Malam ini saya mendapat dua undangan walimatul ‘ursyi (pesta pernikahan). Kedua-duanya dari tetangga saya. Yang pertama, tetangga depan rumah, dan yang kedua tetangga belakang rumah. Tampaknya kedua orang tetangga saya ini udah kompakan, atau mungkin udah janjian sebelumnya untuk ngadain hajatan bareng kali yah…he..he..

Sebagai seorang tetangga, demi menjaga hubungan baik, sayapun memenuhi kedua undangan tersebut. Karena waktu acara bersamaan, yakni pukul 19.30 WIB, kami, para tetangga sepakat untuk menghadiri acara di tempat pertama, yakni tetangga depan rumah terlebih dahulu, selanjutnya baru ke tempat acara yang kedua, yakni tetangga belakang rumah.

Sebagai informasi, dalam acara walimah pernikahan yang biasa diadakan di daerah saya, ada beberapa rangkaian mata acara yang biasa dilalui, yaitu: pembukaan, pembacaan ayat-ayat suci al-quran, sambutan sohibul hajat (yang punya gawe), mauidhoh hasanah (siraman ruhani, pengajian) kalau ada, doa dan penutup. Acara tersebut berlangsung antara 15-30 menit, kadang lebih dikit, he..he..

Setelah acara selesai, semua tamu undangan yang hadir akan mendapatkan ‘berkat’ (Nasi Berkat), yaitu hidangan khas yang disediakan oleh si empunya hajat, berupa nasi lengkap dengan lauk-pauknya, seperti ayam goreng atau ikan bandeng acar, tahu, tempe, telor (asin atau pindang), bihun, sambal goreng kentang, dan lauk lainnya, tergantung kemampuan ekonomi si empunya hajat.

Saya selalu berusaha untuk menghadiri setiap ada undangan hajatan. Alasan utama yang mendasarinya, selain memang ada petunjuk agama melalui sabda Nabi SAW yang memerintahkan kita untuk memenuhi undangan, khususnya walimah pernikahan, juga karena sebuah kenyataan bahwa ketika saya berkumpul dengan para tamu undangan lainnya, saya merasa ada semangat kekeluargaan, guyub, kehangatan, keakraban yang kadang tidak kami jumpai dalam keseharian kami. Mungkin selama ini masing-masing kami sibuk dengan urusannya sendiri, sehingga untuk sekedar menyapa atau say hello saja tidak sempat. Nah, dalam acara walimah inilah kami dipertemukan dalam suasana yang begitu penuh keakraban, kehangatan, diiringi canda tawa yang membuat kami semua larut dalam keceriaan, seolah ikut merasakan kebahagian sang empunya hajat.

Memang, begitulah seharusnya relasi sosial antar individu dalam sebuah masyarakat. Bergaul, bersosialisasi dengan sesama, penuh keakraban, melepas semua atribut yang ada pada diri kita. Tidak ada sekat status, tidak ada gap, tidak ada jarak sosial yang memisahkan satu individu dengan individu lainnya. Semua membaur dalam sebuah komunitas bernama masyarakat, warga sebuah kampung, dusun, desa, ataupun daerah lengkap dengan kewajiban dan hak masing-masing.

Bagaimanapun, selaku makhluk sosial kita tidak dapat hidup tanpa kehadiran orang-orang di sekeliling kita. Setiap kita punya peran masing-masing yang berbeda, yang melengkapi satu sama lain. Di sinilah, pentingnya relasi serta interaksi sosial. Semua saling membutuhkan dan melengkapi satu sama lain.

Untuk itu, jangan sekali-sekali meremehkan relasi serta interaksi sosial ini. Hubungan antar personal yang baik akan melahirkan kondisi masyarakat yang harmonis. Pada gilirannya, harapan untuk mewujudkan sebuah bangsa yang diliputi semangat persatuan dan kesatuan bukanlah sebuah utopia atau isapan jempol belaka, melainkan sebuah mimpi yang tidak lama lagi akan terwujud. Semoga!