Archive for Januari, 2010


Siang itu, ketika aku buka account FBku, baru beberapa menit melihat update status teman-teman, terlihat kolom chatku menyala dengan ditandai angka satu dalam balutan bagckround warna merah menyala.  Ternyata, adik sepupuku yang mengirim pesan tersebut. Begitu ku buka, hanya sebuah pesan pendek, “saatnya update postingan mas…”. Aku pun segera tahu maksud pesan singkat tersebut. Ya, aku baru ingat, kalau sudah lebih dari seminggu ini aku ngga update postinganku di blog ini. Aku pun segera membalasnya degan kalimat singkat pula, “lagi mati ide…”. Sesaat kemudian, kolom chatku menyala lagi, sebuah kalimat singkat terbaca, “kalo gitu nulis tentang ‘mati ide’ aja mas…”. Tanpa pikir panjang, aku segera menjawab, “ya udah, coba nanti tak download dulu file-file di memoriku…”.

Dari chit-chat yang hanya beberapa menit tersebut, aku langsung tergugah untuk segera memecah gumpalan ide yang sudah lebih dari seminggu tidur pulas di otakku ini, untuk segera aku tuangkan ke dalam rangkaian kata.

Tanpa ba bi bu, aku langsung membuka account blogku di WP.  Segera setelah berhasil log in,  aku masuk ke ruang new post. Dengan segenap daya, aku buka file-file yang tersimpan dalam memoryku selama seminggu terkahir ini. Alih-alih menemukan ide segar untuk segera ditulis, justru aku semakin ‘stuck’,  tidak tahu harus mulai dari mana.

Aku langsung teringat saran adik sepupuku, “kalo gitu tulis aja tentang ‘mati ide’ mas. Yup, when there is a will there is a way,  ketika ada keinginan (kuat) pasti ada jalan. Aku pun segera mengajak jari jemariku untuk menari-nari di atas tuts keyboard.  Aktivitas merangkai kata pun segera berjalan, dari mulai slow motion sampai kemudian high speed.

Aku mulai sadar, tampaknya  setiap kali ada sumbatan dalam memoryku ini, aku perlu segera mencari impulse (pendorong)-nya, agar sumbatan itu segera lepas dan aku bisa bebas menuangkan ide-ide segarku agar tidak keburu basi.

Impulse itu bisa berupa bacaan, diskusi, atau sekedar chit-chat lewat FB atau YM, atau bisa juga obrolan ringan bersama tetangga, teman kantor, atau siapa saja. Ya, kini aku sudah menemukan sebuah trik baru untuk menyiasati kebuntuan gagasan, mati ide, atau sumbatan pemikiran dan (mungkin) perasaan. Segera mencari impulse dan segera menuangkannya dalam tulisan.

Benar apa yang dikatakan James Pennebaker, seorang ahli psikologi yang menyatakan bahwa dengan menuliskan ungkapan perasaan dan pikiran ke dalam sebuah tulisan, akan membuat kita lebih rileks dan fresh. Hidup terasa lebih ringan, masalah yang melingkupi hidup sedikit berkurang.

Dia menyarankan agar kita terbiasa menuliskan apa pun yang ada di benak kita sebelum tidur, dan juga ketika baru bangun tidur. Dengan cara seperti ini, menurutnya beban yang diderita seseorang akan sedikit demi sedikit berkurang.

Memang benar, aku pun mengamini pendapat Pennebaker tersebut, karena aku sudah sering mengalaminya sendiri.  Ketika pikiran dan perasaan, dalam kondisi apapun, senang atau sedih, suka atau duka, kita ungkapkan ke dalam rangkaian kata yang kemudian menjadi sebuah tulisan, akan terasa berbeda, lebih hidup dan lebih bermakna. Apalagi ketika tulisan tersebut kita simpan, kemudian suatu saat, setelah sekian lama kita buka dan baca kembali, tidak jarang memory kita akan mengajak kita menerawang ke masa lalu, mungkin kita akan terharu, atau malah tertawa sendiri membacanya. Tidak percaya? Silakan buktikan sendiri!

Tak terasa, dari sekedar chit chat yang beberapa menit dengan sepupuku, bisa menjadi rangkaian-rangkaian kalimat yang membentuk sebuah tulisan, yang kalau tidak segera aku sudahi, bisa sampai malem aku menatap layar laptopku ini. Bisa kepanasan si ‘lepi’ karena dipaksa bekerja seharian untuk ‘memuaskan hasrat’ menulisku…

Okey deh…segini aja dulu postinganku kali ini, sekedar menuang ide, sekedar melepas sumbatan…he..he.. 🙂

Virus Keburukan

“Sifat buruk itu menular

Kalau kita tinggal di suatu tempat, dimana kita dengan mudah menjumpai orang-orang yang gemar bersikap kasar, berkata kotor, dan berperilaku tidak terpuji alias berakhlak buruk, maka berhati-hatilah! Karena itu pertanda buruk bagi kita. Apa pasal?

Akhlak yang buruk ibarat virus yang dengan mudah menyebar ke segala penjuru. Jika virus tersebut tidak segera ditangkal, atau tidak ada tindakan preventif untuk mencegahnya, maka tidak menutup kemungkinan kita yang berada di dekat sumber virus tersebut akan segera terjangkit virus atau terkena imbasnya. Dan, ketika virus berupa akhlak buruk tersebut sudah merasuk ke dalam diri kita, akan sulit bagi kita untuk mengeluarkannya.

Orang yang terbiasa berkata kotor, besikap kasar dan berperilaku tidak terpuji, akan terus dan terus melakukannya. Dia akan sulit keluar dari sifat buruknya. Dia menganggap apa yang dilakukannya adalah sesuatu yang biasa. Tidak ada rasa risih sedikitpun, karena kebiasaannya tersebut seolah sudah mendarah daging. Maka tepatlah sebuah ungkapan yang menyebutkan, ‘first we make our habit, and then our habit makes us’. Mulanya, kita yang menciptakan kebiasaan, selanjutnya kebiasaan yang membentuk (pribadi) kita.

Sifat buruk itu menular. Demikian sebuah kalimat bijak mengingatkan. Orang yang tidak pernah atau jarang berkata kotor, kemudian masuk ke dalam pergaulan dengan mereka yang terbiasa berkata kotor, disadari atau tidak, cepat atau lambat akan terpengaruh oleh sifat buruk mereka. Anak-anak yang hidup di dalam keluarga, atau lingkungan yang kerap mengumbar kata-kata kotor, sikap kasar dan perilaku buruk akan tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak buruk pula.

Kita tentu sering menjumpai anak-anak atau pun remaja yang dengan entengnya mengucapkan kata-kata yang tidak pantas untuk diucapkan. Ucapan kasar dan kotor seakan menjadi ‘menu’ harian mereka. Dan, mereka tanpa risih sedikitpun melakukannya. Kenapa hal ini bisa terjadi? Jawabannya adalah karena mereka terbiasa melakukannya. Ya, sesuatu yang biasa dilakukan akan dianggap wajar oleh si pelaku. Meskipun menurut orang lain, hal itu tidak pantas atau tidak sepatutnya dilakukan.

Mereka tampaknya sudak tertular virus, dan sulit untuk mengobatinya. Sekali lagi, sifat buruk itu menular, maka berhati-hatilah!

Kelebihan dan Kekurangan

Tidak ada seorang pun yang dilahirkan ke dunia ini dalam kondisi sempurna 100%. Pasti dalam dirinya terdapat kekurangan atau kelemahan. Setiap manusia yang lahir ke muka bumi selalu membawa dua hal yang alih-alih dipertentangkan, tetapi justru saling melengkapi, yakni kelebihan dan kekurangan.

Mengapa harus ada kelebihan dan kekurangan? Apa hikmah yang terkandung di dalamnya?

Dalam tinjauan agama, sesuai dengan sunnatullah, Allah SWT selalu menciptakan sesuatu berpasangan untuk saling melengkapi. Ada siang ada malam, ada laki-laki ada perempuan, ada bumi ada langit, ada kemarau ada hujan, ada kaya ada miskin, dan tentunya ada kelebihan ada kekurangan.

Kalau kita telusuri teks-teks keagamaan, akan kita jumpai hikmah diciptakannya manusia lengkap dengan kelebihan dan kekurangannya. Anugerah berupa kelebihan yang Allah SWT berikan kepada setiap manusia bertujuan agar mereka bersyukur. Ya. Syukur atas nikmat Allah, salah satunya berupa kelebihan yang diberikan oleh-Nya, akan menjadikan manusia tawadhu, rendah hati di hadapan-Nya. Kelebihan bukan untuk disombongkan, atau menjadi sarana membanggakan diri dan merasa di atas orang lain.

Adapun kekurangan yang diberikan Allah SWT kepada setiap manusia adalah sarana agar mereka bersabar atas kehendak-Nya. Kekurangan bukan untuk diratapi, kemudian menjadikan seseorang rendah diri atau minder, tetapi justru untuk melatih seseorang untuk memperbaiki diri. Seseorang yang menyadari kekurangannya, maka dia akan berusaha sekuat tenaga untuk membenahinya, yaitu dengan cara menggali potensi dirinya, serta memaksimalkan kelebihannya, sehingga kekurangannya tertutupi.

Dengan demikian, syukur atas anugerah berupa kelebihan serta sabar atas kekurangan yang dimiliki, akan menjadi sarana efektif bagi seseorang untuk mampu menunjukkan eksistensi dirinya yang sesungguhnya. Kelebihan dan kekurang adalah sunnatullah. Tidak ada alasan bagi kita untuk menyombongkan diri karena kelebihan yang kita miliki. Karena pada hakekatnya, semua itu milik Allah. Pun sebaliknya, tidak ada dalih bagi kita untuk merasa rendah diri atau minder karena kekurangan yang kita miliki. Karena tidaklah Allah menciptakan sesuatu itu sia-sia. Semua pasti ada hikmahnya.

Pergaulan

“Pandai-pandailah memilih teman”, demikian nasihat yang sering disampaikan para orang tua kepada anak-anaknya. Sebuah petuah sederhana, namun sarat makna jika dikaji lebih jauh.

Ya, teman, kawan, sahabat, atau apa pun istilahnya adalah orang yang dekat dengan kita. Biasanya usia mereka sebaya dengan kita. Tapi tidak jarang juga lebih muda atau lebih tua dari kita. Mereka adalah orang-orang yang bergaul dengan kita karena alasan tertentu; satu sekolah, satu kampus, satu profesi, satu kantor, satu komunitas hobi, satu visi, atau karena alasan lainnya.

Intensitas frekuensi hubungan kita dengan mereka, disadari atau tidak akan memberikan dampak bagi kehidupan kita. Tentu ada dua kemungkinan dampak yang akan timbul akibat pertemanan atau pergaulan tersebut, yakni positif dan negatif.

Ketika teman sepergaulan kita memberi dampak positif bagi kehidupan kita, beruntunglah kita. Karena ada nilai tambah dalam hubungan pertemanan atau pergaulan tersebut. Sebaliknya, jika teman sepergaulan kita justru memberi pengaruh negatif bagi kehidupan kita, maka celakalah kita. Karena mereka telah menjerumuskan kita ke dalam kehidupan yang buruk. Maka, berhati-hatilah memilih teman.

Orang yang bergaul dengan penjual parfum, maka dia akan terkena aroma parfumnya. Sedangkan orang yang bergaul dengan penjual arang, dia akan terkena arangnya. Dengan kata lain, berteman dengan orang baik, akan memberi pengaruh baik bagi diri kita. Pun demikian, berteman dengan orang jahat, akan memberi dampak buruk bagi kita.

Pergaulan memang memberikan pengaruh yang signifikan dalam kehidupan seseorang. Kabar buruknya, pengaruh negatif jauh lebih cepat menular daripada pengaruh positif. Betapa banyak orang yang mulanya baik, tetapi karena bergaul dengan orang-orang yang punya perangai buruk, memiliki perilaku negatif, bahkan jahat, pada akhirnya menjadi orang jahat juga.

Tetapi tidak sedikit, orang yang awalnya berperangai buruk, mempunyai perilaku negatif, tetapi karena sering bergaul dengan orang-orang yang baik, lambat laun dapat mengambil hikmah dari pergaulannya tersebut, kemudian akhirnya menjadi orang baik.

Betapa besarnya pengaruh pergaulan dalam kehidupan kita. Maka tepatlah jika para orang tua senantiasa mewanti-wanti anak-anaknya untuk pandai-pandai memilih teman bergaul.

Gila Hormat

Dua hari yang lalu, ketika aku menjadi panitia acara wisuda di kampus, ada sebuah kejadian yang membuatku kesal alias jengkel. Kejadian tersebut bermula ketika salah seorang pejabat datang terlambat hampir 2 jam dari jadwal acara yang tertera di undangan.

Sebagai petugas penerima tamu, aku pun mengantar pejabat tersebut menuju kursi undangan. Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Ternyata seluruh kursi untuk tamu undangan sudah penuh, aku pun mengamati sekeliling untuk mencari kursi kosong. Aku melihat ada beberapa kursi kosong di tempat dosen. Dengan permintaan maaf, aku mempersilakan si pejabat tadi untuk duduk di tempat yang disediakan untuk para dosen.

Alih-alih mengucapkan terima kasih, si pejabat tadi justru mengatakan, “saya ini perwakilan dari anggota dewan, saya mau nyambut” (dengan nada tinggi). Sekali lagi, aku pun meminta maaf, karena memang kursi buat tamu undangan sudah penuh, jadi terpaksa ditempatkan bersama para dosen. Rupanya, dia tidak bisa memahami kondisi yang ada. Dia masih mengatakan hal yang sama bahwa dia adalah wakil dari anggota dewan. Tetapi, akhirnya dia pun duduk di tempat yang aku tunjukkan.

Dari peristiwa tersebut, aku jadi berpikir, apakah orang-orang yang merasa terhormat, akan turun derajat kehormatannya hanya karena posisi tempat duduk yang dianggapnya tidak atau kurang terhormat? (lebih terhormat mana sebenarnya, dosen atau anggota dewan? he..he..). Apakah orang-orang yang merasa terhormat, meskipun datang terlambat di suatu acara, harus selalu duduk di kursi paling depan? Kenapa tidak secara legowo menyadari keterlambatannya? Kenapa merasa kurang terhormat jika duduk di tempat yang tidak terlihat sebagai tamu undangan?

Tampaknya, ada hal serius berkaitan dengan masalah kehormatan. Maksudnya, perasaan ingin dihormati atau dalam bahasa ekstremnya ‘gila hormat’.

Bagiku, orang yang merasa perlu dihormati atau selalu ingin dihormati adalah sebetulnya orang yang tidak pantas dihormati. Kehormatan seseorang, hakekatnya, muncul dari dalam diri orang tersebut, karena ucapan, tindakan serta sikap dan tingkah lakunya memang layak dihormati.

Dus, kehormatan seseorang secara otomatis akan muncul dari dalam, bukan karena tampilan luar yang mengharuskan orang lain untuk menghormatinya.

Menjaga Lisan

Sebuah pepatah bahasa Arab menyebutkan: ‘Ucapan itu dapat menembus apa yang tidak dapat ditembus oleh jarum’.

Ungkapan di atas seakan menegaskan tentang betapa pentingnya seseorang menjaga lisannya. Ya, menjaga lisan, atau menjaga ucapan merupakan salah satu hal terpenting dalam hidup ini. Karena membiarkan lisan kita untuk mengucapkan apa pun yang ada di benak kita tanpa pikir panjang, hanya akan berdampak buruk bagi diri kita.

Betapa banyak orang yang begitu menyesal setelah dia mengucapkan sesuatu yang ternyata berdampak buruk bagi dirinya di kemudian hari. Betapa banyak pula orang berurusan dengan hukum gara-gara ucapannya dianggap melecehkan, mendiskriditkan dan menyakiti orang lain.

Begitu pentingnya sebuah ucapan, sehingga Rasulullah Saw menjadikannya sebagai pra-syarat keimanan seseorang. Beliau menegaskan dalam salah satu sabdanya, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam…” (HR. Bukhari-Muslim)

Perkataan yang baik, akan menyamankan, menentramkan, mendamaikan, sekaligus membahagiakan orang yang mendengarnya. Orang yang selalu berkata baik apalagi sopan, akan mendapat tempat di hati orang lain. Orang akan menghargai dan terkesan dengan ucapannya.

Sebaliknya, seseorang yang terbiasa mengucapkan kata-kata yang buruk, kasar bahkan seringkali menyakitkan, dengan kata lain tidak bisa menjaga lisannya, bisa dipastikan bahwa dia akan dijauhi orang, tidak akan pernah mendapat tempat di hati orang lain, dan pada gilirannya dia akan menanggung akibat dari apa yang diucapkannya.

Mulutmu harimaumu, demikian sebuah petuah bijak menyebutkan. Jika mulut tidak dijaga dengan baik, maka tidak menutup kemungkinan akan menjadi sumber malapetaka. Ibarat harimau, jika tidak dijinakkan dia akan menerkam apa pun yang ada di sekelilingnya. Maka, berhati-hatilah dengan mulut. Berhati-hatilah dengan lisan dan ucapan kita. Ia bisa menjadi sahabat yang akan membawa kita pada posisi terhormat di mata manusia dan di hadapan Allah. Di sisi lain, ia juga bisa menjadi musuh yang akan menjerumuskan kita ke jurang kesengsaraan.

Kejujuran

Kejujuran adalah mata uang yang berlaku di mana-mana. Demikian sebuah ungkapan bijak menuturkan. Ya, kejujuran adalah sebuah sikap yang menunjukkan jati diri seseorang yang sebenarnya. Seseorang yang senantiasa bersikap jujur baik dalam ucapan maupun tindakan, meskipun pahit dan beresiko, bisa dipastikan bahwa dia memiliki integritas moral yang baik.

Islam sangat menjunjung tinggi kejujuran. Dalam Islam, sikap jujur (shidiq) bahkan menjadi salah satu sifat mutlak seorang Nabi atau Rasul. Orang-orang yang berlaku jujur (shiddiqin), dalam al-Quran disandingkan dengan para Nabi, orang-orang yang mati syahid (syuhada) dan orang-orang sholih.

Sebaliknya, kebohongan adalah awal dari sebuah kehancuran. Seseorang yang sudah biasa berbohong, baik dalam ucapan maupun tindakan, pada hakekatnya tengah menjerumuskan dirinya dalam kehinaan. Dia sedang menggali kuburnya sendiri. Karena, serangkaian tindak kebohongan yang dia lakukan, lambat laun pasti akan terbongkar juga. Ibarat kata, sepandai apa pun seseorang  menyembunyikan bangkai, lama kelamaan akan tercium juga baunya.

Kalau kita lihat dan amati kondisi saat ini, tampaknya kejujuran sudah menjadi barang langka. Demi menjaga citra diri di hadapan publik, dengan dalih gengsi, karena alasan ingin di’anggap’ oleh orang lain, seringkali manusia-manusia modern dewasa ini tidak jujur pada diri sendiri, lebih-lebih kepada orang lain. Mereka lebih senang memakai topeng, daripada menunjukkan wajah aslinya. Padahal, semakin lama topeng-topeng tersebut mereka kenakan, semakin jauh mereka dari jati diri mereka sesungguhnya. Dan, hakekatnya semakin menyiksa diri mereka sendiri karena harus hidup dalam kepura-puraan.

Orang-orang yang ingin dianggap sebagai orang kaya, misalnya, padahal kenyataannya bertolak belakang dengan kehidupan mereka sesungguhnya, akan bersikap dan bertindak seolah-olah sebagai orang kaya. Semakin dia memaksakan diri mengikuti gaya hidup orang kaya, semakin tersiksa pikiran dan jiwanya. Karena dia harus berpikir keras bagaimana dapat memenuhi tuntutan seolah-olah menjadi orang kaya.

Para pedagang, yang hanya menjalankan usaha atau bisnisnya dengan tujuan komersial, yakni menangguk untung sebanyak-banyaknya dengan menghalalkan segala cara, tanpa mengindahkan nilai-nilai moral (agama), akan sangat mudah berlaku tidak jujur alias berbohong. Tidak jarang kita jumpai, mereka berlaku tidak jujur dalam menjalankan roda bisnisnya. Dalam perkataan, misalnya, mereka bahkan berani bersumpah atas nama Allah ketika seorang pembeli menawar barang dagangannya dengan harga rendah. Dia mengatakan, ‘Demi Allah, sudah ada yang nawar lebih dari itu dan tidak diberikan’, meskipun kenyataannya belum tentu benar. Dalam tindakan, ada pedagang yang mengurangi timbangannya dengan beragam cara, dengan tujuan mendapat keuntungan lebih banyak dari kondisi timbangan normal.

Bagaimana pun, kebohongan yang sudah terlanjur mereka lakukan, jika tidak segera mereka sadari dan hentikan, akan terus merongrongnya sampai kapan pun.

Untuk itu, berlaku jujurlah baik dalam ucapan ataupun tindakan. Betapapun pahitnya, yakinlah bahwa kejujuran akan lebih dihargai dan mendapat tempat di hati orang lain daripada kebohongan.

Alhamdulillah…sebuah nikmat yang tak terperikan. Ternyata Allah SWT masih  memberiku kesempatan untuk menjejakkan kaki di bumi-Nya yang terhampar luas ini sampai detik ini. Tepatnya, di Tahun Baru 2010.

Tentu ada alasan khusus bagi Allah sehingga masih berkenan menganugerahiku hembusan nafas sampai tahun baru ini. Khusnudzhon-ku, Allah masih memberiku waktu untuk memperbaiki diri. Beruntunglah aku yang masih diperpanjang kontrak hidupnya, diijinkan oleh-Nya menikmati pergantian tahun ini, sehingga masih berkesempatan melakukan ‘hijrah’ menuju arah yang lebih baik. Tanpa ijinnya, walaupun tinggal sehari lagi memasuki tahun baru, tidak akan pernah sampai pada pergantian tahun tersebut. Gus Dur, contohnya. Beliau meninggal tepat sehari sebelum kalender 2009 diganti dengan kalender baru 2010. Frans Seda, mantan menteri era Soeharto, pun bernasib sama. Tetangga sebelah rumah mertua saya, juga tidak diberi kesempatan untuk menghirup udara di tahun baru, karena sehari sebelumnya dia dijemput Izrail untuk menghadap Sang Maha Kuasa, Pemilik kehidupan, yakni Allah SWT.

Untuk itu, nikmat berjumpa dengan tahun baru ini harus aku manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Waktu yang masih diberikan kepadaku terlalu mahal untuk disia-siakan begitu saja. Perpanjangan masa kontrak hidup di dunia, yang entah sampai kapan akan berakhir jangan sampai melenakanku sehingga kelak aku tidak akan menyesal ketika berjumpa dengan-Nya dan dimintai pertanggungjawaban di hadapan-Nya.

Ya Allah, semoga pergantian tahun ini menjadi titik tolak perbaikan diri ke arah yang lebih baik. Semoga jatah hidup yang masih Engkau perpanjang ini menjadi ladang tempatku menanam benih-benih amal sholih, sehingga kelak ketika aku berjumpa dengan-Mu, aku dengan bangga menunjukkan hasil ‘panen’ ku yang selama ini aku tanam ketika di dunia.

Semoga….