurnya.

Sejurus kemudian, perasaan bersalah menjalar dalam tubuhku. Betapa egoisnya aku. Orang tua macam apa aku ini. Hanya karena rasa lelah, bahkan untuk sekedar menyunggingkan seutas senyum untuk buah hati saja aku tak mau. Satu-satunya senyum yang aku berikan kepada buah hatiku hari ini, adalah senyum antara tidur dan jaga, itupun hanya sebuah senyum keterpaksaan…

Maafkan papamu, anakku….Moga esok ada sejuta senyum tulus yang papa berikan untukmu…Selamat Tidur, moga mimpi indah….Doa papa selalu menyertaimu….

Inspiring! Two Thumbs Up! Itulah kalimat yang secara refleks keluar dari bibirku begitu halaman terakhir dari novel berjudul “Negeri 5 Menara” karya A. Fuadi, seorang santri alumni Pondok Modern Gontor ini selesai aku baca.

Jujur, baru kali ini aku membaca novel, yang seolah-olah aku sendiri terlibat di dalamnya. Mungkin, karena yang dijadikan setting utama novel tersebut adalah dunia pondok pesantren (modern), dimana aku juga pernah merasakan hal yang sama dirasakan oleh penulis novel. Faktor kedekatan psikologis, berupa rasa senasib dengan segala lika-liku kehidupan pondok inilah, yang membuatku terasa hanyut dan seolah flash back ke era 90an, ketika aku pertama kali menginjakkan kaki di ‘kawah candradimuka’ bernama pesantren tersebut.

Deskripsi Fuadi tentang kehidupan di dunia pondok pesantren benar-benar terasa begitu nyata. Tata aturan kehidupan para santri di pondok, sejak mereka bangun tidur hingga tidur kembali dituturkan dengan sangat apik. Sehingga para pembaca yang belum pernah merasakan kehidupan di pondok pun akan merasa seolah-olah mereka berada di sana.
Novel besutan Fuadi ini lain dari yang lain. Kisah hidupnya selama di pondok bersama beberapa orang sahabat karibnya, yang kemudian dideklarasikan sebagai “Shohibul Menara”, sarat hikmah dan pesan moral tentang nilai-nilai kehidupan. Dari mulai makna persahabatan, kejujuran, tanggung jawab, hingga prinsip-prinsip hidup meraih kesuksesan.

Jargon “Man Jadda Wajada”, siapa yang sungguh-sungguh akan sukses, telah menjelma menjadi mantra ajaib para Shahibul Menara dalam menjalani kehidupan mereka di pondok, dan kehidupan mereka setelah lulus dari pondok kelak.

Membaca lembar demi lembar kisah hidup penulis yang terangkum apik dalam novel tersebut, ibarat mengonsumsi vitamin kehidupan hari demi hari. Selipan kata-kata bijak di sebagain besar halaman novel tersebut, akan menggugah kesadaran kita tentang makna hidup dan kehidupan yang sesungguhnya.

Satu hal yang menjadi misi penulis, bermimpilah setinggi langit, raihlah mimpi tersebut dengan ikhtiar, doa dan tawakkal. “Man Jadda Wajada”, siapa yang bersungguh-sungguh akan sukses!

Penasaran dengan kisah lengkapnya?Buruan beli novelnya! Dan, Selamat Membaca!

Menurut catatan dari Bank Dunia, selaku penyandang dana BOS, sekaligus penyelenggara monitoring pelaksanaan dana BOS di sekolah-sekolah se-Jawa tengah, ada 5 Kabupaten yang akan ditinjau, yaitu: Kabupaten Brebes, Pemalang, Sragen, Temanggung, ditambah 1 Kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta, yakni Kabupaten Gunung Kidul.

Di Kabupaten Brebes sendiri, ada 66 Sekolah Dasar Negeri yang akan dikunjungi. Karena anggota Tim Local Enumerator (LE) hanya berjumlah 6 orang, maka setiap orang mendapat tugas mengunjungi 11 sekolah. Di setiap sekolah akan diambil 3 sample untuk mengisi kuisioner. Dengan demikian, maka setiap anggota LE bertugas mendatangi 33 rumah orang tua siswa.

Saya sendiri mendapat tugas untuk mengunjungi 11 sekolah di tiga kecamatan, yakni Kecamatan Bulakamba, meliputi:

1. SD N Rancawuluh 02

2. SD N Cipelem 01

3. SD N Pakijangan 01

4. SD N Pulogading 02

5. SD N Kluwut 01, dan

6. SD N Cimohong 02

Di Kecamatan Tanjung, meliputi:

1. SD N Kemurang Kulon 02

2. SD N Tegongan 02, dan

3. SD N Luwung Bata 02

Di Kecamatan Losari, meliputi:

1. SD N Losari Kidul 03, dan

2. SD N Kalibuntu 01

***

Pagi itu, Jumat, 6 Nopember 2009, pukul 08.00 WIB saya bersama seorang anggota Tim Enumerator Pusat, Pak Fitrawardi, mendatangi tiga buah sekolah yang lokasinya tidak terlalu jauh dari tempat tinggal saya. Ketiga sekolah tersebut adalah: SD N Rancawuluh 02, SD N Cipelem 01, dan SD N Pakijangan 01. Kami berdua berbagi tugas sesuai dengan jobdesk yang telah ditentukan. Tim Enumerator dari Pusat mengadakan wawancara dengan Ketua Komite Sekolah, sementara saya meminta data siswa dari kelas II s/d kelas V, untuk kemudian saya acak, dan diambil tiga orang siswa sebagai sample. Tugas saya tidak berhenti sampai disitu. Selanjutnya adalah mengunjungi rumah ketiga orang siswa tersebut untuk melakukan interview dengan sejumlah pertanyaan yang sudah disusun rapi dalam sebuah kuisioner.

Tepat pukul 11.00 WIB, saya bersama anggota Tim Enumerator Pusat pun pulang ke rumah, untuk bersiap melaksanakan sholat Jumat. Selesai sholat Jumat, kami menikmati makan siang bersama dengan sejumlah menu yang telah disiapkan oleh istri saya.

***

Keesokan harinya, Sabtu, 7 Nopember 2009, pukul 08.30 WIB, kembali kami berdua, saya dan Pak Fitrawardi mengunjungi beberapa sekolah di Kecamatan Bulakamba, yakni SD N Pulogading 02, SD N Kluwut 01 dan SD N Cimohong 02 untuk berbincang dengan Ketua Komite Sekolah dan pencarian data siswa kelas II s/d Kelas V sebagai sample dalam monitoring dana BOS. Baca lebih lanjut

bos2Sudah seminggu ini saya menjalani aktivitas sebagai Local Enumerator (LE) Dana BOS di sejumlah Sekolah Dasar Negeri di Kabupaten Brebes. Sebuah aktivitas yang cukup menyita waktu tetapi cukup menyenangkan, sebagai sarana refreshing di tengah kesibukan utama sebagai seorang dosen.

Sebelum bercerita lebih lanjut tentang ‘tugas baru’ ini, mungkin ada di antara teman-teman blogger yang masih belum familiar dengan istilah Enumerator ataupun Local Enumerator. Bagi yang sudah paham, anggap saja ini sebagai sharing atau berbagi informasi saja. Secara sederhana Enumerator bisa diartikan sebagai ‘pencari data’, dalam istilah lain sering disebut surveyor. Adapun Local Enumerator adalah petugas lokal (suatu wilayah atau daerah) tertentu yang bertugas mencari data tentang ‘sesuatu’.

Okey, biar lebih jelas, saya ingin sedikit flash back tentang ihwal tugas baru saya ini. Mulanya, suatu malam saya didatangi seseorang, yang kebetulan teman tetangga saya. Ia mengatakan maksud kedatangannya adalah meminta kesediaan saya untuk menjadi salah satu anggota tim pemantau dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) di sejumlah Sekolah Dasar Negeri (SDN) di Kabupaten Brebes. Saya, yang ketika itu masih belum ‘ngeh’ tentang tugas dan cara kerja pemantau tersebut, langsung mengajukan beberapa pertanyaan. Mengapa saya yang dipilih?Trus apa tugasnya nanti? Pertanyaan pertama dijawab dengan mengatakan bahwa yang dicari adalah beberapa orang guru atau dosen yang tidak mengajar di SD/MI atau SMP/MTs. Okey, sampai di sini saya paham. Saya memang murni hanya mengajar di perguruan tinggi dan tidak mengajar di sekolah dasar ataupun menengah. Pertanyaan kedua dijawab dengan singkat, ‘belum tahu’. Baca lebih lanjut