Tag Archive: sabar


Malam ini, Allah mempertemukanku dengan seseorang yang belum aku kenal sebelumnya.  Sebetulnya aku  sering melihat dan ketemu dengannya, kalau kebetulan kami sama-sama jogging di pagi hari. Tapi setiap  kali kami berpapasan, hanya seutas senyum  keramahan yang tersungging dari bibir  kami masing-masing, tanpa sepatah kata pun terucap. Aku tidak tahu siapa namanya, di mana tinggalnya, dan apa pekerjaannya.

Baru malam ini, ketika secara tiba-tiba dia berkunjung ke kediamanku, aku tahu identitas dia sesungguhnya. Namanya, sebut saja fulan. Usianya 44 tahun.  Tinggal tidak jauh dari tempat tinggalku. Pekerjaannya, menurut pengakuannya sudah dua tahun ini nganggur, setelah di PHK dari tempat kerjanya dulu. Saat ini paling banter dia bekerja serabutan, alias tidak tentu.

Dia mengawali pembicaraan dengan curhat tentang penyakit yang dideritanya, yakni asam urat. Sudah lama dia mengidap penyakit tersebut, sehingga sekujur tubuhnya terasa sakit. Menurutnya, itu akibat kebiasaannya dulu yang sering mandi malam, sepulang kerja. Kini, baru terasa dampak buruk dari kebiasaannya tersebut.

Sejurus kemudian, dia curhat tentang kehidupan rumah tangganya yang berantakan. Saat ini, menurutnya, dia sudah 3 bulan resmi menduda, setelah sekitar 12 tahun berumah tangga. Pemicu utama perceraian tersebut, menurut pengakuannya adalah bahwa pihak keluarga isterinya, terutama kedua mertuanya tidak mau menerima keadaannya yang pengangguran, ditambah lagi selama 12 tahun berumah tangga belum dikaruniai keturunan. Sungguh, aku begitu terenyuh dan terharu mendengar ceritanya. Bagaimana tidak, serangkaian persoalan bertubi-tubi menderanya; penyakit yang tak kunjung sembuh, tidak adanya pekerjaan, serta perceraian yang baru saja dijalaninya. Aku tak bisa membayangkan bagaimana perasaannya saat ini. Di usia yang sudah masuk kepala empat, kehidupannya justru semakin terpuruk.  Padahal, pada umumnya, usia 40 adalah standar barometer kehidupan seseorang. Karena pada usia tersebut, kedewasaan sekaligus kemapanan hidup seseorang biasanya mulai terlihat jelas. Paling tidak, usia 40 adalah titik tolak bagi seseorang untuk menikmati hidup yang telah dirintisnya sejak berpuluh-puluh tahun sebelumnya. Tetapi yang dialami kawan baru saya ini adalah sebaliknya, bertolak belakang dari kondisi semestinya.

Akupun berusaha untuk menunjukkan empati padanya, yaitu dengan mendengar penuh perhatian, serta sesekali ikut ‘urun rembug’, memberi tanggapan serta pendapatku tentang persoalan yang tengah dihadapi. Dia tampak begitu antusias bercerita tentang mimpi-mimpi masa depannya, pasca perceraian dengan istrinya. Dia berencana membuka sebuah usaha . Aku katakan kalau aku sangat mendukungnya dengan beberapa alasan: Pertama, memperbaiki nasib, atau mengubah keadaan ekonominya yang saat ini tidak jelas juntrungannya. Kedua, membuang memori kelamnya berupa perceraian, untuk diganti dengan lembar kehidupan  baru yang lebih bermakna.

Tak terasa, kami ngobrol lebih dari 1 jam. Waktu yang tidak sedikit untuk sebuah pertemuan pertama bagi orang yang sebelumnya tidak saling kenal sama sekali. Karena waktu sudah cukup malam, dia pun akhirnya pamit pulang.

Dari pertemuan tak terduga malam ini, aku mendapat sebuah pencerahan,  hikmah yang bisa menjadi pelajaran bagi diriku khususnya, dan kita semua pada umumnya.  Hikmah yang bisa aku ambil adalah:

Ternyata, di luar sana masih ada orang yang jauh lebih susah dari kita.  Mungkin saja jumlahnya tidak hanya satu atau dua, tetapi puluhan, ratusan bahkan mungkin ribuan orang yang ditimpa berbagai persoalan hidup yang sangat berat, dan tak sanggup kita membayangkannya. Dari kenyataan ini, selayaknya kita senantiasa bersyukur atas apa yang telah Allah berikan kepada kita. Qodho dan qodar-Nya, ketetapan serta takdir-Nya adalah pilihan terbaik yang diberikan-Nya kepada kita. Semua yang Ia tentukan dan kehendaki tentu ada hikmah yang tersimpan di dalamnya.

Malam ini, aku mendapat sebuah pelajaran berharga. Aku mendapatkan sebuah hikmah dari lautan hikmah-Nya yang terbentang luas di jagat raya ini. Semoga kita semua mampu menangkap hikmah dalam setiap langkah kehidupan kita. Amiiin..

Iklan

Hari ini merupakan hari yang cukup melelahkan bagiku. Dari pagi hingga sore hari aku menghabiskan waktu di tempat usaha (toko) bersama dua orang karyawanku. Ya, aku memang sedang belajar buka usaha kecil-kecilan, yakni usaha Photo Copy dan Rental Komputer. Usaha ini sudah berjalan selama satu setengah tahun. Memang, sejak dibuka sampai saat ini, usahaku belum menunjukkan perkembangan yang signifikan. Mungkin karena masih tergolong baru, disamping sudah banyak pemain yang berkecimpung di bidang usaha sejenis. Tetapi, setidaknya waktu satu setengah tahun tersebut sudah banyak memberikan pelajaran berharga bagiku, khususnya pengalaman bergelut di dunia entrepreneurship (kewirausahaan).

Aku merasa bahwa dunia wirausaha ini merupakan dunia yang sarat tantangan dan penuh resiko. Sangat bertolak belakang 1800 dengan kehidupanku sesungguhnya sebagai seorang Dosen PNS, yang relatif aman dan tidak banyak—untuk tidak mengatakan tidak ada— tantangan dan resiko. Dunia wirausaha membutuhkan orang-orang yang betul-betul siap mental dan tahan banting. Karena hanya ada dua kemungkinan yang akan terjadi, ketika seseorang sudah menapaki dunia yang satu ini, kemungkinan gagal dan kemungkinan berhasil (sukses). Kedua-duanya memiliki peluang 50-50 (fifty-fifty). Jelas bukan sebuah pilihan aman bagi mereka yang tidak siap menghadapi resiko.

Kalau boleh jujur, awalnya aku juga merasa ragu ketika akan melangkahkan kaki di dunia usaha (bisnis) ini. Karena sama sekali aku belum memiliki pengalaman dalam menjalani sebuah usaha. Sejak dulu aku tidak pernah kepikiran menjadi seorang entrepreneur, karena aku merasa bahwa itu bukan dunia aku. Aku lebih nyaman berkecimpung dalam dunia akademis, sebagai seorang pengajar, dosen.

Ide memulai usaha sebetulnya karena terdesak kondisi. Saat itu aku belum memiliki pekerjaan tetap, sementara aku sudah berkeluarga. Saat itu aku baru menikah sekitar 6 bulan. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, aku hanya mengandalkan honor ngajar di dua buah perguruan tinggi yang tidak seberapa, sementara istri bekerja sebagai bidan swasta di sebuah Rumah Bersalin. Untungya, kami masih tinggal di rumah orang tua. Jadi untuk kebutuhan makan sehari-hari masih cukup terbantu, he…he.. Baca lebih lanjut