Latest Entries »

Rasa syukur yang tak terperikan kehadirat Allah SWT. Setelah sekian lama aku memendam sebuah mimpi atau lebih tepatnya obsesi untuk menjadi seorang penulis (buku), akhirnya kini mimpi serta obsesi itu menjadi sebuah kenyataan. Sungguh,  aku tak mampu mengungkapkannya dengan kata-kata, ketika aku menerima kabar dari penerbit bahwa bukuku sudah siap edar ke pasaran. Rasanya seperti mimpi. Memang, sebuah cita-cita atau keinginan yang terpendam cukup lama, kemudian terwujud menjadi sebuah kenyaataan, layaklnya mimpi yang berakhir dengan kebahagiaan.

Buku berjudul: “17+ Seks Menyimpang; Tinjauan dan Solusi Berdasarkan Al-Qur’an dan Psikologi” merupakan karya pertamaku dalam bentuk buku.  Sebuah karya utuh hasil pergumulan pemikiran yang cukup lama. Bisa dikatakan, karya pertamaku ini merupakan hasil dialektika antara nilai-nilai al-quran serta teori-teori psikologi dengan kondisi ril seksualitas masyarakat modern.

Karya ini merupakan tonggak baru dalam sejarah kehidupanku menapaki dunia kepenulisan. Memang, selama ini aku sudah terjun ke dunia kepenulisan, tetapi hanya sebatas pada tulisan-tulisan lepas seperti artikel, opini, ataupun tulisan ilmiah untuk jurnal. Sementara karya utuh berupa buku, baru kali ini lahir dari ‘rahim’ku.

Aku berharap semoga karya pertamaku ini menjadi sebuah pemicu dan pemacu semangat untuk terus menghasilkan karya-karya selanjutnya yang lebih menggugah dan mencerdaskan. Semoga!

Beberapa waktu lalu aku pernah menulis sebuah postingan di blog ini tentang impianku yang telah lama terpendam dan ingin segera diwujudkan. Postingan tersebut aku beri judul “Obsesi: Nulis Buku!”.

Dalam postingan tersebut, aku berharap bahwa suatu saat nanti aku bisa mewujudkan keinginanku untuk melahirkan sebuah karya berupa buku. Karya yang kelak mudah-mudahan bisa menjadi salah satu investasi abadiku. Sehingga, meskipun kelak aku sudah tidak ada lagi di dunia ini, orang akan tetap bisa mengambil manfaat dariku, yakni berupa pengetahuan yang aku tuangkan dalam buku. Selain itu, aku berharap orang akan tetap mengenalku, meskipun jasadku sudah berkalang tanah. Dan, satu hal yang paling penting adalah bahwa mudah-mudahan karyaku itu bisa menjadi investasi akhirat yang bisa aku tunjukkan kepada Sang Maha Kuasa, sehingga menjadi catatan postif dalam sejarah kehidupanku ketika di dunia. Aku berharap bisa menyejarah dan mengabadi dengan karya yang telah aku ciptakan.

Tampaknya, obsesiku tersebut hampir menjadi sebuah kenyataan. Ya, keinginan serta cita-citaku untuk melahirkan sebuah karya berupa buku sudah mendekati kenyataan. Karena, saat ini naskah buku yang pernah aku ajukan ke sebuah penerbit di Jakarta, setelah melalu proses yang cukup panjang, kini sudah memasuki tahap pencetakan (naik cetak). Aku pun sudah tidak sabar ingin segera melihat karya pertamaku itu.

Buku, yang insya Allah tidak lama lagi beredar di pasaran itu merupakan karya pertamaku. Buku tersebut mulanya adalah skripsiku ketika kuliah di Fakultas Ushuluddin Jurusan Tafsir Hadis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (dulu IAIN—pen). Setelah mengalami beberapa kali perombakan, serta tambahan materi di sana sini, akhirnya naskah buku berjudul “Penyimpangan Seksual dalam Perspektif Al-Qur’an”, yang kemudian setelah melalui proses editing diberi judul “17+ Seks Menyimpang; Tinjauan dan Solusi Berdasarkan Al-Qur’an dan Psikologi”  itu pun siap beredar di pasaran. Mudah-mudahan buku pertamaku tersebut bisa diterima pasar dengan baik. Amiin…

Sebagai informasi, ada satu naskah buku lagi, yakni calon buku kedua yang kini dalam proses lay outing. Bahkan kabar terbaru dari pihak editor, naskah buku kedua tersebut sudah masuk tahap proof reading. Jadi tinggal beberapa langkah lagi agar buku tersebut bisa benar-benar siap naik cetak.

Calon buku kedua yang aku maksud adalah buku dengan tema “Yakinlah, Pertolongan Allah sangat Dekat”. Aku berharap semoga proses penerbitan buku kedua ini lebih cepat dari buku pertama, sehingga bisa segera dinikmati oleh khalayak pembaca.

Ok. Kayaknya postingan kali ini sampai di sini dulu. Nanti, jika ada info terbaru tentang dua bukuku tersebut akan segera ku postingan ke dalam blogku ini.

 

Tak terasa, sudah lebih dari satu bulan lamanya aku ngga meng-update blogku…

Ya, lagi-lagi alasan yang bisa aku  jadikan pembenaran bagi diriku sendiri adalah sebuah alasan klise dan klasik: sibuk!

Padahal, kalau aku mau meluangkan waktu barang 10 menit aja sehari untuk bikin sebuah sebuah tulisan, entah tentang apa saja untuk kemudian di posting ke blog, pasti tiap hari blogku akan selalu up to date. Tetapi, lagi-lagi sebuah alasan klise yang cukup basi kembali menjadi senjata utamaku untuk membela diri: ngga sempet!

Okelah kalo begitu…kayaknya ga perlu lama-lama ngebahas tentang kemalasanku mengupdate blog. Toh, sebetulnya yang rugi aku sendiri, karena seringkali melewatkan peristiwa-peristiwa penting yang harusnya terdokumentasikan secara baik. Tetapi, kalau ada para blogwalker yang kebetulan selama ini sering mampir ke blog ini, kemudian sebulan terakhir ini merasa kecewa karena tidak menjumpai hal-hal baru dalam blogku, aku mohon maaf. Mudah-mudahan untuk selanjutnya aku bisa secara rutin berbagi tentang banyak hal kepada rekan-rekan blogger semua.

Dalam postingan kali ini aku cuma ingin mengingat serta menghimpun kembali serpihan-serpihan peristiwa yang telah aku lewatkan begitu saja dan belum sempat aku posting ke dalam blogku ini.

Beberapa peristiwa tersebut antara lain:

1. Ultah Putri Pertamaku yang ke-1

Peristiwa bersejarah ini terjadi pada Senin, 8 Maret 2010. Ya, putriku yang bernama “Livia Maulida Rahmadina” lahir ke muka bumi ini setahun yang lalu, tepatnya Minggu, 8 Maret 2009.

Tetapi sayang, untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak, tepat pada hari bersejarah itu, aku kebetulan sedang berada di luar kota, tepatnya di Bandung, bersama rombongan Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Brebes yang selam dua hari, sejak Minggu-Senin, 7-8 Maret 2010 mengadakan Rihlah Ilmiah (Study Tour) ke UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Jadi aku tidak bisa bersama-sama putri serta istriku mengadakan syukuran di rumah. Mudah-mudahan tahun-tahun berikutnya aku bisa hadir pada hari bersejarah tersebut.

2. Rihlah Ilmiah (Study Tour)

Seperti telah aku sebutkan di atas, bahwa selama dua hari, yaitu Minggu-Senin, 7-8 Maret 2010 aku bersama Rombongan Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Brebes, mengadakan Rihlah Ilmiah (Study Tour) ke UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Dalam acara tersebut aku ditunjuk sebagai salah satu Pembimbing yang mengkoordinir dan mendampingi 30 orang Mahasiswa. Tugasku adalah mengarahkan mereka agar ketika melakukan studi banding di UIN Sunan Gunung Djati Bandung nanti, dapat memperoleh hasil maksimal. Karena, setelah acara tersebut usai, mereka diminta membuat Laporan Hasil Kunjungan, yang itu menjadi salah satu syarat ketika kelak mereka akan mengajukan proposal skripsi di Jurusan Tarbiyah STIT Brebes.

3. Buku Pertamaku akan Terbit

Alhamdulillah…tak henti-hentinya kalimat itu meluncur dari bibirku, ketika aku menerima kabar dari editor buku via email yang menginformasikan bahwa buku pertamaku berjudul “17+ Seks Menyimpang; Tinjauan dan Solusi Berdasarkan Al-Qur’an dan Psikologi” akan segera naik cetak.

Aku hampir tak percaya ini nyata, bahwa cita-citaku untuk menjadi penulis buku terwujud. Keinginan yang sudah lama terpatri dalam diriku akhirnya menemui kenyataan. Karya pertamaku akan segera lahir. Sungguh, tak terperikan rasa bahagia dalam hatiku ini.

Kini buku pertamaku tersebutmasih dalam proses percetakan. Mudah-mudahan tidak lama lagi akan terbit dan siap menghiasi rak-rak toko buku di seluruh Indonesia. Amiin…

Oh ya, satu lagi karyaku atau buku keduaku yang mengambil tema populer yakni “Yakinlah Pertolongan Allah Sangat Dekat”, saat ini tengah memasuki tahap lay outing. Moga proses penerbitan buku kedua ini bisa lebih cepat dari yang pertama.

4. Pengawas Satuan Pendidikan Ujian Nasional (UN) SMA 2010

Saat postingan ini ditulis, aku tengah menjalani tugas negara sebagai Pengawas Satuan Pendidikan Ujian Nasional (UN) SMA 2010. Tulisan ini pun aku tulis di kamar penginapan selama menjalankan tugas sebagai pengawas UN.

Tahun ini akan mendapatkan tugas ngawas UN di SMA BU (Bustanul Ulum) NU Bumiayu. Lokasi yang tidak terlalu jauh dengan tempat ngawas UN tahun lalu, yaitu di SMA N 1 Paguyangan.

Karena jarak antara tempat tinggalku, Bulakamba cukup jauh dengan lokasi tugasku,  Bumiayu (sekitar 60 km dengan jarak tempuh perjalanan + 1 ½ jam), maka demi efektivitas dan efisiensi, akupun tinggal sementara di lokasi tugas selama lima hari.

Ketika postingan ini ditulis, aku baru menjalani tugas selama dua hari. Artinya masih tiga hari lagi untuk bisa kembali ke tempat tinggalku. Tetapi, aku niatkan tugas ini sebagai pengabdianku kepada negara dan juga semoga menjadi amal sholih yang dinilai sebagai ibadah. Amin…

Itulah beberapa kepingan peristiwa yang terlewatkan selama satu bulan terakhir ini, dan yang tengah aku jalani.

Mudah-mudahan rangkain peristiwa selanjutnya dapat segera aku share dan post ke blogku ini.



Menjadi Pemeran Utama yang baik

Hakekatnya, dunia ini adalah panggung besar kehidupan. Dalam setiap episode kehidupan selalu diwarnai dengan aneka peran dan peristiwa yang datang silih berganti. Manusia, sebagai salah satu pemain harus melakoni perannya sesuai dengan script yang telah diatur oleh Sang Maha Sutradara, yakni Allah Swt. Peran yang dimainkan setiap manusia dalam lakon kehidupan ini tidak akan berlangsung lama. Pun peristiwa yang menyertainya, hanya sesaat kemudian diganti oleh pemeran lain dengan peristiwa yang berbeda pula.

Saya mengibaratkan kehidupan di dunia ini layaknya sebuah pementasan akbar di atas panggung yang sangat besar. Lazimnya sebuah pementasan, tentu ada unsur-unsur yang menyertainya. Di antara unsur-unsur pokok yang menyertai antara lain; sutradara, pemain dan script (skenario).

Dalam kehidupan ini, sebagai sutradara atau pengatur alur cerita kehidupan adalah Allah Swt. Sebagai pemeran utama adalah manusia. Dan acuan dalam melakoni perannya, atau scriptnya adalah kitab suci atau ajaran agama. View full article »

Jangan Putus Asa!

Saat ini, kalau kita menyimak sejumlah tayangan berita di telivisi, akan sangat mudah kita jumpai tingkah polah manusia yang mudah putus asa. Ada yang karena terus-menerus hidup dalam kemiskinan dan tak kuasa menanggung beban hidup yang begitu berat, lantas mengakhiri hidupnya dengan gantung diri. Ada sepasang remaja yang tengah dimabuk asmara, tetapi karena hubungan mereka tidak direstui oleh orang tua mereka, sepakat untuk melepas nyawanya dengan terjun bebas dari lantai lima sebuah pusat perbelanjaan. Ada pula seorang siswa yang malu karena tidak lulus ujian, akhirnya nekat meminum racun dan akhirnya nyawanya tidak tertolong. Dan masih banyak lagi peristiwa-peristiwa tragis serta tragedi kemanusiaan yang terjadi di sekitar kita, disebabkan oleh hilangnya harapan, alias putus asa.

Padahal, kalau kita semua menyadari, setiap persoalan hidup yang menimpa kita, pada hakekatnya hanyalah sebuah ujian sementara, yang akan segera berlalu jika kita mampu menghadapinya penuh kesabaran dan keikhlasan. Ujian hidup ibarat batu sandungan, yang harus kita singkirkan agar kita dapat melanjutkan perjalanan menuju tempat tujuan kita, yaitu kesuksesan hidup, baik di dunia ini maupun di akhirat kelak.

Allah SWT memotivasi hamba-Nya agar tidak berputus asa atas rahmat-Nya, karena hanya orang-orang yang tidak beriman sajalah yang berputus asa dari rahmat-Nya. “…Dan janganlah  kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidak ada ada orang yang berputus asa dari rahmat Allah, kecuali orang-orang yang kafir”. (Q.S. Yusuf: 87)

Dari keterangan ayat di atas, jelas sekali tergambar bahwa sikap putus asa, kehilangan harapan hidup dan tidak berusaha untuk menemukan serta membangunnya kembali adalah merupakan karakter orang-orang kafir, yaitu mereka yang tidak beriman kepada Allah, yang tidak mengakui akan kekuasaan-Nya, serta mengingkari akan keberadaan-Nya.

Tentu, sebagai seorang muslim kita tidak ingin digolongkan ke dalam kelompok orang-orang kafir yang mengingkari kekuasaan Allah serta menafikan keberadaan-Nya. Maka, sebagai muslim dan mukmin sejati, sepatutnya kita memiliki prinsip hidup yang teguh bahwa Allah selalu memberi yang terbaik buat hamba-Nya. So, terus berusaha dan jangan pernah putus asa!

Malam ini, Allah mempertemukanku dengan seseorang yang belum aku kenal sebelumnya.  Sebetulnya aku  sering melihat dan ketemu dengannya, kalau kebetulan kami sama-sama jogging di pagi hari. Tapi setiap  kali kami berpapasan, hanya seutas senyum  keramahan yang tersungging dari bibir  kami masing-masing, tanpa sepatah kata pun terucap. Aku tidak tahu siapa namanya, di mana tinggalnya, dan apa pekerjaannya.

Baru malam ini, ketika secara tiba-tiba dia berkunjung ke kediamanku, aku tahu identitas dia sesungguhnya. Namanya, sebut saja fulan. Usianya 44 tahun.  Tinggal tidak jauh dari tempat tinggalku. Pekerjaannya, menurut pengakuannya sudah dua tahun ini nganggur, setelah di PHK dari tempat kerjanya dulu. Saat ini paling banter dia bekerja serabutan, alias tidak tentu.

Dia mengawali pembicaraan dengan curhat tentang penyakit yang dideritanya, yakni asam urat. Sudah lama dia mengidap penyakit tersebut, sehingga sekujur tubuhnya terasa sakit. Menurutnya, itu akibat kebiasaannya dulu yang sering mandi malam, sepulang kerja. Kini, baru terasa dampak buruk dari kebiasaannya tersebut.

Sejurus kemudian, dia curhat tentang kehidupan rumah tangganya yang berantakan. Saat ini, menurutnya, dia sudah 3 bulan resmi menduda, setelah sekitar 12 tahun berumah tangga. Pemicu utama perceraian tersebut, menurut pengakuannya adalah bahwa pihak keluarga isterinya, terutama kedua mertuanya tidak mau menerima keadaannya yang pengangguran, ditambah lagi selama 12 tahun berumah tangga belum dikaruniai keturunan. Sungguh, aku begitu terenyuh dan terharu mendengar ceritanya. Bagaimana tidak, serangkaian persoalan bertubi-tubi menderanya; penyakit yang tak kunjung sembuh, tidak adanya pekerjaan, serta perceraian yang baru saja dijalaninya. Aku tak bisa membayangkan bagaimana perasaannya saat ini. Di usia yang sudah masuk kepala empat, kehidupannya justru semakin terpuruk.  Padahal, pada umumnya, usia 40 adalah standar barometer kehidupan seseorang. Karena pada usia tersebut, kedewasaan sekaligus kemapanan hidup seseorang biasanya mulai terlihat jelas. Paling tidak, usia 40 adalah titik tolak bagi seseorang untuk menikmati hidup yang telah dirintisnya sejak berpuluh-puluh tahun sebelumnya. Tetapi yang dialami kawan baru saya ini adalah sebaliknya, bertolak belakang dari kondisi semestinya.

Akupun berusaha untuk menunjukkan empati padanya, yaitu dengan mendengar penuh perhatian, serta sesekali ikut ‘urun rembug’, memberi tanggapan serta pendapatku tentang persoalan yang tengah dihadapi. Dia tampak begitu antusias bercerita tentang mimpi-mimpi masa depannya, pasca perceraian dengan istrinya. Dia berencana membuka sebuah usaha . Aku katakan kalau aku sangat mendukungnya dengan beberapa alasan: Pertama, memperbaiki nasib, atau mengubah keadaan ekonominya yang saat ini tidak jelas juntrungannya. Kedua, membuang memori kelamnya berupa perceraian, untuk diganti dengan lembar kehidupan  baru yang lebih bermakna.

Tak terasa, kami ngobrol lebih dari 1 jam. Waktu yang tidak sedikit untuk sebuah pertemuan pertama bagi orang yang sebelumnya tidak saling kenal sama sekali. Karena waktu sudah cukup malam, dia pun akhirnya pamit pulang.

Dari pertemuan tak terduga malam ini, aku mendapat sebuah pencerahan,  hikmah yang bisa menjadi pelajaran bagi diriku khususnya, dan kita semua pada umumnya.  Hikmah yang bisa aku ambil adalah:

Ternyata, di luar sana masih ada orang yang jauh lebih susah dari kita.  Mungkin saja jumlahnya tidak hanya satu atau dua, tetapi puluhan, ratusan bahkan mungkin ribuan orang yang ditimpa berbagai persoalan hidup yang sangat berat, dan tak sanggup kita membayangkannya. Dari kenyataan ini, selayaknya kita senantiasa bersyukur atas apa yang telah Allah berikan kepada kita. Qodho dan qodar-Nya, ketetapan serta takdir-Nya adalah pilihan terbaik yang diberikan-Nya kepada kita. Semua yang Ia tentukan dan kehendaki tentu ada hikmah yang tersimpan di dalamnya.

Malam ini, aku mendapat sebuah pelajaran berharga. Aku mendapatkan sebuah hikmah dari lautan hikmah-Nya yang terbentang luas di jagat raya ini. Semoga kita semua mampu menangkap hikmah dalam setiap langkah kehidupan kita. Amiiin..

Chemistry…

Kita tentu sering mendengar istilah chemistry, yaitu suatu reaksi kimiawi yang biasa dalam bahasa sehari-hari digunakan untuk menggambarkan ‘konektivitas’, ketersambungan  hubungan antara seseorang dengan orang lain, lebih khusus lagi hubungan antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan, entah sebagai pacar, sahabat, atau bahkan selingkuhan, he..he..

Dalam pergaulan sehari-hari, mungkin kita sering mendengar ucapan, “kayaknya aku ngga ada chemistry deh sama dia, sudah beberapa bulan jalan bareng, tapi koq ngga ada perasaan gimanaaa gitu…”.   Atau sebaliknya, “kayaknya aku ada chemistry deh sama dia, soalnya tiap kita ngobrol berdua selalu nyambung, trus perasaanku jadi gimanaaa gitu…”.

Seseorang yang sudah berhasil menemukan chemistry-nya dengan orang lain, baik sesama jenis atau pun dengan lawan jenis, terlepas apa pun nama status hubungannya tersebut, akan merasakan adanya ketersambungan, kecocokan, sekaligus kenyamanan ketika bersamanya. Bahkan, tidak jarang mereka yang sudah memilki chemistry yang cukup kuat dapat membaca pikiran satu sama lain. Ini bisa dibuktikan dengan seringnya mereka memiliki ide yang sama, bahkan bisa jadi mengucapkan kata-kata yang sama ketika sedang ngobrol berdua. Bisa jadi mereka menuliskan kata-kata yang persis sama, atau dengan maksud yang sama ketika sedang saling ber-sms atau berchatting ria.

Secara sederhana, chemistry dapat diartikan sebagai keterikatan batin atau kontak batin satu sama lain. Hal ini bisa terjadi pada siapa saja terhadap siapa saja. Maksudnya, siapa pun dapat menemukan chemistry-nya pada siapa saja. Bisa jadi seorang suami tidak menemukan chemistry pada istrinya, tetapi justru merasa ‘klik’ dengan perempuan lain. Atau sebaliknya, seorang istri justru lebih merasa ‘klop’ dalam cara pandang, serta prinsip-prinsip hidup dengan laki-laki lain. Khusus untuk yang satu ini, saya sarankan jangan sampai kebablasan, bisa-bisa terjadi perselingkuhan terselubung berbungkus pertemanan atau persahabatan. Waspadalah! Waspadalah! Kejahatan kelamin tidak hanya terjadi karena ada niat, tetapi juga karena ada kesempatan, he…he…

Pertanyaannya kemudian, apakah chemistry itu bisa diciptakan, ataukah sudah given, sudah dari sononya?

Sebelum menjawab pertanyaan ini, saya ingin sedikit menguraikan sebuah peribahasa dalam bahasa jawa yang berbunyi: witing tresno jalaran soko kulino. Cinta, dalam arti luas (termasuk di dalamnya, chemistry), bisa hadir karena terbiasa. Maksudnya, tumbuhnya benih-benih cinta pada seseorang atau sesuatu, bermula karena kebiasaan atau terbiasa.

Seseorang yang mulanya tidak menyukai dunia tulis menulis, misalnya, tetapi kemudian karena terinspirasi sebuah buku yang begitu memukau tentang nikmatnya menulis dan menjadi penulis (terkenal) dengan kelimpahan materi serta popularitas, kemudian mulai belajar menulis terus menerus, sampai kemudian menemukan apa yang dicita-citakannya. Saya berani taruhan, orang ini pasti sudah jatuh cinta setengah mati pada dunia yang dulu sama sekali tidak diliriknya. Ia sudah menemukan chemistry-nya pada dunia tulis menulis.

Begitu juga halnya dengan seseorang yang awalnya biasa saja, ngga ada perasaan apa-apa dengan lawan jenisnya. Tetapi karena sering ketemu, mungkin karena satu kantor atau satu tempat kerja, satu profesi, satu hobi, atau karena alasan lain yang memungkinkannya untuk sering bertemu secara intens, tidak menutup kemungkinan lambat laun akan tumbuh benih-benih cinta pada dirinya. Sudah terlalu banyak contoh kasus seperti ini. Silakan anda cari dan temukan sendiri di sekiling anda. Atau mungkin anda sendiri yang mengalaminya.

Dengan demikian, dari keterangan ini dapat disimpulkan bahwa chemistry itu bisa diciptakan. Tidak serta merta given, atau sudah dari sononya, anugerah dari yang Maha Kuasa.

Chemistry yang given menurut saya adalah karena adanya kesamaan visi, cara pandang, prinsip hidup dan sebagainya. Khusus chemistry seseorang pada lawan jenisnya, bisa disebabkan beberapa hal, di antaranya:

Pertama, performance, tampilan luar. Seseorang menilai orang lain, mula-mula dari tampilan luarnya. Dari cara berpakaian, bersikap dan segala tampilan luar lainnya. (Hati-hati dengan yang satu ini, salah-salah anda tertipu oleh casing-nya, he…he..)

Kedua, inner beauty, kecantikan dari dalam. Seseorang akan menaruh simpatik serta respek kepada kita, jika kita menunjukkan pribadi yang anggun. Kejujuran, kesopanan, kerendahhatian akan menjadi modal utama bagi seseorang untuk mendapatkan ‘nilai’ tersendiri di mata orang lain.

So, kita bisa menemukan chemistry dengan siapa saja, baik memang sudah given, ataupun diciptakan. Selamat menemukan chemistry anda!

Siang itu, ketika aku buka account FBku, baru beberapa menit melihat update status teman-teman, terlihat kolom chatku menyala dengan ditandai angka satu dalam balutan bagckround warna merah menyala.  Ternyata, adik sepupuku yang mengirim pesan tersebut. Begitu ku buka, hanya sebuah pesan pendek, “saatnya update postingan mas…”. Aku pun segera tahu maksud pesan singkat tersebut. Ya, aku baru ingat, kalau sudah lebih dari seminggu ini aku ngga update postinganku di blog ini. Aku pun segera membalasnya degan kalimat singkat pula, “lagi mati ide…”. Sesaat kemudian, kolom chatku menyala lagi, sebuah kalimat singkat terbaca, “kalo gitu nulis tentang ‘mati ide’ aja mas…”. Tanpa pikir panjang, aku segera menjawab, “ya udah, coba nanti tak download dulu file-file di memoriku…”.

Dari chit-chat yang hanya beberapa menit tersebut, aku langsung tergugah untuk segera memecah gumpalan ide yang sudah lebih dari seminggu tidur pulas di otakku ini, untuk segera aku tuangkan ke dalam rangkaian kata.

Tanpa ba bi bu, aku langsung membuka account blogku di WP.  Segera setelah berhasil log in,  aku masuk ke ruang new post. Dengan segenap daya, aku buka file-file yang tersimpan dalam memoryku selama seminggu terkahir ini. Alih-alih menemukan ide segar untuk segera ditulis, justru aku semakin ‘stuck’,  tidak tahu harus mulai dari mana.

Aku langsung teringat saran adik sepupuku, “kalo gitu tulis aja tentang ‘mati ide’ mas. Yup, when there is a will there is a way,  ketika ada keinginan (kuat) pasti ada jalan. Aku pun segera mengajak jari jemariku untuk menari-nari di atas tuts keyboard.  Aktivitas merangkai kata pun segera berjalan, dari mulai slow motion sampai kemudian high speed.

Aku mulai sadar, tampaknya  setiap kali ada sumbatan dalam memoryku ini, aku perlu segera mencari impulse (pendorong)-nya, agar sumbatan itu segera lepas dan aku bisa bebas menuangkan ide-ide segarku agar tidak keburu basi.

Impulse itu bisa berupa bacaan, diskusi, atau sekedar chit-chat lewat FB atau YM, atau bisa juga obrolan ringan bersama tetangga, teman kantor, atau siapa saja. Ya, kini aku sudah menemukan sebuah trik baru untuk menyiasati kebuntuan gagasan, mati ide, atau sumbatan pemikiran dan (mungkin) perasaan. Segera mencari impulse dan segera menuangkannya dalam tulisan.

Benar apa yang dikatakan James Pennebaker, seorang ahli psikologi yang menyatakan bahwa dengan menuliskan ungkapan perasaan dan pikiran ke dalam sebuah tulisan, akan membuat kita lebih rileks dan fresh. Hidup terasa lebih ringan, masalah yang melingkupi hidup sedikit berkurang.

Dia menyarankan agar kita terbiasa menuliskan apa pun yang ada di benak kita sebelum tidur, dan juga ketika baru bangun tidur. Dengan cara seperti ini, menurutnya beban yang diderita seseorang akan sedikit demi sedikit berkurang.

Memang benar, aku pun mengamini pendapat Pennebaker tersebut, karena aku sudah sering mengalaminya sendiri.  Ketika pikiran dan perasaan, dalam kondisi apapun, senang atau sedih, suka atau duka, kita ungkapkan ke dalam rangkaian kata yang kemudian menjadi sebuah tulisan, akan terasa berbeda, lebih hidup dan lebih bermakna. Apalagi ketika tulisan tersebut kita simpan, kemudian suatu saat, setelah sekian lama kita buka dan baca kembali, tidak jarang memory kita akan mengajak kita menerawang ke masa lalu, mungkin kita akan terharu, atau malah tertawa sendiri membacanya. Tidak percaya? Silakan buktikan sendiri!

Tak terasa, dari sekedar chit chat yang beberapa menit dengan sepupuku, bisa menjadi rangkaian-rangkaian kalimat yang membentuk sebuah tulisan, yang kalau tidak segera aku sudahi, bisa sampai malem aku menatap layar laptopku ini. Bisa kepanasan si ‘lepi’ karena dipaksa bekerja seharian untuk ‘memuaskan hasrat’ menulisku…

Okey deh…segini aja dulu postinganku kali ini, sekedar menuang ide, sekedar melepas sumbatan…he..he.. 🙂

Virus Keburukan

“Sifat buruk itu menular

Kalau kita tinggal di suatu tempat, dimana kita dengan mudah menjumpai orang-orang yang gemar bersikap kasar, berkata kotor, dan berperilaku tidak terpuji alias berakhlak buruk, maka berhati-hatilah! Karena itu pertanda buruk bagi kita. Apa pasal?

Akhlak yang buruk ibarat virus yang dengan mudah menyebar ke segala penjuru. Jika virus tersebut tidak segera ditangkal, atau tidak ada tindakan preventif untuk mencegahnya, maka tidak menutup kemungkinan kita yang berada di dekat sumber virus tersebut akan segera terjangkit virus atau terkena imbasnya. Dan, ketika virus berupa akhlak buruk tersebut sudah merasuk ke dalam diri kita, akan sulit bagi kita untuk mengeluarkannya.

Orang yang terbiasa berkata kotor, besikap kasar dan berperilaku tidak terpuji, akan terus dan terus melakukannya. Dia akan sulit keluar dari sifat buruknya. Dia menganggap apa yang dilakukannya adalah sesuatu yang biasa. Tidak ada rasa risih sedikitpun, karena kebiasaannya tersebut seolah sudah mendarah daging. Maka tepatlah sebuah ungkapan yang menyebutkan, ‘first we make our habit, and then our habit makes us’. Mulanya, kita yang menciptakan kebiasaan, selanjutnya kebiasaan yang membentuk (pribadi) kita.

Sifat buruk itu menular. Demikian sebuah kalimat bijak mengingatkan. Orang yang tidak pernah atau jarang berkata kotor, kemudian masuk ke dalam pergaulan dengan mereka yang terbiasa berkata kotor, disadari atau tidak, cepat atau lambat akan terpengaruh oleh sifat buruk mereka. Anak-anak yang hidup di dalam keluarga, atau lingkungan yang kerap mengumbar kata-kata kotor, sikap kasar dan perilaku buruk akan tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak buruk pula.

Kita tentu sering menjumpai anak-anak atau pun remaja yang dengan entengnya mengucapkan kata-kata yang tidak pantas untuk diucapkan. Ucapan kasar dan kotor seakan menjadi ‘menu’ harian mereka. Dan, mereka tanpa risih sedikitpun melakukannya. Kenapa hal ini bisa terjadi? Jawabannya adalah karena mereka terbiasa melakukannya. Ya, sesuatu yang biasa dilakukan akan dianggap wajar oleh si pelaku. Meskipun menurut orang lain, hal itu tidak pantas atau tidak sepatutnya dilakukan.

Mereka tampaknya sudak tertular virus, dan sulit untuk mengobatinya. Sekali lagi, sifat buruk itu menular, maka berhati-hatilah!

Kelebihan dan Kekurangan

Tidak ada seorang pun yang dilahirkan ke dunia ini dalam kondisi sempurna 100%. Pasti dalam dirinya terdapat kekurangan atau kelemahan. Setiap manusia yang lahir ke muka bumi selalu membawa dua hal yang alih-alih dipertentangkan, tetapi justru saling melengkapi, yakni kelebihan dan kekurangan.

Mengapa harus ada kelebihan dan kekurangan? Apa hikmah yang terkandung di dalamnya?

Dalam tinjauan agama, sesuai dengan sunnatullah, Allah SWT selalu menciptakan sesuatu berpasangan untuk saling melengkapi. Ada siang ada malam, ada laki-laki ada perempuan, ada bumi ada langit, ada kemarau ada hujan, ada kaya ada miskin, dan tentunya ada kelebihan ada kekurangan.

Kalau kita telusuri teks-teks keagamaan, akan kita jumpai hikmah diciptakannya manusia lengkap dengan kelebihan dan kekurangannya. Anugerah berupa kelebihan yang Allah SWT berikan kepada setiap manusia bertujuan agar mereka bersyukur. Ya. Syukur atas nikmat Allah, salah satunya berupa kelebihan yang diberikan oleh-Nya, akan menjadikan manusia tawadhu, rendah hati di hadapan-Nya. Kelebihan bukan untuk disombongkan, atau menjadi sarana membanggakan diri dan merasa di atas orang lain.

Adapun kekurangan yang diberikan Allah SWT kepada setiap manusia adalah sarana agar mereka bersabar atas kehendak-Nya. Kekurangan bukan untuk diratapi, kemudian menjadikan seseorang rendah diri atau minder, tetapi justru untuk melatih seseorang untuk memperbaiki diri. Seseorang yang menyadari kekurangannya, maka dia akan berusaha sekuat tenaga untuk membenahinya, yaitu dengan cara menggali potensi dirinya, serta memaksimalkan kelebihannya, sehingga kekurangannya tertutupi.

Dengan demikian, syukur atas anugerah berupa kelebihan serta sabar atas kekurangan yang dimiliki, akan menjadi sarana efektif bagi seseorang untuk mampu menunjukkan eksistensi dirinya yang sesungguhnya. Kelebihan dan kekurang adalah sunnatullah. Tidak ada alasan bagi kita untuk menyombongkan diri karena kelebihan yang kita miliki. Karena pada hakekatnya, semua itu milik Allah. Pun sebaliknya, tidak ada dalih bagi kita untuk merasa rendah diri atau minder karena kekurangan yang kita miliki. Karena tidaklah Allah menciptakan sesuatu itu sia-sia. Semua pasti ada hikmahnya.