Tag Archive: syukur


Kelebihan dan Kekurangan

Tidak ada seorang pun yang dilahirkan ke dunia ini dalam kondisi sempurna 100%. Pasti dalam dirinya terdapat kekurangan atau kelemahan. Setiap manusia yang lahir ke muka bumi selalu membawa dua hal yang alih-alih dipertentangkan, tetapi justru saling melengkapi, yakni kelebihan dan kekurangan.

Mengapa harus ada kelebihan dan kekurangan? Apa hikmah yang terkandung di dalamnya?

Dalam tinjauan agama, sesuai dengan sunnatullah, Allah SWT selalu menciptakan sesuatu berpasangan untuk saling melengkapi. Ada siang ada malam, ada laki-laki ada perempuan, ada bumi ada langit, ada kemarau ada hujan, ada kaya ada miskin, dan tentunya ada kelebihan ada kekurangan.

Kalau kita telusuri teks-teks keagamaan, akan kita jumpai hikmah diciptakannya manusia lengkap dengan kelebihan dan kekurangannya. Anugerah berupa kelebihan yang Allah SWT berikan kepada setiap manusia bertujuan agar mereka bersyukur. Ya. Syukur atas nikmat Allah, salah satunya berupa kelebihan yang diberikan oleh-Nya, akan menjadikan manusia tawadhu, rendah hati di hadapan-Nya. Kelebihan bukan untuk disombongkan, atau menjadi sarana membanggakan diri dan merasa di atas orang lain.

Adapun kekurangan yang diberikan Allah SWT kepada setiap manusia adalah sarana agar mereka bersabar atas kehendak-Nya. Kekurangan bukan untuk diratapi, kemudian menjadikan seseorang rendah diri atau minder, tetapi justru untuk melatih seseorang untuk memperbaiki diri. Seseorang yang menyadari kekurangannya, maka dia akan berusaha sekuat tenaga untuk membenahinya, yaitu dengan cara menggali potensi dirinya, serta memaksimalkan kelebihannya, sehingga kekurangannya tertutupi.

Dengan demikian, syukur atas anugerah berupa kelebihan serta sabar atas kekurangan yang dimiliki, akan menjadi sarana efektif bagi seseorang untuk mampu menunjukkan eksistensi dirinya yang sesungguhnya. Kelebihan dan kekurang adalah sunnatullah. Tidak ada alasan bagi kita untuk menyombongkan diri karena kelebihan yang kita miliki. Karena pada hakekatnya, semua itu milik Allah. Pun sebaliknya, tidak ada dalih bagi kita untuk merasa rendah diri atau minder karena kekurangan yang kita miliki. Karena tidaklah Allah menciptakan sesuatu itu sia-sia. Semua pasti ada hikmahnya.

Iklan

Sejak kemarin siang, raga ini diliputi lara, terutama di bagian tenggorokan dan hidung. Ya, tenggorokanku terasa sakit dan hidung terasa panas. Aku pun langsung bisa menebaknya. Ini adalah gejala flu. Aku sudah sering mengalami hal ini. Setiap kali gejala flu datang, setiap itu pula aku mengingat-ingat apa yang telah aku makan atau minum hari-hari sebelumnya. Ya, aku inget sekarang. Kemarin aku kebanyakan minum es. Maklum cuaca panas banget, jadi bawaannya pengin minum yang dingin dan seger, aku pun menghabiskan dua gelas es jeruk. Sekarang, efeknya baru terasa.

Flu atau pilek adalah sebuah penyakit yang wajar diderita siapa saja, dari anak-anak hingga orang dewasa. Dari anak kecil sampai orang tua. Tapi, setiap penyakit itu datang, raga ini terasa luruh, rapuh, seolah tidak ada daya dan tenaga yang mampu melawan datangnya nikmat Allah yang satu ini.

Hakekatnya, ketika lara mendera raga, Tuhan sedang ‘berbicara’ kepada kita. Tuhan sedang menunjukkan ‘perhatian’-Nya kepada kita. Mungkin selama ini kita sudah melupakan atau melalaikan-Nya. Sehingga Tuhan pun rindu dengan kita. Dia ingin mengajak kita ‘bicara’ dari hati ke hati. Dia ingin ‘mengatakan’ sesuatu kepada kita. Saat-saat seperti inilah kesempatan terbaik bagi kita untuk berkomunikasi secara intensif dengan-Nya. Kita seharusnya sadar akan kealpaan kita selama ini.

Sayangnya, sakit dan lara yang mendera kita seringkali ditanggapi dengan keluh dan kesah, tidak dijadikan sarana efektif untuk introspeksi diri, mengorek segala kekhilafan serta dosa yang selama ini kita perbuat. Sebagain besar kita justru menggerutu, bahkan tidak jarang menghujat Tuhan. Mengatakan bahwa Tuhan tidak adil lah, Tuhan tidak sayang lah, dan masih banyak lagi ucapan-ucapan yang kita lontarkan sebagai wujud kekesalan kita terhadap penyakit yang sedang kita derita. Inikah balasan kita atas segala nikmat yang selama ini diberikan oleh-Nya?

Pelbagai nikmat yang tak terhitung jumlahnya sering kita anggap sebagai suatu hal biasa dan jarang kita syukuri. Ketika sakit datang, barulah kita merasa ada yang hilang dalam diri kita. Ketika nikmat datang silih berganti, rezeki bertumpuk-tumpuk tidak pernah kita syukuri. Tetapi begitu rasa sakit datang menyapa, lara meliputi raga, kita menggerutu dan mengeluh tidak ada habisnya.

Seharusnya, datangnya rasa sakit itu menyadarkan kita, menggugah kita untuk lebih care terhadap raga kita, titipan Allah SWT yang harus kita jaga. Hadirnya lara juga hendaknya dimaknai sebagai sarana untuk melihat ke dalam diri yang rapuh ini. Bahwa semua yang kita miliki ini adalah mutlak milik-Nya. Apapun kehendak-Nya tak akan mampu kita tolak. Kuasa-Nya tak mampu kita elakkan. Maka, terimalah dengan lapang dada, penuh ikhlas dan sabar. Dia pasti akan mengganti semua keikhlasan dan kesabaran kita dengan sesuatu yang lebih baik.

So, ketika sakit meliputi tubuh, ketika lara mendera raga, sadarlah bahwa Tuhan sedang ‘berbicara’ kepada kita. Tuhan tengah ‘menyapa’ kita, menyadarkan segala khilaf dan kealpaan kita. Nikmatilah rasa sakit, sebagaimana kita menikmati rasa sehat. Tuhan senang dengan hamba-hamba-Nya yang selalu bersyukur dalam segala kondisi.