Category: nulis yuk


imagesSetiap hari, kita selalu menemui beragam peristiwa, pelbagai kondisi, bermacam keadaan yang mungkin akan membuat kita senang, sedih, haru, marah, kesal, bahagia dan beragam perasaan lainnya yang berkecamuk dalam diri kita. Kita juga mungkin akan berpikir kenapa semua peristiwa tersebut bisa terjadi? Bagaimana kita menyikapi serangkaian pengalaman hidup tersebut?

Pikiran dan perasaan, senantiasa mengiringi langkah kita dalam menjalani kehidupan ini. Pikiran positif dan negatif. Perasaan senang dan sedih. Semua itu terasa memenuhi seluruh relung jiwa kita, menyesakkan dada kita, menyumbat  alam bawah sadar kita. Semakin lama, pikiran dan perasaan yang telah menumpuk itu akan memberikan pengaruh terhadap sikap dan perilaku kita. Ketika timbunan peristiwa yang terjadi setiap hari memenuhi dan menyesakkan otak kita, maka kita sering merasa tertekan, yang akan berujung pada depresi atau stres.

Pertanyaannya kemudian, bagaimana agar timbunan peristiwa, tumpukan kejadian, serta rentetan pengalaman hidup ini tidak berlama-lama mendekam dalam alam bawah sadar kita, sehingga dapat kita manfaatkan untuk menjadi sebuah potensi yang akan menjadi daya dobrak dalam diri kita?

Salah satu cara yang saya pahami untuk mengurangi tingkat ketertekanan, atau bahkan bisa menjadi sarana relaksasi bagi pikiran dan perasaan kita adalah dengan ‘Menulis’. Ya, menulis membuat kita lebih rileks. Itu yang saya rasakan selama ini. Apapun yang kita alami, baik senang, sedih, haru, marah, kesal, bahagia, benci, cinta, sinis, simpatik, ketika kita tuangkan dalam sebuah tulisan akan membuat kita flow, rileks, santai, lebih enjoy dalam menjalani hidup ini.

Pernyataan ini bukan sebuah isapan jempol belaka. Ini nyata, ril, berdasarkan pengalaman. Bahkan sejumlah penelitian menyebutkan bahwa dengan menulis, menuliskan pengalaman hidup yang kita alami, atau sekedar mengungkapkan apa saja yang ada di benak kita ke dalam sebuah tulisan, akan membuat kita lebih sehat, lebih fresh. Menulis mampu mengendorkan urat syaraf kita yang sedang tegang. Menulis merelaksasikan otot dan otak kita. Menulis membuat kita lebih bisa menerima kenyataan, memahami kehidupan, dan menjadi sarana introspeksi diri yang ampuh.

Singkatnya, menulis dapat menyegarkan pikiran yang sedang kalut, menyemangati diri yang tengah gundah, membangkitkan motivasi yang sedang terpuruk, serta merelaksasikan perasaan yang sedang tidak menentu. Mari menulis untuk menyehatkan diri dan jiwa kita! Salam Menulis!

Iklan

Menulis Untuk Keabadian

imagesPerkenankan saya mengawali tulisan ini dengan sebuah pertanyaan: Untuk apa kita menulis?

Jawaban yang muncul atas pertanyaan tersebut tentu beragam. Ada seseorang yang menulis sekedar untuk ‘curhat’, yakni mencurahkan isi hatinya. Ada pula yang menulis untuk menjajakan ide serta gagasannya. Pun ada yang menulis untuk ‘rehat’ sejenak dari segala rutinitas kesehariannya. Di sisi lain, belakangan banyak orang menulis, entah artikel, buku, novel atau apapun jenisnya untuk mencari popularitas.

Hemat saya, apapun motivasi seseorang dalam menulis, satu hal yang pasti bahwa menulis akan membawa kita pada keabadian. Menulis, pada hakekatnya menunjukkan eksistensi seseorang. Menulis juga menegaskan kualitas seseorang. Menulis membuka mata orang lain (pembaca) untuk menyelami alam pikiran kita. Menulis menata serpihan-serpihan pengalaman hidup untuk kita susun menjadi sebuah bangunan pemikiran yang utuh. Menulis menghimpun yang terserak, menyatukan yang terpisah dan mengingat yang terlupakan dari kepingan-kepingan pengetahuan yang tersimpan rapih dalam alam bawah sadar kita.

Dalam sebuah ungkapan bijak dinyatakan, Verba volant Scripta manent, ucapan akan hilang, tulisan akan abadi. Sebaik apapun ucapan akan begitu mudah hilang ditelan waktu. Seburuk apapun tulisan akan abadi sepanjang masa. Secemerlang apapun ide kita, jika hanya diungkapkan dalam bahasa lisan, tidak akan bertahan lama. Tetapi gagasan sederhana yang tertuang apik dalam sebuah tulisan akan menjadi catatan sejarah yang abadi.

Usia seseorang boleh seumur jagung. Tetapi karya seseorang akan berumur panjang. Seorang penulis akan terus disebut namanya melalui karya-karyanya, meskipun jasadnya sudah berkalang tanah. Karyanya akan mengabadikan namanya.

Untuk itu, menulislah untuk keabadian!

Inilah Saatnya, Mengubah Wajah Dunia

Oleh: Didi Junaedi

Sadarkah kita bahwa bumi semakin panas?

Sadarkah kita bahwa alam semakin tidak bersahabat?

Sadarkah kita bahwa manusia semakin jauh dari nilai-nilai kemanusiaannya?

Bangun!

Bangun!

Bangun dari tidur panjang yang melenakanmu wahai manusia!

Bangkit!

Bangkit!

Bangkit dari mimpi-mimpi yang membuaimu wahai anak cucu adam!

Dunia ini sudah banyak berubah

Coba lihat ke luar sana!

Masih adakah senyum manis mentari pagi menyapamu?

Masih tersisakah hembusan semilir angin menyambut hari-harimu?

Masih terdengarkah kicau burung menyejukkan hatimu?

Masih tampakkah sapaan akrab orang-orang di sekelilingmu?

Tidak!

Tidak akan kau jumpai lagi semua itu

Senyuman telah berganti cibiran

Hembusan angin telah berganti terpaan badai

Kicau burung telah berganti nyanyian sumbang

Sapaan akrab telah berganti umpatan dan cacian

Sekali lagi, dunia sudah banyak berubah

Alam yang dulu bersahabat

Kini telah menjadi musuh

Manusia yang dulu santun

Kini telah menjadi sosok yang menakutkan

Bencana di mana – mana

Pertikaian di sana – sini

Bangun!

Bangun wahai manusia!

Bangkit!

Bangkit wahai anak cucu adam!

Ubahlah dunia seperti dulu lagi!

Penuh kedamaian

Bertabur cinta

Berbalut kasih sayang

Tiada hari tanpa senyuman

Tiada hari tanpa kedamaian

Tiada hari tanpa kasih sayang

Inilah saatnya

Ubahlah wajah dunia!

Sekarang juga!

buku-harta-karun2

Mindset Seorang Penulis Kaya Raya

Oleh: Didi Junaedi*

Judul : Peta Harta Karun Menjadi Penulis Kaya Raya

Penulis : Toha Nasrudin, S.Ag. (Abu Al-Ghifari)

Penerbit : Mujahid Press, Bandung

Tebal : 196 halaman

Cetakan : Pertama, Januari 2009

Harga : Rp. 49.000

Menjadi kaya raya dengan menulis? Apa bisa? Mungkin itu pertanyaan pertama yang muncul di benak anda begitu membaca judul buku ini. Sah-sah saja anda bertanya demikian. Karena, sejauh ini profesi sebagai penulis belum dianggap sebuah profesi yang menjanjikan. Menulis, bagi sebagian besar orang, belum masuk kategori ‘ladang uang’ yang menggiurkan seperti profesi lainnya, semisal pengacara, dokter, konsultan, dan sejumlah profesi bergengsi lainnya.

Namun, melalui buku ini sang penulis Toha Nasrudin, S.Ag.—yang dikenal dengan nama pena Abu Al-Ghifari— berhasil mematahkan anggapan bahwa menulis tidak bisa membuat seseorang menjadi kaya raya. Apa pasal? Dalam uraiannya, Toha Nasrudin mengungkapkan pengalamannya menjadi seorang penulis, yang terbukti bisa kaya raya. Baca lebih lanjut

buku-la-tahzan-for-parentsKiat Mendidik Anak Ala Islam

Oleh: Didi Junaedi

Judul : La Tahzan for Parents

Penulis : KH. Dindin Solahudin

Penerbit : Mizania, Bandung

Tebal : 240 halaman

Cetakan : I, Desember 2008

Ketika kita dititipi anak, maka pada hakekatnya Allah menganggap kita memiliki kapasitas yang memadai untuk memainkan peranan dan fungsi sebagai orang tua. Maka, nikmatilah kepercayaan dan kehormatan tersebut dan bertekadlah untuk melaksanakannya sepenuh hati. Jangan pernah merasa terbebani dengan kehadiran anak di tengah-tengah kita. Justru, dia merupakan ladang amal yang luar biasa bagi orang tua.

Inilah sekelumit pandangan yang dikemukakan oleh KH. Dindin Solahudin, Penulis buku berjudul La Tahzan for Parents ini. Dalam buku setebal 240 halaman ini, lebih lanjut ia menegaskan bahwa peran sebagai orang tua menuntut bekal ilmu yang memadai. Terlalu besar tugas menjadi orang tua itu untuk ditunaikan tanpa ilmu dan hanya sampingan. (hal. 19)

Dalam keterangannya, penulis menguraikan beberapa bekal ilmu yang perlu dipersiapkan orang tua dalam proses mendidik anaknya. Sehingga, kelak ketika mereka dewasa, sang anak akan melangkah mantap menghadapi hidup ini dengan penuh optimisme dan keyakinan dengan didasari akidah yang kokoh. Baca lebih lanjut

Isi Ulang Semangat Menulis

Beberapa waktu belakangan ini, aku ngerasa semangat menulisku menurun. Itulah sebabnya kenapa aku agak telat meng-update isi blogku ini. Seolah-olah, hanya sekedar menggerakkan jemariku di atas tuts keyboard saja enggan. Ngga tahu kenapa?

Karena tidak ingin berlama-lama dalam kondisi tersebut, akupun segera mencari tahu penyebab kenapa aku jadi kehilangan semangat nulis seperti ini. Setelah dipikir-pikir ternyata aku membiarkan rasa malas bersemayam dalam tubuhku. Jadi, setiap ada keinginan untuk menulis, tertahan, tertahan dan tertahan terus oleh rasa malas tersebut.

Akhirnya, akupun memutuskan untuk mengisi ulang semangat menulisku dengan membaca buku-buku seputar dunia tulis menulis. Aku berharap setelah di’charge’ dengan buku-buku tersebut, gairah menulisku menyala kembali.

Maka, aku sempatkan untuk mengunjungi toko buku Gramedia di Grage Mall Cirebon sepulang dari kantor. Setelah mondar mandir dan riwa-riwi ke sana kemari, langkahku terhenti di sebuah rak yang berisi tentang buku-buku komunikasi dan jurnalistik. Aku terpaku melihat sebuah buku dengan judul yang cukup menggugah rasa ingin tahuku, “Peta Harta Karun; Menjadi Penulis Kaya Raya”. buku-harta-karun

Sejenak aku mengingat-ingat judul buku tersebut seperti pernah aku baca sebelumnya, tapi di mana ya…?Ting…aku baru ingat kalau judul buku tersebut adalah judul E-book (electronic book) yang pernah aku baca di salah satu situs di Internet. Ya, itu memang judul e-book yang ditulis oleh Toha Nasrudin, S.Ag. alias Abu Al-Ghifari. Dia adalah penulis buku-buku dengan tema remaja dan rumah tangga dalam pandangan Islam. Dia juga owner dari beberapa penerbitan buku, antara lain Mujahid Press dan Rosalba.

Sejurus kemudian, akupun langsung membolak-balik buku tesebut dari mulai daftar isi sampai uraian bab per bab secara sekilas. Tanpa ba bi bu akupun langsung mengambilnya. Eit, tungu dulu. Ternyata masih ada satu buku lagi yang cukup membuatku enggan beranjak dari rak tersebut, yakni sebuah buku dengan judul “Siapa Bilang Menjadi Penulis Itu Susah dan Nggak Bisa Kaya” karya Ariyanto MB. buku-kaya-anyarSetelah melihat daftar isi dan beberapa halaman, akupun mengambilnya untuk aku bawa ke kasir. Jadi, 2 buah buku tentang menulis sudah di tangan. Akupun pulang dengan rasa penasaran untuk segera melahap dua buku tersebut.

Kurang dari satu minggu aku merampung dua buah buku tersebut. Semangat menulisku pun kembali berkobar. Jari-jemariku mulai menari-nari di atas tuts keyboard dengan lincahnya. Dan hasilnya, beberapa tulisan aku selesaikan baik artikel opini maupun resensi buku. Dan, alhamdulillah dalam minggu ini salah satu tulisanku berjudul “Calon Sarjana Berjiwa Mandiri” dimuat di Harian KONTAN, edisi Jumat, 13 Februari 2009 kemarin. Mengenai dimuatnya artikel tersebut akan aku ceritakan di postingan berikutnya. See u…

Buku dan Peradaban Bangsa

Ada sebuah ungkapan bijak dalam bahasa Arab yang berbunyi: “Khairu jaliisin fi al-zamaani kitaabun”, sebaik-baik teman di setiap saat adalah buku. Sebuah ungkapan sederhana, namun sarat makna jika dikaji lebih jauh.

Kita semua mafhum bahwa buku merupakan sumber informasi, lautan ilmu dan samudera pengetahuan. Dengan meyelaminya, kita akan mendapatkan hal-hal baru, yang mungkin tidak pernah kita ketahui sebelumnya selama ini.

Buku ibarat belantara pengetahuan tak berujung, lautan ilmu tak bertepi dan mayapada informasi tak berkesudahan. Siapa saja yang bisa masuk menjelajah ke dalamnya, akan menemukan mutiara terpendam yang tak ternilai. Dan, ketika mutiara itu sudah ditemukan, siapa saja akan merasa ingin selalu mencari mutiara-mutiara lainnya yang masih terpendam di balik lembaran-lembaran berjuta-juta buku lainnya.
Melalui buku, kepribadian seseorang terbentuk. Melalui buku pula, peradaban suatu bangsa akan tercipta. Baca lebih lanjut

Ngeblog, Silaturahmi di Dunia Maya

20030729220702girl_sm.jpgSetengah tahun terakhir ini saya mulai ‘keranjingan’ ngeblog. Mulanya, saya hanya iseng berselancar mengunjungi blog para blogger yang sudah lama wira-wiri di jagat virtual yang sedang ngetren ini. Lama-kelamaan, setelah ‘puas’ melakukan kunjungan (silaturahmi) ke sejumlah blog, terbersit sebuah keinginan untuk ‘menampakkan’ diri kepada masyarakat di dunia maya, dengan membuat sebuah blog. Karena saya yakin, sesering apapun saya lalu lalang serta wira-wiri bersilaturahmi ke blog para blogger, tanpa pernah ‘unjuk’ diri dengan membuat sebuah blog, kehadiran saya di jagat maya hanya sekedar numpang lewat saja. Dan saya nggak mau menjadi penonton yang hanya bisa ‘bermain’ di luar lapangan.

Akhirnya, saya pun membuat blog untuk mengaktualisasikan diri di dunia virtual ini. Blog tersebut saya rancang dengan tujuan untuk menghimpun segala pernak-pernik kehidupan saya, baik yang bersifat pribadi maupun kehidupan secara umum. Blog tersebut juga saya maksudkan untuk menyusun kepingan pandangan saya yang terserak dalam menyikapi fenomena yang terjadi di sekitar saya. Baca lebih lanjut

Shampoo Dikira Minyak Rambut

Gue punya cerita gokil and konyol abis nih. Pokoknya setiap gue inget kejadian itu, bawaannya pengen ngakak mulu, abis ga nahan sih..Ya..sebetulnya yang ngalamin kejadian ini bukan gue, tapi temen gue. Tapi, tetep aja kalo diinget-inget lagi, perut ini rasanya kaya dikocok kocok gitu deh…Penasaran ya..mo tau ceritanya? Oke deh, kalo gitu lo pantengin terus ye…

Gini nih ceritanya… Baca lebih lanjut

Judul : Menjadi Kaya dengan Menulis

Penulis : Rs. Rudatan

Halaman : 204

Penerbit : CV. Andi Offset (Penerbit ANDI), Yogyakarta

Tahun Terbit : 2006

av-627.gif

Menjadi kaya dengan menulis? Apa bisa? Mungkin itu pertanyaan pertama yang muncul di benak anda begitu membaca judul buku ini. Sah-sah saja anda bertanya demikian. Karena, sejauh ini profesi menulis belum dianggap sebagai sebuah profesi yang menjanjikan. Menulis, bagi sebagian besar orang, belum masuk kategori ‘ladang uang’ yang menggiurkan seperti profesi lainnya, semisal pengacara, dokter, konsultan, dan sejumlah profesi bergengsi lainnya.

Namun, melalui buku ini Rs. Rudatan, sang penulis, berhasil mematahkan anggapan bahwa menulis tidak bisa membuat seseorang menjadi kaya. Apa pasal? Dalam uraiannya Rudatan mengungkapkan pengalamannya menjadi seorang penulis. Baginya, menulis, apalagi di tengah era informasi sekarang ini, membuka peluang besar bagi seseorang untuk menjadi kaya. Karena, setiap orang butuh informasi. Dan, salah satu media informasi yang ‘tahan lama’ adalah dalam bentuk tulisan. Sejumlah media cetak selalu menanti tulisan dari pembaca untuk mengisi pelbagai rubrik. Tentu, tulisan yang dimuat akan mendapat honor. Di sinilah peluang bagi kita untuk menulis terbentang luas. Dan, peluang menjadi kaya pun terbuka lebar.

Ia mengandaikan, jika dalam satu bulan ada lima saja tulisan kita yang dimuat di sejumlah media cetak, dengan asumsi setiap tulisan diberi honor Rp. 300.000 (ukuran standar), maka dalam satu bulan kita memperoleh penghasilan Rp. 1.500.000. Terlalu kecil? Tidak juga. Untuk ukuran pemula, bukanlah jumlah yang buruk. Kita bisa menambah jumlah penghasilan kita menjadi Rp. 2000.000, Rp. 3000.000, Rp. 5000.000, atau bahkan lebih dari itu. Ingat, itu per bulan, bukan per tahun. Bagaimana caranya? Ya, kita tingkatkan intensitas kita dalam menulis, itu saja. Mudah bukan?

Buku ini ditulis dengan tujuan memotivasi siapa saja yang ingin mendapatkan penghasilan jutaan rupiah per bulan melalui tulisan. Ini fakta, bukan isapan jempol belaka. Sebab, saat ini uang jutaan rupiah menunggu anda di kantor-kantor redaksi media massa. Anda dapat mengambil uang itu dengan menukarnya dengan karangan atau tulisan anda. (hal. 7)

Sayang jika kesempatan mendapat penghasilan jutaan rupiah per bulan anda lewatkan, sehingga peluang menjadi kaya pun terbuang sia-sia. Saya yakin, anda tentu tidak ingin hanya sekedar melihat orang lain sukses dan berkantong tebal, sementara anda tidak menjadi apa-apa. So, tunggu apa lagi, mulailah menulis dari sekarang! Dan siap-siap menjadi orang kaya. (*)