Category: artikel (opini)


Prestasi Tinggi Minus Apresiasi

Menyaksikan tayangan K!ck Andy, Jumat malam, 4 Desember 2009, dengan tema “Berprestasi di Negeri Orang”, mengguratkan dua perasaan di benak saya, bangga sekaligus prihatin. Bangga, karena ternyata di tengah keluhan tentang kualitas pendidikan di Indonesia yang tidak kunjung membaik, ada putra-putri negeri ini yang mampu ‘berbicara’ di level internasional bahkan dunia. Mereka sukses meniti karir dan menempati posisi-posisi strategis di sejumlah perusahaan besar kaliber dunia, lembaga riset, serta perguruan tinggi di berbagai mancanegara. Prihatin, karena mereka yang nota bene warga negara Indonesia, justru lebih diakui dan dihargai potensi serta karya-karyanya di negeri orang, daripada di tanah kelahirannya sendiri.

Ironis, aset negara berupa sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas disia-siakan begitu saja. Karya-karya terbaik milik anak negeri ini malah dinikmati oleh orang lain.  Akankah kondisi seperti ini terus berlanjut? Mengapa pemerintah terkesan acuh terhadap persoalan ini? Prestasi membanggakan yang telah ditorehkan oleh anak negeri ini sama sekali tidak mendapat apresiasi berarti dari pemerintah. Pantas saja, bangsa ini nggak maju-maju. Tertinggal jauh dengan tetangga dekat, yakni Malaysia dan Singapura. Lebih-lebih jika dibandingkan dengan negara-negara di Benua lain, seperti Eropa dan  Amerika….

Duuh…menyedihkan sekali….

Memaknai Idul Adha

Jumat pagi, 27 Nopember 2009, bertepatan dengan 10 Dzulhijjah 1430 H. Hari ini, seluruh umat Muslim merayakan Hari Raya Idul Adha atau sering disebut Hari Raya Kurban. Banyak orang, termasuk saya sendiri, selalu melewati rutinitas Hari Raya Idul Adha ini sebatas melaksanakan shalat ied, melihat prosesi penyembelihan hewan kurban, serta menikmati ‘menu wajib’ berupa sate dan gulai kambing, itu saja, tidak lebih, titik.

Kita sering melupakan esensi serta pesan moral dari ritual ibadah yang terdapat dalam Hari Raya Idul Adha tersebut. Sebetulnya, kalau kita mau melihat lebih jauh makna dari Idul Adha ini, akan kita jumpai hikmah serta nilai yang sangat tinggi sebagai bekal kehidupan kita di dunia ini dan di akhirat kelak. Baca lebih lanjut

imagesHari ini, Senin, 17 Agustus 2009, tepat 64 tahun kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Artinya, 64 tahun yang lalu Bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, setelah sebelumnya berada di bawah cengkeraman kuku-kuku tajam penjajah.

Peristiwa bersejarah ini merupakan momen terpenting dalam perjalanan sejarah Bangsa Indonesia. Kemerdekaan adalah dambaan setiap manusia, masyarakat ataupun bangsa. Kemerdekaan berarti lepasnya segala bentuk belenggu, tekanan, kekangan, serta penjajahan dalam bentuk apapun. Kemerdekaan berarti independensi yang diakui, eksistensi yang dimaklumi, serta kebebasan yang diindahkan. Sedangkan penjajahan berarti kemerdekaan yang dirampas, eksistensi yang diabaikan, serta kebebasan yang dibelenggu.

Inilah nikmat yang sesungguhnya. Nikmat kemerdekaan merupakan hak asasi setiap manusia, masyarakat ataupun bangsa. Merdeka, menjadikan manusia lebih dinamis, kreatif, progresif dan produktif. Kemerdekaan menjadikan suatu bangsa mampu menunjukkan eksistensinya di mata dunia. Kemerdekaan, dengan demikian merupakan kunci kemajuan suatu individu, masyarakat ataupun bangsa. Baca lebih lanjut

Lulus Kuliah, Mau ke Mana?

unmplSuatu ketika, diakhir perkuliahan penulis mengajukan sebuah pertanyaan kepada para mahasiswa tingkat akhir. Pertanyaannya singkat saja: Setelah lulus kuliah nanti, kalian mau ke mana? Dan jawaban spontan yang mereka lontarkan adalah: Mencari pekerjaan.

Menyimak jawaban spontan yang dilontarkan para calon sarjana tersebut, seusai perkuliahan penulis merenung. Kalau jawaban serempak yang mereka lontarkan adalah mencari pekerjaan, artinya terbuka peluang besar bagi mereka untuk menjadi pengangguran. Apa pasal? Kita semua mafhum bahwa di tengah kondisi ekonomi bangsa yang tidak menentu ini, peluang untuk mendapatkan pekerjaan sangatlah kecil. Sejumlah perusahaan bahkan melakukan perampingan karyawan. Tidak sedikit pula yang gulung tikar alias bangkrut.images4

Di sisi lain, untuk menjadi pegawai negeri sipil (PNS) pun tidak mudah. Rasio kebutuhan penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) baru tidak sebanding dengan jumlah pencari kerja yang ada. Kalau sudah demikian kenyataannya, lantas mau ke mana mereka semua? Baca lebih lanjut

Francis Fukuyama (1995) dalam bukunya berjudul “Trust: The Social and The Creation of Prosperity” menegaskan, untuk menciptakan kehidupan ekonomi dan politik yang kokoh dan tahan lama, maka sebuah bangsa tidak bisa hanya mengandalkan sumber daya alam (SDA) yang melimpah, tetapi juga pada sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Salah satu unsur pokok dari SDM ini adalah kuatnya sikap saling percaya dan bisa dipercaya. Baca lebih lanjut

capresSaat ini, ingar-bingar kampanye partai politik kontestan pemilu telah usai. Pemilu legislatif untuk memilih anggota dewan baik di tingkat kabupaten/kota, propinsi, maupun pusat, serta menentukan calon DPD juga sudah kita lewati— terlepas pro-kontra hasil pemilu legislatif yang hingga saat ini belum ditetapkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Mempertanyakan kembali komitmen politik para politisi, sebelum mereka benar-benar duduk di kursi dewan, merupakan tanggung jawab moral kita bersama. Sejumlah pertanyaan patut kita ajukan kepada mereka. Akankah mereka tulus memperjuangkan nasib rakyat, menjaga amanat yang telah diembankan kepada mereka sesuai janji-janji manis yang mereka ucapkan selama masa kampanye? Ataukah, alih-alih menepati janji memperjuangkan aspirasi rakyat, mereka justru sibuk dengan kepentingan mereka masing-masing? Baca lebih lanjut

Salah satu momok yang terus menerus menghantui setiap kali akan dilangsungkannya Pemilu adalah budaya money politics (politik uang). Tak terkecuali pada pelaksanaan pemilu kali ini. Pemilu legislatif yang akan dilaksanakan besok, Kamis 9 April, serta pemilu Presiden /Wakil Presiden (Pilpres) pada 8 Juli 2009 nanti tak lepas dari bayang-bayang merebaknya budaya politik uang ini.politik-uang2

Budaya warisan Orde Baru itu sudah mendarah daging dalam diri setiap individu masyarakat negeri ini—dari mulai caleg, anggota parpol, sampai masyarakat umum— sekaligus menjadi trade mark bangsa ini. Baca lebih lanjut

rokok1Beberapa waktu lalu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa tentang haramnya rokok. Pro kontra seputar fatwa tersebut pun bermunculan menghiasi sejumlah media, baik cetak maupun elektronik. Dari mulai debat di layar kaca hingga polemik di sejumlah surat kabar dan majalah.

Kalangan yang sepakat dengan fatwa tersebut mengatakan bahwa sudah sepatutnya rokok diharamkan, karena dampak negatif atau mudharat yang ditimbulkan rokok sangat membahayakan kehidupan manusia. Dampak buruk yang ditimbulkan rokok tidak hanya bagi si perokok, tetapi juga bagi orang di sekelilingnya. Mereka menganggap bahwa rokok tidak hanya berbahaya bagi kesehatan tubuh, tetapi juga berbahaya bagi kesehatan jiwa dan mental. Baca lebih lanjut

Saat ini kita tengah berada di bulan Ramadhan. Saat ini pula, jutaan umat Islam dari seluruh penjuru dunia tengah menjalankan sebuah ritualitas ibadah, yang merupakan salah satu pilar dari rukun Islam yang lima, yakni ibadah puasa.

Setiap kali bulan ramadhan datang menyapa, dan setiap kali ritual ibadah puasa dijalankan, sebuah pertanyaan muncul. Apa sebenarnya pesan moral yang terkandung dalam ibadah puasa tersebut?

Melalui tulisan ini, penulis ingin mengajak kita semua (baca: umat Islam) meluangkan waktu sejenak untuk merenung, merefleksi, sekaligus menggali makna ibadah puasa yang tengah kita jalani. Dengan demikian, ibadah puasa tidak sebatas ritualitas formal semata tanpa makna, tetapi sebuah aktivitas ibadah yang sarat nilai.

Dalam sejumlah kajian disebutkan bahwa ritualitas ibadah puasa mengandung makna filosofis dan memberikan pelajaran yang sangat berharga kepada kita. Hemat penulis, ada dua pesan moral yang dapat kita petik dari aktivitas ibadah puasa, yaitu: Baca lebih lanjut

(Refleksi 10 Tahun Reformasi)

Hari ini, Rabu, 21 Mei 2008, tepat sepuluh tahun gerakan reformasi bergulir. Sudah sepatutnya kita semua, bangsa Indonesia merefleksi kembali perjalanan reformasi yang telah menapaki satu dasa warsa ini dengan pikiran jernih, disertai kujujuran untuk menjawab sebuah pertanyaan bersama (common question), apakah niat suci reformasi masih ada dalam diri kita? Ataukah niat tersebut telah ternodai oleh kepentingan-kepentingan pribadi kita?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, mari kita sejenak melihat kondisi riil bangsa Indonesia saat ini. Dari kenyataan tersebut, nanti kita akan dapat menyimpulkan sendiri jawaban atas pertanyaan di atas.
Kalau kita cermati, tampaknya labilitas kondisi bangsa Indonesia masih terus berlanjut. Berbagai persoalan melingkupi hampir seluruh sendi kehidupan; sosial, budaya, ekonomi, politik, hukum dan pelbagai sendi kehidupan lainnya yang semakin menambah panjang derita bangsa ini.

Persoalan-persoalan sosial, seperti konflik horisontal bernuansa SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), maraknya peredaran narkoba, tingginya angka kriminalitas, meningkatnya jumlah pengangguran, eksploitasi sekaligus kekerasan terhadap anak di bawah umur, menjamurnya perjudian dan prostitusi, serta berbagai masalah sosial lainnya menjadi pemandangan sehari-hari masyarakat negeri ini. Baca lebih lanjut