Category: sekedar curhat


Berbahagialah

 

 

 

 

 

 

 

 

Alhamdulillah…

Rasa syukur ke hadirat Allah Swt. tak henti-hentinya aku ucapkan…

Setelah sekian lama menanti, akhirnya karya terbaruku terbit juga…

“Berbahagialah (Pesan Al-Qur’an Menggapai Kebahagiaan Hakiki)”, itulah judul buku terbaruku yang diterbitkan oleh Quanta, Imprint dari Penerbit Elex Media Komputindo, Kompas Gramedia.

Buku setebal 228 halaman ini menguraikan pesan-pesan al-Qur’an tentang cara menggapai kebahagiaan hakiki. Yaitu kebahagiaan yang tidak hanya dinikmati ketika di dunia fana ini saja, tetapi juga yang dinikmati di akhirat nanti.

Buku ini hadir sebagai penawar hati yang resah, jiwa yang gundah, dan batin yang gelisah, ketika bahagia yang didamba tak kunjung datang menyapa.

Dengan menikmati lembar demi lembar buku ini, serasa tengah mengarungi samudera menuju dermaga bahagia. Dengan bimbingan wahyu, penulis mengajak pembaca untuk menyelami makna bahagia yang sesungguhnya.

Buku ini sudah bisa didapatkan baik secara offline di seluruh TB. Gramedia di Indonesia, juga di toko-toko buku lainnya, seperti Toga Mas, Gunung Agung, dan toko-toko buku lainnya, juga secara online di situs-situs toko buku di dunia maya, seperti: gramediaonline.com, amazon.com, bukukita.com, grazera.com, kutubuku.com, bukabuku.com, inibuku.com dan situs-situs penyedia buku online lainnya, dengan harga resmi dari penerbit Rp. 44.800,-

Akhirnya, untuk seluruh pembaca buku saya ini, saya ingin mengucapkan: “Selamat meniti jalan menuju kebahagiaan hakiki di bawah bimbingan wahyu Ilahi dan teladan Nabi.”

Salam dari Penulis,

 

Didi Junaedi

 

 

 

Alhamdulillah, setelah sekian lama tak mengudara hingga tahun berganti, akhirnya saya dapat kembali menyapa pembaca setia blog “Secercah Harap” ini… (ge er banget yah.. emangnya siapa yang baca… sok beken, he..he..)

Saya tidak ingin berapologi apalagi berbasa-basi, karena kalo kelamaan jadi basi beneran… he..he.. Satu alasan yang pasti mengapa sudah sekian lama ini saya tidak menulis di blog adalah: MALES! Sekali lagi, MALES!  Ya, itulah alasan utama saya ngga nulis lagi di blog ini sekian lamanya… sampai kepomopong menjadi kupu-kupu… (lebaaay…)

Okey.. kita tinggalkan alasan ngga penting itu… mending kita sekarang ngomonging yang penting-penting aja… okey bro n sis…? Go…

Tulisan ini sengaja saya beri judul “Beasiswa Studi S3, Kondisi Fisik dan Impian Masa Depan”. Ya, tiga hal tersebut yang saat ini tengah berkait kelindan dalam kehidupan saya, hingga tulisan ini dibuat, dan mungkin sampai beberapa tahun ke depan. Baca lebih lanjut

Memahami Hati…

Dalam diri setiap manusia terdapat sebuah tempat khusus yang menyimpan segala rasa; senang, sedih, bahagia, nestapa, haru, bangga, kecewa, putus, asa, dan beragam rasa lainnya… tempat itu bernama ‘hati’.

Ya, hati adalah muara tempat berkumpulnya segala rasa yang berkecamuk dalam diri kita. Hati, yang dalam bahasa arab disebut ‘qalb’ , mengandung makna ‘bolak-balik’. Hati memang mudah berubah-ubah. Suatu saat kita senang dan bahagia, di saat lain kita sedih dan kecewa. Kadang kita merasa berbunga-bunga, tidak jarang pula kita merasa tersayat-sayat sembilu. Semua rasa itu akan selalu hadir menemani hari-hari kita sepanjang hayat kita.

Seperti yang tengah aku alami saat ini. Aku merasa sulit memahami hatiku. Kadang aku merasa begitu bahagia, tetapi di saat yang sama aku juga merasa sedih dan gelisah. Kadang semangat hidup begitu menyala-nyala, tetapi kemudian redup dan akhirnya sirna. Sungguh, hati memang begitu susah diduga. Tepat sekali gambaran yang diungkap oleh sebuah kalimat sederhana, “dalamnya laut dapt diukur, tapi dalamnya hati tak dapat diterka.

Hati  memang misterius… perasaan yang sudah begitu lama terkubur dalam, tiba-tiba muncul tanpa bisa kita menolaknya…

Seringkali kita mendengar ungkapan, “ikuti kata hatimu!”  Bagiku, mengikuti kata hati bisa memunculkan dua hal yang berbeda. Kadang berakibat positif, tetapi tidak jarang juga berakibat negatif. Positif, jika kata hati itu mengajak kita menuju kehidupan yang lebih baik, lebih bermakna. Negatif, jika kata hati itu justru akan melenakan kita, membawa kita jatuh terperosok ke dalam lubang yang menghancurkan kehidupan kita.

Perasaan-perasaan yang hadir silih berganti dalam kehidupan kita, memang tidak bisa kita elakkan. Satu hal yang dapat kita lakukan adalah memenej atau mengatur perasaaan-perasaan tersebut. Memahami hati itulah kuncinya!

Hati-hatilah dengan hatimu! Jangan sampai perasaan yang kita ikuti justru akan membawa kita pada kesengsaraan berkepanjangan. Jagalah selalu hati kita. Aturlah selalu perasaan kita. Semoga kita dapat memahami hati, sehingga akhir dari perjalanan hidup ini adalah kebahagiaan yang kita damba.

 

Bulan Mei yang lalu merupakan bulan yang penuh dengan serangkaian acara promosi 2 buku saya yang baru saja terbit. Kedua buku tersebut adalah:

1.  17+ Seks Menyimpang; Tinjauan dan Solusi Berdasarkan Al-Qur’an dan Psikologi

2.  Agar Allah Selalu Menolongmu! Sehingga Kesedihan Segera Berlalu, Sehingga Kesulitan Tak Lagi Menghantuimu

Rangkaian acara promo kedua buku tersebut dimulai pada 7-8 Mei 2010 di Jakarta.

Pertama, berbarengan dengan acara Gebyar Buku di Tamini Square, Jakarta, pada 7 Mei diadakan Launching + Talkshow Buku Religi “17+ Seks Menyimpang; Tinjauan dan Solusi Berdasarkan Al-Qur’an dan Psikologi”. Inilah kali pertama saya tampil di hadapan publik untuk acara launching buku saya, sekaligus talkshow tentang buku tersebut. Acara yang dilangsungkan pada pukul 15.00 WIB  bertempat di lt II Tamini Square tersebut berjalan cukup meriah. Dipandu presenter Rini Setiani dari Jak TV, acara berdurasi 1,5 Jam tersebut cukup mendapat antusiasme pengunjung. Pada sesi tanya jawab, beberapa orang pengunjung menyampaikan beragam pertanyaan seputar masalah seks menyimpang. Di akhir acara, tiga penanya terbaik mendapat door prize berupa buku 17+ Seks Menyimpang + Tanda Tangan Penulis.

Kedua, dalam rangka ulang tahun MP Book Point, pada 8 Mei diadakan Launching + Talkshow 2 buku saya: 17+ Seks Menyimpang dan Agar Allah Selalu Menolongmu! Acara yang dilangsungkan di Toko Buku MP Book Point tersebut cukup spesial bagi saya. Karena 2 buku saya sekaligus di launching pada saat itu. Dan yang cukup berkesan lagi bagi saya adalah kehadiran sahabat-sahabat lama saya, mereka adalah teman-teman semasa kuliah di UIN Jakarta dulu. Juga ada beberapa tamu undangan yang sebagian besar adalah member MP Book Point.

Seperti acara di Tamini Square, di MP Book Point juga beberapa orang penanya mendapat souvenir berupa 2 buku saya yang dilaunching saat itu. Mereka bebas memilih, mau buku pertama atau buku kedua. Acara yang dilangsungkan pada pukul 16.30 WIB hingga pukul 18.00 WIB dan  juga dipandu oleh Host Rini Setiani dari Jak TV tersebut mendapat sambutan yang tak kalah antusiasnya dari acara di Tamini Square.

Sepulangnya dari Jakarta. Keesokan harinya, tepat pada 10 Mei, sebuah acara Bedah Buku dalam rangka Pesta Buku Murah di daerah saya (Brebes) sudah menanti. Buku pertama saya, yaitu 17+ Seks Menyimpang, yang akan menjadi tema bahasan dalam acara tersebut. Acara yang dilangsungkan pada pukul 14.00 WIB tersebut dihadiri oleh  perwakilan dari beberapa organisasi remaja muslim itu cukup meriah. Beberapa orang pengunjung pameran juga ikut hadir dalam acara tersebut.

Rangkaian acara promosi selanjutnya berlangsung selama 2 hari berturut-turut, yaitu Roadshow ke beberapa stasiun Radio (FM) di Cirebon, antara lain Cirebon FM, Maritim FM, dan DB FM, pada 17 Mei, dilanjutkan dengan Talkshow dan Jumpa Penulis di TB Gramedia Cirebon, pada keesokan harinya, yakni 18 Mei 2010.

Seluruh rangkaian acara tersebut merupakan sebuah pengalaman yang sangat berharga bagi saya sebagai seorang penulis pemula, yang baru melahirkan 2 buah karya. Semoga seluruh rangkaian acara tersebut memberikan efek yang positif, baik bagi saya secara pribadi, maupun masyarakat pada umumnya. Dan semoga karya-karya saya tersebut dapat diterima masyarakat dan bermanfaat. Harapannya, semoga kelak lahir karya-karya saya selanjutnya. Amiin…!

Rasa syukur yang tak terperikan kehadirat Allah SWT. Setelah sekian lama aku memendam sebuah mimpi atau lebih tepatnya obsesi untuk menjadi seorang penulis (buku), akhirnya kini mimpi serta obsesi itu menjadi sebuah kenyataan. Sungguh,  aku tak mampu mengungkapkannya dengan kata-kata, ketika aku menerima kabar dari penerbit bahwa bukuku sudah siap edar ke pasaran. Rasanya seperti mimpi. Memang, sebuah cita-cita atau keinginan yang terpendam cukup lama, kemudian terwujud menjadi sebuah kenyaataan, layaklnya mimpi yang berakhir dengan kebahagiaan.

Buku berjudul: “17+ Seks Menyimpang; Tinjauan dan Solusi Berdasarkan Al-Qur’an dan Psikologi” merupakan karya pertamaku dalam bentuk buku.  Sebuah karya utuh hasil pergumulan pemikiran yang cukup lama. Bisa dikatakan, karya pertamaku ini merupakan hasil dialektika antara nilai-nilai al-quran serta teori-teori psikologi dengan kondisi ril seksualitas masyarakat modern.

Karya ini merupakan tonggak baru dalam sejarah kehidupanku menapaki dunia kepenulisan. Memang, selama ini aku sudah terjun ke dunia kepenulisan, tetapi hanya sebatas pada tulisan-tulisan lepas seperti artikel, opini, ataupun tulisan ilmiah untuk jurnal. Sementara karya utuh berupa buku, baru kali ini lahir dari ‘rahim’ku.

Aku berharap semoga karya pertamaku ini menjadi sebuah pemicu dan pemacu semangat untuk terus menghasilkan karya-karya selanjutnya yang lebih menggugah dan mencerdaskan. Semoga!

Beberapa waktu lalu aku pernah menulis sebuah postingan di blog ini tentang impianku yang telah lama terpendam dan ingin segera diwujudkan. Postingan tersebut aku beri judul “Obsesi: Nulis Buku!”.

Dalam postingan tersebut, aku berharap bahwa suatu saat nanti aku bisa mewujudkan keinginanku untuk melahirkan sebuah karya berupa buku. Karya yang kelak mudah-mudahan bisa menjadi salah satu investasi abadiku. Sehingga, meskipun kelak aku sudah tidak ada lagi di dunia ini, orang akan tetap bisa mengambil manfaat dariku, yakni berupa pengetahuan yang aku tuangkan dalam buku. Selain itu, aku berharap orang akan tetap mengenalku, meskipun jasadku sudah berkalang tanah. Dan, satu hal yang paling penting adalah bahwa mudah-mudahan karyaku itu bisa menjadi investasi akhirat yang bisa aku tunjukkan kepada Sang Maha Kuasa, sehingga menjadi catatan postif dalam sejarah kehidupanku ketika di dunia. Aku berharap bisa menyejarah dan mengabadi dengan karya yang telah aku ciptakan.

Tampaknya, obsesiku tersebut hampir menjadi sebuah kenyataan. Ya, keinginan serta cita-citaku untuk melahirkan sebuah karya berupa buku sudah mendekati kenyataan. Karena, saat ini naskah buku yang pernah aku ajukan ke sebuah penerbit di Jakarta, setelah melalu proses yang cukup panjang, kini sudah memasuki tahap pencetakan (naik cetak). Aku pun sudah tidak sabar ingin segera melihat karya pertamaku itu.

Buku, yang insya Allah tidak lama lagi beredar di pasaran itu merupakan karya pertamaku. Buku tersebut mulanya adalah skripsiku ketika kuliah di Fakultas Ushuluddin Jurusan Tafsir Hadis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (dulu IAIN—pen). Setelah mengalami beberapa kali perombakan, serta tambahan materi di sana sini, akhirnya naskah buku berjudul “Penyimpangan Seksual dalam Perspektif Al-Qur’an”, yang kemudian setelah melalui proses editing diberi judul “17+ Seks Menyimpang; Tinjauan dan Solusi Berdasarkan Al-Qur’an dan Psikologi”  itu pun siap beredar di pasaran. Mudah-mudahan buku pertamaku tersebut bisa diterima pasar dengan baik. Amiin…

Sebagai informasi, ada satu naskah buku lagi, yakni calon buku kedua yang kini dalam proses lay outing. Bahkan kabar terbaru dari pihak editor, naskah buku kedua tersebut sudah masuk tahap proof reading. Jadi tinggal beberapa langkah lagi agar buku tersebut bisa benar-benar siap naik cetak.

Calon buku kedua yang aku maksud adalah buku dengan tema “Yakinlah, Pertolongan Allah sangat Dekat”. Aku berharap semoga proses penerbitan buku kedua ini lebih cepat dari buku pertama, sehingga bisa segera dinikmati oleh khalayak pembaca.

Ok. Kayaknya postingan kali ini sampai di sini dulu. Nanti, jika ada info terbaru tentang dua bukuku tersebut akan segera ku postingan ke dalam blogku ini.

 

Tak terasa, sudah lebih dari satu bulan lamanya aku ngga meng-update blogku…

Ya, lagi-lagi alasan yang bisa aku  jadikan pembenaran bagi diriku sendiri adalah sebuah alasan klise dan klasik: sibuk!

Padahal, kalau aku mau meluangkan waktu barang 10 menit aja sehari untuk bikin sebuah sebuah tulisan, entah tentang apa saja untuk kemudian di posting ke blog, pasti tiap hari blogku akan selalu up to date. Tetapi, lagi-lagi sebuah alasan klise yang cukup basi kembali menjadi senjata utamaku untuk membela diri: ngga sempet!

Okelah kalo begitu…kayaknya ga perlu lama-lama ngebahas tentang kemalasanku mengupdate blog. Toh, sebetulnya yang rugi aku sendiri, karena seringkali melewatkan peristiwa-peristiwa penting yang harusnya terdokumentasikan secara baik. Tetapi, kalau ada para blogwalker yang kebetulan selama ini sering mampir ke blog ini, kemudian sebulan terakhir ini merasa kecewa karena tidak menjumpai hal-hal baru dalam blogku, aku mohon maaf. Mudah-mudahan untuk selanjutnya aku bisa secara rutin berbagi tentang banyak hal kepada rekan-rekan blogger semua.

Dalam postingan kali ini aku cuma ingin mengingat serta menghimpun kembali serpihan-serpihan peristiwa yang telah aku lewatkan begitu saja dan belum sempat aku posting ke dalam blogku ini.

Beberapa peristiwa tersebut antara lain:

1. Ultah Putri Pertamaku yang ke-1

Peristiwa bersejarah ini terjadi pada Senin, 8 Maret 2010. Ya, putriku yang bernama “Livia Maulida Rahmadina” lahir ke muka bumi ini setahun yang lalu, tepatnya Minggu, 8 Maret 2009.

Tetapi sayang, untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak, tepat pada hari bersejarah itu, aku kebetulan sedang berada di luar kota, tepatnya di Bandung, bersama rombongan Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Brebes yang selam dua hari, sejak Minggu-Senin, 7-8 Maret 2010 mengadakan Rihlah Ilmiah (Study Tour) ke UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Jadi aku tidak bisa bersama-sama putri serta istriku mengadakan syukuran di rumah. Mudah-mudahan tahun-tahun berikutnya aku bisa hadir pada hari bersejarah tersebut.

2. Rihlah Ilmiah (Study Tour)

Seperti telah aku sebutkan di atas, bahwa selama dua hari, yaitu Minggu-Senin, 7-8 Maret 2010 aku bersama Rombongan Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Brebes, mengadakan Rihlah Ilmiah (Study Tour) ke UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Dalam acara tersebut aku ditunjuk sebagai salah satu Pembimbing yang mengkoordinir dan mendampingi 30 orang Mahasiswa. Tugasku adalah mengarahkan mereka agar ketika melakukan studi banding di UIN Sunan Gunung Djati Bandung nanti, dapat memperoleh hasil maksimal. Karena, setelah acara tersebut usai, mereka diminta membuat Laporan Hasil Kunjungan, yang itu menjadi salah satu syarat ketika kelak mereka akan mengajukan proposal skripsi di Jurusan Tarbiyah STIT Brebes.

3. Buku Pertamaku akan Terbit

Alhamdulillah…tak henti-hentinya kalimat itu meluncur dari bibirku, ketika aku menerima kabar dari editor buku via email yang menginformasikan bahwa buku pertamaku berjudul “17+ Seks Menyimpang; Tinjauan dan Solusi Berdasarkan Al-Qur’an dan Psikologi” akan segera naik cetak.

Aku hampir tak percaya ini nyata, bahwa cita-citaku untuk menjadi penulis buku terwujud. Keinginan yang sudah lama terpatri dalam diriku akhirnya menemui kenyataan. Karya pertamaku akan segera lahir. Sungguh, tak terperikan rasa bahagia dalam hatiku ini.

Kini buku pertamaku tersebutmasih dalam proses percetakan. Mudah-mudahan tidak lama lagi akan terbit dan siap menghiasi rak-rak toko buku di seluruh Indonesia. Amiin…

Oh ya, satu lagi karyaku atau buku keduaku yang mengambil tema populer yakni “Yakinlah Pertolongan Allah Sangat Dekat”, saat ini tengah memasuki tahap lay outing. Moga proses penerbitan buku kedua ini bisa lebih cepat dari yang pertama.

4. Pengawas Satuan Pendidikan Ujian Nasional (UN) SMA 2010

Saat postingan ini ditulis, aku tengah menjalani tugas negara sebagai Pengawas Satuan Pendidikan Ujian Nasional (UN) SMA 2010. Tulisan ini pun aku tulis di kamar penginapan selama menjalankan tugas sebagai pengawas UN.

Tahun ini akan mendapatkan tugas ngawas UN di SMA BU (Bustanul Ulum) NU Bumiayu. Lokasi yang tidak terlalu jauh dengan tempat ngawas UN tahun lalu, yaitu di SMA N 1 Paguyangan.

Karena jarak antara tempat tinggalku, Bulakamba cukup jauh dengan lokasi tugasku,  Bumiayu (sekitar 60 km dengan jarak tempuh perjalanan + 1 ½ jam), maka demi efektivitas dan efisiensi, akupun tinggal sementara di lokasi tugas selama lima hari.

Ketika postingan ini ditulis, aku baru menjalani tugas selama dua hari. Artinya masih tiga hari lagi untuk bisa kembali ke tempat tinggalku. Tetapi, aku niatkan tugas ini sebagai pengabdianku kepada negara dan juga semoga menjadi amal sholih yang dinilai sebagai ibadah. Amin…

Itulah beberapa kepingan peristiwa yang terlewatkan selama satu bulan terakhir ini, dan yang tengah aku jalani.

Mudah-mudahan rangkain peristiwa selanjutnya dapat segera aku share dan post ke blogku ini.



Malam ini, Allah mempertemukanku dengan seseorang yang belum aku kenal sebelumnya.  Sebetulnya aku  sering melihat dan ketemu dengannya, kalau kebetulan kami sama-sama jogging di pagi hari. Tapi setiap  kali kami berpapasan, hanya seutas senyum  keramahan yang tersungging dari bibir  kami masing-masing, tanpa sepatah kata pun terucap. Aku tidak tahu siapa namanya, di mana tinggalnya, dan apa pekerjaannya.

Baru malam ini, ketika secara tiba-tiba dia berkunjung ke kediamanku, aku tahu identitas dia sesungguhnya. Namanya, sebut saja fulan. Usianya 44 tahun.  Tinggal tidak jauh dari tempat tinggalku. Pekerjaannya, menurut pengakuannya sudah dua tahun ini nganggur, setelah di PHK dari tempat kerjanya dulu. Saat ini paling banter dia bekerja serabutan, alias tidak tentu.

Dia mengawali pembicaraan dengan curhat tentang penyakit yang dideritanya, yakni asam urat. Sudah lama dia mengidap penyakit tersebut, sehingga sekujur tubuhnya terasa sakit. Menurutnya, itu akibat kebiasaannya dulu yang sering mandi malam, sepulang kerja. Kini, baru terasa dampak buruk dari kebiasaannya tersebut.

Sejurus kemudian, dia curhat tentang kehidupan rumah tangganya yang berantakan. Saat ini, menurutnya, dia sudah 3 bulan resmi menduda, setelah sekitar 12 tahun berumah tangga. Pemicu utama perceraian tersebut, menurut pengakuannya adalah bahwa pihak keluarga isterinya, terutama kedua mertuanya tidak mau menerima keadaannya yang pengangguran, ditambah lagi selama 12 tahun berumah tangga belum dikaruniai keturunan. Sungguh, aku begitu terenyuh dan terharu mendengar ceritanya. Bagaimana tidak, serangkaian persoalan bertubi-tubi menderanya; penyakit yang tak kunjung sembuh, tidak adanya pekerjaan, serta perceraian yang baru saja dijalaninya. Aku tak bisa membayangkan bagaimana perasaannya saat ini. Di usia yang sudah masuk kepala empat, kehidupannya justru semakin terpuruk.  Padahal, pada umumnya, usia 40 adalah standar barometer kehidupan seseorang. Karena pada usia tersebut, kedewasaan sekaligus kemapanan hidup seseorang biasanya mulai terlihat jelas. Paling tidak, usia 40 adalah titik tolak bagi seseorang untuk menikmati hidup yang telah dirintisnya sejak berpuluh-puluh tahun sebelumnya. Tetapi yang dialami kawan baru saya ini adalah sebaliknya, bertolak belakang dari kondisi semestinya.

Akupun berusaha untuk menunjukkan empati padanya, yaitu dengan mendengar penuh perhatian, serta sesekali ikut ‘urun rembug’, memberi tanggapan serta pendapatku tentang persoalan yang tengah dihadapi. Dia tampak begitu antusias bercerita tentang mimpi-mimpi masa depannya, pasca perceraian dengan istrinya. Dia berencana membuka sebuah usaha . Aku katakan kalau aku sangat mendukungnya dengan beberapa alasan: Pertama, memperbaiki nasib, atau mengubah keadaan ekonominya yang saat ini tidak jelas juntrungannya. Kedua, membuang memori kelamnya berupa perceraian, untuk diganti dengan lembar kehidupan  baru yang lebih bermakna.

Tak terasa, kami ngobrol lebih dari 1 jam. Waktu yang tidak sedikit untuk sebuah pertemuan pertama bagi orang yang sebelumnya tidak saling kenal sama sekali. Karena waktu sudah cukup malam, dia pun akhirnya pamit pulang.

Dari pertemuan tak terduga malam ini, aku mendapat sebuah pencerahan,  hikmah yang bisa menjadi pelajaran bagi diriku khususnya, dan kita semua pada umumnya.  Hikmah yang bisa aku ambil adalah:

Ternyata, di luar sana masih ada orang yang jauh lebih susah dari kita.  Mungkin saja jumlahnya tidak hanya satu atau dua, tetapi puluhan, ratusan bahkan mungkin ribuan orang yang ditimpa berbagai persoalan hidup yang sangat berat, dan tak sanggup kita membayangkannya. Dari kenyataan ini, selayaknya kita senantiasa bersyukur atas apa yang telah Allah berikan kepada kita. Qodho dan qodar-Nya, ketetapan serta takdir-Nya adalah pilihan terbaik yang diberikan-Nya kepada kita. Semua yang Ia tentukan dan kehendaki tentu ada hikmah yang tersimpan di dalamnya.

Malam ini, aku mendapat sebuah pelajaran berharga. Aku mendapatkan sebuah hikmah dari lautan hikmah-Nya yang terbentang luas di jagat raya ini. Semoga kita semua mampu menangkap hikmah dalam setiap langkah kehidupan kita. Amiiin..

Chemistry…

Kita tentu sering mendengar istilah chemistry, yaitu suatu reaksi kimiawi yang biasa dalam bahasa sehari-hari digunakan untuk menggambarkan ‘konektivitas’, ketersambungan  hubungan antara seseorang dengan orang lain, lebih khusus lagi hubungan antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan, entah sebagai pacar, sahabat, atau bahkan selingkuhan, he..he..

Dalam pergaulan sehari-hari, mungkin kita sering mendengar ucapan, “kayaknya aku ngga ada chemistry deh sama dia, sudah beberapa bulan jalan bareng, tapi koq ngga ada perasaan gimanaaa gitu…”.   Atau sebaliknya, “kayaknya aku ada chemistry deh sama dia, soalnya tiap kita ngobrol berdua selalu nyambung, trus perasaanku jadi gimanaaa gitu…”.

Seseorang yang sudah berhasil menemukan chemistry-nya dengan orang lain, baik sesama jenis atau pun dengan lawan jenis, terlepas apa pun nama status hubungannya tersebut, akan merasakan adanya ketersambungan, kecocokan, sekaligus kenyamanan ketika bersamanya. Bahkan, tidak jarang mereka yang sudah memilki chemistry yang cukup kuat dapat membaca pikiran satu sama lain. Ini bisa dibuktikan dengan seringnya mereka memiliki ide yang sama, bahkan bisa jadi mengucapkan kata-kata yang sama ketika sedang ngobrol berdua. Bisa jadi mereka menuliskan kata-kata yang persis sama, atau dengan maksud yang sama ketika sedang saling ber-sms atau berchatting ria.

Secara sederhana, chemistry dapat diartikan sebagai keterikatan batin atau kontak batin satu sama lain. Hal ini bisa terjadi pada siapa saja terhadap siapa saja. Maksudnya, siapa pun dapat menemukan chemistry-nya pada siapa saja. Bisa jadi seorang suami tidak menemukan chemistry pada istrinya, tetapi justru merasa ‘klik’ dengan perempuan lain. Atau sebaliknya, seorang istri justru lebih merasa ‘klop’ dalam cara pandang, serta prinsip-prinsip hidup dengan laki-laki lain. Khusus untuk yang satu ini, saya sarankan jangan sampai kebablasan, bisa-bisa terjadi perselingkuhan terselubung berbungkus pertemanan atau persahabatan. Waspadalah! Waspadalah! Kejahatan kelamin tidak hanya terjadi karena ada niat, tetapi juga karena ada kesempatan, he…he…

Pertanyaannya kemudian, apakah chemistry itu bisa diciptakan, ataukah sudah given, sudah dari sononya?

Sebelum menjawab pertanyaan ini, saya ingin sedikit menguraikan sebuah peribahasa dalam bahasa jawa yang berbunyi: witing tresno jalaran soko kulino. Cinta, dalam arti luas (termasuk di dalamnya, chemistry), bisa hadir karena terbiasa. Maksudnya, tumbuhnya benih-benih cinta pada seseorang atau sesuatu, bermula karena kebiasaan atau terbiasa.

Seseorang yang mulanya tidak menyukai dunia tulis menulis, misalnya, tetapi kemudian karena terinspirasi sebuah buku yang begitu memukau tentang nikmatnya menulis dan menjadi penulis (terkenal) dengan kelimpahan materi serta popularitas, kemudian mulai belajar menulis terus menerus, sampai kemudian menemukan apa yang dicita-citakannya. Saya berani taruhan, orang ini pasti sudah jatuh cinta setengah mati pada dunia yang dulu sama sekali tidak diliriknya. Ia sudah menemukan chemistry-nya pada dunia tulis menulis.

Begitu juga halnya dengan seseorang yang awalnya biasa saja, ngga ada perasaan apa-apa dengan lawan jenisnya. Tetapi karena sering ketemu, mungkin karena satu kantor atau satu tempat kerja, satu profesi, satu hobi, atau karena alasan lain yang memungkinkannya untuk sering bertemu secara intens, tidak menutup kemungkinan lambat laun akan tumbuh benih-benih cinta pada dirinya. Sudah terlalu banyak contoh kasus seperti ini. Silakan anda cari dan temukan sendiri di sekiling anda. Atau mungkin anda sendiri yang mengalaminya.

Dengan demikian, dari keterangan ini dapat disimpulkan bahwa chemistry itu bisa diciptakan. Tidak serta merta given, atau sudah dari sononya, anugerah dari yang Maha Kuasa.

Chemistry yang given menurut saya adalah karena adanya kesamaan visi, cara pandang, prinsip hidup dan sebagainya. Khusus chemistry seseorang pada lawan jenisnya, bisa disebabkan beberapa hal, di antaranya:

Pertama, performance, tampilan luar. Seseorang menilai orang lain, mula-mula dari tampilan luarnya. Dari cara berpakaian, bersikap dan segala tampilan luar lainnya. (Hati-hati dengan yang satu ini, salah-salah anda tertipu oleh casing-nya, he…he..)

Kedua, inner beauty, kecantikan dari dalam. Seseorang akan menaruh simpatik serta respek kepada kita, jika kita menunjukkan pribadi yang anggun. Kejujuran, kesopanan, kerendahhatian akan menjadi modal utama bagi seseorang untuk mendapatkan ‘nilai’ tersendiri di mata orang lain.

So, kita bisa menemukan chemistry dengan siapa saja, baik memang sudah given, ataupun diciptakan. Selamat menemukan chemistry anda!

Siang itu, ketika aku buka account FBku, baru beberapa menit melihat update status teman-teman, terlihat kolom chatku menyala dengan ditandai angka satu dalam balutan bagckround warna merah menyala.  Ternyata, adik sepupuku yang mengirim pesan tersebut. Begitu ku buka, hanya sebuah pesan pendek, “saatnya update postingan mas…”. Aku pun segera tahu maksud pesan singkat tersebut. Ya, aku baru ingat, kalau sudah lebih dari seminggu ini aku ngga update postinganku di blog ini. Aku pun segera membalasnya degan kalimat singkat pula, “lagi mati ide…”. Sesaat kemudian, kolom chatku menyala lagi, sebuah kalimat singkat terbaca, “kalo gitu nulis tentang ‘mati ide’ aja mas…”. Tanpa pikir panjang, aku segera menjawab, “ya udah, coba nanti tak download dulu file-file di memoriku…”.

Dari chit-chat yang hanya beberapa menit tersebut, aku langsung tergugah untuk segera memecah gumpalan ide yang sudah lebih dari seminggu tidur pulas di otakku ini, untuk segera aku tuangkan ke dalam rangkaian kata.

Tanpa ba bi bu, aku langsung membuka account blogku di WP.  Segera setelah berhasil log in,  aku masuk ke ruang new post. Dengan segenap daya, aku buka file-file yang tersimpan dalam memoryku selama seminggu terkahir ini. Alih-alih menemukan ide segar untuk segera ditulis, justru aku semakin ‘stuck’,  tidak tahu harus mulai dari mana.

Aku langsung teringat saran adik sepupuku, “kalo gitu tulis aja tentang ‘mati ide’ mas. Yup, when there is a will there is a way,  ketika ada keinginan (kuat) pasti ada jalan. Aku pun segera mengajak jari jemariku untuk menari-nari di atas tuts keyboard.  Aktivitas merangkai kata pun segera berjalan, dari mulai slow motion sampai kemudian high speed.

Aku mulai sadar, tampaknya  setiap kali ada sumbatan dalam memoryku ini, aku perlu segera mencari impulse (pendorong)-nya, agar sumbatan itu segera lepas dan aku bisa bebas menuangkan ide-ide segarku agar tidak keburu basi.

Impulse itu bisa berupa bacaan, diskusi, atau sekedar chit-chat lewat FB atau YM, atau bisa juga obrolan ringan bersama tetangga, teman kantor, atau siapa saja. Ya, kini aku sudah menemukan sebuah trik baru untuk menyiasati kebuntuan gagasan, mati ide, atau sumbatan pemikiran dan (mungkin) perasaan. Segera mencari impulse dan segera menuangkannya dalam tulisan.

Benar apa yang dikatakan James Pennebaker, seorang ahli psikologi yang menyatakan bahwa dengan menuliskan ungkapan perasaan dan pikiran ke dalam sebuah tulisan, akan membuat kita lebih rileks dan fresh. Hidup terasa lebih ringan, masalah yang melingkupi hidup sedikit berkurang.

Dia menyarankan agar kita terbiasa menuliskan apa pun yang ada di benak kita sebelum tidur, dan juga ketika baru bangun tidur. Dengan cara seperti ini, menurutnya beban yang diderita seseorang akan sedikit demi sedikit berkurang.

Memang benar, aku pun mengamini pendapat Pennebaker tersebut, karena aku sudah sering mengalaminya sendiri.  Ketika pikiran dan perasaan, dalam kondisi apapun, senang atau sedih, suka atau duka, kita ungkapkan ke dalam rangkaian kata yang kemudian menjadi sebuah tulisan, akan terasa berbeda, lebih hidup dan lebih bermakna. Apalagi ketika tulisan tersebut kita simpan, kemudian suatu saat, setelah sekian lama kita buka dan baca kembali, tidak jarang memory kita akan mengajak kita menerawang ke masa lalu, mungkin kita akan terharu, atau malah tertawa sendiri membacanya. Tidak percaya? Silakan buktikan sendiri!

Tak terasa, dari sekedar chit chat yang beberapa menit dengan sepupuku, bisa menjadi rangkaian-rangkaian kalimat yang membentuk sebuah tulisan, yang kalau tidak segera aku sudahi, bisa sampai malem aku menatap layar laptopku ini. Bisa kepanasan si ‘lepi’ karena dipaksa bekerja seharian untuk ‘memuaskan hasrat’ menulisku…

Okey deh…segini aja dulu postinganku kali ini, sekedar menuang ide, sekedar melepas sumbatan…he..he.. 🙂