Kita tentu sering mendengar istilah chemistry, yaitu suatu reaksi kimiawi yang biasa dalam bahasa sehari-hari digunakan untuk menggambarkan ‘konektivitas’, ketersambungan  hubungan antara seseorang dengan orang lain, lebih khusus lagi hubungan antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan, entah sebagai pacar, sahabat, atau bahkan selingkuhan, he..he..

Dalam pergaulan sehari-hari, mungkin kita sering mendengar ucapan, “kayaknya aku ngga ada chemistry deh sama dia, sudah beberapa bulan jalan bareng, tapi koq ngga ada perasaan gimanaaa gitu…”.   Atau sebaliknya, “kayaknya aku ada chemistry deh sama dia, soalnya tiap kita ngobrol berdua selalu nyambung, trus perasaanku jadi gimanaaa gitu…”.

Seseorang yang sudah berhasil menemukan chemistry-nya dengan orang lain, baik sesama jenis atau pun dengan lawan jenis, terlepas apa pun nama status hubungannya tersebut, akan merasakan adanya ketersambungan, kecocokan, sekaligus kenyamanan ketika bersamanya. Bahkan, tidak jarang mereka yang sudah memilki chemistry yang cukup kuat dapat membaca pikiran satu sama lain. Ini bisa dibuktikan dengan seringnya mereka memiliki ide yang sama, bahkan bisa jadi mengucapkan kata-kata yang sama ketika sedang ngobrol berdua. Bisa jadi mereka menuliskan kata-kata yang persis sama, atau dengan maksud yang sama ketika sedang saling ber-sms atau berchatting ria.

Secara sederhana, chemistry dapat diartikan sebagai keterikatan batin atau kontak batin satu sama lain. Hal ini bisa terjadi pada siapa saja terhadap siapa saja. Maksudnya, siapa pun dapat menemukan chemistry-nya pada siapa saja. Bisa jadi seorang suami tidak menemukan chemistry pada istrinya, tetapi justru merasa ‘klik’ dengan perempuan lain. Atau sebaliknya, seorang istri justru lebih merasa ‘klop’ dalam cara pandang, serta prinsip-prinsip hidup dengan laki-laki lain. Khusus untuk yang satu ini, saya sarankan jangan sampai kebablasan, bisa-bisa terjadi perselingkuhan terselubung berbungkus pertemanan atau persahabatan. Waspadalah! Waspadalah! Kejahatan kelamin tidak hanya terjadi karena ada niat, tetapi juga karena ada kesempatan, he…he…

Pertanyaannya kemudian, apakah chemistry itu bisa diciptakan, ataukah sudah given, sudah dari sononya?

Sebelum menjawab pertanyaan ini, saya ingin sedikit menguraikan sebuah peribahasa dalam bahasa jawa yang berbunyi: witing tresno jalaran soko kulino. Cinta, dalam arti luas (termasuk di dalamnya, chemistry), bisa hadir karena terbiasa. Maksudnya, tumbuhnya benih-benih cinta pada seseorang atau sesuatu, bermula karena kebiasaan atau terbiasa.

Seseorang yang mulanya tidak menyukai dunia tulis menulis, misalnya, tetapi kemudian karena terinspirasi sebuah buku yang begitu memukau tentang nikmatnya menulis dan menjadi penulis (terkenal) dengan kelimpahan materi serta popularitas, kemudian mulai belajar menulis terus menerus, sampai kemudian menemukan apa yang dicita-citakannya. Saya berani taruhan, orang ini pasti sudah jatuh cinta setengah mati pada dunia yang dulu sama sekali tidak diliriknya. Ia sudah menemukan chemistry-nya pada dunia tulis menulis.

Begitu juga halnya dengan seseorang yang awalnya biasa saja, ngga ada perasaan apa-apa dengan lawan jenisnya. Tetapi karena sering ketemu, mungkin karena satu kantor atau satu tempat kerja, satu profesi, satu hobi, atau karena alasan lain yang memungkinkannya untuk sering bertemu secara intens, tidak menutup kemungkinan lambat laun akan tumbuh benih-benih cinta pada dirinya. Sudah terlalu banyak contoh kasus seperti ini. Silakan anda cari dan temukan sendiri di sekiling anda. Atau mungkin anda sendiri yang mengalaminya.

Dengan demikian, dari keterangan ini dapat disimpulkan bahwa chemistry itu bisa diciptakan. Tidak serta merta given, atau sudah dari sononya, anugerah dari yang Maha Kuasa.

Chemistry yang given menurut saya adalah karena adanya kesamaan visi, cara pandang, prinsip hidup dan sebagainya. Khusus chemistry seseorang pada lawan jenisnya, bisa disebabkan beberapa hal, di antaranya:

Pertama, performance, tampilan luar. Seseorang menilai orang lain, mula-mula dari tampilan luarnya. Dari cara berpakaian, bersikap dan segala tampilan luar lainnya. (Hati-hati dengan yang satu ini, salah-salah anda tertipu oleh casing-nya, he…he..)

Kedua, inner beauty, kecantikan dari dalam. Seseorang akan menaruh simpatik serta respek kepada kita, jika kita menunjukkan pribadi yang anggun. Kejujuran, kesopanan, kerendahhatian akan menjadi modal utama bagi seseorang untuk mendapatkan ‘nilai’ tersendiri di mata orang lain.

So, kita bisa menemukan chemistry dengan siapa saja, baik memang sudah given, ataupun diciptakan. Selamat menemukan chemistry anda!

Iklan