Archive for Desember, 2009


Award Akhir Tahun

Hari ini, saya mendapat Award dari seorang blogger yang memiliki slogan ‘Menjadi Lebih Baik’ . Sebuah Award yang merupakan jalinan persahabatan sesama blogger. Untuk itu saya juga akan memberikan Award ini kepada teman-teman blogger lainnya.

Langsung saja, saya akan membagikan award ini ke :

1. M.Shodiq Mustika

2. Muslim Menjawab Tantangan

3. Inspirasi dan Informasi

4. dins

5. nengratna

6. Menulismudah

7. yepiye

8. kolumnis

9. majalahdewadewi

10.kutubuku

Seperti halnya pembagian award lainnya, pembagian award ini memiliki aturan saat akan memposting award ini, penerima award haruslah menyertakan alamat blog dari rekan-rekan blog lainnya yang telah me-link kan award ini, lebih jelasnya seperti ini :

sebelum Anda menempatkan link, Anda harus menghapus peserta nomor 1 dari daftar. . Sehingga semua peserta naik 1 tingkat. Nomor 2 menjadi nomor 1, nomor 3 menjadi 2, dan seterusnya. Lalu masukkan link di bagian bawah (nomor 10). Tapi jangan lupa, sobat blogger harus adil dalam menjalankan. Jika salah satu penerima penghargaan mampu memberikan penghargaan kepada 5 orang dan mereka semua melakukannya, maka jumlah backlink yang akan diperoleh adalah 1.953.125. Jadi, silahkan salin dan paste itu, dan menghapus nomor peserta 1 dan menambahkan link blog / situs web Anda berada di posisi ke 10. Ingat, sobat blogger harus mulai dari posisi 10 hasil maksimal. Karena jika Anda berada dalam posisi 1, maka link anda akan hilang ketika ada blog di posisi ke-10. Ketika Anda berada di posisi 10, jumlah backlink = 1

Posisi 9, jumlah backlinks = 5

Posisi 8, jumlah backlinks = 25

Posisi 7, jumlah backlinks = 125

Posisi 6, jumlah backlinks = 625

Posisi 5, jumlah backlinks = 3.125

Posisi 4, jumlah backlinks = 15,625

Posisi 3, jumlah backlinks = 78,125

Posisi 2, jumlah backlinks = 390,625

Posisi 1, jumlah backlinks = 1.953.125.

Dari SEO Anda punya 1.953.125 backlink dan efek sampingnya jika pengunjung dari situs downline Anda mengklik link tersebut, Anda juga mendapatkan lalu lintas tambahan. Ada banyak cara untuk meningkatkan backlinks blog anda, salah satunya dengan cara seperti ini.

Adapun urutan backlinknya seperti ini :

  1. Ullin Tumbuh
  2. Taekwondo Indonesia
  3. Skivacation Tour
  4. Skivacation 2009
  5. Rizky 2009
  6. MastergoMaster
  7. PoeterPoenya
  8. SulthanYusuf
  9. Menjadi Lebih Baik
  10. Secercah Harap

Selamat kepada sobat-sobat blogger penerima award, besar harapan agar award ini di posting di blog sobat semuanya sebab demi jalinan persahabatan sesama blogger agar makin solid.

Salam Blogger……..

Happy Sunday…

Biasanya, setiap hari Minggu kegiatanku di rumah hanya bermalas-malasan. Menikmati liburan dengan hanya diisi kegiatan yang itu-itu saja; baca koran atau buku, nonton tivi,  bermain dengan si kecil, atau paling banter main ke rumah ortu, mbahnya si kecil, sudah itu aja, titik.

Tapi Minggu kali ini beda. Lain dari yang lain, bahkan bisa dibilang luar biasa. Apa pasal? Minggu kali ini istriku mengajakku merayakan ultahku. Memang sih, ultahku hari Sabtu kemarin, tapi ga ada salahnya juga dirayakan hari ini. Better late than none, mungkin begitu kira-kira menurut istriku. Ya, aku sih seneng-seneng aja..Siapa juga yang gak mau  ultahnya dirayain. Apalagi sama orang yang paling spesial..

Istriku bilang  ingin membelikan sebuah kado untukku. Oh..so sweet…romantic…(batinku). Maka, sekitar pukul 10 siang, aku bersama istriku segera berangkat menuju sebuah pusat perbelanjaan di daerah Tegal yang cukup dikenal masyarakat Brebes, Tegal dan sekitarnya karena harga barang-barangnya lumayan miring. Setibanya di lokasi, istriku mengajakku menuju ke lantai II. Aku yang belum tahu kado apa yang akan diberikan istriku untuk ultahku kali ini, segera menebak, mungkin dia ingin membelikanku pakaian. Karena lantai II di pusat perbelanjaan tersebut memang tempat beraneka ragam pakain dari pakaian anak-anak hingga dewasa. Tetapi, aku masih belum yakin dengan perkiraanku tersebut.

Sebagai informasi, pada dua ultah sebelumnya, istriku memberi kado berupa Hand Phone dan Jam tangan. Nah, untuk yang ketiga ini aku masih belum tahu apa sebenarnya kado yang akan istriku berikan padaku.

Setelah sampai di lantai II, dia mengajakku masuk ke area (gerai) pakaian. Dia memintaku untuk memilih pakaian yang aku suka, baik berupa baju, kaos ataupun celana. Ternyata benar dugaanku, bahwa inilah kado yang akan diberikannya pada ultahku kali ini. Tanpa pikir panjang, akupun segera menjelajah rak demi rak, gantungan demi gantungan untuk menemukan pilihanku. Setelah muter-muter cukup lama, akhirnya aku pun mendapatkan 1 potong baju dan 1 potong kaos, serta sebuah celana jeans warna hitam kebiru-biruan. Aku kemudian menunjukkan pada istriku pilihanku tadi. Istri setuju dengan warna, motif dan coraknya. Kami pun segera ke kasir untuk membayar barang belanjaan tersebut.

Puas berbelanja, kemudian kami mampir ke resto siap saji dengan logo seorang kakek berjanggut putih dengan tag line di bawahnya berbunyi: “Jagonya Ayam!” Ya, kami memang sudah kelaperan dari tadi. Maka, kini saatnya mengisi perut yang sudah keroncongan. Tapi kami harus sedikit bersabar, karena ternyata antreannya panjang banget. Saya menunggu di slah satu meja di sudut ruangan, sementara istri masuk ke dalam antrean.

Lima belas menit kemudian istriku memberi isyarat agar aku segera ke tempat antrean, ternyata pesanan dia sudah dilayani. Aku pun langsung menuju tempat antrean. Setibanya di sana, aku langsung mengambil nampan yang berisi 3 bungkus nasi putih, aku memang pesen 2 bungkus, sementara istri 1 bungkus, 2 potong ayam goreng khas resto tersebut, segelas spaghetti (kemasan baru pake gelas, lebih praktis, tapi lebih sedikit isinya, hee.he.. sebelumnya pake kotak styrofoam), sebungkus french fries (kentang goreng ala resto tersebut), dan 2 gelas Pepsi Cola. Setelah semua terhidang di meja, istriku mengambil sebuah piring untuk diisi dengan saus tomat dan sambal. Tereeng…semua telah siap. Pesta segera dimulai. Kamipun segera menyantap hidangan tersebut dengan lahap, tanpa sisa. Sayang..kan, udah dibayar masa ngga dihabisin.

Santap siang pun berjalan sukses. Sekarang tiba saatnya menuju arena bazar buku murah di loby utama pusat perbelanjaan tersebut. Ternyata, tidak seperti yang aku bayangkan sebelumnya. Bazar bukunya lebih mirip dengan beberapa buah lapak buku saja. Memang hanya satu dua penerbit saja yang ikut dalam bazar tersebut. Mungkin karena lokasinya di daerah, yang notabene antusiasme masyarakat terhadap dunia perbukuan sangat rendah, sehingga sudah bisa dibaca oleh pihak penerbit. Aku pun memaklumi kondisi tersebut. Praktis, aku hanya sebentar saja muter-muter di lokasi bazzar. Hanya dua buah buku yang aku beli, yakni “Kiat Mendapatkan Beasiswa Studi ke Luar Negeri”, dan “Cara Praktis Memperoleh Skor Toefl Minimal 550”.

Aku pun segera meninggalkan lokasi bazzar buku. Sebelum pulang, istriku minta mampir ke penjual CD dan DVD untuk membeli beberapa keping CD lagu anak-anak untuk si kecil dede Via. Aku pun tak ketinggalan membeli sebuah DVD film box office Indonesia, yang berisi beberapa buah film laris saat ini, di antaranya ‘Ketika Cinta Bertasbih’, ‘Garuda di Dadaku’ dan beberapa film box office lainnya.

Waktu sudah menunjukkan pukul 15.30 WIB. Kami pun segera kembali pulang ke rumah. Kasihan, si kecil sudah dari pagi ditinggal. Kami sudah kangen ingin segera memeluk dan menciumnya.

Alhamdulillah… Minggu kali ini merupakan Minggu yang penuh makna dan kesan. What a happy Sunday I’ve ever had…

Hari ini, selain merupakan hari istimewa dan bersejarah bagiku, coz today is my birthday, juga merupakan hari yang melelahkan sekaligus menyenangkan bagiku dan keluargaku. Ya, dalam rangka menikmati liburan, it’s just like celeb on vacation.., he..he..sekaligus merayakan ‘ultah’ku, aku beserta keluarga berwisata ria ke PARIN (Pantai Randusanga Indah) Brebes.

Di lokasi wisata, kami menikmati indahnya pemandangan pantai yang memesona. Kami dimanjakan oleh panorama yang menawan, diiringi deburan ombak yang bergulung-gulung, ditambah desiran angin sepoi-sepoi yang membawa kesegaran luar biasa. Aku merasakan suasana tenang, lepas, sekaligus rileks. Aku yang sedari berangkat sudah merasakan suasana teduh, karena cuaca agak mendung, ingin menghangatkan tubuh ini dengan minuman hangat. Maka, setelah puas menikmati suasana pantai yang menawan, akupun segera menuju gubuk-gubuk kecil tempat para pedagang makanan dan minuman yang berjejer di sepanjang bibir pantai. Sementara istri dan anakku masih betah berlama-lama menikmati indahnya suasana pantai. Bahkan istriku mengajak ‘dede’ Via, peri kecilku yang baru berusia 9 bulan untuk bermain air di pinggir pantai.

Setibanya di gubuk tempat penjual makanan dan minuman, aku segera memesan segelas kopi. Tak lama kemudian, kopi panas tersaji di hadapanku. Tidak menunggu lama, aku pun langsung menyeruputnya. Ya, meminum kopi dengan cara diseruput, sepengalaman saya, jauh lebih nikmat ketimbang diminum layaknya minum air pada umumnya. Aroma wangi kopi yang menyeruak bagitu diseduh dengan air panas, dan membuat syaraf di otak serasa dibuai oleh suasana yang rileks dan damai, akan lebih ‘mak nyusss’ jika dinikmati sesruput demi sesruput…Suara srupuuut…srupuuut…terasa begitu natural dan menambah kenikmatan meminum kopi.

Sebagai teman minum kopi, aku menyalakan sebatang rokok kretek yang sudah cukup diakui taste atau rasanya, apalagi kalau bukan rokok dengan logo 3 buah angka yang berurutan (tidak perlu menyebut merek kan..? karena ini bukan iklan dan ngga ada konsekuensi logisnya…, he..he..). Sebagai cemilan, aku mengambil beberapa jenis gorengan (tahu dan tempe yang digoreng dengan tepung).

Sambil menikmati segelas kopi, sebatang rokok dan beberapa jenis gorengan, pandanganku tertuju kepada dua sosok anak manusia yang tengah bermain-main dengan pasir pantai dan sesekali terkena cipratan deburan ombak. Ya, aku tengah menatap kedua orang yang sangat aku cintai dan sayangi, yaitu anak dan istriku. Melihat mereka begitu menikmati suasana pantai dengan bermain pasir dan air, membuat perasaanku begitu bahagia. Seolah segala beban hidupku tiba-tiba sirna. Aku merasa damai, rileks luar biasa menikmati suasana tersebut. Memang betul kata para ahli psikologi, sesekali kita perlu memberi ruang kepada diri ini untuk menikmati rehat sejenak dari segala aktivitas keseharian kita. Kita perlu refreshing untuk menyegarkan kembali kondisi fisik dan psikis kita. Kita butuh relaksasi, sehingga pikiran dan jiwa kita kembali tenang. Walhasil, akan membuat semangat hidup kita kembali meletup sesudahnya.

Setelah kami semua selesai menikmati panorama alam berupa indahnya pantai yang membantang luas seolah tak bertepi, kami baru sadar kalau perut kami mulai keroncongan. Kami pun menuju ke sebuah Rumah Makan di sekitar lokasi wisata tersebut. Setibanya di Rumah Makan, yang sebagian besar menunya adalah olahan sea food, kami pun langsung memesan makanan. Kami memesan dua porsi udang tepung, dua porsi ikan bawal bakar dan dua porsi cah kangkung. Untuk minumnya, kami memesan 2 gelas jeruk hangat.

Sembari menunggu makanan matang, kami bergantian untuk menunaikan sholat dhuhur. Tepat setelah kami berdua selesai sholat, makanan yang kami pesan pun datang. Kami menikmati hidangan tersebut dengan lahap. Ternyata, satu porsi ikan bawal bakar tersisa, sementara perut kami sudah tidak sanggup lagi menampungnya. Kami pun meminta pelayan Rumah Makan membungkusnya untuk kami bawa pulang. Setelah acara makan-makan selesai, istriku bergegas menuju kasir untuk membayar semua pesanan makanan tadi.

Alhamdulillah…akhirnya kami pun kembali pulang ke rumah dengan perasaan puas. Meskipun lelah, tapi semuanya terbayar dengan perasaan senang, karena kami bisa melewati liburan, sekaligus merayakan ultahku dengan sukses.

Our Vacation was so interesting and exciting….

Mensyukuri Nikmat Bertambah Usia

Tepat hari ini, Sabtu, 26 Desember 2009, 30 tahun yang lalu Allah SWT memperkenankan salah seorang hamba-Nya untuk menikmati kehidupan di luar alam rahim untuk pertama kalinya. Ya, 26 Desember merupakan hari paling bersejarah dalam hidupku. Inilah saat pertama kali aku lahir ke muka bumi. Inilah saat pertama kali aku menghirup udara di alam raya ini, setelah sebelumnya ruang hidupku hanya berbatas dinding-dinding perut ibuku.

Sebuah nikmat tak terperikan yang telah dianugerahkan Allah kepadaku. Aku terpilih menjadi salah satu duta-Nya untuk mengemban misi kekhalifahan di muka bumi ini. Nikmat yang tidak cukup sekedar disyukuri dengan  kata-kata, tentunya. Nikmat yang harus terus dibuktikan dengan tindakan nyata, berupa pengabdian serta penghambaan sepanjang hayat masih di kandung badan.

Alangkah sombongnya manusia, ketika anugerah berupa keberkenanan Allah untuk memberinya kesempatan hidup di dunia ini tidak dianggap sebuah nikmat yang harus disyukuri. Betapa angkuhnya manusia, ketika ia tidak menyadari bahwa kehadirannya di muka bumi ini adalah atas izin dan kehendak-Nya. Padahal, sejumlah firman-Nya menyebutkan bahwa tidak ada sesuatu pun yang terjadi di muka bumi ini, kecuali telah Allah tuliskan (tetapkan) sebelumnya.

Maka, sebagai ciptaan (makhluk)-Nya yang telah diberi kesempatan untuk  menikmati indahnya dunia dengan segala fasilitas yang diberikan oleh-Nya, sudah selayaknya aku mensyukuri semua ini dengan membuktikan bakti dan pengabdianku pada-Nya.

Kini, bertambahnya usia, yang pada hakekatnya berkurangnya jatah waktu hidupku di alam fana ini, ingin aku isi dengan hal-hal positif sesuai dengan yang telah digariskan-Nya dalam Kitab suci Al-Quran, dan juga melalui sabda-sabda Nabi-Nya, yakni Muhammad Saw.

Aku ingin menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya. Aku ingin menjadi lebih bermanfaat, bagi diriku sendiri dan orang lain. Aku ingin setiap kehadiranku, di mana pun aku berada mampu memberikan nilai positif pada sekelilingku. Bertambah usia, bukan untuk dirayakan dengan hal-hal kontraproduktif, yang justru melenakan dari makna hakiki serta esensi pertambahan usia. Bertambah usia, tidak untuk dijadikan kesempatan merasa ‘lebih’ dari orang lain. Tetapi, pertambahan usia hendaknya dijadikan sarana untuk merefleksi, introspeksi diri atas apa yang telah diperbuat selama ini. Apakah rentang kehidupan yang telah dijalani lebih bernilai positif, ataukah justru sebaliknya? Apakah selama diberi kesempatan hidup hingga saat ini, sudah dimanfaatkan untuk beramal sholih atau tidak?

Berapa pun lamanya usia hidup kita, berapa pun panjangnya umur kita, tidak akan berarti apa-apa ketika tidak diisi dengan serangkaian aktivitas positif (amal sholih). Rasulullah SAW pernah memberikan statemen: “Sebaik-baik manusia adalah yang diberi umur panjang dan diisi dengan amal sholih. Dan seburuk-buruk manusia adalah yang diberi umur panjang dan umurnya dihabiskan untuk hal-hal negatif”.

Untuk itu, berkaitan dengan upaya mensyukuri pertambahan usia, yang kini sudah menginjak angka 30 ini, saya memohon kepada Allah SWT untuk selalu diberi keteguhan hati, kesabaran jiwa dalam menjalani hidup dan kehidupan di dunia yang penuh dengan godaan ini, agar senantiasa berada di jalan-Nya. Aku memanjatkan doa kepada-Nya agar sisa umur yang entah masih berapa lama lagi bisa aku manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Aku ingin terus menunjukkan pengabdianku pada-Nya, baktiku pada kedua orang tuaku, serta menenbar kebaikan kepada sesama, sebagai ladang amal, investasi akhirat yang kelak akan aku tuai hasilnya di hadapan-Nya.

Semoga bertambahnya usia ini menjadikan aku lebih baik dari sebelumnya dalam segala hal. Amiin..Ya Rabbal ‘Alamin…

Gara-gara SMS…

Tadi pagi, sekitar pukul 05.45 WIB, hpku berdering dua kali, “ting ting..ting ting..” tanda ada pesan masuk. Sayangnya, aku sedang tidak berada di TKP, karena tengah menikmati keheningan di ‘bilik termenung’ alias ‘kamar senyap’ alias WC, he..he..Tapi karena nadanya cukup keras jadi aku dengar ada sms masuk ke hpku.

Selesai menunaikan hajat badani, akupun langsung menuju ke TKP. Wah.., ternyata ada yang sudah buka pesan di inboxku lebih dulu. Akupun langsung tahu siapa gerangan yang sudah menjelajah ruang privatku. Ya, tak salah lagi, pasti istriku.  Setelah kubaca, ternyata konfirmasi dari account Facebookku yang menunjukkan ada komen di statusku. Sang pemberi komen, tidak lain adalah seseorang yang dulu pernah begitu dekat denganku (lawan jenis tentunya…, emangnya aku cowok apakah? Ups sorry, maksudnya cowok apaan? He..he..). Komen tersebut sebetulnya sudah aku baca langsung di situs jejaring sosial yang lagi ngetren itu, tapi konfirmasi ke hpku baru nyampe tadi pagi. Ya, biasa lah, jaringan sibuk…(alasan klise yang sering disampaikan operator provider penyedia jasa layanan yang aku pakai).

Ok, kita kembali ke TKP, eh maksudnya kembali ke soal pesan di inboxku itu. Ternyata, alibiku tidak berada di TKP saat kejadian (masuknya sebuah pesan ke inbox hpku), menjadi sumber pemicu misunderstanding, antara aku dan istriku.

Istriku bersungut-sungut ketika membaca pesan yang masuk ternyata dari seseorang yang dulu pernah dekat denganku. Dia mendadak diam, tidak mau bicara sepatah kata pun denganku. Dalam diamnya, sikapnya berubah 1800. Akupun mencoba untuk mengklarifikasi sekaligus mendinginkan suasana agar tidak berlarut-larut. Aku bilang padanya bahwa aku hanya nulis status, kemudian dia (si pemberi komen) itu ngasih komentar, itu aja, nggak lebih. Dan aku tidak bisa melarang siapa pun yang ingin mengomentari statusku. Demikian apologi yang aku utarakan.

Klarifikasi dan penjelasanku ternyata tidak memberi efek apa pun padanya. Dia tetap bersikeras bahwa aku yang salah. Dia bilang, kalau aku tidak ngasih komen ke ‘dia’, tentu ‘dia’ tidak akan ngasih komen apa-apa. Trus kalo memang ngga ada apa-apa, untuk apa ‘dia’ pagi-pagi sempet-sempetnya ngirim pesan ke hpku, cecarnya dengan sejumlah pertanyaan yang menyudutkanku, dan membuatku semakin tidak ngerti jalan pikirannya..Mungkin, istriku sudah terlanjur dibakar perasaan jealous, cemburu yang luar biasa (ge er nih ye…), hingga tidak memberi ruang sedikit pun untukku membela diri.

Akhirnya, aku pikir jalan paling aman adalah meminta maaf. Akupun minta maaf sama dia tentang kejadian tersebut. Ternyata, istriku tidak mudah untuk memberi maaf begitu saja atas kesalahanku tersebut (sssttt…jangan bilang-bilang ya..!! Padahal aku sama sekali merasa tidak bersalah, karena itu di luar kehendakku). Siapa coba yang bisa melarang seseorang untuk tidak memberi komentar pada status di Facebook kita.

Setelah melalui berbagai pendekatan, yang pernah aku pelajari baik dalam mata kuliah metodologi penelitian maupun Psikologi, he..he..Akhirnya aku bisa meluluhkan hati istriku…Thanks God sudah bantu aku melunakkan hati salah seorang hamba-MU…Aku pun lega…sudah tidak ada lagi ganjalan dalam hati ini.

Segera setelah peristiwa itu berakhir damai, aku langsung menghapus nomor hpku dan meng-unsubscribe layanan facebook mobile di hpku, agar peristiwa serupa tidak terulang.

Yah..akhirnya aku pun tahu, ternyata istriku itu sensi banget. Tapi aku juga senang, karena orang bilang cemburu itu kan tandanya cinta. Jadi, aku semakin tahu kalau istriku benar-benar cinta mati sama aku…he..he..

(Sebuah “Kado” ala kadarnya untuk Ibuku dalam rangka Hari Ibu, 22 Desember 2009)


Kalau aku ditanya, siapakah sosok yang paling berpengaruh sekaligus berperan dalam hidupku? Maka tanpa pikir panjang, aku akan menjawab: Ibu. Ya, selama 30 tahun aku menjalani hidup ini, sosok ibulah yang begitu dekat dalam hatiku. Beliau seolah menjadi ‘malaikat’ yang selalu mendampingiku dalam segala kondisi; senang atau sedih, suka ataupun duka.

Beliau layaknya oase yang selalu hadir di saat hati ini tengah gersang, kering kerontang, dan membutuhkan siraman kasih sayang. Beliau tak ubahnya seperti psikolog sekaligus motivator ulung sepanjang masa, yang dengan penuh ketulusan selalu memberi bimbingan, support, serta motivasi ketika aku sedang jatuh tertimpa pelbagai persoalan. Perhatian, cinta serta kasih sayangnya tak akan pernah lekang di telan waktu, tak akan pudar dimakan zaman. Ketulusan cinta dan kasih sayangnya selalu mewarnai hari-hariku, sampai detik ini.

Aku tidak bisa membayangkan, seandainya ibuku tidak memberikan motivasi, support ataupun nasihat di saat aku sedang down. Seandainya beliau tidak peka terhadap persoalan yang tengah menderaku pada masa lalu, tentu aku tidak akan bisa menjadi seseorang seperti saat ini.

Di saat-saat aku tengah berada dalam kegamangan hidup, ketika pelbagai persoalan tak henti-hentinya menyelimuti kehidupanku. Di saat-saat seperti itulah peran ibuku luar biasa besarnya. Beliau dengan penuh cinta dan kasih sayang seorang ibu senantiasa memberikan nasihat-nasihat yang menyejukkan, mendamaikan dan menentramkan. Beliau dengan sabar dan penuh perhatian mengajakku bicara dari hati ke hati. Tidak jarang, di saat nasihat-nasihat bijaknya meluncur deras dari bibirnya, air mataku pun mengalir deras di pangkuannya. Aku terus larut dalam kalimat-kalimat teduh yang beliau ucapkan, sementara air mataku semakin tak terbendung membasahi kainnya.

Beliau berpesan, dalam kondisi seperti ini jangan mempertanyakan keadilan Allah, tapi koreksilah diri sendiri. Perbanyaklah usaha dan doa kepada-Nya, serta tawakkallah. Allah pasti mendengar doa hamba-Nya.

Setelah mendengar nasihat-nasihat bijak nan meneduhkan itu, aku serasa terlahir kembali menjadi sosok manusia baru yang penuh semangat dan siap menghadapi hidup, seberat apapun ujian yang menghadang di depan.

Akhirnya, atas izin Allah serta doa kedua orang tua, terutama ibu, saat ini aku sudah melewati masa-masa kritis itu. Aku sudah menjadi pribadi yang baru, yang tidak mudah menyerah dengan keadaan, yang tidak cengeng menghadapi persoalan hidup.

Saat ini, aku sudah berkeluarga bahkan sudah dikaruniai seorang putri kecil yang cantik. Kehidupan ekonomiku pun kian membaik. Alhamdulillah, aku sudah menjadi seorang Dosen PNS di salah satu perguruan tinggi negeri. Istriku seorang Bidan Desa yang sudah ditempatkan Pemerintah di wilayah kecamatanku. Di samping itu, aku juga sekarang sedang mengelola sebuah usaha Photo Copy dan Rental Komputer, yang alhamdulillah makin hari makin berkembang.

Melalui tulisan singkat ini aku hanya ingin mengucapakan : TERIMA KASIH IBU, CINTAMU TANPA PAMRIH, KASIHMU TAK BERTEPI, SAYANGMU TAK BERKESUDAHAN. Semoga Allah Swt. membalas semua jasa baik ibu dengan CINTA-NYA, KASIH-NYA serta SAYANG-NYA. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.

***

(Tulisan ini merupakan bagian dari naskah berjudul “Cinta Tanpa Pamrih, Kasih Tak Bertepi, Sayang Tak Berkesudahan”, yang diikutkan dalam Lomba Kisah Kasih Ibu, yang diselenggarakan oleh milis wordsmartcenter bekerjasama dengan penerbit Mizan, dalam rangka memperingati Hari Ibu, 22 Desember 2009).

Semoga bisa memenangkan salah satu dari 10 kategori Juara yang diperlombakan. Amin..Doain yaah…(Pengumuman Pemenang awal Januari 2010)

Bad mood….

Tidak seperti biasanya, senin pagi ini hariku diawali dengan hal-hal yang tidak mengenakkan. Mungkin ini imbas dari kekesalanku semalam, ketika hp modemku error terus, padahal baru diisi pulsa penuh. Akhirnya ketika pagi  hari aku mau berangkat kantor, aku isi pulsa lagi. Ternyata masih juga belum bisa buat online, gimana nih provider penyedia jasa internet yang selama ini aku banggakan…apa kabar?

Sebelum berangkat kantor, ada sedikit miskomunikasi dengan istri, semakin menambah bad mood aja nih.. Ternyata penderitaanku belum berakhir. Ketika berangkat ke kantor, bus yang aku naiki sudah penuh sesak. Orang-orang berjubel berdesakan di dalam bus. Aku termasuk yang ketiban sial. Perjalanan dari rumah menuju kantor sejauh 60 km, aku lalui dengan bergelantungan di dalam bus. Baru ketika 6 km menuju kantor, aku bisa mendapat tempat duduk. What annoying condition I’ve ever had….

Jargon “I dont like Monday…” seakan benar-benar menimpaku hari ini. Sesuatu yang bikin bad mood telah merusak konsentrasiku. Akhirnya pas nyampe kantor, buat ngilangin bete, langsung aja aku buka laptop trus online pake hotspot kantor.

Hidup memang penuh warna, sebentar senang, sebentar sedih, sebentar suka, sebentar duka, sebentar marah, sebentar senyum, sebentar bad mood, sebentar good mood…

Anyway, show must go on…..



Assalamu’alaikum…

Untuk teman-teman blogger di mana saja berada, saya mo ngucapin :

“SELAMAT TAHUN BARU 1431 H”

Moga lembaran baru kehidupan di awal tahun baru Islam ini, serta lembaran-lembaran kehidupan selanjutnya akan kita isi dengan tinta emas. Dengan semangat Hijrah, mari kita tinggalkan segala bentuk aktivitas negatif, kita isi sisa-sisa hidup dan kehidupan ini dengan aktivitas positif, yang sesuai dengan ajaran agama dan norma – norma sosial.

Semoga kita mennjadi LEBIH BAIK dari SEBELUMNYA!

Wassalamu’alaikum…

Hari ini merupakan hari yang cukup melelahkan bagiku. Dari pagi hingga sore hari aku menghabiskan waktu di tempat usaha (toko) bersama dua orang karyawanku. Ya, aku memang sedang belajar buka usaha kecil-kecilan, yakni usaha Photo Copy dan Rental Komputer. Usaha ini sudah berjalan selama satu setengah tahun. Memang, sejak dibuka sampai saat ini, usahaku belum menunjukkan perkembangan yang signifikan. Mungkin karena masih tergolong baru, disamping sudah banyak pemain yang berkecimpung di bidang usaha sejenis. Tetapi, setidaknya waktu satu setengah tahun tersebut sudah banyak memberikan pelajaran berharga bagiku, khususnya pengalaman bergelut di dunia entrepreneurship (kewirausahaan).

Aku merasa bahwa dunia wirausaha ini merupakan dunia yang sarat tantangan dan penuh resiko. Sangat bertolak belakang 1800 dengan kehidupanku sesungguhnya sebagai seorang Dosen PNS, yang relatif aman dan tidak banyak—untuk tidak mengatakan tidak ada— tantangan dan resiko. Dunia wirausaha membutuhkan orang-orang yang betul-betul siap mental dan tahan banting. Karena hanya ada dua kemungkinan yang akan terjadi, ketika seseorang sudah menapaki dunia yang satu ini, kemungkinan gagal dan kemungkinan berhasil (sukses). Kedua-duanya memiliki peluang 50-50 (fifty-fifty). Jelas bukan sebuah pilihan aman bagi mereka yang tidak siap menghadapi resiko.

Kalau boleh jujur, awalnya aku juga merasa ragu ketika akan melangkahkan kaki di dunia usaha (bisnis) ini. Karena sama sekali aku belum memiliki pengalaman dalam menjalani sebuah usaha. Sejak dulu aku tidak pernah kepikiran menjadi seorang entrepreneur, karena aku merasa bahwa itu bukan dunia aku. Aku lebih nyaman berkecimpung dalam dunia akademis, sebagai seorang pengajar, dosen.

Ide memulai usaha sebetulnya karena terdesak kondisi. Saat itu aku belum memiliki pekerjaan tetap, sementara aku sudah berkeluarga. Saat itu aku baru menikah sekitar 6 bulan. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, aku hanya mengandalkan honor ngajar di dua buah perguruan tinggi yang tidak seberapa, sementara istri bekerja sebagai bidan swasta di sebuah Rumah Bersalin. Untungya, kami masih tinggal di rumah orang tua. Jadi untuk kebutuhan makan sehari-hari masih cukup terbantu, he…he.. Baca lebih lanjut

Hari ini aku mendapat sebuah kejutan. Ya, seorang sahabat lama mengirim buku berjudul “Doa-doa Andalan Keluarga Sepanjang Masa”. Istimewanya, buku tersebut ditulis sendiri olehnya dan baru beberapa bulan lalu diterbitkan oleh salah satu penerbit di Jakarta. Kawanku ini memang baik hati. Dia bela-belain ngirim buku tersebut via pos dari Jakarta ke alamat rumahku.

Dia adalah teman kuliahku dulu, waktu kami sama-sama menempuh pendidikan S1 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (dulu IAIN), namanya Izza, lengkapnya Izza Rohman. Aku dan dia dulu sama-sama aktif di kegiatan ekstra kampus, yakni organisasi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Dari situlah aku menjadi akrab dengannya. Kita sering diskusi, ngadain acara, sampai nganterin proposal untuk mencari sponsor kegiatan bersama. Tak terasa, semua itu terjadi sekitar sembilan atau sepuluh tahun yang lalu.

Nah, datangnya buku kiriman dari dia seolah membawa ingatanku pada masa-masa kuliah dulu. Ketika kami sering diskusi, bahkan berdebat dengan beragam argumen mempertahankan pendapat kami masing-masing. Sungguh, masa-masa yang tak kan terlupakan.

Kembali  ke soal buku. Awalnya, aku melihat postingan tentang buku tersebut di wallnya Izza di Facebook. Trus aku coba nyari di toko buku Gramedia, tapi aku tidak menemukannya. Akhirnya, kebetulan aku butuh referensi untuk tugas pembuatan silabus mata kuliah Ulumul Quran yang aku ampu, aku kirim email ke Izza, minta bantuan referensi, karena dia juga Dosen mata kuliah Ulumul Quran di UIN Jakarta, sekalian aku tanyain tentang buku barunya itu. Eh, ngga taunya dia malah mau ngasih secara gratis, dan aku diminta ngirim alamat lengkap rumahku. Pucuk dicinta ulam tiba. Aku pun dengan senang hati ngirim alamat lengkap rumahku.

Sekitar sebulan kemudian, tepatnya tadi siang, buku yang dijanjikannya itupun sampai juga ke tanganku. Akupun langsung mengontactnya via phone, aku langsung menyampaikan ucapan terima kasih padanya. Dengan nada datar, dia hanya menjawab, “ya, sama-sama Di, semoga bermanfaat, selamat membaca”. Begitulah gaya Izza, dari dulu gak berubah, datar, tanpa ekspresi..he..he.., sorry ya Za…

Melalui tulisan ini, aku hanya ingin mengatakan bahwa sebuah persahabatan yang dilandasi oleh ketulusan, tanpa pamrih akan berujung pada kesejatian. Semoga jalinan persahabatanku dengan Izza tak akan lekang dimakan waktu serta tak akan lapuk ditlan usia. Dan semoga kita semua dapat menemukan sahabat-sahabat sejati sebanyak-banyaknya dalam kehidupan ini. Amiin…