Alhamdulillah, setelah sekian lama tak mengudara hingga tahun berganti, akhirnya saya dapat kembali menyapa pembaca setia blog “Secercah Harap” ini… (ge er banget yah.. emangnya siapa yang baca… sok beken, he..he..)

Saya tidak ingin berapologi apalagi berbasa-basi, karena kalo kelamaan jadi basi beneran… he..he.. Satu alasan yang pasti mengapa sudah sekian lama ini saya tidak menulis di blog adalah: MALES! Sekali lagi, MALES!  Ya, itulah alasan utama saya ngga nulis lagi di blog ini sekian lamanya… sampai kepomopong menjadi kupu-kupu… (lebaaay…)

Okey.. kita tinggalkan alasan ngga penting itu… mending kita sekarang ngomonging yang penting-penting aja… okey bro n sis…? Go…

Tulisan ini sengaja saya beri judul “Beasiswa Studi S3, Kondisi Fisik dan Impian Masa Depan”. Ya, tiga hal tersebut yang saat ini tengah berkait kelindan dalam kehidupan saya, hingga tulisan ini dibuat, dan mungkin sampai beberapa tahun ke depan.

Sebelum melangkah lebih jauh tentang tiga hal yang tengah meliputi kehidupan saya saat ini dan beberapa tahun ke depan, saya ingin buru-buru mengatakan: “tidak ada maksud gagah-gagahan atau sok dengan menyebut jenjang studi S3 dalam judul di atas”. Ini hanyalah sebuah realita yang tengah saya jalani, yang mungkin tengah dijalani pula oleh para pembaca tulisan ini, atau malah telah dilewati oleh para pembaca sekalian alias sudah lulus dan bergelar Doktor (Dr). Baiklah kita lanjutkan….

Melalui penuturan saya ini, mudah-mudahan bisa diambil manfaat atau sisi positifnya. Kalau memang tidak ada manfaat atau sisi positif yang bisa diambil, ya abaikan saja… tidak ada unsur paksaan dalam bentuk apa pun… he..he..

Saat ini, alhamdulillah atas ijin Allah Swt saya tengah melanjutkan studi S3 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta atas Beasiswa dari Diktis Kemenag RI 2011. Beasiswa ini tentu menjadi sebuah harapan baru bagi saya, yang telah lama tidak ‘sekolah’ lagi sejak 2005 lalu (ketika lulus S2). Praktis enam tahun lamanya saya tidak memperbaharui keilmuan saya secara formal melalui institusi pendidikan. Dengan beasiswa ini, maka kehidupan baru sebagai mahasiswa kembali saya jalani.

Ada perbedaan mendasar antara kuliah yang saya jalani dulu ketika S1 dan S2 dengan kuliah saat ini. Jika dulu, saya kuliah bener-bener kuliah an sich, tanpa ada beban tanggung jawab lain, bahkan biaya kuliah pun ditanggung penuh oleh orang tua, maka kini sangat jauh berbeda.

Kini,di tengah kuliah yang saya jalani, ada beban dan tanggung jawab yang harus saya penuhi dan kerjakan. Pertama, tanggung jawab keluarga. Jika dulu ketika kuliah masih single fighter , maka kini saya sudah berkeluarga, ada anak dan istri di rumah yang menjadi tanggung jawab saya. Kedua, tanggung jawab pekerjaan. Jika dulu saya tidak atau belum bekerja, maka kini ada tanggung jawab profesi sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi negeri di Cirebon yang harus saya tunaikan.

Dengan demikian, maka saya harus benar-benar memenej waktu dengan baik agar semuanya dapat berjalan lancar.

Padatnya aktivitas; kuliah, ngajar, acara keluarga dan kegiatan-kegiatan lainnya harus dibayar mahal dengan kondisi fisik yang seringkali tidak dapat berkompromi karena kelelahan, kecapean. Ujung-ujungnya, stamina pun ngedrop, kondisi tubuh tidak fit, butuh istirahat.

Ketika tulisan ini dibuat pun, saya sedang dalam kondisi fisik yang tidak prima. Batuk dan pilek (flu) serta sedikit demam tengah meliputi raga saya. Hal ini dikarenakan efek perjalanan pulang pergi Brebes (daerah asal saya) – Jakarta (lokasi UIN Jakarta) – Cirebon (tempat tugas saya) yang setiap minggu  harus saya tempuh.

Ya, saya anggap ini adalah proses (perjuangan) yang harus saya jalani. Dan saya sangat menikmati proses ini. Saya berpegang pada sebuah prinsip (filososfi) jawa: “jer basuki mawa beya” yang dalam bahasa inggris diistilahkan “no pain no gain”, tidak ada kesuksesan tanpa pengorbanan. Ya, filosofi jawa maupun pepatah inggris itu menegaskan pentingnya ‘proses’ untuk mencapai hasil. Sesungguhnya proses itulah yang menjadi penting, hasil hanyalah bonus dari proses panjang yang telah kita lakukan.

Maka, demi impian masa depan yang lebih cemerlang, melalui Beasiswa Studi S3 ini, kondisi fisik yang sering tidak bersahabat tidak menjadi halangan bagi saya untuk terus menjalani proses menuju kesuksesan.

Saya yakin, niat yang kuat didukung oleh semangat juang yang tinggi mampu mengalahkan hambatan dan rintangan seberat apa pun. Insya Allah, dengan niat yang tulus ditambah kerja keras dan doa, cita-cita untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik di masa yang akan datang akan terwujud… Amiiin.

Iklan