Hari ini merupakan hari yang cukup melelahkan bagiku. Dari pagi hingga sore hari aku menghabiskan waktu di tempat usaha (toko) bersama dua orang karyawanku. Ya, aku memang sedang belajar buka usaha kecil-kecilan, yakni usaha Photo Copy dan Rental Komputer. Usaha ini sudah berjalan selama satu setengah tahun. Memang, sejak dibuka sampai saat ini, usahaku belum menunjukkan perkembangan yang signifikan. Mungkin karena masih tergolong baru, disamping sudah banyak pemain yang berkecimpung di bidang usaha sejenis. Tetapi, setidaknya waktu satu setengah tahun tersebut sudah banyak memberikan pelajaran berharga bagiku, khususnya pengalaman bergelut di dunia entrepreneurship (kewirausahaan).

Aku merasa bahwa dunia wirausaha ini merupakan dunia yang sarat tantangan dan penuh resiko. Sangat bertolak belakang 1800 dengan kehidupanku sesungguhnya sebagai seorang Dosen PNS, yang relatif aman dan tidak banyak—untuk tidak mengatakan tidak ada— tantangan dan resiko. Dunia wirausaha membutuhkan orang-orang yang betul-betul siap mental dan tahan banting. Karena hanya ada dua kemungkinan yang akan terjadi, ketika seseorang sudah menapaki dunia yang satu ini, kemungkinan gagal dan kemungkinan berhasil (sukses). Kedua-duanya memiliki peluang 50-50 (fifty-fifty). Jelas bukan sebuah pilihan aman bagi mereka yang tidak siap menghadapi resiko.

Kalau boleh jujur, awalnya aku juga merasa ragu ketika akan melangkahkan kaki di dunia usaha (bisnis) ini. Karena sama sekali aku belum memiliki pengalaman dalam menjalani sebuah usaha. Sejak dulu aku tidak pernah kepikiran menjadi seorang entrepreneur, karena aku merasa bahwa itu bukan dunia aku. Aku lebih nyaman berkecimpung dalam dunia akademis, sebagai seorang pengajar, dosen.

Ide memulai usaha sebetulnya karena terdesak kondisi. Saat itu aku belum memiliki pekerjaan tetap, sementara aku sudah berkeluarga. Saat itu aku baru menikah sekitar 6 bulan. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, aku hanya mengandalkan honor ngajar di dua buah perguruan tinggi yang tidak seberapa, sementara istri bekerja sebagai bidan swasta di sebuah Rumah Bersalin. Untungya, kami masih tinggal di rumah orang tua. Jadi untuk kebutuhan makan sehari-hari masih cukup terbantu, he…he..

Setelah aku dan istri berembug tentang rencana buka usaha, kami pun menyampaikan hal tersebut kepada orang tua kami masing-masing. Orang tuaku, meskipun awalnya tidak terlalu yakin dengan rencana kami, tetapi setelah kami berdua menyampaikan alasan-alasan yang cukup kuat, mereka pun menyetujuinya. Bahkan, Bapakku bersedia membantu persoalan dana (modal) untuk awal usaha nanti. Wah..pucuk dicinta ulam tiba nih, batinku saat itu. Akhirnya, kami pun segera menyusun rencana dari mulai usaha yang akan dijalankan, lokasi tempat usaha, sampai segala tetek bengek perlengkapan yang dibutuhkan usaha kami nanti.

When there is a will there is a way, demikian sebuah ungkapan bijak menyebutkan. Di mana ada kemauan, di situ ada jalan. Sekitar dua setengah bulan setelah ide buka usaha itu ada di otak kami, kemudian kami realisasikan, akhirnya usaha itu buka sudah menjelma nyata, bukan lagi sebatas ide.

Tepat pada Minggu, 1 Juni 2008, kami me-’Launching’ usaha baru kami. Photo Copy, Rental Komputer dan Seluler yang kami beri nama DINAMIKA. Sebuah kata yang mengandung makna, senantiasa bergerak, berubah, tidak diam di tempat. Kami berharap usaha kami kelak akan terus bergerak maju, berubah menjadi lebih baik, terus berkembang pesat.

Saat itu, rasa-rasanya aku benar-benar speechless, I couldn’t hardly say anything, aku hampir tidak bisa berkata-kata. Saking senangnya, bahagianya mempunyai usaha baru yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Kini, usaha kami sudah berjalan hampir dua tahun. Lika-liku, pahit-manis, suka-duka mengelola usaha ini sudah kami rasakan. Kami tidak ingin usaha yang sudah susah payah kami rintis ini berhenti di tengah jalan, apa pun alasannya. Kami akan berusaha sekuat tenaga untuk terus mengembangkannya, menjadikannya lebih maju lagi dari saat ini. Ibaratnya, sekali melangkah, pantang surut ke belakang.

Maka, ketika hari ini aku betul-betul merasa lelah, capek karena seharian di tempat usaha ikut membantu karyawan melayani para pelanggan. Aku tidak menganggapnya sebagai sebuah beban. Tetapi aku betul-betul menikmatinya. Aku yakin, dengan kerja kerasku selama ini, ketekunan, kesabaran, diiringi doa kehadirat Allah Swt, suatu saat nanti aku akan menuai dan menikmati hasilnya. Dengan demikian, meskipun lelah, tapi nikmat. Meskipun capek, tapi puas. Semoga Allah Swt meridloi usaha yang tengah kami tempuh ini, yakni berjuang menjemput rizki-Nya, melalui jalan wirausaha. Amiin…

Iklan