Archive for Februari, 2010


Menjadi Pemeran Utama yang baik

Hakekatnya, dunia ini adalah panggung besar kehidupan. Dalam setiap episode kehidupan selalu diwarnai dengan aneka peran dan peristiwa yang datang silih berganti. Manusia, sebagai salah satu pemain harus melakoni perannya sesuai dengan script yang telah diatur oleh Sang Maha Sutradara, yakni Allah Swt. Peran yang dimainkan setiap manusia dalam lakon kehidupan ini tidak akan berlangsung lama. Pun peristiwa yang menyertainya, hanya sesaat kemudian diganti oleh pemeran lain dengan peristiwa yang berbeda pula.

Saya mengibaratkan kehidupan di dunia ini layaknya sebuah pementasan akbar di atas panggung yang sangat besar. Lazimnya sebuah pementasan, tentu ada unsur-unsur yang menyertainya. Di antara unsur-unsur pokok yang menyertai antara lain; sutradara, pemain dan script (skenario).

Dalam kehidupan ini, sebagai sutradara atau pengatur alur cerita kehidupan adalah Allah Swt. Sebagai pemeran utama adalah manusia. Dan acuan dalam melakoni perannya, atau scriptnya adalah kitab suci atau ajaran agama. Baca lebih lanjut

Iklan

Jangan Putus Asa!

Saat ini, kalau kita menyimak sejumlah tayangan berita di telivisi, akan sangat mudah kita jumpai tingkah polah manusia yang mudah putus asa. Ada yang karena terus-menerus hidup dalam kemiskinan dan tak kuasa menanggung beban hidup yang begitu berat, lantas mengakhiri hidupnya dengan gantung diri. Ada sepasang remaja yang tengah dimabuk asmara, tetapi karena hubungan mereka tidak direstui oleh orang tua mereka, sepakat untuk melepas nyawanya dengan terjun bebas dari lantai lima sebuah pusat perbelanjaan. Ada pula seorang siswa yang malu karena tidak lulus ujian, akhirnya nekat meminum racun dan akhirnya nyawanya tidak tertolong. Dan masih banyak lagi peristiwa-peristiwa tragis serta tragedi kemanusiaan yang terjadi di sekitar kita, disebabkan oleh hilangnya harapan, alias putus asa.

Padahal, kalau kita semua menyadari, setiap persoalan hidup yang menimpa kita, pada hakekatnya hanyalah sebuah ujian sementara, yang akan segera berlalu jika kita mampu menghadapinya penuh kesabaran dan keikhlasan. Ujian hidup ibarat batu sandungan, yang harus kita singkirkan agar kita dapat melanjutkan perjalanan menuju tempat tujuan kita, yaitu kesuksesan hidup, baik di dunia ini maupun di akhirat kelak.

Allah SWT memotivasi hamba-Nya agar tidak berputus asa atas rahmat-Nya, karena hanya orang-orang yang tidak beriman sajalah yang berputus asa dari rahmat-Nya. “…Dan janganlah  kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidak ada ada orang yang berputus asa dari rahmat Allah, kecuali orang-orang yang kafir”. (Q.S. Yusuf: 87)

Dari keterangan ayat di atas, jelas sekali tergambar bahwa sikap putus asa, kehilangan harapan hidup dan tidak berusaha untuk menemukan serta membangunnya kembali adalah merupakan karakter orang-orang kafir, yaitu mereka yang tidak beriman kepada Allah, yang tidak mengakui akan kekuasaan-Nya, serta mengingkari akan keberadaan-Nya.

Tentu, sebagai seorang muslim kita tidak ingin digolongkan ke dalam kelompok orang-orang kafir yang mengingkari kekuasaan Allah serta menafikan keberadaan-Nya. Maka, sebagai muslim dan mukmin sejati, sepatutnya kita memiliki prinsip hidup yang teguh bahwa Allah selalu memberi yang terbaik buat hamba-Nya. So, terus berusaha dan jangan pernah putus asa!

Malam ini, Allah mempertemukanku dengan seseorang yang belum aku kenal sebelumnya.  Sebetulnya aku  sering melihat dan ketemu dengannya, kalau kebetulan kami sama-sama jogging di pagi hari. Tapi setiap  kali kami berpapasan, hanya seutas senyum  keramahan yang tersungging dari bibir  kami masing-masing, tanpa sepatah kata pun terucap. Aku tidak tahu siapa namanya, di mana tinggalnya, dan apa pekerjaannya.

Baru malam ini, ketika secara tiba-tiba dia berkunjung ke kediamanku, aku tahu identitas dia sesungguhnya. Namanya, sebut saja fulan. Usianya 44 tahun.  Tinggal tidak jauh dari tempat tinggalku. Pekerjaannya, menurut pengakuannya sudah dua tahun ini nganggur, setelah di PHK dari tempat kerjanya dulu. Saat ini paling banter dia bekerja serabutan, alias tidak tentu.

Dia mengawali pembicaraan dengan curhat tentang penyakit yang dideritanya, yakni asam urat. Sudah lama dia mengidap penyakit tersebut, sehingga sekujur tubuhnya terasa sakit. Menurutnya, itu akibat kebiasaannya dulu yang sering mandi malam, sepulang kerja. Kini, baru terasa dampak buruk dari kebiasaannya tersebut.

Sejurus kemudian, dia curhat tentang kehidupan rumah tangganya yang berantakan. Saat ini, menurutnya, dia sudah 3 bulan resmi menduda, setelah sekitar 12 tahun berumah tangga. Pemicu utama perceraian tersebut, menurut pengakuannya adalah bahwa pihak keluarga isterinya, terutama kedua mertuanya tidak mau menerima keadaannya yang pengangguran, ditambah lagi selama 12 tahun berumah tangga belum dikaruniai keturunan. Sungguh, aku begitu terenyuh dan terharu mendengar ceritanya. Bagaimana tidak, serangkaian persoalan bertubi-tubi menderanya; penyakit yang tak kunjung sembuh, tidak adanya pekerjaan, serta perceraian yang baru saja dijalaninya. Aku tak bisa membayangkan bagaimana perasaannya saat ini. Di usia yang sudah masuk kepala empat, kehidupannya justru semakin terpuruk.  Padahal, pada umumnya, usia 40 adalah standar barometer kehidupan seseorang. Karena pada usia tersebut, kedewasaan sekaligus kemapanan hidup seseorang biasanya mulai terlihat jelas. Paling tidak, usia 40 adalah titik tolak bagi seseorang untuk menikmati hidup yang telah dirintisnya sejak berpuluh-puluh tahun sebelumnya. Tetapi yang dialami kawan baru saya ini adalah sebaliknya, bertolak belakang dari kondisi semestinya.

Akupun berusaha untuk menunjukkan empati padanya, yaitu dengan mendengar penuh perhatian, serta sesekali ikut ‘urun rembug’, memberi tanggapan serta pendapatku tentang persoalan yang tengah dihadapi. Dia tampak begitu antusias bercerita tentang mimpi-mimpi masa depannya, pasca perceraian dengan istrinya. Dia berencana membuka sebuah usaha . Aku katakan kalau aku sangat mendukungnya dengan beberapa alasan: Pertama, memperbaiki nasib, atau mengubah keadaan ekonominya yang saat ini tidak jelas juntrungannya. Kedua, membuang memori kelamnya berupa perceraian, untuk diganti dengan lembar kehidupan  baru yang lebih bermakna.

Tak terasa, kami ngobrol lebih dari 1 jam. Waktu yang tidak sedikit untuk sebuah pertemuan pertama bagi orang yang sebelumnya tidak saling kenal sama sekali. Karena waktu sudah cukup malam, dia pun akhirnya pamit pulang.

Dari pertemuan tak terduga malam ini, aku mendapat sebuah pencerahan,  hikmah yang bisa menjadi pelajaran bagi diriku khususnya, dan kita semua pada umumnya.  Hikmah yang bisa aku ambil adalah:

Ternyata, di luar sana masih ada orang yang jauh lebih susah dari kita.  Mungkin saja jumlahnya tidak hanya satu atau dua, tetapi puluhan, ratusan bahkan mungkin ribuan orang yang ditimpa berbagai persoalan hidup yang sangat berat, dan tak sanggup kita membayangkannya. Dari kenyataan ini, selayaknya kita senantiasa bersyukur atas apa yang telah Allah berikan kepada kita. Qodho dan qodar-Nya, ketetapan serta takdir-Nya adalah pilihan terbaik yang diberikan-Nya kepada kita. Semua yang Ia tentukan dan kehendaki tentu ada hikmah yang tersimpan di dalamnya.

Malam ini, aku mendapat sebuah pelajaran berharga. Aku mendapatkan sebuah hikmah dari lautan hikmah-Nya yang terbentang luas di jagat raya ini. Semoga kita semua mampu menangkap hikmah dalam setiap langkah kehidupan kita. Amiiin..

Chemistry…

Kita tentu sering mendengar istilah chemistry, yaitu suatu reaksi kimiawi yang biasa dalam bahasa sehari-hari digunakan untuk menggambarkan ‘konektivitas’, ketersambungan  hubungan antara seseorang dengan orang lain, lebih khusus lagi hubungan antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan, entah sebagai pacar, sahabat, atau bahkan selingkuhan, he..he..

Dalam pergaulan sehari-hari, mungkin kita sering mendengar ucapan, “kayaknya aku ngga ada chemistry deh sama dia, sudah beberapa bulan jalan bareng, tapi koq ngga ada perasaan gimanaaa gitu…”.   Atau sebaliknya, “kayaknya aku ada chemistry deh sama dia, soalnya tiap kita ngobrol berdua selalu nyambung, trus perasaanku jadi gimanaaa gitu…”.

Seseorang yang sudah berhasil menemukan chemistry-nya dengan orang lain, baik sesama jenis atau pun dengan lawan jenis, terlepas apa pun nama status hubungannya tersebut, akan merasakan adanya ketersambungan, kecocokan, sekaligus kenyamanan ketika bersamanya. Bahkan, tidak jarang mereka yang sudah memilki chemistry yang cukup kuat dapat membaca pikiran satu sama lain. Ini bisa dibuktikan dengan seringnya mereka memiliki ide yang sama, bahkan bisa jadi mengucapkan kata-kata yang sama ketika sedang ngobrol berdua. Bisa jadi mereka menuliskan kata-kata yang persis sama, atau dengan maksud yang sama ketika sedang saling ber-sms atau berchatting ria.

Secara sederhana, chemistry dapat diartikan sebagai keterikatan batin atau kontak batin satu sama lain. Hal ini bisa terjadi pada siapa saja terhadap siapa saja. Maksudnya, siapa pun dapat menemukan chemistry-nya pada siapa saja. Bisa jadi seorang suami tidak menemukan chemistry pada istrinya, tetapi justru merasa ‘klik’ dengan perempuan lain. Atau sebaliknya, seorang istri justru lebih merasa ‘klop’ dalam cara pandang, serta prinsip-prinsip hidup dengan laki-laki lain. Khusus untuk yang satu ini, saya sarankan jangan sampai kebablasan, bisa-bisa terjadi perselingkuhan terselubung berbungkus pertemanan atau persahabatan. Waspadalah! Waspadalah! Kejahatan kelamin tidak hanya terjadi karena ada niat, tetapi juga karena ada kesempatan, he…he…

Pertanyaannya kemudian, apakah chemistry itu bisa diciptakan, ataukah sudah given, sudah dari sononya?

Sebelum menjawab pertanyaan ini, saya ingin sedikit menguraikan sebuah peribahasa dalam bahasa jawa yang berbunyi: witing tresno jalaran soko kulino. Cinta, dalam arti luas (termasuk di dalamnya, chemistry), bisa hadir karena terbiasa. Maksudnya, tumbuhnya benih-benih cinta pada seseorang atau sesuatu, bermula karena kebiasaan atau terbiasa.

Seseorang yang mulanya tidak menyukai dunia tulis menulis, misalnya, tetapi kemudian karena terinspirasi sebuah buku yang begitu memukau tentang nikmatnya menulis dan menjadi penulis (terkenal) dengan kelimpahan materi serta popularitas, kemudian mulai belajar menulis terus menerus, sampai kemudian menemukan apa yang dicita-citakannya. Saya berani taruhan, orang ini pasti sudah jatuh cinta setengah mati pada dunia yang dulu sama sekali tidak diliriknya. Ia sudah menemukan chemistry-nya pada dunia tulis menulis.

Begitu juga halnya dengan seseorang yang awalnya biasa saja, ngga ada perasaan apa-apa dengan lawan jenisnya. Tetapi karena sering ketemu, mungkin karena satu kantor atau satu tempat kerja, satu profesi, satu hobi, atau karena alasan lain yang memungkinkannya untuk sering bertemu secara intens, tidak menutup kemungkinan lambat laun akan tumbuh benih-benih cinta pada dirinya. Sudah terlalu banyak contoh kasus seperti ini. Silakan anda cari dan temukan sendiri di sekiling anda. Atau mungkin anda sendiri yang mengalaminya.

Dengan demikian, dari keterangan ini dapat disimpulkan bahwa chemistry itu bisa diciptakan. Tidak serta merta given, atau sudah dari sononya, anugerah dari yang Maha Kuasa.

Chemistry yang given menurut saya adalah karena adanya kesamaan visi, cara pandang, prinsip hidup dan sebagainya. Khusus chemistry seseorang pada lawan jenisnya, bisa disebabkan beberapa hal, di antaranya:

Pertama, performance, tampilan luar. Seseorang menilai orang lain, mula-mula dari tampilan luarnya. Dari cara berpakaian, bersikap dan segala tampilan luar lainnya. (Hati-hati dengan yang satu ini, salah-salah anda tertipu oleh casing-nya, he…he..)

Kedua, inner beauty, kecantikan dari dalam. Seseorang akan menaruh simpatik serta respek kepada kita, jika kita menunjukkan pribadi yang anggun. Kejujuran, kesopanan, kerendahhatian akan menjadi modal utama bagi seseorang untuk mendapatkan ‘nilai’ tersendiri di mata orang lain.

So, kita bisa menemukan chemistry dengan siapa saja, baik memang sudah given, ataupun diciptakan. Selamat menemukan chemistry anda!