Jumat pagi, 27 Nopember 2009, bertepatan dengan 10 Dzulhijjah 1430 H. Hari ini, seluruh umat Muslim merayakan Hari Raya Idul Adha atau sering disebut Hari Raya Kurban. Banyak orang, termasuk saya sendiri, selalu melewati rutinitas Hari Raya Idul Adha ini sebatas melaksanakan shalat ied, melihat prosesi penyembelihan hewan kurban, serta menikmati ‘menu wajib’ berupa sate dan gulai kambing, itu saja, tidak lebih, titik.

Kita sering melupakan esensi serta pesan moral dari ritual ibadah yang terdapat dalam Hari Raya Idul Adha tersebut. Sebetulnya, kalau kita mau melihat lebih jauh makna dari Idul Adha ini, akan kita jumpai hikmah serta nilai yang sangat tinggi sebagai bekal kehidupan kita di dunia ini dan di akhirat kelak.

Kita semua mafhum bahwa ada dua ibadah agung yang terdapat dalam Idul Adha, yaitu ibadah haji dan kurban. Kedua ibadah tersebut sarat dengan pesan moral serta hikmah bagi kehidupan manusia.

Dalam ibadah haji, misalnya, pemakaian kain ihram merupakan simbol peleburan ego manusia, pelepasan diri dari segala bentuk nafsu jasadi-duniawi, sekaligus menegaskan pembebasan manusia dari penghambaan terhadap materi.

Demikian halnya dengan ibadah kurban, yang disimbolkan dengan menyembelih hewan kurban, dapat dimaknai sebagai bukti ketaatan dan penyerahan diri secara total kepada sang Khalik, Allah Swt. Prosesi kurban mengajarkan kepada kita untuk memangkas semua bentuk egoisme, kesombongan serta keserakahan kita. Kurban menyeru kita untuk menundukkan diri, hati dan jiwa kita hanya kepada Allah Swt semata. Inilah inti ajaran tauhid yang sesungguhnya.

Ibadah haji dan kurban merupakan simbol komitmen bersama untuk menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, mengajarkan kepekaan sosial, empati terhadap pelbagai persoalan yang menimpa orang lain, sehingga setiap individu ataupun kelompok sosial terjamin hak-haknya sebagai manusia yang merdeka dan bermartabat. Singkatnya, ritual ibadah haji dan kurban mengajarkan kita untuk melakukan transendensi, merefleksi, mengapresiasi, sekaligus mentransformasikan nilai-nilai moral ilahi yang suci dan sangat mulia ini menuju nilai-nilai insani dalam realitas sosial.

Kesadaran serta penghayatan yang dalam akan makna ibadah haji dan kurban ini pada gilirannya akan mengikis habis sikap
split integrity (kepribadian terbelah) yang kerap menghinggapi jiwa manusia. Gejala split integrity ini begitu mencolok dewasa ini, di satu sisi seseorang terlihat sebagai sosok yang saleh secara ritual, namun di sisi lain ia juga sosok manusia yang bobrok secara moral. Pelbagai kejahatan publik dilakukannya; korupsi, kolusi, penyalahgunaan wewenang serta sederet tindak kejahatan lainnya. Di sinilah, nilai ideal moral ibadah haji dan kurban memainkan perannya.

Iklan